
Zhyan mengantar Syakira sampai ke apartemen gadis itu. Melihat apartemen yang ditempati oleh Syakira membuat Zhiyan bisa menilai bahwa Syakira bukan orang biasa. Salah satu pelayan Syakira membuka pintu itu dan menyambut kedatangan nona muda mereka.
Syakira memberi salam kepada pelayannya sambil memperkenalkan Zhiyan pada kedua pelayan yang sudah dianggap keluarga sendiri oleh Syakira.
"Silahkan duduk Zhiyan!"
Syakira masuk ke kamarnya untuk meletakkan buku dan ranselnya.
Zhyan memperhatikan beberapa foto Syakira dengan ayahnya dan juga ibunya saat Syakira masih kecil. Foto kenangan terakhir Syakira dengan ibunya sebelum ibunya meninggalkan mereka untuk selamanya.
Seorang pelayan mengantarkan teh untuk Zhyan dengan cemilan.
"Silahkan di minum tuan!"
"Terimakasih bibi!"
Syakira keluar lagi menemui Zhyan dengan sudah mengganti busananya. Syakira memang sudah berhijab saat masuk ke pesantren. Dengan hijabnya itu membuatnya tidak terlalu diperhatikan oleh kaum Adam di kampusnya kecuali Aldo yang benar-benar meneliti wajah cantik Syakira yang slalu menundukkan wajahnya pada kaum Adam.
Salah satu yang membuat Zhiyan kagum pada Syakira adalah penampilan Syakira yang begitu sederhana padahal jika di lihat dari apartemen yang dia tempati tidak mampu dibeli oleh orang yang memiliki gaji sekelas manajer perusahaan sekalipun.
Jangankan untuk membelinya, menyewa pertahun saja tidak akan pernah mampu kecuali para pengusaha sekelas dirinya.
Jika gadis sekaya Syakira diluar sana hobi memamerkan status sosial orangtuanya yang tajir melintir melalui gaya hidup mereka, namun tidak dengan Syakira yang tetap memilih tampil sederhana yang membuat para teman-temannya meremehkan dirinya di kampus.
"Syakira!"
"Hmm!"
"Apakah baru aku yang kamu undang ke apartemenmu?"
"Iya!"
"Kenapa?"
"Karena mereka tidak begitu penting bagiku."
"Apakah aku menjadi sangat penting untukmu, hmm?"
Zhyan beralih duduknya lebih dekat ke sisi Syakira.
"Mungkin saja seperti itu."
Jawaban Syakira yang kurang tegas membuat Zhiyan menjadi ragu apakah kehadirannya disukai atau tidak oleh gadis ini.
Syakira yang sebenarnya sangat menyukai Zhyan namun ia menekan perasaannya untuk tidak begitu memperlihatkan perasaannya itu pada Zhyan.
Bagaimanapun juga mereka masih dalam tahap penjajakan dan itu butuh waktu yang tidak sebentar untuk lebih mengenal karakter satu sama lain.
"Syakira! apakah sebelumnya kamu sudah punya pacar?"
__ADS_1
"Hmm!"
"Siapa dia?"
Jantung Zhyan bergetar hebat saat Syakira memikirkan pria pertama dalam hidupnya sambil tersenyum.
"Ayahku."
"Oh, seet! Ternyata ayahnya, aku kira lelaki lain." Batin Zhiyan merasa lega.
"Ayahku adalah cinta pertamaku."
"Apakah kamu tidak berniat untuk mencari cinta yang lain selain ayahmu, hmm?"
"Apa maksudmu, Zhyan?"
"Aku menyukaimu Syakira. Aku ingin memiliki cintamu setelah cintamu untuk ayahmu."
Syakira menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan frontal dari Zhyan, lelaki yang baru di kenalnya.
"Tapi aku belum begitu siap untuk memberikan cintaku untukmu. Ini terlalu singkat dan aku tidak mau cinta tumbuh hanya semalam lalu ketika sadar semuanya dianggap mimpi. Dan itu sangat menyakitkan."
"Apakah kamu tidak yakin akan cintaku Syakira?"
"Bukan tidak yakin, tapi aku butuh banyak waktu untuk lebih mengenal dirimu dan bagaimana latar belakang kehidupanmu."
"Apa yang kamu takutkan Syakira?"
"Bukankah ayahmu satu-satunya pria dalam hidup ibumu?"
"Iya. Tapi cinta buta yang diberikan ibu pada ayah yang begitu mempercayai perkataan ayah membuat keduanya harus terpisah karena keegoisan ayah yang membohongi ibuku hingga mereka terpisah berbulan-bulan lamanya.
Sudahlah, aku tidak mau menceritakan kehidupan cinta kedua orangtuaku, yang jelas aku tidak siap menerima cintamu. aku Ingin kita menjalani hubungan ini apa adanya hingga aku yakin sampai aku siap menerima cintamu." Balas Syakira.
Keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing hingga waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam dan Zhyan segera pamit pulang.
...----------------...
Hampir tiga bulan SYAKIRA dan Zhiyan menjalin hubungan namun belum memantapkan hati mereka ke komitmen yang lebih serius.
