PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 183 "Perang II."


__ADS_3

"Pemimpin! Apa yang anda katakan? Kita semua adalah seratus assassin yang terpilih, kita telah beberapa kali berjuang hidup dan mati bersama, sekarang bagaimana pemimpin bisa mengatakan hal konyol seperti itu!?.." Ujar salah satu anggota menolak.


"Benar pemimpin! Kita seratus assassin akan mencoreng nama baik Istana Penghakim jika melakukan itu!.."


"Pemimpin, kemana pun kamu pergi, apapun perintah anda, kami percaya pada pemimpin kami. Setiap keputusan yang di ambil itu memiliki resikonya, namun kami percaya pemimpin pasti sudah memikirkan segalanya..."


"Satu hal yang tidak boleh kamu lupakan pemimpin....." Pemimpin assassin itu merasa terharu mendengar semua perkataan anggotanya, matanya bersinar dan ia tertawa pelan. Dan detik berikutnya mereka berteriak bersama, ""KITA SERATUS ASSASSIN DARI ISTANA PENGHAKIM ADALAH SATU NYAWA, MATI SATU MAKA MATI SEMUA! SEHIDUP SEMATI BERJUANG BERSAMA SAMPAI AKHIR, SUMPAH DAN JANJI HARUS DI PENUHI!!!""


Suara teriakan seratus assassin itu menggema dengan serentak, mereka meletakkan tangan kanan mereka di dada kirinya seperti sedang melakukan penghormatan.


Mao Gu menatap seratus assassin itu dengan tatapan menghina, ia berpikir betapa bodohnya seratus assassin itu. Bahkan pada saat-saat terakhir mereka masih bisa berteriak congkak seperti itu.


"Hahahaha!!! Kalian sungguh menakjubkan! Sehidup semati sampai akhir hahaha!! Kalau begitu maka akan ku bunuh kalian semua dalam satu serangan!!." Mao Gu membentuk segel tangan, energi hitam pekat berkumpul dan membentuk sebuah telapak tangan yang sangat besar.


"Selamat tinggal Hahahaha!!.." Teriak Mao Gu seraya menembakkan telapak tangan raksasa itu kedepan dan ia tertawa terbahak-bahak sendiri.


Disisi Mao Tzu dan Mao Tse beserta para panglima iblis angin lainnya, mereka tersenyum puas. Akhirnya batu kerikil didepan mereka disingkirkan juga. Namun sang Naga kegelapan, ia tidak berpikir demikian, ia hanya berkata, "Dasar bodoh.." Kata-kata itu sangat pelan dan tidak terdengar oleh siapapun.


Dan benar saja seperti yang dipikirkan oleh naga kegelapan, ketika telapak tangan raksasa itu hampir sampai dihadapan seratus assassin yang bersiap menahan serangan itu dengan segenap kemampuan mereka, tiba-tiba sebuah dinding es raksasa berdiri menjulang tinggi dan membentuk sebuah benteng.


"BOOOMM!!.."


Telapak tangan raksasa itu menghantam dinding es dengan sangat keras, hingga menciptakan gempa yang lebih keras dari pada sebelumnya. Abu beterbangan menutupi seluruh pandangan orang.

__ADS_1


Ketika abu perlahan menghilang, wajah orang-orang dari kekaisaran Zhang berubah sangat jelek dan sangatlah jelek. Mao Tzu dan Mao Tse beserta seluruh panglima iblis angin, menyeritkan keningnya dan menatap kesebuah tempat dengan tatapan penuh dendam dan kebencian.


Seratus assassin sebelumnya, membelalakkan matanya sangat lebar ketika melihat tembok es didepannya menjulang sangat tinggi.


Mao Gu, dia bahkan berekspresi lebih jelek lagi, karena serangan telapak tangan raksasa yang ia lancarkan sebelumnya itu bahkan tidak bisa menggores sedikitpun dinding es itu.


"Bagus! Sangat bagus! Seratus assassin dari istana Penghakim kami sangat luar biasa!.." Ujar tetua kedelapan Zhao Chun, diiringi dengan itu, tetua lainnya muncul bersamaan dengan seluruh pasukan yang mereka bawa.


Tetua kelima istana Penghakim, melihat jika seratus assassin masih dikepung oleh empat ribu lebih pasukan musuh. Ia menatap tajam kearah musuh itu dan membentuk segel tangan, "Kalian iblis biadab! Menjauh dari murid-murid kami!!.." Teriaknya kemudian tanaman merambat dari tanah, menusuk semua pasukan itu dalam satu kali gerakan hingga mati ditempat dengan mata terbuka lebar. Kemudian ia sekali lagi menggunakan tanaman merambat itu, mengikat seratus assassin dan membawanya ke hadapan seluruh tetua, dengan begini nyawa mereka sudah tidak terancam.


