Putri Rahasia Raja Mafia

Putri Rahasia Raja Mafia
17. MENGELABUI


__ADS_3

Mikaila tidak lagi bisa bertahan lama di hotel itu karena ia tidak tenang jika Zefran akan merebut putrinya darinya.


Ia berdiskusi dengan keluarganya untuk tidak melanjutkan liburan ini jika kenyamanan putrinya terancam.


Pagi itu, usai sarapan pagi di restoran hotel tersebut, mereka berbincang di kamar milik Cyra. Ibu satu anak ini menyampaikan keinginannya pada keluarganya.


"Abang! Aku ingin kembali lagi ke Seoul."


"Mikaila! Kamu kira, jika kamu kembali lagi ke soul, apakah masalah akan selesai? Justru Zefran akan punya peluang besar untuk mengambil SYAKIRA darimu." Ujar Hanan memberikan pendapatnya.


"Tapi di sana aku punya anak buah dan orang-orang yang bisa aku andalkan untuk menjaga putriku. Lagi pula, Zefran tidak berani menculik SYAKIRA di negara itu karena peraturan di sana begitu ketat." Imbuh Mikaila.


"Baiklah! Kalau kembali ke Seoul baik menurutmu, biar kami sendiri yang mengantarmu ke sana untuk memastikan kamu tiba dengan aman di negara itu." Ujar Hanan.


"Benarkah kalian mau mengantar kami ke Seoul? apakah kalian membawa paspornya?"


"Kami sudah menyiapkan jauh-jauh hari, sebelum terjadinya masalah ini Mikaila. Ditambah lagi dengan adanya masalah ini membuat kami makin kuatir dengan kalian berdua.


Lagi pula anak-anak ingin sekali mengunjungi Korea Selatan untuk menghabiskan waktu liburan mereka di sana." Timpal kakak iparnya, Ika.


"Baiklah. Kalau begitu nanti malam kita berangkat ke Korea Selatan. Aku harus minta perlindungan polisi setempat untuk mengawal kita sampai pesawat kita meninggalkan tanah air." Ujar Mikaila.


"Itu ide yang bagus Mikaila."


"Hari ini kita tidak usah ke mana-mana sampai kita berangkat ke Seoul. Kalau mau makan, pesan saja di restoran dan biarkan anak-anak bermain game kesukaan mereka." Lanjut Mikaila.


"Mikaila! Sepertinya Zefran menginap di hotel yang sama dengan kita dan dia lebih dekat denganmu karena kamarnya berhadapan langsung dengan kamarmu."


"Apa..? Bagaimana kak Ika mengetahuinya?"


"Aku tadi sempat ngintip keluar saat kamu lagi asyik ngobrol dengan bang Hanan." Imbuh Ika.


"Kurangajar! Bagaimana aku leluasa bergerak kalau caranya seperti itu."


Mikaila memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mengelabui Zefran.


"Kamu harus menyamar menjadi pelayan. Lebih baik pakai jilbab dan gunakan tempat laundry menyembunyikan SYAKIRA."


Ika menyumbang idenya pada Mikaila.


"Apakah kita harus cabut dari sini siang ini?" Tanya Mikaila cemas.


"Bukan kita, tapi kamu dan Mikaila terlebih dahulu ke bandara. lebih baik ambil penerbangan sore." Timpal Hanan.


"Bagaimana dengan kalian?"

__ADS_1


"Kami akan menyusul kalian, setelah kamu dan SYAKIRA cek out dari sini."


Ika meyakinkan Mikaila.


"Baiklah. Aku hubungi cleaning servis untuk membersihkan kamarku sekarang."


Mikaila memencet tombol yang terhubung dengan bagian cleaning servis


"Aku akan membantu mengemas koper kalian."


Ika segera merapikan barang-barang Mikaila yang masih berada di atas nakas.


"Terimakasih kak Ika."


"Hmm!"


...----------------...


Sesuai dengan rencana Mikaila dan keluarganya, Mikaila meminta tolong cleaning servis untuk menggantikan baju seragamnya dengan baju miliknya yang sudah ia tinggalkan untuk pelayan itu. Kebetulan ukuran baju mereka sama dan itu sangat membantu Mikaila melancarkan aksinya untuk mengelabui Zefran dan anak buahnya.


"Hati-hati Mikaila! sampai ketemu di bandara Ngurah Rai!" Ujar Hanan cemas.


Mikaila mendorong kereta Loudry hotel di mana koper dan putrinya sudah berada di dalam kereta itu di temani satu pelayan lagi.


