
Menjelang tiga bulan kehamilannya, Mikaila rajin mengkonsumsi makanan sehat dan menjaga kebugaran tubuhnya. Ia tidak mengalami mual dan pusing di usia kehamilannya yang masih muda.
Rupanya suaminya Zefran lah yang saat ini sedang mengalami kehamilan simpatik yang membuatnya sulit untuk makan. Apa saja yang ia makan selalu saja di muntah kan lagi.
Sementara itu, program hamil yang dijalani istri keduanya Hesty selalu saja gagal. Gadis itu tetap saja mendapatkan tamu rahimnya seakan tidak mau menampung benih sang suami baik itu secara hubungan normal maupun melalui inseminasi buatan.
Keadaan Zefran yang sangat parah seperti ibu hamil muda pada umumnya membuatnya harus dirawat di rumah sakit.
Istrinya Hesty, begitu setia menunggu suaminya di rumah sakit. Dokter sudah memeriksakan keadaan Zefran namun tidak ditemukan penyakit pada tubuh pasiennya.
"Maaf tuan Zefran! Kami tidak menemukan penyakit apapun pada tubuh anda, mungkin anda saat ini sedang setress atau juga mengalami kehamilan simpatik." Ujar dokter Gahral sambil melirik ke arah Hesty yang sedang cemberut.
"Maaf dokter! istri saya tidak hamil. Program bayi tabung itu selalu saja gagal." Ujar Zefran apa adanya.
"Oh, berarti anda hanya setress saja tuan Zefran."
"Mungkin saja begitu dokter." Zefran membenarkan pernyataan dokter.
Tapi Zefran sedang memikirkan sesuatu jika saja saat ini istri pertamanya Mikaila mungkin sedang hamil.
"Ya Allah! Jangan.. jangan Mikaila saat ini sedang hamil anakku, kalau benar dia hamil saat aku tinggalkan, berarti usia kandungannya sudah memasuki enam atau tujuh bulan. Itu berarti sebentar lagi ia akan melahirkan anak kami." Gumam Zefran dalam hati.
Tapi Zefran merasa aneh dengan spekulasi kehamilan Mikaila. Jika saat ini usia kandungan Mikaila sudah besar, tidak mungkin ia bisa mengalami kehamilan simpatik.
"Bukankah kehamilan simpatik itu terjadi diawal kehamilan muda? Ahhh! Mungkin saja aku benar-benar setress berat karena terlalu memikirkan Mikaila hingga perutku menjadi terganggu."
Zefran sibuk memikirkan istrinya Mikaila daripada Hesty yang saat ini masih cemas dengan program kehamilannya yang gagal.
Sementara desakan ayah mertua dan juga ayah kandungnya untuk segera hamil membuatnya semakin tertekan.
"Apakah kamu akan meninggalkan aku jika aku gagal hamil atau tidak bisa memberikan kamu keturunan?" Tanya Hesty lirih.
"Entahlah Hesty! Bukankah kamu sendiri tahu jika pernikahan kita tidak berdasar cinta? jadi mana mungkin kamu bicara seperti itu seakan aku harus berjuang untuk mempertahankan pernikahan kita atau dirimu?" Ujar Zefran dengan perkataan menohok.
"Kenapa kamu berkata seperti itu padaku dan selalu saja bersikap sinis padaku? Apakah sebagai perempuan aku tidak layak mendampingimu? Apa kekuranganku Zefran?"
__ADS_1
"Kamu tidak punya kekurangan dalam dirimu, hanya saja setiap kelebihan dalam dirimu yang aku temui tidak menggugah perasaanku sama sekali kepadamu." Timpal Zefran dingin.
"Kamu sangat menyebalkan, Zefran! Tidak punya perasaan. Dalam sakit pun kamu sempat-sempatnya menghinaku seakan aku tidak punya harga dihadapanmu." Ujar Hesty dengan nada sengit.
"Apakah kamu tidak sadar bahwa karena kamu, tangan dan kakiku seperti terikat karena aku tidak bisa melakukan apapun untuk diriku sendiri walaupun itu untuk menghubungi istriku Mikaila." Batin Zefran.
Hesty keluar dari kamar inap suaminya. Perkataan Zefran bagai sembilu yang menancap di setiap bilik hatinya.
"Jika dia ingin pisah denganku, sebaiknya katakan saja kepada ayahku, tidak perlu berkata kasar kepadaku. Bagaimanapun juga aku adalah seorang wanita, setidaknya dia ingat itu, cara untuk menghargai wanita." Lirih Hesty.
