
Mikaila segera ditangani oleh dokter untuk mengetahui keadaannya. Kebetulan dokter Ae RI membawa Mikaila di rumah sakit tempatnya bekerja, jadi mudah baginya untuk bisa mengontrol gadis itu.
Setelah beberapa saat diperiksa oleh dokter dengan meneliti hasil laporan lab melalui sampel darah dan hal lainnya yang berhubungan dengan sakitnya Mikaila, dokter menyimpulkan diagnosa penyakit ibu satu anak itu pada Mikaila dan sahabatnya dokter Ae RI.
"Saya sakit apa dokter?" Tanya Mikaila terlihat lemah dan sangat pucat.
"Anda menderita kangker lambung nona Mikaila."
Deggggg...
Mikaila dan dokter Ae RI tersentak dan saling bertatapan.
"Apakah bisa diobati dokter?"
"Sayangnya sudah terlambat untuk melakukan pengobatan secara rutin melalui medis, tapi saya sarankan untuk mengikuti kemoterapi agar memperlambat pertumbuhan sel kankernya."
Jelas dokter Kyu.
Dokter Ae RI menggenggam tangan Mikaila untuk menguatkan hati ibu SYAKIRA.
"Ya Allah! Apakah aku akan segera menemuiMu? Tolong beri aku waktu untuk membahagiakan putriku di saat-saat terakhirku." Ucap Mikaila dalam bahasa Indonesia membuat dokter Ae RI tidak mengerti ucapannya.
"Apakah kamu sedang berdoa, Mikaila ?" Tanya dokter Ae RI.
Mikaila mengangguk.
"Tolong rahasiakan penyakit ku ini pada SYAKIRA!"
"Tenanglah Mikaila! Aku akan tutup mulutku asalkan kamu mau mengikuti saran dokter." Ucap dokter Ae RI sambil menahan tangisnya.
"Apakah kamu sedih?"
"Apakah aku harus menjawabnya?"
Air mata dokter Ae RI akhirnya menetes juga. Ia memeluk sahabatnya itu sambil menangis sesenggukan.
"Jangan tinggalkan kami Mikaila!"
"Tolong jaga putriku jika aku sedang kambuh!"
"Hmm!"
"Sebentar lagi dia pulang sekolah, aku harus menjemputnya."
Mikaila menyibakkan selimutnya hendak turun dari brangkar.
"Tapi kamu masih lemah Mikaila."
"Tidak apa dokter ae RI!"
"Baiklah. Kalau begitu kita berdua yang akan menjemputnya. Dia juga sudah hafal mobilku." Ujar dokter Ae RI sambil membantu Mikaila turun dari brangkar nya.
"Apakah penampilanku berantakan?"
"Kamu hanya terlihat pucat."
"Sebentar! Aku mau dandan dulu agar SYAKIRA tidak curiga padaku."
Mikaila mengambil lipstik dan bedaknya untuk menyamarkan wajah pucat nya. Keduanya segera berangkat menjemput SYAKIRA yang menunggu dengan gelisah di loby sekolahnya.
Mobil mewah itu sudah berhenti di depan loby sekolahnya SYAKIRA. Jantung gadis ini langsung berdebar kencang ketika melihat sahabat ibunya Dokter Ae RI yang menjemputnya.
"Hai SYAKIRA sayang!"
Dokter Ae RI mengembangkan lengannya untuk memeluk keponakan kesayangannya itu.
"Apakah ibu ku sakit, Tante Ae RI?"
__ADS_1
Deggggg...
"Ibumu ada di mobil sayang? mengapa kamu mengira ibumu sakit?"
"Alhamdulillah! ibuku tidak sakit. berarti itu tadi hanya pikiran bodohku saja." Ucap SYAKIRA sambil memegang dadanya.
Syakira langsung memeluk ibunya yang sudah duduk di belakang bersamanya.
"Apakah ibu baik-baik saja?"
"Tentu saja sayang. Emang ada apa?"
"Tumben Tante Ae RI yang menjemputku."
"Oh! Kata Tante Ae RI, kalau ia lagi kangen sama SYAKIRA, makanya ia ingin memberikan kejutan untuk SYAKIRA." Ujar Mikaila memperbaiki intonasi suaranya agar tidak terlihat lemah di hadapan putrinya.
"Setidaknya kalian berdua kompak tidak membohongi aku." Acuh SYAKIRA yang masih curiga kepada kedua sahabat ini.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu SYAKIRA? emang siapa yang berbohong kepadamu?" Tanya dokter Ae RI sambil menyetir mobilnya.
"Tidak! Mereka tidak boleh tahu kalau aku bisa melihat sesuatu yang akan terjadi ke depannya." Batin SYAKIRA sambil melihat ke luar jendela.
"Syakira! Itu Tante Ae RI bertanya kepadamu. Di jawab sayang."
