Putri Rahasia Raja Mafia

Putri Rahasia Raja Mafia
37. Mikaila Yang Malang!


__ADS_3

Setibanya di bandara Soekarno-Hatta, Zefran segera menemui Mikaila yang sudah di tahan di kantor polisi setempat.


Bersama dengan pengacaranya, Zefran meminta kasus istrinya diusut tuntas oleh pihak berwajib melalui bukti-bukti dan saksi yang bisa membebaskan Mikaila dari jeratan hukum.


Zefran yang sedang menunggu istrinya terlihat gelisah karena Mikaila saat ini sedang dijemput oleh polisi di sel tahanan polres untuk menemuinya.


Mikaila berjalan tertunduk menemui suaminya dengan baju tahanan.


"Mikaila, sayang!"


Zefran tercekat melihat wajah cantik Mikaila yang kembali pucat.


"Apa yang terjadi Mikaila? Bagaimana bisa kamu dituduh membawa narkoba jenis sabu di dalam koper mu? Tolong ceritakan kepadaku secara mendetail agar aku bisa menolong mu, sayang!"


Mikaila menarik nafas panjang lalu memulai ceritanya bagaimana awal ia bisa tertangkap oleh pihak bea cukai bandara.


"Awalnya aku menunggu dua koper milik aku dan Syakira. Yang ada hanya koper milik syakira tapi koper milikku tidak muncul juga.


Semua orang sudah mengambil barang mereka masing-masing hingga ruang bagasi itu sudah kosong.


Tiba-tiba aku di sergap oleh lima orang petugas bea cukai untuk mengikuti mereka. Saat aku tanya pada mereka apa yang terjadi, mereka mengatakan kalau di dalam koperku telah ditemukan narkoba jenis sabu seberat satu kilogram.


Aku benar-benar syok tapi nggak percaya juga sih karena aku merasa itu bukan milikku dan aku sedang di jebak." Ucap Mikaila lugas.


"Siapa yang mengintrogasi mu pertama kali?"


"Tuan Aryo!"


"Apa yang dia tanyakan kepadamu?"


"Kepemilikan barang itu dan aku menjawabnya dengan tegas kalau itu bukan milikku."


"Apakah ada lagi perkataannya yang lain?" Selidik Zefran.


"Dia memintaku untuk mengakui kalau aku pemilik barang itu." Imbuh Mikaila.


Zefran mengepalkan tangannya sambil mengatupkan rahangnya hingga mengeras.


"Ini jelas-jelas jebakan. Aku harus menemui tuan Aryo itu untuk membuat perhitungan dengannya."


Zefran bangkit dari duduknya lalu pamit kepada Mikaila.


"Sayang! aku harus menemui kepala bea cukai dan tuan Aryo itu."


"Sepertinya kamu tidak bisa menemuinya Zefran karena saat ini tuan Aryo sedang berduka." Cegah Mikaila.


"Apaa?"


"Itupun kalau perkataan putrimu benar-benar fakta." Lanjut Mikaila.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti Mikaila. Apa hubungannya putriku dengan tuan Aryo, apakah dia menyakiti putriku?"


"Bukan menyakiti, justru Syakira mengatakan bahwa putranya akan mengalami...?"


Kata-kata Mikaila terhenti saat polisi datang menjemput Mikaila karena waktu kunjungannya sudah habis.


"Sabar ya sayang! Aku akan mengusahakan untuk membebaskan mu!"


Zefran memeluk istrinya sesaat. Mikaila mengangguk sambil tersenyum manis pada suaminya. Gadis ini tampak tegar dan tidak ingin terlihat menyedihkan depan Zefran karena ia yakin bisa bebas dari jeratan hukum.


Zefran segera pulang menemui putrinya SYAKIRA. Ia ingin mendengar sendiri penjelasan putrinya tentang omongannya dengan tuan Aryo.


Setibanya di mansion, SYAKIRA berlari keluar menyambut ayahnya ketika melihat mobil ayahnya berhenti di halaman mansion.


"Ayahhhh..!"


Zefran menggendong putrinya yang terlihat murung.


"Apakah ayah sudah bertemu dengan ibu?"


"Sudah sayang!"


"Apakah ibu akan dibebaskan?" Tanya SYAKIRA penasaran.


"Insya Allah! ayah akan memperjuangkan untuk membebaskan ibu. Ayah sudah mendapatkan pengacara terbaik untuk membantu proses hukum ibu."


Nyonya IFA menghampiri putranya dan mengajukan pertanyaan yang sama pada Zefran.


"Mami juga berpikir seperti itu Zefran. Tapi untuk membuktikan kalau itu sebuah jebakan, kita tidak bisa mendapatkannya dengan mudah kecuali mencari tahu siapa yang memasukan barang haram itu ke kopernya Mikaila." Ujar nyonya Ifa.


