Putri Rahasia Raja Mafia

Putri Rahasia Raja Mafia
39. PENANGGUHAN


__ADS_3

Zefran meminta dokter untuk memulangkan istrinya karena tidak ada harapan lagi untuk Mikaila bertahan hidup apa lagi harus menjalani serentetan sidang yang sangat menguras tenaga, pikiran dan air mata.


"Dokter! Sebulan sebelumnya istri saya sudah di nyatakan sembuh oleh dokter Kyu yang menangani penyakit kronis yang dialami oleh istri saya selama berobat di rumah sakit Seoul Korea Selatan.


Dan sekarang kenapa tiba-tiba saja dokter menyatakan kalau kangkernya malah tumbuh lagi?"


Tanya Zefran sambil memperlihatkan email yang dikirimkan kan dokter Kyu kepadanya.


"Mungkin karena pasien tidak bisa menerima setiap tuduhan dari jaksa dalam proses hukumnya. Itulah yang membuat imunnya menurun dan penyakit yang awalnya menghilang kini harus kembali timbul." Ungkap dokter Kamal.


"Dokter! apakah saya boleh membawa pulang istri saya dokter? Karena keadaannya sudah sangat parah. Jika dia harus pergi, biarkan dia pergi di tempat yang terbaik dan di lepaskan oleh keluarganya." Pinta Zefran.


"Itu bukan wewenang saya ntuk memutuskan pasien karena pasien masih dalam proses hukum." Sahut dokter Kamal.


"Tapi anda bisa berkoordinasi dengan pihak terkait dengan alasan kondisi istri saya. Saya minta sisi kemanusiaan mu dokter!"


Pinta Zefran sambil mengatupkan kedua tangannya kepada dokter Kamal dengan berlinang air mata.


"Dokter saya yakin anda orang baik. Ibuku sudah tidak punya waktu lagi." Pinta SYAKIRA.


"Baiklah. Tunggu sebentar akan saya usahakan untuk berkoordinasi dengan pihak pengadilan dan kepolisian."


Ujar dokter Kamal lalu meninggalkan kamar inap Mikaila.


Usai berkoordinasi dengan pengadilan dan kepolisian, penangguhan tahanan Mikaila di kabulkan. Status Mikaila menjadi tahanan rumah.


"Tuan Zefran! Permohonan anda telah dikabulkan oleh pengadilan. Silahkan bawa pulang istri anda dan anda akan di kawal oleh beberapa orang polisi sampai tiba di kediaman anda tuan Zefran." Ucap dokter Kamal.


"Terimakasih dokter." Ujar Zefran.


"Dokter!" Panggil SYAKIRA.


"Iya gadis cantik!"


"Bulan depan anda akan naik jabatan. Suatu saat nanti anda menjadi orang hebat karena kebaikan anda hari ini. Terimakasih sudah mau membantu ibuku." Ujar SYAKIRA.


Dokter Kamal hanya tersenyum mendengar perkataan SYAKIRA dan jauh dalam hatinya ia mengaminkan doanya Syakira.


Zefran segera membawa pulang istrinya dengan mobil pribadinya dengan dikawal oleh beberapa orang polisi.


Setibanya di rumah, Mikaila dibaringkan dikamar bujang milik Zefran. Suami dari Mikaila ini sengaja menyiapkan kamar ini untuk Mikaila.


Sementara saat masih bersama Hesty, Zefran menggunakan kamar lain sebagai tempat tidur mereka.


"Sayang! Ini kamar bujang aku. Aku sudah menyiapkan kamar ini untuk menyambut mu untuk tinggal denganku di sini.


Andai saja kamu mau menungguku sebentar saja tanpa nekat pulang ke Indonesia berdua dengan putri kita, mungkin kita akan bersama saat ini tanpa ada drama penangkapan itu."


Tangis Zefran sambil memeluk Mikaila yang makin melemah.

__ADS_1


Mikaila membuka matanya perlahan menatap wajah suaminya yang saat ini hanya sibuk menangis.


"Ayah! Lihatlah, Ibu sadar ayah!"


Ujar SYAKIRA mendekati ibunya.


Zefran tersenyum bahagia melihat istrinya masih dikasih kesempatan oleh Allah untuk bercengkrama dengan mereka.


"Sayang!"


Zefran menggenggam tangan istrinya lalu di usapkan telapak tangan Mikaila di pipinya.


"Apakah kamu ingin meninggalkan kami secepat ini? Aku mohon bertahanlah demi kami sebentar saja. Aku sudah menghubungi keluargamu untuk datang melihatmu. Apakah kamu tidak ingin menunggu mereka?"


"Ibu! Tante Ae RI juga sedang bertolak dari Seol mau mengunjungi Jakarta hanya untuk menemui ibu. Apakah ibu tidak ingin menunggunya?" Timpal SYAKIRA.


"Aku tidak akan pulang pada Allah sampai mereka memberikan kebebasanku, sayang! Aku juga ingin bertemu dengan keluargaku yang lain dan juga sahabatku Ae RI."


