Putri Rahasia Raja Mafia

Putri Rahasia Raja Mafia
14. TERUNGKAP


__ADS_3

Sesuai janji Mikaila pada putrinya yang ingin mengunjungi Bali saat memasuki liburan panjang, kini keduanya sudah berada di dalam pesawat yang terbang langsung ke bandara internasional Ngurah Rai Bali.


Keduanya tidak lupa mengajak paman Hanan dan keluarganya untuk berlibur bersama dan berjanji bertemu di hotel mewah yang sudah di booking Mikaila sebulan yang lalu.


"Ibu! Apakah kita akan tinggal lama di Bali?"


Tanya SYAKIRA sambil bermain game di ponselnya.


"Tergantung waktu liburan kamu, sayang."


Jawab Mikaila sambil mencolek hidung putrinya.


"Berarti dua Minggu kita berada di sana?"


"Tidak! Paling sepekan."


"Yah, sepekan terlalu cepat ibu. Padahal SYAKIRA ingin mengunjungi tempat yang lain juga."


Ujar Syakira tertunduk lesu.


"Kita lihat saja nanti. Hmm!"


"Benarkah?"


Wajah SYAKIRA kembali berbinar.


Sementara di Jakarta, Zefran sedang sibuk dengan pekerjaannya. Suami dari Hesty ini seakan tidak punya waktu untuk refreshing ataupun menemani istrinya jalan-jalan ke manapun istrinya suka.


Perubahan sikap Zefran pada istrinya dan juga dirinya sendiri saat terjadi perceraian antara dirinya dan Mikaila, istri pertamanya.


Tok...tok..


Cek..lek!


Asistennya Rizal masuk ingin memberitahukan bosnya kalau saat ini ada tamu.


"Permisi bos!"


"Iya ada apa?"


Tanya Zefran dengan tetap fokus pada pekerjaannya.


"Ada yang ingin bertemu dengan anda."


"Siapa?"


"Katanya dia adalah Suster yang bekerja di rumah sakit Kasih Bunda."


"Untuk apa dia ingin bertemu denganku?"


"Katanya dia ingin menyampaikan suatu informasi yang mungkin sangat menguntungkan bagi anda."


Zefran menghentikan pekerjaannya dan menatap wajah asistennya sambil menautkan kedua alisnya.


"Baiklah. Suruh dia masuk!"


"Siap bos!"


Tidak lama Suster Irma sudah berada di ruang kerjanya Zefran.

__ADS_1


"Selamat siang tuan Zefran!"


"Siang!"


"Perkenalkan namaku Irma!"


"Sampaikan kepentingan mu dan setelah itu pergi dari sini. Aku tidak ingin mendengar omong kosong mu di perusahaan ku karena aku sedang sibuk." Ujar Zefran dengan wajah datar.


"Ini mengenai anak tuan, mungkin bisa di bilang anak rahasia tuan dengan wanita lain." Ujar suster Irma tanpa basa-basi.


"Apa maksudmu anakku dengan wanita lain?"


"Aku tidak berhubungan dengan wanita lain selain istriku?"


"Mungkin tidak berhubungan langsung. Tapi, bagaimana kalau aku katakan bahwa dokter spesialis kandungan yang direkomendasikan rumah sakit, untuk melakukan inseminasi buatan pada pasangan anda dan ternyata ia melakukan kecerobohan hingga salah menyuntikkan benih tuan pada wanita lain."


Deggggg...


Zefran terhenyak mendengar penuturan Suster Irma." Salah menyuntikkan benihku pada wanita lain?"


Tuan Zefran menghampiri suster Irma yang terlihat sangat percaya diri menyampaikan rahasia besar itu.


"Apakah kamu serius dengan perkataanmu, Suster?"


"Aku berani bersumpah demi Allah, sebenarnya anda mempunyai seorang anak dengan wanita lain yang sudah mengandung benih anda tanpa Anda atau pasangan anda ketahui. Semua itu atas kecerobohan dokter."


"Tunggu sebentar! saya masih belum paham dengan perkataan anda, Suster."


"Saya tidak akan mengungkapkan rahasia besar ini tanpa ada imbalannya Tuan. Apa lagi ini menyangkut anak kandung anda yang mungkin saat ini sudah berusia enam tahun."


"Baik. Berapa yang kamu minta?"


"Baik. Aku tidak akan perhitungan denganmu, jika informasi dari Suster bisa dipertanggungjawabkan." Ujar Zefran penuh penekanan pada kalimatnya.


Zefran mempersilahkan Suter Irma duduk di sofa tamu yang ada di ruangan itu. Tuan Zefran siap mendengarkan informasi dari Suster itu dengan mempersiapkan perekam suara untuk berjaga-jaga jika Suster Irma menipunya.


