
Disisi Den Run yang mendengar perkataan Jia Kun sebelumnya kemudian tertawa menghina.
"Adik? Setelah apa yang kau lakukan kepadaku? Sungguh bodoh!!." Den Run berkata kemudian menghancurkan giok jiwa yang ada ditangannya.
"Den Run, apa maksudmu?." Jia Kun bertanya dengan bingung karena Jia Kun berpikir dia tidak pernah memperlakukan Den Run dengan buruk.
"Jia Kun, aku tidak tahu apakah kau ini bodoh atau apa? Margaku adalah Den, kemudian lima tahun yang lalu dihutan kesunyian seorang pemuda berusia tujuh belas tahun dan memiliki marga yang sama denganku mati dengan mengenaskan disana, apa kau mengingatnya?." Den Run berkata sambil memejamkan matanya dan mengingat masa lalu.
"Lima tahun yang lalu? Hutan kesunyian?." Jia Kun berkata dengan bingung kemudian berusaha mengingat masa lima tahun lalu.
Kemudian setelah beberapa menit Jia Kun akhirnya mengingat apa yang terjadi lima tahun yang lalu. Lima tahun yang lalu Jia Kun memang benar telah membunuh seorang pemuda bernama Den Ren, mengingat itu Jia Kun dan para tetua yang lainnya membelalakkan matanya karena terkejut.
"Den Ren seorang pemuda bajingan yang hampir memperkosa salah satu muridku, apakah dia putramu?." Jia Kun yang telah mengingatnya kemudian bertanya lagi untuk memastikan.
"Jika sudah tahu untuk apa lagi bertanya? Seharusnya kau sudah tahu mengapa aku bergabung dengan sektemu adalah untuk menyiksa dan membunuhmu secara perlahan, aku ingin kau juga merasakan bagaimana rasanya kehilangan anak satu-satunya, hehehe namun tak disangka ternyata rencana yang telah aku susun selama bertahun-tahun lamanya ternyata gagal karena pemuda bajingan ini!!."
Den Run berkata seraya mengepalkan tangannya dengan erat karena merasa dendam. Hal ini adalah wajar saja karena mau seburuk apapun seorang anak maka orang tua tetap akan mencintainya melebihi apapun terlebih lagi jika dia adalah anak satu-satunya, siapapun itu tentu saja akan merasa marah karena putranya dibunuh. Namun ini adalah dunia yang kejam yang dimana kasus pembunuhan adalah hal yang biasa.
"Sekte ini adalah sekte aliran putih, jadi tentu saja kami tidak akan memberikan belas kasih kepada orang yang bejat dan tidak tahu terima kasih terlebih lagi penghianat sepertimu." Tetua ketiga kembali berbicara dan menatap Den Run dengan tatapan membunuh.
"Itu benar, pemimpin sekte aku rasa kita sudah tidak memiliki hal untuk dibicarakan lagi, lebih baik sekarang kita membunuhnya." Tetua yang lainnya juga berbicara dan mengusulkan untuk segera membunuh Den Run.
"Seorang penghianat hukumannya adalah mati!!." Jia Kun berkata kemudian berdiri dari kursinya dan diikuti oleh enam tetua yang lainnya.
__ADS_1
"Sekelompok semut berbicara seolah-olah dia mampu hahaha sungguh lucu, kalian berenam hanya berada diranah jendral perak tingkat puncak dan untuk Pemimpin kalian hanya berada diranah jendral emas tingkat menengah sedangkan aku setelah menelan pil iblis ini sekarang berada di ranah kaisar perunggu tingkat awal, aku ingin lihat bagaimana kalian akan membunuhku!!." Den Run berkata kemudian tertawa merendahkan
"Kekuatan kami memang lebih lemah darimu namu jumlah kami lebih banyak!!." Jia Kun berkata kemudian melesat dengan cepat untuk menyerang Den Run dan diikuti oleh keenam tetuanya.
"Tujuh orang melawan satu orang, hehehe menarik, aku telah lama tidak berolah raga jadi aku harap kalian tidak membuatku kecewa.." Den Run yang telah berubah penampilan menjadi iblis berkata kemudian menyambut serangan Jia Kun dan para tetuanya.
