PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 74 "Melanjukan Perjalanan"


__ADS_3

Setelah Tang Lian sampai dikamar kemudian dia membaringkan Yun Mei dikasur dengan perlahan. Setelah itu Tang Lian kemudian meletakkan dua jarinya diperut Yun Mei dan memeriksanya.


Disisi Yun Mei dia benar-benar sangat senang dengan perlakuan Tang Lian yang lembut padanya sebelum akhirnya Yun Mei bingung dengan ekspresi Tang Lian yang terlihat sangat terkejut.


"Kamu kenapa?." Yun Mei bertanya sambil memegang tangan Tang Lian yang masih ada diperutnya.


"Itu... Itu kehidupan..." Tang Lian berkata dengan tergagap.


"Kehidupan?." Yun Mei berkata dengan bingung.


"Suami, bicaralah dengan jelas, jangan membuat kami semakin penasaran." Jia Li yang juga duduk dipinggir kasur berkata sambil menatap Tang Lian dengan tatapan penasaran.


"Didalam perut Mei'er ada kehidupan.." Tang Lian berkata kemudian tersenyum.


"Benarkah!?." Yun Mei berkata sambil menutup mulutnya dengan tangannya karena terkejut.


"Itu benar..." Tang Lian menjawab.


Disisi Jia Li dia juga begitu terkejut dan untuk sesaat dia terdiam sambil membuka matanya lebar, dan ketika Jia Li tersadar dia langsung menerjang Yun Mei dan memeluknya.


"Kakak selamat kamu akan menjadi seorang ibu!!." Jia Li berkata dengan penuh kebahagiaan sambil memeluk Yun Mei.


"Terima kasih adik Li.." Yun Mei berkata seraya tersenyum lebar karena sangat bahagia dan membalas pelukan Jia Li.


Sementara itu disisi Tang Lian dia tiba-tiba berteriak dan melompat-lompat kesenangan hingga teriakannya terdengar keseluruh sekte.


"Hahahaha.... Aku akan menjadi seorang ayah!! Hahaha..." Tang Lian tertawa dan berteriak senang.


Disisi Jia Kun yang sedang tertidur hingga mendengkur tiba-tiba terbangun karena teriakan Tang Lian dan begitu juga dengan para tetua lainnya.


"Siapa, siapa yang menjadi ayah?." Jia Kun berkata diantara sadar dan tidak sadar karena terbangun dengan terkejut.

__ADS_1


"Apa aku bermimpi? Ah sudahlah, sebaiknya aku tidur dan bermimpi lagi.." Jia Kun bergumam dan melanjutkan tidurnya, dan begitu juga dengan tetua lainnya.


"Kakak, lihat suami kita dia seperti anak kecil yang kesenangan ketika diberi permen.." Jia Li berkata pada Yun Mei.


"Itu wajar adik Li, karena ini adalah anak pertamanya.." Yun Mei berkata seraya melihat Tang Lian melompat-lompat.


Untuk sesaat Tang Lian tetap seperti itu karena sangat bahagia hingga pada akhirnya Yun Mei dan Jia Li menghentikannya untuk beristirahat karena besok mereka berencana akan melanjutkan perjalanannya menuju kekaisaran Zhang.


"Bayi.... Bayi kecilku yang imut hahaha.." Tang Lian mengigau dengan suara lumayan keras.


Karena itu Yun Mei juga terbangun dan menatap Tang Lian dengan tatapan teduh dan berpikir 'Sepertinya aku tidak salah karena telah mencintainya..'. Yun Mei membatin dengan senyuman yang lebar kemudian mencium pipi Tang Lian yang sedang mengigau.


Sedangkan disisi Jia Li yang tidur disamping kiri Tang Lian, dia tertidur dengan sangat pulas dan memeluk Tang Lian dari sebelah kiri.


Keesokan paginya Tang Lian dan kedua istrinya keluar kamar dan senyuman yang lebar di wajah Tang Lian. Hingga pada saat ini dimeja makan juga Tang Lian makan dengan senyuman yang terus terlihat, hal itu membuat Jia Kun menjadi penasaran dan bertanya kepada putrinya.


"Li'er suamimu itu kenapa?." Jia Kun bertanya seperti itu bukan karena dia tidak tahu nama Tang Lian sebenarnya, namun karena jika Jia Kun menyebutkan namanya maka langit akan menggelegar.