"Itu yang ingin aku cari tahu mami. Aku ingin menemui tuan Aryo. Sepertinya dia mengetahui sesuatu dari jebakan ini karena ia terus mengintimidasi Mikaila saat pemeriksaan di bandara tadi siang."


"Sepertinya ayah tidak bisa menemui tuan Aryo karena saat ini ia sedang berduka."


Deggggg...


Zefran mendudukkan putrinya di sofa tunggal dan menanyakan hal yang membuatnya masih penasaran karena Mikaila belum menyelesaikan ceritanya tapi sudah berakhir waktu kunjungannya.


"Sayang! Bagaimana kamu tahu hal yang akan menimpa tuan Aryo. Apa sebenarnya yang terjadi?"


"Aku hanya mengingatkan dia kalau uang haram yang ia dapatkan untuk menjebak ibu hanya terbuang sia-sia."


"Maksudmu..?"


"Karena ketidakjujurannya yang selama ini sudah ia lakukan bukan hanya pada ibu tapi masih banyak korban lainnya yang sudah ia permainkan nyawa orang lain demi ambisinya menjadi orang kaya karena minimnya pendapatan gajinya sebagai pegawai bea cukai."


"Korban..?"


"Iya ayah! Selama ini Ia menafkahi keluarganya dengan menjebak orang lain sesuai dengan permintaan orang-orang yang punya kepentingan dengan korban."

__ADS_1


Zefran makin bingung dengan penjelasan SYAKIRA. Ia ingin putrinya menjelaskan dengan kalimat sederhana agar ia bisa mengerti maksud putrinya.


"Sayang! Apa yang terjadi dengan tuan Aryo?"


"Putranya mengalami kecelakaan lalulintas dan meninggal di meja operasi. Uang haram yang diterimanya hanya untuk membiayai operasi putranya tapi putranya tetap tidak selamat."


Deggggg...


"Syakira! bagaimana kamu mengetahui segalanya kalau kamu sendiri tidak melihatnya?"


"Karena SYAKIRA bisa melihat hal yang akan terjadi ke depannya melalui pikiran SYAKIRA."


Deggggg...


Zefran dan ibunya saling menatap satu sama lain. Keduanya merasa bahwa SYAKIRA punya kelebihan.


"Ibu... sepertinya SYAKIRA memiliki..."


Zefran mengusap wajahnya, merasa bersyukur dan juga takut kalau putrinya akan diincar banyak orang karena kemampuannya.


"Iya Zefran! Cucuku memiliki Indra ke enam." Imbuh nyonya IFA.


"Sayang! Ayah ingatkan pada SYAKIRA untuk tidak lagi mengatakan apapun pada orang lain kalau SYAKIRA melihat sesuatu yang berkaitan dengan hidup mereka." Pinta Zefran serius.


"Hmm!"


"Kecelakaan putranya tuan Aryo tidak akan terjadi jika ia melepaskan ibu. Sepertinya ia lebih menginginkan uang haram itu dari pada hidup putranya.


Sebelumnya SYAKIRA sudah memperingatkan tuan Aryo untuk membebaskan ibu, tapi tuan Aryo tidak peduli dengan peringatan SYAKIRA, ayah." Lanjut SYAKIRA.


"Ayah minta cukup, sayang! Tolong jangan lagi memperingatkan orang-orang yang berhubungan dengan kasus ibu.


Jika SYAKIRA tidak menuruti perkataan ayah, maka rumah ini akan penuh dengan wartawan untuk meliput berita tentang putri ayah yang di anggap mereka seperti cenayang. Apakah Syakira tahu apa itu cenayang?"


"Tahu ayah!"


"Kalau begitu ayah mohon jangan lagi bicara hal-hal yang membuat orang akan membencimu."


Zefran memberikan pengertian kepada putrinya tentang bahaya lisan.


"Sayang! Apa yang akan dikatakan ayahmu demi untuk kebaikan SYAKIRA. Jika tuan Aryo saja sudah membuktikan sendiri ucapan SYAKIRA, orang itu akan menceritakan kepada wartawan atau lainnnya tentang kehebatan SYAKIRA dan itu akan membuat SYAKIRA dan keluarga kita tidak nyaman lagi sayang." Ucap nyonya IFA menasehati cucunya.


"Baiklah Oma. Syakira berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya SYAKIRA lagi.


Syakira melakukan itu untuk menyadarkan perbuatannya tuan Aryo itu salah. Dengan begitu ibuku bisa bebas dari jeratan hukum karena jebakan orang lain.


"Apakah SYAKIRA tahu siapa yang menjebak ibu?"


"Syakira belum diperlihatkan orang-orang yang berkomplot untuk menjebak ibu. Tapi SYAKIRA bisa merasakan kalau hidup ibu tidak lama lagi ayah."

__ADS_1


Duaaarrr....


__ADS_2