
Pergi tak kembali. Meninggalkan jejak sebuah kisah. Meninggalkan duniawi untuk selamanya. Semuanya menjadi sirna, yang tersisa hanya sepenggal kisah untuk di kenang.
Hanya waktu yang akan mengubah sebuah kekosongan menjadi secercah harapan.
Begitulah yang dirasakan Zefran setelah kepergian Mikaila . Hatinya masih merasa kosong walaupun putrinya SYAKIRA selalu berusaha menghiburnya.
Ketegaran SYAKIRA yang tidak bisa ditandingi olehnya justru itu yang membuat hatinya makin terluka. Entah mengapa anak itu seperti tidak punya air mata hingga membuat Zefran begitu takut melihat kondisi putrinya.
"Apakah jiwa putriku terlihat normal saat merasakan sakitnya kehilangan seorang ibu yang membuatnya tidak bisa meneteskan air mata?" Tanya Zefran pada sahabatnya yang merupakan seorang dokter psikiater.
"Setiap orang merespon suatu bentuk kehilangan seorang yang paling dia cintai dalam hidupnya beragam.
Ada yang bisa berada di tahap penolakan bahwa ibunya masih ada. Ada yang berada di tahap belajar untuk menerima itu sebagai bagian dari takdir dan ada juga yang terlalu merasakan kesedihan yang amat mendalam hingga luka batinnya sulit untuk ia obati kecuali dengan kesendiriannya yang kita tidak tahu, apakah dia sedang menangis sendirian tanpa ada yang melihatnya hingga ia puas setelah itu ia lupakan." Jawab dokter Azzam.
"Apakah seperti itu, respon setiap orang saat menghadapi kehilangan?"
"Iya Zefran! Putrimu sepertinya menjadi tegar karena ia sudah melihat penderitaan ibunya saat sakit dan saat itu ia sudah terlalu banyak menangis."
"Apa yang harus aku lakukan Azzam agar putriku terlihat ceria lagi?"
"Hanya kamu yang tahu jawabannya karena kamu lebih mengenalnya. Tanyakan saja apa yang ia sukai, entah itu makanan, tempat wisata atau yang berhubungan dengan hobinya."
Zefran ingat buku catatan Mikaila tentang kebiasaan putrinya yang belum sempat ia baca.
"Baiklah Azzam. Terimakasih atas solusinya. Aku lega sudah berbagi kesedihanku denganmu."
Ucap Zefran lalu pamit kepada sahabatnya itu.
Zefran segera pulang menemui putrinya yang mungkin saat ini sedang menunggunya pulang kerja.
Sementara di kediaman Zefran, SYAKIRA yang di hadang oleh beberapa wartawan yang ingin menanyakan dirinya membuat nyonya IFA begitu geram.
Para bodyguard Zefran mengusir para wartawan itu saat mendekati SYAKIRA yang baru pulang dari sekolah. Mereka ingin menanyakan anak sekecil itu yang belum mengerti apapun.
"Nona SYAKIRA! Boleh minta waktu sebentar?"
Syakira terlihat diam dengan tetap memasang wajah datarnya seperti ayahnya Zefran.
"Nona SYAKIRA! Apakah ayahmu menikahi ibumu setelah kamu berusia enam tahun?"
Syakira menghentikan langkahnya. Ia melihat wajah si penanya yang merupakan seorang wanita yang berusia dua puluhan.
"Apa yang ingin kamu ketahui, kak? Apakah kamu Ingin memuat berita yang tidak bermutu untuk mencari sensasi di luar sana dengan media mu yang terlihat sepi?" Tanya SYAKIRA sarkas.
"Kami dengar kalau Ade sendiri adalah anak haram." Ujar Wanita itu tanpa punya hati.
"Apakah kamu sudah menanyakan ibumu bagaimana caramu hadir di rahimnya sebelum kamu ingin memfitnah mendiang Ibuku yang telah melahirkan aku dari rahimnya yang suci?" Tanya SYAKIRA dengan kata-kata menohok.
"Kau...!" Geram wartawan itu mendengar ucapan SYAKIRA yang terkesan kurangajar menurutnya.
__ADS_1
Aku bisa saja meminta ayahku untuk menuntut mu dengan laporan pencernaan nama baik karena tidak sesuai dengan fakta." Balas SYAKIRA membuat wajah wanita itu sangat gugup.
"Satu hal lagi, sebaiknya kamu pulang karena saat ini ada orang yang sedang berniat buruk pada ibumu."
Ujar SYAKIRA lalu berjalan cepat menuju rumahnya.
"Nona SYAKIRA.. nona SYAKIRA..!" Teriak para pemburu berita serentak.
