
Ketika mengetahui perubahan sikap suaminya yang sedang melindungi dirinya dari ancaman sang mertua, membuat Mikaila ingin hengkang dari negaranya dan menuju ke negara tetangga Korea Selatan untuk melahirkan dan membesarkan bayinya di sana.
Karena banyaknya imigran dari Indonesia yang menetap di negara yang terkenal dengan makanan kimchi nya itu, membuat Mikaila merasa tidak sendirian menjadi seorang perantau di negara tersebut.
Setelah mengurus paspor dan ijin visa tinggal di negara itu, Mikaila berangkat ke Korea Selatan tanpa memberitahu suaminya.
Mikaila tidak bisa menghubungi Zefran yang saat ini sedang diawasi oleh anak buah ayahnya. Pengawasan yang terlalu berlebihan pada dirinya sampai dengan meretas akun pribadinya untuk menyadap obrolannya dengan siapa saja membuat Zefran makin tertekan.
"Mungkin kita bisa bertemu lagi kecuali ayahku meninggal dunia Mikaila." Ujarnya lirih.
Walaupun begitu, Zefran tetap memantau keberadaan Mikaila agar ia bisa mengetahui keadaan gadis itu di manapun berada.
Sayangnya, Mikaila yang tidak mau memberitahu bahwa dirinya sedang hamil membuat Zefran menuduh gadis itu telah berselingkuh.
Setelah tiga bulan berada di negara Korea, perut Mikaila mulai membesar. Karena informasi yang hanya didapatkan secara sepihak itu, membuat Zefran menjadi murka.
Itu semua diketahuinya dari foto-foto Mikaila yang ia dapatkan secara langsung dari informannya karena ia tidak bisa melakukannya melalui ponsel atau email.
Wajah Zefran terlihat murka saat melihat tubuh Mikaila yang makin berisi dengan perut membesar. Walaupun gadis itu makin kelihatan cantik membuat hatinya makin merindu.
Rasa cemburunya teramat sangat membuatnya makin sesak membayangkan perselingkuhan Mikaila dengan lelaki lain yang tidak ia ketahui.
"Apakah selama ini istriku dekat dengan seorang lelaki?" tanya Zefran pada informannya.
"Selama dalam pantauan yang kami lakukan kepada istri anda, kami tidak pernah melihatnya berjalan dengan lelaki manapun tuan."
"Kalau tidak dekat dengan lelaki manapun, bagaimana mungkin dia bisa hamil, hah?!"
"Tidak tahu Tuan. Bukankah hanya anda suaminya? mungkin saja anak yang dikandungnya itu adalah anak anda Tuan."
Ujar Anwar dengan argumennya.
"Aku...?"
Zefran merasa tercekat mendengar penuturan anak buahnya. Iapun tidak ingin menjelaskan kepada anak buahnya karena itu tidak penting baginya. Bagaimana pun juga Mikaila masih status istrinya walaupun gadis itu sudah mencoreng aib di wajahnya.
"Baiklah. Terimakasih infonya." Ujar Zefran segera keluar dari bioskop itu meninggalkan Anwar yang masih asyik menikmati film action kesukaannya.
"Mikaila! mengapa kamu tega mengkhianati aku dengan lelaki lain setelah aku berjuang untuk melindungi kamu dari ancaman ayahku?" Keluh Zefran dengan tuduhan bodohnya.
Zefran segera
pulang menemui istrinya Hesty. Foto-foto milik Mikaila dibakar di tong sampah. Kekecewaannya pada Mikaila membuatnya ia berpikir untuk menghentikan transfer uang untuk Mikaila.
__ADS_1
"Enak sekali kau gadis ja*Ng. Kamu berselingkuh dengan menggunakan uangku hingga kau hamil. Sekarang apakah kamu masih bisa menyewa gigolo untuk menghangatkan tubuhmu setelah aku tidak bisa memberikan nafkah batin padamu?"
Zefran tidak serta merta menemui Hesty. Ia ingin ke ruang minum tempat ayahnya selalu menghabiskan wine jika sedang setress.
Zefran meneguk minumannya berkali-kali hingga tidak sadar satu botol wine di habiskan olehnya.
Iapun tidak bisa lagi mengendalikan mabuknya dan langsung jatuh terjerembab di atas lantai bermarmer itu.
...----------------...
Memasuki usia kandungannya sembilan bulan, Mikaila sudah menyiapkan segalanya menjelang persalinannya. Selama ini kandungannya tidak pernah bermasalah.
"Sayang! Semoga ibu bisa menyelamatkan kamu dan ibu mohon jangan mempersulit ibu saat kamu datang ke dunia karena ayahmu tidak bisa menemani kita." Ujar Mikaila.