Gadis cantik ini sudah duduk di dalam cafe sambil merenungi nasib pernikahannya.
...----------------...
Sepekan kemudian, Mikaila sedang mengunjungi mall untuk melihat-lihat baju bayi yang ingin dibeli cicil olehnya.
Maniknya langsung tertuju pada baju-baju lucu milik bayi perempuan. Mikaila mengelus perutnya yang masih rata sambil tersenyum.
"Aku berharap kamu seorang perempuan sayang, karena kita bisa melakukan apapun bersama.
Tapi tidak apa jika kamu hadir sebagai lelaki, mungkin kamu bisa menjadi pelindungku menggantikan ayahmu yang kurangajar itu." Ujar Mikaila lirih.
"Jika kamu laki-laki, aku bisa memberikan baju ini pada kakak iparku yang saat ini sedang hamil juga."
Mikaila membayar belanjaannya dan segera pulang karena ia ingin memasak sesuatu untuk dirinya. Saat masuk ke lift, Mikaila sibuk melihat notifikasi pesan di ponselnya, ia tidak menyadari seorang lelaki tampan juga ikut masuk, begitu lift itu berhenti di lantai berikutnya.
Betapa kagetnya Zefran, saat melihat seorang gadis cantik dengan penampilannya yang begitu anggun berdiri di hadapannya namun tidak menyadari kehadirannya.
"Mikailaaa!" Panggil Zefran dengan wajah berbinar.
Mikaila mengangkat pelan wajahnya menatap wajah suaminya ketika mendengar suara khas lelaki itu yang selalu tersimpan di benaknya.
Saking syok nya, barang bawaan beserta ponselnya terlepas dari tangannya.
"Kauuu..!" Pekik Mikaila.
__ADS_1
"Sayang!"
Zefran tidak mampu membendung rasa rindunya. Ia segera memeluk sang istri yang sangat ia rindukan. Mikaila merasakan sesaat pelukan itu karena ia tidak menapik hatinya juga sangat merindukan Zefran.
Tapi mengingat Zefran sekarang punya wanita lain, tiba-tiba rindunya itu berganti dengan kebencian yang amat sangat pada lelaki itu, ia segera mendorong tubuh Zefran menjauhi dirinya.
"Lepaskan aku bajingan!"
"Mikaila..!"
Zefran mencoba memeluk lagi istrinya, namun pintu lift itu sudah keburu terbuka karena sudah berada di lantai basemen di mana Mikaila memarkirkan mobilnya di sana.
"Sayang! Aku mohon maaf karena selama ini aku tidak bisa menghubungi kamu...."
"Karena sudah menikah lagi dengan wanita pilihan orangtuamu, begitu?"
Tebak Mikaila asal sambil melangkah menuju mobilnya. Mikaila membuka pintu mobilnya bersamaan dengan Zefran yang ikut masuk ke mobil itu juga.
"Kenapa mengikutiku? Apakah kamu tidak takut ketahuan istrimu yang lain, hah?"
Bentak Mikaila dengan wajah kelam.
"Sayang aku mohon! dengarkan dulu penjelasanku! Kamu tidak tahu apa yang aku lalui dalam beberapa bulan ini. Demi....!"
"Aku minta kita cerai karena aku tidak mau di madu. Dasar pengkhianat!" Ucap Mikaila dengan dada naik turun menahan kesal.
Zefran menarik tubuh Mikaila agar masuk dalam pelukannya. Namun sekuat mungkin Mikaila tidak sudi dirayu dan dibujuk oleh suaminya.
Ia tetap saja berontak dari pelukan Zefran. Karena masih menolak, Zefran menangkup kedua pipi Mikaila dan menyesalkan bibirnya pada bibir ranum istrinya.
"Ummp! "
Tolak Mikaila. Tapi kedua tangannya dibelit kebelakang hingga Mikaila nampak pasrah saat Zefran mampu menguasai tubuhnya.
Zefran membelit lidahnya pada sang istri agar bisa mengisap lebih dalam lidah Mikaila hingga gadis ini sesaat terbuai kembali ciuman yang sudah lama ia rindukan dari suaminya.
__ADS_1
Walaupun hatinya menolak kehadiran suaminya namun tidak dengan tubuhnya seakan menuntut dirinya untuk menerima semua sentuhan itu sebagai bentuk kewajibanya Mikaila yang harus melayaninya sebagaimana istri pada suaminya.
"Mikaila, sayang! Aku sangat merindukanmu."