Ujar Mikaila dengan suara tersendat dan lemah.


"Sayang! Mami sudah buatkan kamu bubur ayam, apakah kamu mau makan?" Tanya nyonya IFA pada Mikaila yang terlihat makin kurus selama berada di sel tahanan kepolisian.


"Boleh mami. Kebetulan Mikaila ingin makan bubur ayam." Sahut Mikaila.


Zefran mengatur posisi tidur istrinya dengan menumpukan bantal lebih tinggi agar posisi tubuh Mikaila bisa setengah berbaring.


"Iya sayang! terimakasih Zefran."


"Jangan berterimakasih kepadaku Mikaila. Balas lah terimakasih mu dengan tubuhmu yang sehat. Hiduplah untukku dan putri kita. Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu!"


Pinta Zefran dengan suara makin serak.


"Ajal adalah bagian dari takdir yang sudah tercatat di lauhul ma'fuz. Tidak seorangpun yang bisa mengubah itu sayang." Ucap Mikaila.


Mikaila menelan setiap suapan dari suaminya. Bubur ayam itu benar-benar dihabiskan oleh Mikaila. Zefran sangat senang melihat Mikaila semangat mau makan lebih banyak dari biasanya.


"Ya Allah. Apakah ini pertanda istriku akan sembuh?" Batin Zefran.


Sekarang giliran SYAKIRA menyuapi buah-buahan yang lunak untuk ibunya. Mikaila benar-benar di manjakan oleh keluarganya.


Sementara itu Hesty tertawa terbahak-bahak saat mengetahui kalau Mikaila sedang sakit parah dan saat ini sedang menunggu ajalnya.


"Jika aku tahu perempuan murahan itu akan mati, aku tidak perlu bersusah payah untuk menyuruh orang menjebaknya dengan barang haram tersebut." Lirih Hesty sinis.


Di tempat yang berbeda, jaksa penuntut umum yaitu tuan Mahendra terngiang terus ucapan SYAKIRA.


Ia begitu takut jika harus kehilangan ayahnya karena selama ini, hidupnya hanya untuk mengabdi kepada sang ayah. Ia hanya punya ayah yang selama ini membesarkannya dengan bekerja sebagai seorang sopir pribadi.


"Apakah selama ini aku selalu menerima uang haram hingga membuat ayahku menjadi sakit?"

__ADS_1


Tuan Mahendra berperang dengan batinnya sendiri saat ini. Di sisi lain ia ingin membebaskan Mikaila tapi, ia sudah menerima banyak uang dari seseorang yang membuatnya sulit untuk memilih.


"Astaga! Aku sudah masuk dalam perangkap. Orang-orang kaya itu telah memanfaatkan aku dengan menjebakku karena kemiskinan ku, sehingga aku tidak bisa keluar dari lingkaran hitam ini." Lirih tuan Mahendra sambil menatap wajah tirus ayahnya.


Seminggu kemudian, Mikaila dihadirkan lagi dalam persidangan. Kali ini Mikaila mempersiapkan dirinya untuk menerima keputusan yang terburuk sekalipun.


Mikaila makin kuat setelah kedatangan keluarganya dari Palembang. Semua keluarga memberikan dukungan moril untuk Mikaila.


Sidang pun segera dimulai setelah hakim agung menempati kursi mereka masing-masing.


Terdakwa sudah duduk disebelah pengacaranya. Jaksa penuntut umum mulai melakukan tugasnya dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada Mikaila.


"Siapa yang mengemas koper kalian saat kalian mau berangkat ke Jakarta?"


"Saya dan putri saya SYAKIRA."


"Apakah Anda memiliki asisten rumah tangga?"


"Sekitar enam orang yang membantu saya di rumah."


"Apakah mereka ikut membantu mengemaskan koper mu?"


"Tidak! Karena saya langsung menggembok dua koper itu."


"Apakah saat berangkat ke bandara Incheon, apakah anda mampir ke tempat lain?"


"Tidak pak!"


"Apa tujuan kalian datang ke Indonesia?"


"Ingin memberikan kejutan untuk suamiku karena hari itu ulangtahunnya."


"Apakah anda saat ini sedang menderita sakit?"


"Saya menderita riwayat kanker lambung."


"Apakah selama pengobatan anda menjalani kemoterapi dengan menggunakan obat-obatan seperti morfin?"


"Keberatan yang mulia!


Pertanyaan jaksa di luar dari kapasitas terdakwa karena itu adalah tanggung jawab tim medis." Ujar pengacara Rayansa.


"Keberatan di terima."


"Baik. Terimakasih yang mulia." Ujar tuan Mahendra.


Setelah perdebatan alot antara pengacara dan jaksa penuntut umum, akhirnya hakim memutuskan keputusan yang sangat mencengangkan Mikaila dan keluarganya.


Keadaan itu menjadi riuh terdengar di ruang sidang yang diikuti oleh peserta sidang dan para wartawan yang sudah pesimis dengan hasil sidang itu.

__ADS_1


__ADS_2