Mikaila sendiri tidak memberitahukan keadaannya yang saat ini sedang hamil kepada keluarganya di kampung.
Sementara Zefran sudah mulai membuka hatinya pada Hesty, istri keduanya. Hesty yang melihat perubahan Suaminya yang makin perhatian dan sayang padanya, membuatnya sangat bahagia dan lebih memperbaiki diri.
"Sayang!" Panggil Hesty manja pada Zefran.
"Hmm!"
"Apakah kamu masih berharap kita memiliki keturunan?"
"Andaipun sampai aku tua tetap saja kita tidak memiliki keturunan, apakah kamu masih mencintaiku?"
"Hmm!"
Ujar Zefran tidak begitu serius dengan hatinya.
"Terimakasih Zef! Aku sangat mencintaimu."
Zefran tidak membalas ucapan istri keduanya itu. Ia sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.
Mungkin Zefran saat ini sedang menjadikan Hesty sebagai pelariannya karena kecewanya kepada Mikaila, istri pertamanya.
Sementara Mikaila harus berjuang sendirian untuk bisa menolong dirinya sendiri karena sampai saat ini ia belum menemukan sahabat yang bisa diajaknya untuk berbagi, walaupun ia sudah memiliki banyak kenalan namun hanya sementara saja tidak sampai dibawa ke pertemanan yang lebih serius.
Walaupun begitu, Mikaila selalu menghubungi dokter Ae RI, yang merupakan dokter spesialis kandungan yang selama ini menjadi tempat konsultasinya.
"Lebih baik kamu menginap di rumah sakit menjelang persalinan daripada kamu tinggal di apartemen sendirian.
Aku kuatir kamu tidak akan sanggup berangkat ke rumah sakit sendirian saat terjadinya kontraksi." Pinta dokter Ae Ri.
__ADS_1
"Tidak masalah dokter, aku kuat melakukannya sendiri." Ujar Mikaila percaya diri.
Tidak lama waktu berselang, Mikaila mulai merasakan kontraksi pertamanya. Ia segera memesan taksi untuk berangkat ke rumah sakit.
Di rumah sakit itu, dokter Ae RI sudah menunggunya di ruang bersalin.
"Apakah kamu sudah siap Mikaila?"
"Iya dokter!"
Mikaila mengikuti instruksi dokter Ae RI saat ingin mengejan. Rasa sakit yang menderanya membuat ia sulit mengejan hanya satu kali. Dokter Ae RI terus memberikannya semangat agar Mikaila bisa melahirkan putrinya dengan selamat.
"Mikaila! Sedikit lagi, bayimu akan lahir. Tolong berjuanglah! Ucap Dokter Ae RI cemas.
Peluh sudah tidak tertampung lagi di area wajah dan lehernya. Rasanya ia ingin mati detik itu juga karena tidak kuat menahan sakit saat mengejan.
"Apakah kamu ingin bayimu meninggal, hah?!" Bentak dokter Ae RI ketika melihat Mikaila tampak lemah.
Mikaila kembali mengambil nafasnya lebih dalam dan mengejan sekuat mungkin dengan menyebutkan nama Allah.
Seketika bayinya terlahir juga berjenis kelamin perempuan dengan berat 3,5 kg dengan panjang 52 cm.
Tangis bayi itu menggema di ruang persalinan itu. Mikaila menarik nafas lega sambil memikirkan suaminya, Zefran.
"Sayang! Aku sudah melahirkan putrimu. Tapi dia hanya milikku saja bukan milikmu." Batin Mikaila.
Mikaila merasa sangat terharu saat bayinya dibaringkan di atas dadanya untuk mendapatkan makanan pertamanya di put*ing dada ibunya.
"Apakah kamu tidak mau mengabari suamimu, Mikaila?" Tanya dokter Ae RI setelah merapikan lagi jalur lahir istri dari Zefran ini.
"Tidak usah dokter. Pernikahan kami penuh dengan drama. Aku tidak ingin keluarganya mengetahui jika aku sudah melahirkan keturunan mereka." Ujar Mikaila dengan wajah sendu.
"Tapi putrimu butuh seorang ayah di masa pertumbuhannya." Timpal dokter Ae RI.
"Aku bisa menggantikan figur ayah untuk putriku."
"Siapa nama putrimu agar kami bisa membuat akte kelahirannya?"
"Syakira!"
"Nama yang bagus." Puji dokter Ae RI.
Suster mengambil bayi Mikaila untuk dibersihkan dan dipakaikan pakaian untuknya. Dalam beberapa menit, Baby Syakira sudah terlihat cantik dan siap di bawa ke ruang bayi.
__ADS_1