
Syakira masuk ke tempat les pianonya terburu-buru. Ketika ia membuka pintu itu, ternyata di tempat lesnya itu sedang ada latihan bersama dengan berbagai alat musik.
Ia begitu kesal saat melihat teman-teman kelasnya berkumpul di satu ruangan yang sama dengannya. Syakira keluar lagi dan menutup pintu itu.
Ia berjalan melewati beberapa ruangan dan berhenti di salah satu ruangan latihan taekwondo. Merasa penasaran, SYAKIRA masuk ke dalam ruangan yang ternyata sepi dari peserta didik.
Seorang pelatih muda keluar dari kamarnya sambil menatap SYAKIRA yang terlihat berdiri menatap foto penghargaan.
"Hei, siapa kau?"
Syakira tersentak dan berusaha tersenyum pada pelatih itu.
"Apakah aku boleh berlatih di sini?"
"Sepertinya kamu anggota kursus les piano, bukan?"
"Hmmm."
Syakira mengangguk ragu-ragu.
"Mengapa kamu ke sini? mengapa tidak berlatih di kelas musikmu?"
"Aku bosan." Ujar SYAKIRA singkat.
"Apakah kamu tidak memilki murid?" Tanya SYAKIRA heran melihat kelas itu terlihat sepi.
"Mereka sudah tidak berminat dengan ilmu bela diri."
"Kalau begitu mulai besok aku mau jadi murid mu, terimalah aku guru!"
Ucap SYAKIRA tertunduk hormat.
"Sudahlah! Orangtuamu tidak akan senang kamu berada di kelas ini. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas musikmu."
Ujar pria tampan ini jengah dengan kehadiran SYAKIRA.
"Nanti juga aku keluar, bukankah kamu tidak punya kerjaan, jadi sebaiknya kamu melatihku saja.
Lagi pula, kamu terlihat sangat payah. Kalau hanya menunggu murid datang ke sini tanpa ada yang tahu di sini ada tempat latihan taekwondo, bagaimana kelas mu bisa ramai dengan murid?"
"Apa maksudmu bicara begitu gadis kecil?"
"Sebarkan brosur di sekolah-sekolah untuk memperkenalkan tempat les mu bahwa di tempat ini di buka kelas taekwondo dengan begitu banyak yang akan datang ke sini.
Oppa bisa menyebarkan brosur itu di sekolahku, lakukan saat murid datang ke sekolah mereka." Ucap SYAKIRA memberi saran.
Pemuda tampan itu tersenyum manis pada SYAKIRA yang memberikan ide berlian untuknya.
"Siapa namamu gadis cantik?"
"Syakira!"
"Sepertinya kamu bukan asli pribumi negara ini?"
"Asal ku dari Indonesia dan aku numpang lahir dan besar di sini karena ibuku bekerja di sini."
"Pantas!"
__ADS_1
"Siapa nama paman?"
"Aku..?"
"Hmm?"
"Kwan!"
Keduanya berkenalan dan saling bercerita satu sama lain dan terlihat sangat akrab. Hingga kelas musik itu berakhir, SYAKIRA baru keluar menunggu ibunya jemput.
Iapun pamit dari Kwan dan berjanji untuk ke tempat Kwan kalau ada latihan bersama lagi di kelas dengan musuhnya. Kwan tidak keberatan dengan permintaan SYAKIRA karena dirinya saat ini sedang menjadi pengangguran.
Mikaila menjemput putrinya di tempat les musiknya.
"Bagaimana kelas musiknya, apakah kamu sudah mengusai beberapa not lagu?"
"Alhamdulillah, sudah ibu."
"Syukurlah.Lebih baik kita segera pulang karena ibu punya kejutan untukmu." Ucap Mikaila sambil tersenyum.
"Wah benarkah? apa kejutannya ibu?"
Tanya SYAKIRA penasaran.
"Namanya kejutan pasti rahasia, kalau dikasih tau sekarang bukan kejutan sayang." Ujar Mikaila.
"Baik ibu. Maafkan SYAKIRA karena tidak sabaran."
"Tidak apa sayang!"
Mobil melaju diatas rata-rata hingga memasuki perumahan mewah Mikaila. Syakira langsung turun dari mobil menuju ke kamarnya.
Wajahnya tampak berbinar dan iapun segera membuka penutup piano tersebut. Mikaila melihat putrinya mencoba setiap tuts pianonya dan mulai menekan beberapa not sederhana hingga menciptakan irama yang indah.
Mikaila mendekati putrinya dan sesaat SYAKIRA berharap ini bukan akhir dari segala kasih sayang ibunya melalui bentuk perhatian yang cukup besar padanya.