Jia Kun mengetahui nama asli Tang Lian ketika hari pernikahannya dengan putrinya, pada saat itu jiwa Jia Kun terguncang dan hampir gila karena kenyataan ini, namun Tang Lian membantunya agar jiwanya kembali normal. Berbeda dengan Jia Li yang terlihat tidak peduli.


"Ayah, menantumu itu sebentar lagi akan memliki anak dengan Kakak Mei.." Jia Li menjawab pertanyaan ayahnya sebelumnya.


"Oh, jadi begitu... Hmm, Li'er apakah kamu akan menyusul juga?." Jia Kun berkata pada putrinya.


Pertanyaan Jia Kun membuat Jia Li malu hingga Jia Li mencubit pinggang ayahnya.


"Ayah kami baru saja menikah.." Jia Li berkata seraya mencubit pinggang ayahnya.


"Baiklah Li'er, namun ayah juga menginginkan cucu.." Jia Kun berkata seraya menahan sakit di pinggangnya.


Hal-hal seperti itu terus berlanjut hingga waktu kepergian Tang Lian sudah tiba, dan sekarang semua orang sedang berkumpul digerbang sekte untuk mengantar kepergian Tang Lian dan yang lainnya.

__ADS_1


"Li'er apakah kamu yakin ingin ikut? Perjalanan ini sungguh berbahaya.." Tang Lian bertanya kembali kepada Jia Li.


"Jika kamu tidak ingin aku ikut maka untuk apa kamu menikahi aku?." Jia Li bertanya dengan kesal karena Tang Lian sudah beberapa kali menanyakan hal yang sama.


"Baiklah, tapi kamu harus berjanji padaku agar tidak jauh-jauh dariku paham?." Tang Lian berkata dan menghela nafas.


"Mengapa? Kamu takut pria lain menggodaku?."


"Tidak, aku tidak takut akan hal itu karena sebelum hal itu terjadi maka orang itu akan aku bunuh terlebih dahulu dan-...".


"Baiklah, baiklah, aku paham suamiku, sebaiknya kita berangkat sekarang." Jia Li berkata dan membuat Tang Lian menghentikan perkataanya.


"Ayah kami pergi, dan jangan khawatirkan aku ayah, aku pasti akan baik-baik saja." Jia Li berpamitan pada ayahnya.


Sedangkan Tang Lian membatin 'Mengapa Li'er terlihat lebih bersemangat dari pada aku?'.


Setelah itu Tang Lian juga berpamitan pada Jia Kun dengan hormat karena sekarang pria tua yang pernah hampir dia bunuh itu telah menjadi mertuanya.


"Baiklah nak, hati-hati dijalan.." Jia Kun hanya bisa berkata seperti itu dan menatap kepergian putrinya yang dibawa oleh Tang Lian seraya berpikir 'Anak muda sungguh bersemangat'.


Tang Lian tidak berpamitan kepada Liu Mingyan karena berpikir itu tidak penting, karena kemaren sore Liu Mingyan tidak menunjukkan reaksi apapun ketika berbicara dengan Tang Lian.


Selama tiga hari lamanya Tang Lian terus berjalan dan terkadang beristirahat dipunggung Lao Hu. Karena ini adalah hutan belantara maka Lao Hu juga tidak perlu ragu untuk mengubah tubuhnya menjadi tubuh aslinya yaitu sepuluh meter.


Tanah yang bergetar ketika Lao Hu melangkahkan kakinya membuat tidak ada satu binatang buas pun yang berani mendekat ataupun mengganggu perjalanan mereka. Terkadang juga Zhao Yu memainkan sulingnya untuk memecah keheningan dalam perjalanan mereka.


Permainan suling Zhao Yu yang begitu indah membuat jiwa semua orang tentram, namun juga terkadang Zhao Yu memainkan suling dengan dengan nada sedih yang mendalam. Hal itu membuat Tang Lian berpikir mungkin Zhao Yu ini juga memiliki masa lalu yang menyedihkan, namun walaupun begitu Tang Lian memilih untuk tidak berbicara sama sekali.


Tang Lian berpikir, seiring berjalannya waktu maka dia juga akan mengetahuinya nanti, dan pada saat itu tiba maka Tang Lian berpikir pasti akan membantu Zhao Yu apa pun itu resikonya agar Zhao Yu bisa melupakan kesedihan itu. Tang Lian berpikir seperti itu karena dia telah menganggap Zhao Yu seperti adiknya sendiri walaupun dia tidak pernah mengungkapkanya.


***BERSAMBUNG***

__ADS_1


__ADS_2