
Syakira kini sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik namun tergolong gadis introver. Putri dari Mikaila ini sudah berusia enam tahun dan saat ini sedang sekolah di sekolah internasional yang terdapat di kota Seoul.
Mikaila dan putrinya memang sudah tinggal di rumah mereka sendiri setelah perusahaan milik Mikaila berkembang pesat. Berkat kerja kerasnya ia mampu membayar beberapa pelayan yang bekerja di rumahnya dan rata-rata adalah orang Indonesia.
Siang itu hujan turun dengan derasnya saat Mikaila menjemput putrinya yang sudah pulang sekolah. Lagi-lagi Mikaila harus terlambat menjemput putrinya yang berdiri dengan sabar di depan pintu keluar lobi sekolah.
Syakira hanya berdiri sendirian karena semua temannya sudah pulang. Mobil Mikaila langsung memasuki halaman sekolah menuju di depan ruang lobi tersebut.
Mikaila turun membawa payung untuk membawa putrinya menuju mobil.
"Bukankah ibu sudah bilang untuk membawa payung saat memasuki musim hujan?"
"Maaf ibu! SYAKIRA lupa. Tapi tadi pagi udara sangat cerah dan SYAKIRA tidak tahu kalau siangnya bakalan hujan deras seperti ini." Ujar SYAKIRA.
"Tidak perlu melihat cuaca sebelumnya karena hujan selalu datang tiba-tiba. Bawa saja payung mu kalau sudah datang musim hujan." Timpal Mikaila.
"Baik ibu. Jangan lagi mengomeliku karena penyakit lupaku."
Mikaila membuka pintu mobil buru-buru untuk putrinya dan keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Syakira! Apa yang ibu katakan, walaupun itu hal yang sederhana dan terkesan remeh, coba turuti apa yang ibu minta atau menasehati mu. Tidak selamanya ibu menemanimu sampai kamu remaja ataupun dewasa." Ujar Mikaila sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.
Syakira menautkan alisnya menatap wajah ibunya.
"Apakah ibu akan meninggalkan aku juga setelah ayah meninggalkan kita?"
"Siapa tahu saja SYAKIRA karena ajal bisa datang kapan saja. Ajal tiba tidak kenal usia, waktu dan tempat. Jadi sebagai umat muslim yang taat, kita harus mempersiapkan diri untuk mengejar amal kebaikan sebanyak mungkin di dunia ini dan mengerjakan amal baik itu tidak harus menunggu mau mati dulu, sayang."
Mikaila mengusap lembut kepala putrinya..
"Jangan ngomong ajal saat ini ibu! karena itu sangat menakutkan bahkan menyedihkan dan SYAKIRA tidak mau ibu meninggalkan SYAKIRA di saat SYAKIRA sangat membutuhkan kasih sayang ibu." Ujar SYAKIRA sambil menempelkan tubuhnya pada ibunya.
"Kalau begitu turuti apa perkataan ibu mulai saat ini."
"Iya ibu!"
...----------------...
Setibanya di rumah, Mikaila mengurus putrinya dengan baik. Ia memandikan Cyra dan menyiapkan makanan untuk putrinya. Menu makan malamnya berupa nasi putih dan Jeongol.
Jeongol merupakan sup yang dimasak dalam wadah besar. Isinya terdiri dari irisan daging sapi, jeroan, makanan laut, sayuran, dan bumbu rempah. Cita rasa makanan ini pedas, sehingga cocok untuk Mikaila dan putrinya yang gemar mengonsumsi makanan pedas.
"Apakah ibu sendiri yang memasaknya?"
"Iya sayang. Ibu sendiri memasak untukmu saat musim hujan seperti ini. Ibu tahu SYAKIRA selalu lapar jika memasuki musim hujan maupun musim salju.
"Ibu!"
__ADS_1
"Hmm!"
"Syakira kepingin makan empek-empek asli Palembang."
"Nanti ibu akan meminta tante Ika mengirim untuk kita."
"Kapan kita pulang ke Indonesia ibu? Syakira pingin lihat Bali katanya tempat itu sangat indah."
"Nanti saja kalau kamu sudah masuk musim liburan panjang."
"Berarti tunggu tiga bulan lagi kita akan berlibur ke Indonesia?"
"Iya sayang! Nanti kita ajak paman Hanan, Tante Ika dan sepupumu untuk liburan ke Bali."
"Wah! Pasti itu sangat menyenangkan." Ucap Syakira sambil tersenyum.
Keduanya menghabiskan makan malam mereka dan segera melaksanakan sholat isya. Mikaila mengajarkan Al-Qur'an kepada putrinya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Syakira mengulangi lagi hafalannya kemarin dan setelah itu ia baru diperbolehkan istirahat jika sudah menyetor hafalannya.
