
Kediaman Zefran sudah berdatangan para tokoh, pengusaha, pejabat dan masih banyak lagi kalangan masyarakat yang sangat mengenal keluarga ini datang untuk memberikan penghormatan mereka pada almarhumah Mikaila.
Syakira yang terlihat tegar tampak setia berada di samping ayahnya dengan wajah murung tanpa air mata yang menetes sedikitpun di pipinya.
Para pelayat begitu kagum melihat putri dari Zefran ini. Walaupun sebagian dari mereka yang merasa tidak percaya jika Zefran sudah memiliki seorang anak yang berusia tujuh tahun yang ditambah lagi pernikahan Mikaila dan Zefran tidak terendus media sama sekali.
Walaupun keluarga ini dalam keadaan berduka, tidak sedikit dari mereka menebarkan desas-desus yang menyatakan Mikaila adalah seorang pelakor yang merupakan janda satu anak yang telah merusak rumah tangga Zefran hingga Zefran tega menceraikan Hesty yang tidak mampu memberinya keturunan.
Dan sumber dari gosip itu adalah Hesty sendiri yang mengkampanyekan dirinya menjadi korban dari seorang pelakor.
Tapi sebagian keberanian para pelayat yang saat itu datang memberikan rasa duka dan dukungan mereka pada Zefran dan putrinya, tidak berani bergosip ditengah duka mendalam yang saat ini masih dirasakan Zefran dan keluarganya.
Nyonya IFA yang sempat mendengar percakapan orang-orang tentang almarhumah menantunya Mikaila tampak enggan memberikan konfirmasi apapun karena saat ini keluarga mereka sedang berduka.
Tapi ada yang menarik di tengah para pelayat yaitu kehadiran dokter IDRA yang pernah melakukan kesalahan pada Mikaila sangat kaget begitu melihat foto Mikaila yang di pegang putrinya SYAKIRA.
"Astaga! Bukankah perempuan itu yang pernah aku...? Oh, ini tidak mungkin. Apakah ini anak dari hasil inseminasi buatan itu?" Batin dokter IDRA yang belum mengetahui jika Mikaila adalah istri pertamanya Zefran.
Dokter IDRA tidak berani bertanya pada Zefran karena masih dalam keadaan berduka.
Tidak lama kemudian iring-iringan mobil mulai meninggalkan kediaman Zefran menuju mesjid untuk menyolatkan jenasah Mikaila lalu langsung di bawa ke pemakaman untuk dikebumikan secepatnya.
Hingga proses pemakaman itu berakhir, SYAKIRA masih tetap sama. Tidak ada bulir bening yang menetes di pipinya. Ia justru menghibur ayahnya Zefran yang menangis tanpa henti di atas pusara istrinya yang sudah dipenuhi taburan bunga.
Para pengantar mulai meninggalkan pemakaman. Yang Tersisa hanyalah Zefran, SYAKIRA dan keluarganya Mikaila.
Zefran hanya mengusap nisan istrinya yang langsung terpasang nama Mikaila.
"Sayang! Cintaku padamu tidak akan pernah mati, aku akan memelihara cintaku tetap abadi walaupun engkau telah tiada walaupun aku tahu takdir tak pasti untukku nantinya, namun kau selalu tetap di hatiku. Inilah sumpahku Mikaila, aku hanya hidup untuk putri kita." Batin Zefran sambil terisak.
"Ayah! ayo kita pulang ayah. Sebentar lagi akan turun hujan. Syakira tidak mau ayah sakit." Ajak SYAKIRA sambil menarik satu tangan ayanya.
Angin dingin mulai berhembus kencang melewati pemakaman. Gelapnya awan yang menutupi bumi berubah seakan sudah beranjak malam.
__ADS_1
Tante Ika mendekati SYAKIRA untuk berjalan menuju mobil karena takut SYAKIRA akan kehujanan.
"Syakira! Ayo ikut Tante tunggu ayahmu di mobil." Pinta Tante Ika yang meminta Hanan menggendong keponakannya SYAKIRA.
Tinggallah Zefran yang masih setia di atas pusara memandangi gundukan tanah dan nisan Mikaila secara bergantian.
"Mikaila! Betapa kejamnya takdir yang telah mempermainkan cinta kita. Saat aku sudah mendapatkanmu lagi dan siap mulai hidup baru bersama dengan putri kita, rupanya takdir tetap cemburu dengan kesetiaan cinta kita.
Dia tega merenggut mu dariku hingga membuat hatiku ikut mati bersamamu. Kehilanganmu saat kamu masih hidup mungkin aku masih bisa kuat karena aku bisa menemuimu kapan saja. Tapi kehilangan kamu selamanya dalam perpisahan dengan kematian, bagaimana caranya agar aku bisa mengobati kerinduanku padamu sayang. Jika tidak ingat putri kita SYAKIRA, aku ingin pergi bersama mu Mikaila, sayang..hiks..hiks..!"