Walaupun Syakira belum begitu yakin dengan cinta tulus Zhiyan padanya, Zhyan tetap berusaha menunjukkan cintanya yang begitu besar pada gadis itu.
Zhyan mencari tahu sendiri siapa sebenarnya Syakira tanpa ingin menanyakan kepada gadis itu.
Dari hasil yang ia dapatkan, ternyata Syakira adalah putri seorang raja Mafia yaitu Tuan Zefran Noya.
Mengetahui seluk beluk perjalanan kisah asmara kedua orangtuanya SYAKIRA, membuat pria berusia dua puluh lima tahun ini, memahami perasaan wanitanya.
"Ternyata cinta yang besar itu tidak tergantung pada sebanyak apa orang harus hidup bersama dengan pasangannya tapi seberapa besar cinta tulus dan rasa setia yang ia jaga dalam hatinya untuk satu orang yang ia cintai.
__ADS_1
Cinta yang sudah langka untuk dipertahankan di jaman serba digital saat ini." Batin Zhiyan kala mengetahui seperti apa keluarga wanita yang ia cintai.
Mungkin pemikiran Zhyan tidak sejalan dengan SYAKIRA yang menginginkan jika kedua orang yang saling mencintai itu harus selalu bersama dalam suka dan duka hingga maut memisahkan mereka.
Kurangnya kasih sayang dan kesalahpahaman terjadi karena hidup berjauhan. Dan itu semua menjadi trauma tersendiri dalam hidup Syakira dari kisah cinta kedua orangtuanya.
Pada saat weekend, Zhyan sengaja mengajak Syakira untuk berkunjung ke tempat wisata yang ada di kota Sidney.
Bondi beach menjadi tempat pilihan mereka untuk sekedar bersantai melihat suasana pantai dengan segala kemewahan panorama alamnya yaitu bentangan laut dengan pandangan tanpa batas.
"Syakira! apakah kamu masih ragu untuk menerima cintaku? Apa yang membuatmu begitu takut akan cinta?" Tanya Zhiyan pura-pura tidak tahu.
"Aku tidak mau kisah cinta kedua orangtuaku kembali teruji pada hidupku." Ujar Syakira dengan wajah sendu.
"Apakah mereka pernah hidup terpisah karena hadirnya orang ketiga?"
"Itu semua karena ayahku yang begitu pengecut untuk mempertahankan cintanya hingga ia rela menanggung sakit hatinya demi memuaskan ambisi kakekku."
"Tapi tidak semua lelaki di dunia ini satu pemikiran dengan ayahmu SYAKIRA. Kilas hidup orangtua kita tidak akan berulang kepada keturunannya. Allah tidak sekejam itu menghukum hambaNya yang sudah Dia uji dengan berbagai macam cobaan."
Ungkap Zhyan untuk merubah stigma buruk Syakira pada sebuah ikatan cinta.
Ia ingin meyakinkan gadis ini agar Syakira mau membuka hatinya untuk dirinya saat ini.
"Syakira! Aku janji dan bersumpah untuk tetap bersamamu walau apapun terjadi karena orangtuaku tidak sekolot dengan kakekmu itu." Ujar Zhiyan tegas.
Alih-alih untuk memperhatikan ucapan Zhyan, Syakira lebih menajamkan penglihatan batinnya dengan apa yang akan terjadi di laut itu.
"Apakah dipantai ini ada pengeras suara untuk memberi warning pada para pengunjung?" Tanya Syakira dengan wajah panik lagi pucat.
"Syakira! Aku sedang bicara denganmu? Kenapa kamu mengalihkan obrolan kita dengan pengeras suara? Apakah akan datang ombak besar menelan kita semua?" Sindir Zhyan dengan wajah kesal.
"Iya, itu yang akan terjadi sebentar lagi."
"Hah, yang benar saja Syakira! Kamu seperti cenayang saja."
Zhyan meremehkan peringatan Syakira dengan candaan.
"Ini bukan lelucon. Silahkan kamu tertawa Zhyan"
Ucap Syakira lalu mencari petugas penjaga pantai untuk mengingatkan para pengunjung pantai yang sedang berenang.
Beruntunglah Syakira menemukan petugas pantai itu.
"Maaf Tuan! Apakah anda bisa memberi tahukan para pengunjung untuk segera menjauhi pantai?"
"Ada apa denganmu nona? Untuk apa kamu memintaku untuk memberikan peringatan kepada mereka sementara laut dalam keadaan aman berdasarkan laporan di komputer ini." Ucap petugas pantai itu mengabaikan perkataan Syakira.
"Bagaimana kalau aku berkata benar? Apakah tuan ingin melihat bergelimpangan mayat dulu baru mempercayai ku?" Ancam Syakira pada petugas itu.
__ADS_1
"Pergilah dari sini, nona! Atau aku akan menahan mu? Dasar wanita gila!" Umpat petugas itu membuat Syakira ingin mencabik wajah dungunya.
Syakira tidak serta-merta pergi dari situ. Ia mengambil gambar petugas itu lalu meninggalkan pos penjagaan pantai.