
Mikaila menceritakan percakapannya dengan kakak iparnya Ika mengenai keinginan kakaknya Hanna yang ingin merawat putrinya saat dia sudah tiada.
"Jadi Hanna ingin merawat SYAKIRA dengan jaminan perusahaanmu dan juga asuransi pendidikan milik Syakira?"
"Iya kak Ika."
"Kurangajar! Dasar perempuan tidak tahu malu! Tahu apa suaminya tentang bisnis? yang ada kekayaanmu akan dihabiskan di atas meja judi dan perempuan nakal."
Ucap Ika yang tidak tahan lagi dengan adik iparnya Hanna.
Bagai gayung bersambut, orang yang mereka bicarakan akhirnya datang bertamu ke rumah Ika. Melihat kedatangan Hanna, Ika segera mengakhiri percakapannya dengan Mikaila untuk menemui Hanna.
"Kebetulan sekali kau datang Hanna."
"Apakah kak Ika kangen padaku?"
"Kangen! hah? Yang benar saja Hanna. Jangan terlalu percaya diri jadi manusia. Apa lagi perempuan tidak tahu malu sepertimu harus diberi pelajaran supaya bisa memperbaiki otakmu yang licik itu." Sergah Ika sengit.
"Maksud kak Ika apa? Hana nggak ngerti."
Plaakkkk...
Satu tamparan keras mendarat di pipi Hanna dari Ika yang sudah geram pada adik iparnya yang serakah ini.
"Kak Ika! Apa-apaan ini? Kenapa kamu tega menamparku?"
Tanya Hanna sambil mengusap pipinya yang sakit.
"Tanyakan pada dirimu sendiri yang tega menyakiti adikmu yang malang itu dengan memanfaatkan sakitnya untuk kepentingan mu.
Apakah itu ide gila suamimu yang pengangguran itu? Kamu mau saja di manfaatin lelaki itu untuk menjadikanmu pengemis pada keluargamu sendiri hanya untuk memuaskan lelaki itu di atas meja judi."
"Itu urusan rumah tanggaku, bukan urusan kakak!"
"Oh, baguslah kalau begitu, kalau kamu tidak mau aku ikut campur. Kalau begitu, jangan pernah datang lagi ke rumahku atau meminta uang pada mikaila untuk kebutuhan hidupmu!" Hardik Ika lalu mendorong tubuh adik iparnya itu keluar dari rumahnya.
Ika menutup pintu rumahnya dengan kencang membuat Hanna terperanjat.
"Sial! Aku belum sempat mendapatkan uang darinya malah aku sudah di usir dari rumah nya."
Umpat Hanna lalu naik lagi sepeda motornya.
Sementara itu, di rumahnya Mikaila menyambut kepulangan suami dan putrinya SYAKIRA yang terlihat sangat ceria.
"Ibuuuu!"
Syakira memeluk ibunya dan mencium pipi Mikaila berkali-kali.
"Bagaimana sekolahnya, apakah kamu belajar dengan baik."
__ADS_1
"Hmm!"
Zefran mencium istrinya." Maaf sayang! kami agak lama pulangnya karena jalan-jalan dulu keliling kota dan SYAKIRA minta dibelikan es krim.
"Tidak apa Zefran! Aku tadi ngobrol dulu dengan kak Ika."
"Bagaimana kabar keluargamu di kampung?"
"Alhamdulillah! Mereka semuanya dalam keadaan sehat."
"Syukurlah kalau begitu."
Dreetttt..
Ponsel Zefran berbunyi. Ternyata ada panggilan dari istrinya Hesty. Zefran segera menjauh dari Mikaila untuk menerima telepon dari Hesty.
"Ada apa Hesty?" Tanya Zefran dengan intonasi datar.
"Kamu di mana?"
"Di luar negeri."
"Kenapa keluar negeri lama sekali? Apakah ada masalah?"
"Banyak masalah yang harus aku selesaikan. Aku akan segera pulang. Tolong jangan menggangguku karena aku cukup setress di sini." Ujar Zefran kesal.
"Kamu tidak sedang menipu aku, bukan?" Tanya Hesty yang terlihat curiga.
Glekkkk...
"Ok, tidak masalah. Tapi aku bukan orang bodoh yang percaya begitu saja perkataanmu." Ujar Hesty sinis.
"Terserah dengan pikiran bodohmu itu!"
Zefran mematikan ponselnya dengan kesal.
"Hallo Zefran! Hallo...! Sial. Malah dimatikan lagi ponselnya." Umpat Hesty geram.
Hesty membanting ponselnya ke lantai hingga berantakan ke mana tempat. Ia begitu sakit hati pada Zefran yang menganggap dirinya seakan tidak pernah ada.
"Aku akan mencari tahu apa yang kamu lakukan dibelakang ku, Zefran! Jika kamu berani bermain api denganku, maka kamu akan tahu akibatnya Zefran, bagaimana sadisnya aku untuk membuatmu sakit sampai kamu takut untuk dilahirkan ke dunia ini."
