
Setelah menyatakan sikapnya pada Hesty untuk menjatuhkan talak pada istrinya itu, Zefran nekat membawa ibunya menemui istri dan anaknya yang ada di Seoul Korea Selatan.
Zefran sengaja tidak memberi kabar kedatangannya kepada Mikaila untuk memberikan kejutan untuk dua orang wanita yang sangat ia cintai itu.
Nyonya IFA tampak tegang saat mobil yang mereka tumpangi sudah hampir dekat dengan kediaman menantunya Mikaila.
Keduanya memang sengaja datang ke Seoul pada malam hari di saat Mikaila sudah berada di rumah. Kalau siang dia selalu berada di perusahaannya.
"Apakah itu rumahnya Mikaila?" Tanya nyonya IFA begitu mobil itu terparkir di depan pagar rumah yang cukup tinggi itu.
"Iya mami. Turunlah!" Pinta Zefran yang sudah membuka pintu mobil itu untuk ibunya.
Rumah megah ini memiliki luas bangunan sebesar seribu meter persegi dan memiliki desain bangunan minimalis kontemporer yang sangat indah dan bisa menarik mata siapa saja yang lewat di depannya.
Rumah seharga 700 miliyar itu pantas untuk seorang Mikaila yang merupakan pengusaha muda yang sukses di negara itu.
Ketika mereka melangkah masuk menuju pintu utama, terdengar suara indah dentingan piano yang sedang di mainkan oleh SYAKIRA.
Sesaat langkah keduanya terhenti menikmati alunan indah dentingan piano itu, padahal pelayan sudah menyuruh keduanya untuk masuk.
"Tolong jangan beritahu kedatangan kami mbak Win!" Pinta Zefran yang sudah mengenal salah satu pelayan Mikaila asli Indonesia tersebut.
"Baik Tuan! Nyonya Mikaila dan nona SYAKIRA ada di ruang tengah."
Ucap pelayan Wiwin yang masuk duluan sambil membawa koper milik majikannya melalui pintu dapur.
Tidak lama kemudian, dentingan piano itu berakhir dan keduanya masuk ke dalam dan melihat Mikaila dan SYAKIRA sedang berpelukan.
Zefran dan ibunya memberikan salam pada keduanya membuat Mikaila tersentak diikuti putrinya yang mengurai pelukan mereka.
"Ayahhh...!"
Syakira menghampiri ayahnya yang langsung memeluknya erat. Sementara Mikaila menghampiri ibu mertuanya namun belum berani untuk cipika-cipiki. Zefran menghampiri istrinya sambil menggendong SYAKIRA.
"Mikaila ini mami, sayang dan mami ini SYAKIRA dan Mikaila!"
Zefran saling mengenalkan ketiga wanita yang berharga dalam hidupnya.
"Mami! Maafkan Mikaila!"
Mikaila bersimpuh di kaki ibu mertuanya sambil mencium kedua tangan wanita yang melahirkan belahan jiwanya.
"Mikaila maafkan mami juga karena baru mengetahui kalau kamu dan Zefran sudah menikah sejak lama dan memiliki SYAKIRA, cucu mami yang cantik ini."
Ketiganya berpelukan diikuti Zefran memeluk tiga wanita beda generasi itu. Mikaila mengajak ibu mertuanya duduk di sofa dan keluarga itu sekejap sudah mengobrol apa saja untuk melepaskan kerinduan mereka.
"Ayah!"
__ADS_1
"Hmm!"
"Syakira harus panggil apa untuk status maminya ayah?"
Nyonya IFA tersenyum pada SYAKIRA. " Panggil saja Oma, sayang!"
"Oma! Mengapa baru datang ke kami saat ibuku memiliki waktunya yang hanya sedikit untuk mengenal Oma?"
Nyonya IFA terlihat canggung menjawab pertanyaan cucunya.
"Sayang! Oma baru tahu ada kalian karena ayahmu baru mengakuinya."
"Tapi, ibuku tidak bisa lagi...?"
Kata-kata SYAKIRA terhenti karena sesak di dadanya yang tidak bisa ia ungkapkan.
"Ini semua kesalahan ayah sayang. Oma kamu tidak tahu apa-apa dan ayah harap SYAKIRA bisa mengerti keadaan ayah."
"Sayang! ibu tidak apa yang penting SYAKIRA sudah mengenal Oma. Jika ada apa-apa dengan ibu, SYAKIRA sudah punya Oma dan ayah yang menyayangi SYAKIRA." Ucap Mikaila sendu.
Zefran tidak begitu suka dengan pertemuan mereka diawali dengan kesedihan. Zefran melirik ibunya untuk lebih banyak memberikan waktu berdua untuk dia dan istrinya bicara.
"Syakira! apakah Oma boleh tidur dengan SYAKIRA?"