"Bam....Bam....Bam..."
Suara pertarungan tujuh melawan satu menggemma di ruangan utama sekte elang besi. Disisi Den Run dia dengan sengaja mengalah dan membuat dirinya seolah-olah terpojok dan membuat Jia Kun dan keenam tetuanya merasa mendominasi.
"Tehnik pedang membelah awan!!." Jia Kun bergumam lalu mengayunkan pedangnya secara vertikal kearah Den Run yang tengah bertarung dengan salah satu tetua sekte elang besi.
Tetua sekte yang tengah bertarung itu kemudian merasakan tehnik Jia Kun dari belakangnya kemudian menghindar dengan cara melompat kesamping. Serangan ini adalah tehnik kombinasi untuk mengalihkan perhatian.
"Trang..." Suara benturan antara tehnik pedang Jia Kun dan tangan Den Run yang sekeras baja menggema dengan suara yang ngilu ditelinga.
Kemudian pada saat Den Run menahan serangan Jia Kun keenam tetua yang lainnya telah mengepungnya. Kemudian tetua kedua yang melihat serangan Jia Kun ditahan tidak ingin memberikan kesempatan kepada Den Run kemudian melesat dengan cepat dan dalam sekejap dia telah sampai dihadapan Den Run dan menendang perutnya.
"Buk..."
Tetua kedua yang menendang Den Run dengan keras merasakan keram dikakinya namun dia memaksakan tendangannya dan akhirnya membuat Den Run terhempas dua meter kebelakang.
"Kekuatan seorang kaisar perunggu tingkat awal ternyata hanya segini." Tetua kedua berkata dan tersenyum mengejek. Sedangkan didalam batinnya tetua kedua mengumpat karena tubuh Den Run sangat keras dan membuat kakinya keram hingga gemetar namun tetua kedua berusaha menahannya.
__ADS_1
"Aku akui kalian memang memiliki kemampuan untuk melawanku namun..." Den Run tidak menyelesaikan perkataanya tiba-tiba menghilang dari tempatnya seperti angin lewat dan muncul kembali dibelakang tetua kedua.
"Sangat cepat!!." Tetua kedua bergumam karena merasa terkejut.
"Bersikap sombong dihadapan ku maka satu kata yang pantas kau dapatkan yaitu MATI!!." Den Run berkata kemudian menendang leher tetua kedua dengan keras kelantai.
"Ahkkk..." Tetua kedua menjerit kesakitan karena tidak sempat menghindar lagi dan akhirnya telungkup dilantai dan tidak sadarkan diri.
"Tetua kedua!!." Jia Kun dan kelima tetua yang tersisa berteriak khawatir.
"Dia sudah tidak dapat mendengar kalian tapi tenang saja dia belum mati, aku akan membuat kalian semua bernasib serupa dengannya dan aku akan membunuh kalian satu persatu setelah aku menyiksa kalian dengan puas hahahaha..." Den Run berkata dan tertawa menyeramkan.
"Keparat!! Aku akan membunuhmu!!." Jia Kun berteriak marah dan aura membunuh merembes keluar.
"Pemimpin sekte jangan gegabah." Tetua ketiga berkata dan ingin menahan Jia Kun namun sudah terlambat karena Jia Kun sudah melesat dengan cepat dan menyerang Den Run.
"Hahaha... Kemarilah dan berikan aku kesenangan yang lebih lagi!!." Den Run berkata dan tertawa sambil masih menginjak leher tetua kedua dibawahnya lalu menyambut serangan Jia Kun.
"Bajingan, aku akan membuatmu menyesal karena telah dilahirkan!!." Jia Kun berkata dan terus melesat kemudian menggumamkan sebuah tehnik pedang.
"Cakar dewa elang!!." Jia Kun bergumam dan mengarahkan tehniknya kepada Den Run.
Tehnik cakar dewa elang adalah tehnik yang sama dan pernah digunakan oleh Tang Lian sendiri. Tehnik ini memunculkan bayangan tangan yang besar dengan kuku yang tajam oleh penggunanya.
__ADS_1