"Ibu!"
"Iya sayang!"
"Apakah ibu tidak ingin menikah lagi?"
Mikaila menatap wajah cantik putrinya seakan mencari alasan SYAKIRA menanyakan kehidupan asmaranya yang sudah ia kubur usai bercerai dengan Zefran.
"Syakira tidak keberatan jika ibu menikah lagi, yang penting ibu bahagia."
"Hidup ibu hanya untuk Allah dan SYAKIRA. Ibu tidak berminat untuk menikah lagi."
"Apakah ibu masih mencintai ayah?"
Deggggg..
"Jangan bertanya seperti itu SYAKIRA karena ayah dan ibu tidak pernah bersatu lagi."
"Apa yang membuat kalian berpisah? Apakah karena aku adalah penyebabnya?"
"Perpisahan kami tidak ada sangkut pautnya dengan kamu sayang?"
"Ibu!"
"Iya sayang!"
"Bagaimana kalau suatu hari nanti ayah mengambil aku dari ibu?"
__ADS_1
"Bagaimana mungkin dia akan mengambil kamu SYAKIRA, jika dia sendiri mengingkari kamu adalah putri kandungnya." Batin Mikaila.
"Ibu!"
"Hmm!"
"Sepertinya ada seseorang yang akan memberi tahukan ayah tentang rahasia besar ibu yang selama ini ibu sembunyikan dari ayah." Ujar SYAKIRA membuat ibunya menatapnya heran.
"Apa maksudmu SYAKIRA?"
"Apakah ibu tidak mengatakan kepada ayah bahwa aku adalah putri kandungnya?"
"Syakira! mengapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Apakah seseorang pernah mengatakan sesuatu padamu?"
Mikaila menjadi curiga kepada pada putrinya.
"Tidak ada ibu! aku hanya menebak saja." Imbuh SYAKIRA.
"Baiklah. Jangan membahas tentang ayahmu lagi. Dia tidak mengakui kita berdua adalah bagian dari hidupnya, jadi untuk apa kamu harus berharap padanya."
"Baiklah ibu. Syakira tidak akan menanyakan lagi tentang ayah. Tapi bersiaplah, ayah akan membuat perhitungan dengan ibu." Ucap SYAKIRA membuat Ibunya makin tidak paham dengan perkataan putrinya.
Deggggg...
"Syakira! selesaikan PR mu dan setelah itu kamu harus tidur. Jangan mengacau lagi tentang ayahmu." Ujar Mikaila lalu membantu putrinya mengerjakan tugas sekolahnya.
Syakira makin gregetan dengan ibunya yang tidak mau mempercayai perkataannya. Ia bisa bicara seperti itu karena bisa melihat masa depan pada seseorang yang tergambar jelas di pikirannya tapi dia tidak tahu itu apa.
Tapi hanya hal-hal tertentu yang bisa ia lihat dan ia ketahui bukan semuanya. Seperti hujan yang tiba-tiba turun deras siang hari ini, padahal sebelumnya langit sangat cerah.
Keesokan harinya, Mikaila segera menemui sahabatnya, dokter Ae RI. Ia ingin menanyakan kepada sahabatnya itu apakah selama ini putrinya menanyakan sesuatu pada sahabatnya itu saat keduanya bertemu atau saling menghubungi melalui telepon seluler.
"Dokter!"
"Hmm!"
"Apakah kamu pernah membahas tentang ayah kandungnya SYAKIRA atau bagaimana ia bisa hadir di rahimku?"
"Mana mungkin aku menjelaskan hal serumit itu pada anak usia enam tahun?" Ujar dokter Ae RI.
"Tapi perkataan SYAKIRA semalam sangat menggangguku." Ujar Mikaila terlihat gelisah.
"Apa yang dikatakan SYAKIRA padamu?"
"Iya mengatakan jika ayahnya akan mendapatkan informasi yang sangat akurat yang selama ini aku rahasiakan pada Zefran." Sahut Mikaila.
"Syakira mengatakan itu? emangnya dia tahu apa tentang rahasia yang selama ini kita jaga. Apakah ada keluargamu yang mengatakan kepadanya?" Tanya dokter Ae RI.
__ADS_1
"Aku rasa mereka juga tidak mungkin menjelaskan hal tabu untuk anak seusia SYAKIRA."
"Benar juga sih. Tapi, sebaiknya peringatan SYAKIRA padamu jangan dianggap remeh karena perkataan anak kecil kadang-kadang terbukti apa lagi ini mengenai dirinya sendiri." Ujar dokter Ae RI membuat Mikaila makin pusing.