
Mikaila membuat kimbab sendiri untuk dibawa ke tempat piknik yang sudah ia dan SYAKIRA merencanakannya.
"Ibu!"
"Hmm!"
"Kenapa tidak beli jadi saja Bu kimbab nya Bu? Kenapa ibu harus membuatnya sendiri? Kalau ibu kecapean gimana?"
Syakira mencemaskan kondisi ibunya.
"Tidak apa sayang. Ibu ingin apa yang kita makan di momen bahagia kita besok, itu adalah masakan ibu sendiri." Ujar Mikaila.
Ia menggulung kimbab itu namun sering sobek kulit rumput lautnya. Namun Mikaila tidak menyerah hingga kimbab itu berhasil di buatnya dengan sempurna.
"Lumayan bagus, ternyata vaiu bisa melakukannya." Lirih Mikaila puas dengan hasil kerja kerasnya.
Setelah di rapikan semua masakannya, ia baru istirahat.
Di kamar, SYAKIRA merasa sangat sedih melihat ibu banyak berkorban untuknya.
"Ibu, aku tahu kamu lelah, tapi aku kasihan lihat ibu ingin membahagiakan aku ditengah sakit yang mendera ibu saat ini."
Syakira turun dari tempat tidurnya dan mengendap ke kamar ibunya. Pintu itu dibuka sedikit oleh Mikaila dan melihat ibunya tidur sambil meringkuk seperti sedang menahan sakit diperutnya.
Syakira masuk ke kamar ibunya dan menyelimuti ibunya. Ia mencium kening ibunya sambil mengusap air mata yang tersisa di bawah kelopak mata ibunya.
"Apakah waktumu terlalu pendek untuk menemani aku, ibu?"
Syakira naik ke tempat tidur ibunya dan ikut berbaring di samping ibunya.
"Ibu! Jika ibu ingin menikah dengan ayah lagi, SYAKIRA akan menerima ayah, kalau itu bisa membuat ibu bahagia." Gumam SYAKIRA sambil memeluk pinggang ibunya.
...----------------...
Keesokan harinya, keduanya berangkat ke pantai Daecheon dengan membawa bekal mereka.
"Apakah kamu senang sayang?"
"Sangat senang ibu, tapi lebih senang lagi kalau ayah ikut bersama kita."
Deggggg...
Mobil Mikaila hampir oleng ke samping ketika mendengar ucapan SYAKIRA.
"Ibu, hati-hati nyetirnya!"
"UPS!"
Mikaila mengimbangi lagi laju kendaraannya sambil tetap fokus menjalankan mobilnya.
Syakira tidak ingin lagi menganggu ibunya yang sedang menyetir dengan ocehannya.
Keduanya terdiam dan hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Mengapa SYAKIRA tiba-tiba berubah pikiran? bukankah selama ini ia tidak ingin bertemu dengan ayahnya lagi? ada apa dengan anak ini?"
Batin Mikaila yang tidak bisa menemukan jawaban dari setiap pertanyaannya sendiri.
Sementara SYAKIRA juga sedang memikirkan cara untuk menghubungi ayahnya agar Ibunya bisa bahagia di saat terakhirnya.
Setibanya di pantai Daecheon, Mikaila dan putrinya membentangkan tikar dan mengeluarkan bekal mereka berupa makanan khas Korea dari kimbab, Gamja Salad atau salad kentang, mandoo, Gaeran Mari dan yubu chobab yaitu kulit tahu goreng dengan isian nasi.
__ADS_1
Semua makanan di tata dengan rapi dengan minuman yang diletakkan di sampingnya. Potongan buah segar sebagai pelengkap piknik mereka pagi itu.
Bukan hanya mereka saja yang berpiknik sendirian di pantai itu, sudah banyak orang yang mengunjungi pantai itu sambil menikmati laut lepas yang menawarkan pemandangan alam yang maha dahsyat.
"Hanya memandangi laut dan langit di atasnya dengan kesan warna yang terlihat monoton yaitu biru tua maupun muda namun mampu menenangkan perasaan manusia yang melihatnya." Ujar Mikaila lirih.
"Itu karena Allah tahu Bu, kalau manusia itu lebih terhibur dengan mendatangi tempat-tempat yang diciptakannya untuk kepentingan jiwa manusia." Timpal SYAKIRA.
"Wah putri ibu makin hebat pemikirannya tentang kebesaran Allah melalui ciptaan alam semestanya." Puji Mikaila.
"Syakira membacanya di buku ibu, makanya SYAKIRA mengetahuinya."
"Itulah ilmu Allah Syakira yang tidak akan pernah habis kita bahas sampai dunia ini berakhir. Jadi kewajiban manusia adalah mempelajarinya dan mengamalkannya, seperti perintah Allah dalam Al-Qur'an." Sambung Mikaila.
"Apakah Allah menyukai orang-orang yang mau belajar ilmunya, ibu?"
"Bukan hanya suka sayang, bahkan orang yang pergi belajar maupun mengajar akan mendapatkan pengampunan dosa dari Allah, bahkan ikan-ikan berada di lautan ikut mendoakan manusia yang mau mencari ilmu di jalan Allah meminta pengampunan dosa untuknya."
"Wah, bukan cuma dapat ilmu dan pahala ya Bu, dapat pengampunan dosa juga. berarti kita jangan sampai berhenti belajar karena janji Allah itu benar." Ujar SYAKIRA.
"Sampai kita matipun, Allah akan memuliakan kita sebagai syuhada. karena saat kita belajar, pahalanya sama dengan pahala jihad.