"Begini Tuan Zefran. Tujuh tahun yang lalu, ada seorang pasien mengklaim kepada dokter IDRA bahwa dirinya kenapa bisa hamil sementara ia dan suaminya sudah berpisah sekitar enam bulan lamannya."


"Terus, apa hubungannya denganku?"


"Rupanya, pasien itu ingin melakukan pemeriksaan pada alat reproduksinya karena mengalami sakit perut luar biasa setiap kali mendapat haid.


Tanpa menanyai keluhan pada pasien itu, dokter IDRA langsung menyuntikkan benih anda pada gadis itu."


"Lho, bagaimana bisa seperti itu?"


"Ternyata nama istri anda sama persis dengan nama gadis itu, hanya beda nama depannya saja, apa lagi nama suami mereka sama."


"Apa...?" Nama gadis itu dan suami sama mereka sama dengan nama aku dan istriku? lantas siapa nama pasien itu?"


"Putri Mikaila!"


Duarrrr...


"Tidak mungkin!"


Wajah Zefran langsung pucat pasi dengan jantung berdebar kencang mendengar penuturan Suster Irma. Dadanya terasa sangat sesak hingga tidak sadar air matanya ikut mengalir.


Bibirnya tidak lagi bisa berucap karena lidahnya sangat kelu saat ini. Rasanya ia ingin pingsan karena terlalu syok mendengar informasi yang sangat berharga baginya sekaligus membuat dunianya seakan runtuh.

__ADS_1


"Tuan Zefran! Apakah anda baik-baik saja?" Tanya Suster Irma kalut.


Tuan Zefran hanya mengangkat satu tangannya sebagai isyarat kalau saat ini, ia tidak bisa mendengar lanjutan cerita dari suster Irma karena sudah jelas semuanya.


Suster Irma keluar dari ruang kerja tuan Zefran untuk meminta tolong kepada karyawan yang lain, namun asisten pribadinya langsung menghampiri Suster Irma.


"Apa yang terjadi suster?"


"Tu..tuan Zefran sepertinya tidak sehat. Tolong lihat dia!"


Asisten pribadinya, tersentak mendengar ucapan suster Irma dan segera menemui bosnya.


"Ada apa tuan Zefran?"


"Tolong urus suster itu dan bayar dia lima miliar. Lakukan perintahku dan jangan banyak tanya!" Titah Zefran setengah berbisik pada asistennya.


"Tapi, keadaan tuan saat ini perlu penanganan dokter."


"Saya tidak apa-apa. Saya hanya butuh istirahat. Tolong ambilkan saya air putih!"


"Baik Tuan!"


Asistennya segera memberikan minuman itu untuk Zefran yang masih terlihat pucat. Tuan Zefran segera menenggak minumannya dan mengatur lagi nafasnya.


"Buat surat pernyataan untuk ditandatangani oleh suster Irma sebelum memberinya uang."


"Baik Tuan Zefran!"


Suster Irma masih belum mengerti apa yang terjadi pada tuan Zefran. Ia masih berdiri di depan pintu ruang kerja tuan Zefran karena urusannya belum selesai menyangkut imbalan yang sudah dijanjikan oleh tuan Zefran padanya.


"Apa yang terjadi dengan tuan Zefran? mengapa dia begitu syok mendengarnya ceritaku? apa jangan-jangan putri Mikaila adalah simpanannya? astaga! kenapa aku nggak kepikiran sampai ke situ?" Ujar Suster Irma sambil membekap mulutnya dengan wajah menegang.


Cek..lek..


Pintu dibuka oleh asisten pribadinya tuan Zefran.


"Silahkan masuk Suster Irma!"


"Baik Tuan!"


"Silahkan duduk!"


Suster Irma duduk di hadapan tuan Zefran sambil menahan rasa gugupnya.


"Begini suster Irma, anda diminta untuk menandatangani surat pernyataan sebelum tuan Zefran membayar anda. Ini untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti anda melanggarnya, maka kami akan menuntut Anda secara hukum. Apakah Anda mengerti?"


"S..siap tuan!" Ujar suster Irma terbata-bata.


Baik suster Irma maupun tuan Zefran segera membubuhi tandatangan mereka setelah membaca ulang lagi isi surat perjanjian itu dan keduanya tidak keberatan dengan isi pernyataannya.


"Imbalan untukmu sudah kami transfer dan silahkan di cek di


m-bangking anda!" Ujar asistennya Zefran pada suster Irma.


Suster Irma menatap nominal uang itu dengan wajah berbinar. Ia segera pamit dari perusahaan tuan Zefran dengan hati girang.


"Syakiraaaaaa!"


Tuan Zefran memanggil nama putrinya sambil menangis menyesali perbuatannya yang telah mengingkari darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2