"Hormat kepada seluruh tetua!!.." Ujar seratus assassin serentak dan berlutut.


"Bangunlah.." Ujar terus kedelapan.


Memandang seratus assassin dengan tatapan bangga dan puas tetua kedelapan berkata, "Kalian telah melakukan pekerjaan luar biasa, sekarang kalian beristirahatlah dan pulihkan diri. Selanjutnya serahkan pada kami.."


"Terima kasih tetua.." Jawab semua assassin serentak.


Sementara itu, disisi Mao Tzu dan seluruh jenderal dan pasukannya, wajah mereka lebih dari pada jelek. Melihat ke sekeliling mereka telah dikepung dari berbagai arah. Bahkan jika berpikiran untuk mundur, sekarang sudah terlambat. Tidak ada celah sedikitpun bagi mereka untuk lolos kali ini, namun anehnya Sang Naga Kegelapan masih terlihat santai.


"Kalian, dilihat dari seragam militer kalian sepertinya berasal dari kekaisaran Zhang." Ujar tetua ke tujuh istana Penghakim.


"Karena sudah tau mengapa tidak menyingkir dari jalan kami!.." Jawab Mao Tzu

__ADS_1


"Menyingkir? Hahaha... betapa lucunya itu, kalian berkomplot dengan iblis bagaimana kami bisa melepaskan kalian?.." Mengangkat tangan kanannya, tetua kedelapan istana Penghakim memberikan perintah, "Serang!!!.."


Satu kata dari tetua kedelapan, seratus empat puluh ribu lebih pasukan istana Penghakim, dengan gagah berani menyerbu bersamaan. Teriakan semangat mereka menggema, langkah kaki mereka membuat getaran di tanah.


Dari segala arah, Mao Tzu dan pasukannya diserang. Dengan cepat ia memikirkan strategi. Sekarang rencana penghancuran kekaisaran Long sudah gagal, dan satu-satunya pilihan saat ini adalah, menerobos kepungan dari belakang dan perlahan mundur.


"Cih!! Tidak ada pilihan lain!!... Perintahkan semua pasukan, terobos kepungan belakang dan mundur secepatnya!!.." Mata Mao Tzu terlihat di penuhi oleh kebencian dan dendam ketika dia memberikan perintah itu.


""Semua pasukan dengarkan perintah!!.. Mundur dan terobos kepungan!!"" Teriak komandan dan setiap devisi pasukan.


Detik berikutnya, pasukan kekaisaran Zhang yang tersisa tujuh puluh ribu orang, bergerak serentak mengangkat senjata dan berlari kearah garis belakang dengan tujuan menerobos dan mundur dengan cepat.


Dua menit kemudian, perang pun pecah, kurang dalam lima menit setelah perang pecah, darah mengalir bagaikan air sungai, potongan tubuh dan mayat bergelimpangan dimana-mana. Namun itu bukan mayat dari pasukan istana Penghakim melainkan pasukan kekaisaran Zhang. Satu demi satu, detik demi detik, menit demi menit, pasukan kekaisaran Zhang berjatuhan dengan sangat menyedihkan. Tidak ada ampun bagi mereka, pasukan istana Penghakim membunuh mereka dengan sangat kejam.


Bahkan jika musuh hanya tinggal tubuh, sudah kehilangan kaki dan tangan pasukan istana Penghakim juga masih memenggal kepalanya dan menusuk jantungnya.


Sepuluh menit sudah pertempuran berlalu, tetapi kekaisaran Zhang bahkan tidak menerobos satu inci pun, namun justru mereka telah kehilangan lebih dari lima ribu pasukan dalam waktu singkat itu.


"Sial!! Jika terus begini kita semua pasti akan mati!!.." Ujar Mao Tzu panik. Ia jelas-jelas melihat bagaimana para pasukannya di bantai dengan kejam tanpa ampun.


Mao Tzu menoleh ke arah panglima iblis angin yang masih belum bergerak, "Saatnya kalian bergerak!!.." Ujarnya memberi perintah.


"Laksanakan Yang Mulia!!.." Ujar Mao Zedong dan Mao Ziyi serentak. Mereka berdua langsung melompat dan terjun ke medan perang dengan ganas. Seperti namanya, mereka berdua memang layak di beri julukan panglima iblis angin. Mereka baru saja terjun ke medan perang, tetapi dalam serang pertama mereka sudah membunuh dia puluh orang sekali gus.

__ADS_1


__ADS_2