Tapi belajarnya ilmu yang bermanfaat bukan ilmu yang menyesatkan dirinya dan menyesatkan orang lain." Ujar Mikaila.
"Insya Allah, SYAKIRA akan belajar lebih giat lagi agar bisa bermanfaat untuk orang lain seperti ibu yang memberdayakan orang lain dengan memperkerjakan mereka di perusahaan ibu." Ujar SYAKIRA semangat.
"Syakira! ibu ingin kamu punya banyak teman. Jangan pernah memusuhi teman atau menjauh dari mereka. Apa lagi kita ini adalah perantau jadi harus pintar bergaul dan pintar mengambil hati teman dengan belajar berbagi."
"Ibu, aku mau makan!"
"Baiklah. Ayo kita makan."
Tempat makanan dirapikan lagi oleh Mikaila ke dalam tas dan di masukkan ke dalam bagasi mobilnya.
Syakira sibuk memperhatikan anak-anak sepantarannya sedang bermain pasir.
"Ibu aku ingin membangun istana dari pasir itu."
"Ok, kita akan bermain pasir sekarang.
Keduanya membangun istana mereka bersama.
"Ibu!"
"Hmm!"
"Apakah ibu memiliki istana bersama ayah? Apakah ayah membelikan istana untuk ibu?"
Deggggg...
"Pernikahan ibu dan ayahmu hanya berlangsung sebentar SYAKIRA, jadi kami tidak punya mimpi untuk membangun istana bersama."
"Apakah ayah punya istri yang lain ibu?"
"Iya sayang."
"Apakah karena itu, ibu tidak ingin rujuk dengan ayah? bukankah ibu dulu adalah istri pertamanya ayah?"
"Hmm!"
"Ibu! Aku ingin ayah dan ibu berkumpul lagi seperti dulu."
__ADS_1
"Mengapa kamu dari tadi meminta Ibu untuk rujuk dengan ayah?"
"Karena hanya ayah sumber kebahagiaan ibu."
"Ih, anak kecil sok tahu. Kebahagiaan itu tidak selamanya didapatkan dari pasangan, bisa jadi dari sahabat, keluarga dan terutama adalah mendekatkan diri kepada Allah."
"Setidaknya ayah bisa menembus kesalahannya karena pernah meninggalkan kita, ibu."
"Tidak sayang! Kamulah kebahagiaan ibu saat ini yang lain hanya sebagai pelengkap saja dan ibu tidak begitu membutuhkan mereka karena sudah ada kamu di samping ibu."
Hari sudah semakin siang, terik mentari makin menyengat tubuh mereka. Angin pantai yang awalnya lembut makin menerpa dengan hembusannya yang sangat kencang. Keduanya sepakat untuk pulang kembali ke rumah mereka.
Setibanya di rumah, Mikaila buru-buru masuk ke kamarnya. sedari tadi ia menahan mual dan ingin memuntahkan semua isi perutnya.
Di dalam toilet Mikaila memuntahkan makanannya sambil menahan tubuhnya yang hampir limbung.
Ia keluar lagi dan mencari obat yang harus ia minum agar mengurangi mual yang terus mengaduk perutnya sedari tadi.
Mikaila menghubungi dokter Ae RI untuk datang ke rumahnya.
Tanpa banyak tanya, dokter Ae RI segera meluncur ke rumah Mikaila.
Benar saja, setibanya di rumah Mikaila, dokter Ae RI menemukan Mikaila sedang pingsan di kamarnya.
Syakira yang belum mengetahui ibunya pingsan ikut masuk ke kamar ibunya. Dokter Ae RI meminta SYAKIRA untuk memanggil pelayan yang lain agar bisa mengangkat Ibunya ke kasur.
AE RI segera menghubungi dokter Kyu agar datang ke rumah Mikaila. Sambil menunggu kedatangan dokter Kyu, dokter Ae RI mencoba bersikap seperti biasa di hadapan SYAKIRA.
"Tante Ae RI!"
"Iya sayang!"
"Apakah ibuku sedang sakit?"
"Tidak sayang."
Syakira menarik dokter Ae RI meninggalkan kamar ibunya karena ada pelayan Wiwin yang menunggu ibunya.
"Syakira, Tante mau temanin ibu kamu sayang."
""Aku ingin Tante Ae RI berkata jujur pada SYAKIRA."
"Berkata jujur apa, SYAKIRA, hmm..?"
"Syakira tahu, kalau ibu sebentar lagi akan meninggal bukan? ibu sedang sakit parah bukan?"
Deggggg...
"Tidak sayang, ibu tidak sakit, ibumu hanya.."
"Bohong! Ini bukan kali pertama ibu pingsan. Sudah berulang kali ibu pingsan setiap kali ibu muntah. Apa yang ingin Tante sembunyikan pada SYAKIRA, kalau pada akhirnya ibu juga akan meninggal." Ujar SYAKIRA sambil menangis.
"Sayang! Maafkan Tante Ae RI ya. Benar, ibumu lagi sakit, nak. Harapan hidup ibumu makin menipis setiap saat."
"Baiklah Tante. Supaya ibu tidak sedih, jangan katakan kalau SYAKIRA sudah tahu penyakit ibu.
Anggap saja kalau SYAKIRA hanya mengira ibu kelelahan. Biarkan ini menjadi rahasia kita Tante." Ujar SYAKIRA bijak.
"Terimakasih SYAKIRA!"
Keduanya saling berpelukan dan menangis sesenggukan.
__ADS_1