
Setelah proses pemeriksaan yang cukup lama di polres setempat, kini kasus Mikaila digulirkan di meja hijau untuk dijatuhi hukuman.
Kuasa hukum Mikaila berupaya sekuat tenaga untuk membela kliennya yang dinilai janggal karena kedapatan membawa masuk narkoba dari Korea Selatan hingga bisa masuk ke bandara internasional Soekarno-Hatta.
Pertarungannya dengan jaksa penuntut umum yang menjerat Mikaila dengan pasal berlapis membuat ibu dari SYAKIRA ini hanya berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Allah.
"Ya Allah. Engkau yang lebih mengetahui apa yang terjadi padaku karena Engkau adalah saksi ku. Aku mohon tolonglah aku dari fitnah keji ini."
Doa Mikaila yang saat ini sedang duduk di kursi pesakitan mendengarkan tiap pertanyaan yang di ajukan hakim dan jaksa penuntut umum kepadanya.
"Bagaimana anda menuduh klien saya melakukan tindakan yang melanggar hukum dengan membawa terang-terangan narkoba jenis sabu ke dalam kopernya, sementara ia sudah melalui tahapan pemeriksaan di bandara Incheon Korea Selatan.
Jika ia terbukti membawa sabu, sudah pasti nona Mikaila akan di tangkap di bandara Incheon bukan di bandara Jakarta.
Masa di bandara Incheon tidak bisa mendeteksi sabu dari koper milik nona Mikaila hingga bisa lolos sampai ke Indonesia?" Protes Tuan Narayan yang merupakan pengacara Mikaila.
"Apapun alasan Anda membela nona Mikaila yang bisa lolos dari pemeriksaan kopernya dari negara asal, namun buktinya di koper nona Mikaila sudah ditemukan sabu seberat satu kilogram.
Jadi anda tidak bisa membantah bukti itu karena bisa jadi nona Mikaila bekerjasama dengan pihak bandara dari negara asal untuk meloloskan barang haram itu sampai ke Indonesia.
Bukankah nona Mikaila adalah seorang CEO perusahaan yang bisa membawa barang haram itu ke Indonesia dengan menyogok petugas bandara?" Ucap Jaksa penuntut umum begitu menyakitkan Mikaila hingga membuat Zefran mengepalkan tangannya kuat.
"Keberatan yang mulia!" Teriak pengacara Narayan menyangga tuduhan Jaksa penuntut umum.
"Keberatan di tolak. Lanjutkan Jaksa!" Titah pak Hakim.
"Nona Mikaila merasa mampu menyogok petugas bandara Jakarta makanya barang haram itu bisa masuk ke Indonesia."
Ujar jaksa penuntut umum membuat Mikaila langsung tumbang karena fitnah yang terlontar dari mulut Jaksa penuntut umum terlalu keji yang dituduhkan kepadanya.
"Mikaila!"
Teriak Zefran ingin menghampiri istrinya ke depan, namun
dihalangi oleh petugas pengadilan membuatnya hanya bisa melihat dua orang polisi wanita membawa tubuh Mikaila ke rumah sakit karena keadaan Mikaila yang sudah sangat lemah.
Sidang pembacaan putusan hakim akhirnya di tunda Minggu depan. Ketukan palu hakim mengakhiri sidang. Hakim keluar duluan melalui pintu khusus baru diikuti peserta sidang.
Zefran segera menyusul istrinya ke rumah sakit. Setibanya di sana dokter menyatakan jika kangker lambung Mikaila kembali menyebar dan sudah mengenai jantungnya yang membuat istri Zefran itu sudah tidak bisa lagi bertahan lebih lama di dunia.
Syakira yang menunggu di luar gedung pengadilan bersama omanya tidak mau ikut ke rumah sakit bersama ayahnya.
__ADS_1
"Sayang! Ayo kita menyusul ayahmu ke rumah sakit! Apakah kamu tidak ingin melihat ibumu?"
"Percuma saja Oma kalau SYAKIRA ke rumah sakit karena mereka tidak akan mengijinkan SYAKIRA menemui ibu."
"Lantas, mengapa kita masih di sini?" Tanya Oma IFA sedikit bingung dengan sikap cucunya.
"Tunggu sebentar Oma!"
Syakira melihat pak jaksa penuntut umum yaitu tuan Mahendra berjalan menuju tempat parkir mobil.
Ia berlari cepat menghampiri Jaksa itu sebelum tuan Mahendra masuk ke mobilnya. Nyonya IFA tersentak melihat aksi nekat cucunya menghampiri Jaksa.
"Tunggu sebentar tuan Jaksa!"
Cegat SYAKIRA dengan wajah kelam menyimpan amarah. Jaksa membalikkan tubuhnya dan melihat SYAKIRA yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam membuat tuan Mahendra tersenyum licik.
"Apakah kamu putri dari terdakwa Mikaila?" Tanya tuan Mahendra dengan wajah angkuh.