Syakira harus menahan air matanya dan menelan setiap kata sedih yang ingin ia ungkapkan kepada ibunya, bahwa dibandingkan dengan semua hadiah yang ia dapatkan dari ibunya, ia ingin hadiah yang sangat berharga dalam hidupnya adalah ibunya sendiri.
"Ibu!"
"Hmm!"
"Terimakasih untuk kejutannya."
"Dengan senang hati sayang. Apakah kamu suka?"
"Hmm!"
"Bu!"
"Iya!"
"Bagiku, kejutan yang paling membahagiakan untukku, disaat aku bangun tidur dan melihat senyum ibu dan mendengar omelan ibu setiap hari karena itu yang sangat aku butuhkan.
Karena tidak ada ada lagi kebahagiaan untuk SYAKIRA di dunia ini selain melihat semburat senyum ibu di setiap pagi." Ucap SYAKIRA berkaca-kaca.
Deggggg...
__ADS_1
"Sayang! Bukankah setiap pagi kamu melihat wajah ibu, mendengar suara ibu, kenapa sekarang jadi sentimentil seperti ini?"
Tanya Mikaila pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Syakira hanya takut setiap kali bangun tidur, tidak melihat wajah cantik ibu lagi dan itu membuatku tersiksa setiap saat ibu." Batin SYAKIRA.
Mikaila memeluk putrinya dan merasakan jika SYAKIRA sudah punya firasat jika dirinya akan meninggal dunia. Meninggalkan putri tercintanya.
"Ya Allah! Aku serahkan putriku dalam pemeliharaan MU." Batin Mikaila.
...----------------...
Syakira turun dari mobilnya dan melihat Oppa Kwan sudah berdiri di depan pintu gerbang masuk sekolah milik Syakira sambil membagikan brosur kepada siswa yang hendak masuk ke gerbang sekolah mereka.
Syakira menghampiri Oppa Kwan dan keduanya saling menyapa.
"Oppa! kalau bisa, berikan mereka permen juga saat membagikan brosur ini agar terkesan manis." Ucap SYAKIRA sambil melambaikan tangannya ke Oppa Kwan.
"Terimakasih SYAKIRA untuk sarannya."
Syakira mengikuti pelajarannya seperti biasa. Wajah ibunya tiba-tiba muncul saat pelajaran sedang berlangsung.
Kegelisahannya makin bertambah karena dia tidak melihat lagi sesuatu yang bisa ia tahu ke depannya seperti apa.
"Ya Allah. Jangan Engkau ambil nyawa ibuku saat aku tidak ada di sisinya." Batin SYAKIRA.
...
Di sore harinya, Syakira mendatangi lagi tempat lesnya dan lagi-lagi ia melihat semua orang sedang berlatih untuk mengikuti konser musik yang akan di adakan dua bulan lagi.
Karena ketidaknyamanan berada bersama dengan musuhnya, membuat SYAKIRA kembali ke tempatnya Oppa Kwan.
Oppa Kwan tidak keberatan sama sekali dengan kehadiran SYAKIRA. Keduanya terlibat obrolan seru karena Oppa Kwan sudah mempunyai sepuluh murid untuk dilatihnya mulai besok.
"Aku senang bisa bertemu denganmu SYAKIRA. Berkat ide hebat mu, mulai besok aku sudah bisa melatih murid-murid ku ."
"Benarkah? syukurlah, akhirnya Oppa tidak menganggur lagi."
Tidak lama kemudian, ponsel SYAKIRA berbunyi. Ia segera menerima panggilan dari ibunya. Karena keasyikan ngobrol, ia tidak tahu waktu les musik sudah berakhir.
"Syakira! Kamu di mana sayang?"
"Masih di tempat musik ibu."
Mikaila yang baru keluar dari ruang musik, melihat putrinya keluar dari ruang taekwondo.
"Tunggu saja di depan ibu! Syakira baru dari toilet." Ujar SYAKIRA yang tidak menyadari ibunya sudah berada di balik punggungnya.
"Syakira!" Bentak ibunya karena merasa dibohongi putrinya.
Syakira tersentak melihat ibunya yang sudah mengetahui kebohongannya.
"Ibu..?"
Wajah SYAKIRA berubah pucat karena tidak menyangka ibunya masuk ke dalam gedung ini. Biasanya hanya menunggunya di tempat parkir.
"Apakah kamu bisa menjelaskan semuanya ini pada ibu, SYAKIRA?"
__ADS_1
Tanya Mikaila penuh amarah.