Deraian air mata itu jatuh bersama hujan deras mengguyur bumi. Teriakannya Zefran memanggil nama istrinya bersahutan dengan petir menyambar di tengah pemakaman disusul suara Guntur di atas langit sana bergemuruh seakan mewakili perasaan sakit nya rasa kehilangan Zefran pada sosok istrinya yang sangat ia cintai.
"Mikailaaaa.... Mikailaaaa.... Mikailaaaa..Aku bersumpah akan tetap mencintaimu sampai ajal ku datang menjemputku... Tunggulah aku sayang!"
Teriak Zefran sambil menengadahkan wajahnya ke atas langit.
Beruntunglah masih ada tenda yang menaungi tubuhnya di pemakaman itu hingga ia tidak perlu merasa basah kuyup.
"Zef!"
Deggggg..
Zefran menatap wajah itu yang ternyata adalah Hesty. Kedua tangannya mengepal kuat melihat sosok yang menyebabkan Mikaila harus menderita di sel tahanan kepolisian.
"Sayang! Relakan dia pergi dan aku siap rujuk denganmu untuk merawat putrimu SYAKIRA." Ucap Hesty dengan tidak tahu malunya.
Perasaan Zefran yang awalnya sangat sedih berubah menjadi murka yang amat sangat melihat penampakan Hesty di hadapannya seperti hantu.
"Zefran! Jangan menyiksa dirimu dengan terus meratapi orang yang sudah meninggal dunia! Biarlah dia tenang di alamnya yang baru!" Lanjut Hesty dengan sok perhatiannya.
Zefran segera berdiri dengan memasang wajah datarnya menganggap Hesty seperti hantu saat ini. Ia melangkah dengan gagah menerobos hujan deras sehingga Hesty harus mengejarnya untuk melindungi Zefran dengan payungnya dari guyuran hujan.
"Zefran! Nanti kamu bisa sakit, sayang." Ujar Hesty sambil menarik lengan Zefran.
__ADS_1
Alih-alih tersentuh dengan perhatiannya Hesty, yang ada ayah dari SYAKIRA ini menampar wajah Hesty dengan keras.
Plaakkkk....
"Berhenti mengikuti ku jal*Ng! sedikitpun aku tidak akan pernah memaafkan dirimu karena kaulah satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas kepergian istriku tercinta Mikaila!" Teriak Zefran histeris.
"Apa maksudmu Zefran?" Tanya Hesty pura-pura tidak tahu.
"Kau akan mendapatkan imbalan perbuatan dosamu itu sebentar lagi. Berhentilah mengkuatirkan aku dengan tidak mengikuti langkahku atau aku akan mengubur mu hidup-hidup di sini!" Ancam Zefran sengit."
Ia segera mengambil langkah seribu menuju mobilnya karena putrinya SYAKIRA masih setia menunggunya di dalam mobil mewahnya itu.
Melihat kedatangan ayahnya SYAKIRA langsung membuka pintu mobil itu. Gadis kecil itu langsung memberikannya handuk kecil dan baju ganti untuk ayahnya yang ada di dalam mobil itu, yang sengaja ia siapkan saat berangkat ke pemakaman.
Zefran tercengang melihat perhatian putrinya yang berusaha menggantikan posisi Mikaila istrinya.
"Ayah tolong ganti baju ayah agar tidak masuk angin. Jangan menyusahkan aku ayah! Karena aku sudah cukup lelah mengurus ibu dalam sakitnya!" Ucap SYAKIRA dengan sok dewasanya.
Antar geli bercampur haru yang dirasakan oleh Zefran saat ini mendengar omelan putrinya.
"Terimakasih nona SYAKIRA! Anda sangat baik sekali!" Puji Zefran sambil mengusap ubun-ubun putrinya yang berusaha tegar di hadapannya.
Zefran segera mengganti baju basahnya di belakang jok mobil melindungi tubuh polosnya dari putrinya. Setelah sudah rapi ia memeluk putrinya lalu memberi kecupan pada kening SYAKIRA.
"Untung ada kamu putriku, Allah telah mengirimmu untuk ayah untuk menggantikan ibumu yang Ia ambil dari ayah!" Batin Zefran.
Mobil mewah itu mulai bergerak meninggalkan area pemakaman.
Sementara Hesty yang sempat jatuh karena di tampar Zefran bergidik ngeri di tengah pemakaman yang mulai sepi. Tubuhnya yang ikut basah dengan bajunya yang kotor terciprat tanah merah berlumpur di tempatnya jatuh.
"Sial! Jauh-jauh datang untuk menghiburnya dengan perhatian lebih, malah kena tamparan manusia robot itu. Syukurlah wanita mu akhirnya mati, dengan begitu aku tidak perlu merasakan sakit hati melihat keromantisan kalian seumur hidupku."
Gumam Hesty sambil cekikikan sendiri berjalan menuju mobilnya.
__ADS_1