"Tuan Jaksa! syukurlah anda mengenalku. Aku tahu saat ini ayahmu sedang sakit parah seperti ibuku yang saat ini sedang sakit parah."
Deggggg...
Tuan Mahendra terhenyak mendengar SYAKIRA yang mengetahui ayahnya sakit parah saat ini padahal tidak ada yang mengetahuinya termasuk orang-orang kepercayaannya.
"Apakah kamu gadis kecil yang sudah meramalkan kematiannya putra tuan Aryo?" Sindir tuan Mahendra.
"Ternyata berita tentang aku sudah sampai di telinga anda. Tapi aku bukan peramal tuan lebih tepatnya aku di berikan sedikit kecerdasan dari Allah untuk bisa melihat suatu kejadian yang akan terjadi."
Jelas SYAKIRA dengan tenang.
"Lantas apa yang ingin kamu sampaikan gadis cantik?"
Tanya tuan Mahendra sambil tersenyum menatap wajah cantik SYAKIRA.
"Aku hanya ingin mengatakan, uang yang anda dapatkan dengan cara haram tidak akan membuat ayah anda sembuh.
Jadi aku sarankan lebih baik bertobat dan tegakkan keadilan jika tuan tidak ingin mendengar kabar buruk Minggu depan tentang ayah anda." Ucap SYAKIRA lalu beranjak pergi dari tuan Mahendra.
"Kauuu...!"
"Ayo Oma, kita ke rumah sakit!" Ajak SYAKIRA lalu menggandeng tangan omanya.
__ADS_1
"Syakira! Bukankah ayahmu sudah melarangmu untuk tidak mengatakan apapun pada orang lain terutama yang berhubungan dengan kasus ibumu?"
"Aku tahu itu Oma, tapi aku adalah putri ibuku yang sedang menolong ibuku dengan caraku sendiri. Lagi pula mengingatkan orang lain yang sedang terlena dalam dosanya bukankah itu suatu bentuk kebaikan?"
"Tapi sayang! Pikirkan hal ke depannya karena orang-orang yang minim ilmu agama akan mendekatimu untuk kepentingan tertentu bahkan yang orang yang memiliki intelektual tinggi secara akademik pun masih mempercayai hal-hal yang bersifat ramalan."
"Tapi aku bukan peramal Oma. Tolong bedakan antara peramal yang banyak bohongnya karena mereka hanya menunggu bisikan setan.
Sementara setan sendiri selalu mendengar percakapan malaikat dan Allah di atas langit yang tidak begitu jelas dan ia sampaikan kepada peramal yang menyembahnya.
Itulah mengapa malaikat selalu melemparkan jin dengan bintang yang kita biasa sebut dengan komet atau bintang jatuh. Itu terdapat di dalam Al-Qur'an surah Al Mulk ayat ke lima." Tukas SYAKIRA.
"Ya Allah sayang. Kamu mengetahui semuanya, apakah ibumu yang mengajarkanmu tentang Al-Qur'an dan lainnya?"
"Ibu hanya memanggil seorang syekh yang berasal dari Oman. Setiap tiga kali seminggu, beliau ke rumah kami untuk mengajar aku mengaji sejak usiaku empat tahun Oma." Timpal SYAKIRA.
"Oh pantesan, kamu lebih banyak paham Alquran karena belajar langsung pada ahli tafsirnya." Timpal nyonya IFA bangga pada cucunya.
Keduanya hampir tiba di rumah sakit polri di mana Mikaila sedang dirawat di rumah sakit tersebut.
Syakira buru-buru turun dari mobil begitu mobil berhenti di halaman rumah sakit. Ia merasa waktu ibunya tidak lama lagi untuk bertahan.
"Ya Allah, jangan Engkau ambil ibuku dalam keadaan terhina di tempat yang penuh dengan fitnah. " Pinta SYAKIRA sambil berlari menuju kamar inap ibunya.
Zefran yang sedang berdiri di depan kamar inap istrinya yang saat ini sedang di jaga oleh dua orang polisi.
Sementara di dalam sana ibunya hanya mendapatkan perawatan seadanya karena ia adalah seorang terdakwa.
"Ayah!"
Syakira memeluk ayahnya sambil menangis.
"Sayang kita hanya bisa menatap ibu dari sini karena tidak diperbolehkan masuk." Ucap Zefran sedih.
"Ayah! Ibu tidak bisa bertahan lama lagi ayah. Kita harus temani ibu di dalam sana. Lagian kenapa satu tangan ibu di borgol di pinggir ranjang? Kenapa mereka kejam sekali sama ibu ayah?"
Pekik SYAKIRA tidak tega melihat ibunya di perlakukan seperti penjahat sungguhan.
Tidak lama seorang dokter dan dua Suster lainnya visit ke kamar Mikaila dan betapa kagetnya mereka saat melihat nafas Mikaila tersendat seakan sedang menghadapi sakratul maut.
Dokter segera menemui wali pasien." Tuan silakan masuk untuk menemani istri anda untuk terakhir kalinya." Pinta Dokter Kamal.
__ADS_1
"Degggg....