"Kalian sudah mendapatkan keterangan dari nona muda. Sebaiknya tinggalkan tempat ini!"
Ujar para bodyguard Zefran mengusir para wartawan.
...----------------...
Saat memasuki komplek perumahan elit itu, ia melihat segerombolan wartawan yang sedang berusaha masuk untuk menanyakan status SYAKIRA yang di anggap hasil anak zina dari seorang wanita pelakor yang tidak lain adalah almarhumah Mikaila.
Ketika melihat mobil Zefran, para wartawan sudah siap mengarahkan kamera mereka ke arah Zefran yang turun dari mobilnya.
"Sore Tuan Zefran!"
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Tanya Zefran pada para wartawan yang terlihat makin gugup berhadapan dengan raja mafia ini.
"Maaf tuan Zefran! Kami hanya ingin mengetahui putri rahasia yang selama ini menjadi rumor di masyarakat kalau putri anda nona SYAKIRA adalah anak dari hasil hubungan gelap anda dengan mendiang istri anda, Nona Mikaila?"
"Tentu saja menjadi urusan publik karena anda adalah pengusaha terkenal di Indonesia maupun Asia tenggara." Tukas wartawan dari media hiburan salah satu televisi swasta.
"Baik, jika saya menjawabnya, apakah kalian ingin mempelitir semua pernyataan ku?"
"Tidak tuan Zefran! Kami menganggap itu suatu informasi yang berguna untuk masa depan putri anda SYAKIRA."
"Sebaiknya kalian mendatangi kantor KUA Palembang karena catatan pendaftaran pernikahan kami ada di sana. Walaupun kami sempat bercerai tapi kami kemudian rujuk setelah kami bisa mengatasi masalah kesalahpahaman yang pernah terjadi diantara kami." Ucap Zefran tegas.
"Apakah mantan istri anda nona Hesty adalah istri kedua anda saat itu?"
"Benar sekali karena dia datang saat aku dan istriku Mikaila sedang bahagia saat itu. Jika dia yang menyebarkan omong kosong ini tentang istriku Mikaila, tanyakan padanya, apakah dia sendiri seorang pelakor atau tidak?"
Ucap Zefran lalu meninggalkan para wartawan yang masih belum puas dengan pernyataannya.
Zefran masuk ke kamar putrinya SYAKIRA yang sedang belajar di kamarnya.
"Hai sayang!"
Zefran mengecup keningnya SYAKIRA.
"Apakah ayah bertemu dengan wartawan di depan sana?"
"Iya sayang."
__ADS_1
"Apakah kedatangan mereka ke sini ingin menjatuhkan reputasi ayah?"
"Entahlah."
"Apakah ayah mengetahui siapa yang sudah menghembuskan berita bohong itu ayah?"
"Mungkin saja dia adalah seorang wanita gila yang sedang setress karena cintanya tak terbalaskan." Ujar Zefran sambil cekikikan.
"Ayah!"
"Hmm!"
"Apakah para pemburu berita itu mempunyai kehidupan yang terbebas dari aib?"
"Tentu saja tidak ada satu manusia di dunia ini yang tidak punya aib, kecuali para Ambiya terutama Rosulullah."
"Jika punya aib, mengapa mereka begitu nekat ingin mengetahui kehidupan orang lain, ayah?"
"Itu karena mereka sedang mencari nafkah. Demi uang mereka tidak peduli apakah mereka bisa menjadikan aib orang lain untuk mendapatkan bonus lebih, dari perusahaan media yang menaungi mereka." Jelas Zefran.
"Kasihan sekali hidup mereka ayah. Mereka tidak sadar kalau pekerjaan mereka itu akan mengantarkan mereka ke dalam neraka jika berita yang mereka sampaikan itu tidak benar." Ucap SYAKIRA.
"Ternyata putri ayah pemikirannya lebih matang dari pada para wartawan itu." Puji Zefran.
Syakira kembali terdiam dan sibuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Zefran ingin menanyakan banyak hal pada putrinya, namun ia bingung bagaimana memulainya.
"Apakah ada yang ingin ayah sampaikan kepada SYAKIRA?"
"Tidak ada sayang! Baiklah. Ayah mau rehat dulu." Zefran segera meninggalkan kamar putrinya.
"Ayah!"
"Iya sayang!"
"Apakah ayah ingin menikah lagi?"
"Ayah tidak punya niat untuk mencari pengganti ibumu."
"Kenapa ayah?"
"Karena tidak ada wanita yang seperti ibumu."
"Ada ayah."
"Siapa sayang..?"
"Tante Ae RI...!"
Deggggg...
__ADS_1