"Boleh Oma."
"Ayo kita ke kamar SYAKIRA, Oma!"
Syakira menggandeng tangan Omanya menuju kamarnya.
Begitu melihat putrinya dan ibunya sudah masuk ke kamar SYAKIRA, Zefran langsung menggendong Mikaila untuk masuk ke kamar mereka.
"Sayang! Aku merindukanmu!"
Zefran merebahkan tubuhnya Mikaila dan keduanya berbaring ditempat tidur yang sama.
Zefran memagut bibir ranum istrinya dan di sambut Mikaila yang sangat merindukan suaminya. Pergulatan cinta itu di mulai dengan sentuhan-sentuhan lembut lalu beralih pada permainan yang makin lama makin memanas.
Sementara itu di kamar SYAKIRA, Oma IFA menanyakan banyak hal pada cucunya terlihat sangat cerdas dan lebih dewasa dari usianya.
Obrolan yang penuh kesedihan itu membuat nyonya IFA merasa benci pada suaminya yang begitu tega memisahkan menantunya Mikaila dan putranya Zefran.
"Oma!"
"Iya sayang!"
"Apakah Oma mau merawat ku saat ibuku sudah tiada nanti?"
__ADS_1
"Itu sudah kewajiban Oma 7ntuk mengurus mu sampai kamu dewasa tanpa kamu memintanya sayang. Tapi, Oma berharap SYAKIRA jangan berkecil hati untuk tetap optimis kalau ibumu pasti akan sembuh."
"Kadang SYAKIRA selalu menghibur diri bahwa apa yang dialami oleh ibu bagian dari mimpi buruk, sayangnya itu nyata Oma dan SYAKIRA sangat takut bermimpi terlalu tinggi jika pada akhirnya hati SYAKIRA akan kosong tanpa merasakan lagi kasih sayang ibu di dalam sini dan itu sangat menyakitkan nantinya.
Jika tidak dipersilahkan rasa kehilangan mulai saat ini, SYAKIRA takut rasa sakit itu akan sulit membangkitkan SYAKIRA untuk membangun lagi kehidupan selanjutnya."
Jelas SYAKIRA membuat Omanya terenyuh.
"Masya Allah, cucu Oma sangat hebat." Puji nyonya IFA haru.
Syakira menangis dalam pelukan omanya. nyonya IFA yakin jika cucunya ini sudah terlalu banyak menangis semenjak mengetahui ibunya sakit parah.
"Ya Allah, mengapa Engkau menguji anak sekecil ini harus kehilangan ibunya saat ia belum puas merasakan kasih sayang ibunya." Batin nyonya Ifa berusaha tegar di hadapan cucunya.
Karena terlalu lama menangis, akhirnya SYAKIRA tertidur dalam pelukan omanya.
Malam makin beranjak larut bersama kesepian yang makin merambah diikuti dinginnya malam dengan lolongan angin yang terdengar di rumah tetangga.
Suhu udara Seol yang sebentar lagi akan turun salju makin meningkat. Zefran mengenakan lagi baju hangat untuk Mikaila usai bercinta dengannya.
Keduanya tidur saling berpelukan di bawah selimut hangat dengan pemanas ruangan yang sengaja ditingkatkan oleh Zefran.
Beberapa hari sudah Zefran dan ibunya menginap di rumah Mikaila sekaligus menunggu turunnya salju.
Sore itu Zefran mengajak ibu dan keluarga kecilnya untuk menikmati suasana kota sambil mencari kuliner jajanan kaki lima.
Setelah menikmati ramen dan beberapa makanan cemilan lainnya, keluarga itu berjalan ke arah taman menikmati suasana taman kota dengan udara dingin yang makin menusuk kulit wajah mereka.
Zefran membenahi cipluk yang dipakai suaminya dengan melilitkan syal agar terasa lebih hangat. Begitu juga yang dilakukan Oma IFA pada cucunya SYAKIRA dengan mantel dan juga syalnya yang sedikit berantakan.
Mereka duduk di taman itu sambil menikmati cemilan yang mereka beli agar perut mereka tetap terisi.
Seperti harapan mereka bersama yang ingin menyaksikan turunnya salju, dan malam itu butiran salju satu persatu menapaki bumi membuat SYAKIRA begitu senang.
"Ayahhhh! Saljunya turun ayah."
"Iya sayang! Zefran menggendong putrinya lalu menciumnya dengan gemas saat SYAKIRA menadahkan tangannya untuk menampung butiran salju itu.
Brukkk..
Tubuh Mikaila tiba-tiba jatuh pingsan membuat ketiganya langsung memekik keras memanggil Mikaila.
"Ibuuuuu!"
"Mikailaaaa...!"
"Menantuku!"
__ADS_1