"Oh, tidak Tante! Aku tadi sempat berpikir kalau ibuku lagi sakit saat melihat mobil Tante Ae RI tiba-tiba muncul di sekolahku, bukan mobil ibu." Ujar SYAKIRA mengalihkan kata-katanya agar tidak di brondong pertanyaan lagi sama kedua orang dewasa di dalam mobil itu.
...----------------...
Di malam harinya Mikaila mulai muntah-muntah di kamar mandi. Syakira yang baru masuk ke kamar ibunya mendengar penderitaan ibunya yang baru dimulai.
"Dugaanku tidak salah, ibuku memang sakit. Aku harus mencari tahu kebenarannya." Ujar SYAKIRA lalu menutup lagi pintu kamar ibunya secara perlahan.
Syakira memeluk boneka beruangnya sambil berbicara sendiri dengan bonekanya.
"Apakah ibuku akan meninggal Yola? apakah dia akan meninggalkan aku sendiri? aku sangat takut Yola...hiks...hiks!"
Keesokan harinya, seperti biasa Mikaila mengantarkan lagi putrinya ke sekolah sebelum berangkat kerja.
"Ibu!"
"Hmm!"
"Aku ingin piknik berdua bersama ibu."
"Boleh. Kapan?"
"Weekend besok."
"Ok! Siap sayangku!"
Mikaila mencubit pipi putrinya dengan gemas.
"Ibu!"
"Iya!"
"Apakah ibu akan menemaniku sampai aku dewasa?"
Deggggg...
"Tentu saja sayang karena itu keinginan setiap orangtua yang ingin melihat anak-anaknya menikah dan memiliki cucu."
"Benarkah?"
"Hmm!"
"Janji?"
__ADS_1
"Insya Allah, sayang."
Mobil berhenti di depan loby. Syakira langsung turun usai mencium pipi ibunya.
"Ibu! Aku tahu kamu sedang membohongiku. Ajal mu sebentar lagi menjemputmu dan aku harus siap merelakan kepergian mu menghadap illahi." Lirih SYAKIRA sambil mengusap air matanya.
Sementara itu, Mikaila bergumam sendirian di dalam mobilnya sambil menangis.
"Maafkan ibu SYAKIRA! sepertinya harapanmu tidak akan terwujud sayang, karena ibu harus pulang ke Rahmatullah."
Mikaila duduk di kursi kebesarannya sambil memeriksa beberapa berkas yang sudah di letakkan sekertarisnya Araa di atas meja kerjanya.
"Nona Mikaila!"
"Iya!"
"Dua tim desainer kita ingin bertemu dengan anda untuk menjelaskan desain baju sesuai tema musim salju akan datang."
"Tunggu sepuluh menit lagi karena aku harus menandatangani berkas laporan ini."
"Baik nona."
Mikaila melanjutkan lagi pekerjaannya sambil sesekali melirik ponselnya.
"Apakah aku harus memberitahu Zefran tentang penyakit ku supaya ia bisa belajar mengakrabkan diri dengan putrinya." Lirih Mikaila.
Sementara di sekolah, Syakira sedang memikirkan apa yang ia lakukan untuk membuat ibunya bahagia.
"Apakah aku harus ikut kursus balet? Tidak! apakah menyanyi? rasanya tidak. Sepertinya aku lebih senang dengan permainan piano. Baiklah aku ingin membahagiakan ibu dengan belajar piano."
Syakira terlihat senang lalu ia mulai menuliskan hal apa saja yang membuat Ibunya suka.
Sepulang sekolah Mikaila menyampaikan keinginannya pada ibunya.
"Ibu!"
"Aku ingin belajar piano."
"Itu bagus sayang. Apakah kamu mau ibu antarkan kamu ke tempat kursus?"
"Hmm!"
Keduanya mencari tempat kursus piano terbaik di Seoul. Setibanya di sana SYAKIRA di perkenalkan alat musik piano oleh gurunya. Tapi tanpa ia duga teman sekelasnya ada juga yang mengikuti kelas musik itu walaupun bukan piano.
"Syukurlah Aera dan Ah In tidak ikut di kelas ini." Batin SYAKIRA.
Syakira terlihat serius mempelajari setiap tuts piano yang dimainkan oleh guru lesnya.
"Syakira!"
"Iya Bu."
"Apa motivasi mu belajar piano?"
"Ingin membahagiakan ibu."
"Apakah kamu tidak punya ayah?"
"Punya, hanya saja orangtuaku sudah berpisah saat usiaku dua tahun."
"Oooh.. maafkan ibu SYAKIRA sudah membuatmu sedih."
"Tidak apa ibu. Setiap orang boleh mengajukan pertanyaan yang tidak ia ketahui. Tapi, setiap jawaban yang dibutuhkan penanya tidak menjadikan dirinya sebagai pembully."
"Apakah ada yang membully kamu?"
"Iya Bu!"
__ADS_1
"Tunjukkan prestasimu untuk membalas orang yang bully kamu, dengan begitu ia akan tunduk dan hormat kepadamu." Ujar ibu A Young.