Setibanya di basemen hotel, Mikaila sudah ditunggu oleh taksi online yang dipesannya. Keduanya langsung berangkat ke bandara dan Mikaila hanya mengenakan Coat hitam dan kaca mata untuk menyempurnakan penyamarannya.


Setibanya di Bandara Ngurah Rai, Mikaila masuk ke toilet untuk menggantikan bajunya di temani SYAKIRA yang sudah mengetahui rencana ibunya agar bisa kabur dari ayahnya Zefran.


"Ibu!"


"Hmm!"


Mikaila merapikan dandanannya agar kembali terlihat modis dan berkelas layaknya CEO muda.


"Ibu! Kita sudah aman dan ibu tidak perlu cemas karena ayah dan anak buahnya tidak akan mengejar kita karena penyamaran ibu berhasil." Ujar SYAKIRA.


"Oh iya? Benarkah sayang?"


Mikaila mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi putrinya.


Syakira mengangguk meyakinkan ibunya. Mikaila tidak mengetahui kalau putrinya punya Indra keenam yang bisa membaca situasi ke depannya.


Mikaila dan SYAKIRA memasuki pesawat komersial itu melalui jalur tersendiri karena mereka adalah penumpang first class, begitu pula dengan keluarga mereka yang sudah menyusul ke bandara.


Keluarga besar itu sudah berkumpul kembali di pesawat yang sama.

__ADS_1


"Apakah anak buahnya Zefran melihat kakak sekeluarga keluar dari kamar hotel?"


"Iya Mikaila. Tapi karena hanya kami saja yang cek out hari ini, makanya mereka tidak curiga.


"Bagaimana dengan pelayan hotel itu?"


"Kami memintanya untuk keluar dari kamar setelah malam hari agar bisa memberi Jedah pesawat kita berangkat ke Korea Selatan dulu baru dia bisa bebas dari tugasnya." Jawab Ika.


"Terimakasih ya kak. Sebentar lagi pesawatnya akan berangkat." Ujar Mikaila lega.


Tidak lama kemudian, pesawat itu sudah bergerak mundur untuk melakukan manuver menuju landasan pacu meninggalkan pulau Dewata Bali. Keluarga ini sibuk berdoa untuk keselamatan mereka semua sampai tiba di negara Korea Selatan.


Di tempat yang berbeda, Zefran yang tidak sabar menunggu mantan istrinya itu keluar dari kamarnya. Ia mencoba memencet bel kamar milik Mikaila berkali-kali.


"Mikaila! Tolong buka pintunya! kita harus bicara, sayang." Pinta Zefran dari luar kamar.


"Mikailaaaa!" Panggil Zefran sambil menggedor-gedor pintu kamar itu berkali-kali hingga membuat pelayan hotel itu akhirnya membukakan pintu untuk Zefran.


Cek..lek!


"Kau siapa? Di mana istriku?"


Zefran langsung masuk ke kamarnya Mikaila dan mencari di setiap sudut yang ada di dalam kamar itu dan tidak menemukan Mikaila dan putrinya.


"Apa yang terjadi? Apakah kamu bisa menjelaskannya kepadaku, nona?"


Tanya Zefran dengan nada kasar.


"Maaf tuan! saya hanya ingin membantu gadis itu dan putrinya untuk melakukan penyamaran." Ucap pelayan hotel itu.


Ia menceritakan semuanya pada Zefran rencana Mikaila yang meminta tolong kesediaannya untuk menolong mereka bebas dari pengawasan Zefran dan anak buahnya.


"Kenapa kamu membantunya? Aku akan mengadukan mu pada manajer hotel ini." Ancam Zefran serius.


"Karena aku pernah berada diposisi nyonya itu. Anakku diambil oleh keluarga suamiku setelah suamiku tidak bisa mendapatkan keturunan dari istri pertamanya. Sampai saat ini aku sangat menyesal telah merelakan putriku diambil oleh suamiku hingga putriku meninggal dunia karena disiksa oleh ibu sambungnya."


Pelayan itu memberi alasan yang cukup membuat Zefran syok.


"Jangan pisahkan putri anda tuan dengan ibunya. Seorang ibu bisa jadi ayah untuk anak-anaknya, namun seorang ayah cukup sulit menjadi ibu untuk anaknya karena dia harus mencari nafkah." Ujar pelayan itu dengan wajah sendu.


"Sial!"


Zefran segera meninggalkan pelayan hotel itu dan langsung menuju bandara Ngurah Rai.


"Kita akan bertemu lagi di Seoul Mikaila. Aku akan tetap mengambil anakku darimu, walau apapun yang terjadi antara kau dan aku nantinya." Ujar Zefran lirih.

__ADS_1


__ADS_2