Ujar Hesty menyeringai seperti iblis.
...----------------...
Hampir sebulan, Zefran berada bersama keluarga kecilnya di Seoul Korea Selatan. Ditambah dengan kesehatan Mikaila pun nampak lebih baik semenjak kehadiran Zefran dalam hidupnya lagi.
Entah sebuah euforia pernikahan ataukah sebuah keajaiban terapi yang diikutinya setiap Minggu hingga membuat Mikaila tidak lagi kambuh penyakitnya.
__ADS_1
Perubahan yang terjadi pada Mikaila berpengaruh juga pada putrinya SYAKIRA. Gadis ini tidak lagi murung di kelasnya walaupun masih ada saja temannya yang membully dirinya.
Justru ia lebih berani bertindak tegas pada temannya yang berani menganggunya.
Seperti yang terjadi pada makan siang, di mana A Yeong memakan makan siang milik SYAKIRA saat gadis ini sedang mengambil minumannya di pantry.
A Yeong segera kembali ke tempat duduknya dan terlihat pura-pura serius menikmati makan siangnya.
Syakira yang sudah melihat A Yeong yang memakan makan siangnya sangat kesal dengan perbuatan temannya itu.
Karena sakit hati yang sudah lama ia pendam selama ini, membuatnya nekat menuangkan minumannya ke tempat makan A Yeong sehingga menimbulkan keributan diantara keduanya.
Akibat dari keributan itu, pihak sekolah memanggil wali dari SYAKIRA dan A Yeong.
Kepala sekolahnya mulai menjelaskan kronologi pertengkaran kedua putri mereka.
"Dulu A Yeong dan SYAKIRA adalah sahabat akrab. Keduanya saling berbagi satu sama lain. Hingga suatu ketika SYAKIRA tidak menyukai perbuatan A yeong yang selalu mengigit makanan yang sedang di makan oleh SYAKIRA.
Karena merasa jijik bekas gigitan A Yeong, ia membuang makanannya itu dan mulai saat itu Keduanya saling bermusuhan. Hingga puncaknya keduanya akhirnya berkelahi." Ujar Kepala sekolah.
Mikaila dan Zefran hanya bisa mengelus dada mereka. Mereka juga tidak bisa menyalahkan SYAKIRA maupun A Yeong karena keduanya punya alasan masing-masing yang sulit di bela mana yang benar maupun yang salah. Satu-satunya jalan adalah memberi pengertian kepada putri mereka masing-masing.
Mikaila dan Zefran sudah berada lagi di rumahnya. Mikaila terlihat sangat marah pada putrinya yang sudah membuat ia sangat kecewa.
"Mikaila! Kendalikan dulu emosimu dan tanyakan alasan SYAKIRA mengapa ia nekat menumpahkan minumannya pada makanan temannya itu."
Zefran menenangkan istrinya yang saat ini menunggu SYAKIRA yang sedang ganti baju begitu lama di dalam kamarnya.
"Aku harus menghampiri anak itu. Dia tidak akan keluar dari kamarnya kalau aku tidak menghampirinya." Ujar Mikaila mendatangi putrinya yang sedang ketakutanmu di dalam sana.
Zefran mengekori istrinya karena takut Mikaila menghardik Putri mereka.
"Syakira! buka pintunya! Ibu mau bicara denganmu."
Syakira nampak kuatir dengan jantungnya berdegup kencang. Ia akhirnya membuka pintu kamarnya dan membiarkan kedua orangtuanya masuk untuk mengadili dirinya.
"Syakira! Apakah kamu bisa menjelaskan kepada ibu mengapa kamu harus bertengkar dengan temanmu A Yeong?" Bukankah sebelumnya kamu sangat dekat dengannya?"
"Ia sangat tidak sopan ibu. Ia selalu mengambil minumanku dan makananku yang masih tersegel atau masih baru dan memakannya setelah itu ia sisakan untukku dan itu sangat membuatku jijik." Jelas Syakira.
"Apakah dia anak yang sangat jorok sehingga kamu begitu jijik memakan bekas yang ia makan?"
"Itu makananku ibu dan aku tidak suka ada yang menyentuh makanan milikku sebelum aku memakannya.
Aku tidak suka makanan milikku dinikmati orang lain lalu sisanya aku yang menghabiskan makanannya." Imbuh SYAKIRA.
"Apakah besok-besok kamu tidak pacaran dan menikah? Apakah kamu tidak berciuman dengan suamimu suatu hari nanti?" Tanya Mikaila dengan wajah kelam.
"Apakah saat ibu mengetahui ayah menikah lagi dengan wanita lain, apakah ibu rela berbagi suami dengan wanita lain?" Balas SYAKIRA membuat Mikaila dan Zefran tersentak.
__ADS_1
Deggggg...