
Suster meminta Zefran menggendong putrinya agar lebih tenang. Sementara dokter melakukan kejut jantung agar jantung pasien bisa berdetak lagi.
Sudah hampir lima kali dokter Kyu melakukan kejut jantung pada Mikaila namun tidak ada respon dari Diagram EKG yang terlihat di layar monitornya.
Zefran hanya bisa berdoa dan pasrahkan semuanya pada kuasa Allah.
"Ayah! apakah ibu akan meninggal..?"
"Tidak secepat itu ibumu meninggalkan kita, sayang. Jangan takut! Kamu harus kuat." Ucap Zefran menguatkan hati putrinya walaupun itu rasanya mustahil.
"Ya Allah! Apakah secepat ini, Engkau memisahkan kami yang baru bersatu lagi?" Pinta Zefran dalam doanya.
"Ya Allah! Tolonglah hambaMu yang tidak berdaya ini. Syakira belum siap kehilangan ibu, tolong jangan ambil ibuku dulu ya Allah. Banyak sekali yang ingin SYAKIRA lakukan untuk ibu." Pinta Syakira lalu membaca surat Alfatihah dan diaminkan oleh ayahnya.
Tidak lama kemudian terdengar lagi detak jantungnya Mikaila melalui diagram EKG. Dokter Kyu menarik nafas lega. Ia menghampiri Zefran dan SYAKIRA yang ada di depan kamar inap Mikaila.
"Silahkan masuk Tuan! Nona Mikaila sudah melewati masa kritisnya.
"Alhamdulillah terimakasih ya Allah. Terimakasih dokter!"
Zefran mencium pipi putrinya dan langsung menemui istrinya.
Dokter Kyu dan dua Suster lainnya kembali ke ruang kerja mereka.
"Ibu!"
Syakira mencium pipi ibunya lembut diikuti oleh ayahnya Zefran.
"Ayah! kenapa ibu belum membuka matanya?"
"Karena ibumu masih di bawah pengaruh obat penenang. Nanti juga ibu akan siuman. Tunggu saja ya, sayang!"
"Iya ayah!"
"Ayah! apakah ayah akan menemani ibu di rumah sakit bersama SYAKIRA?"
"Iya sayang."
"Apakah ibumu sering dirawat?"
"Biasanya ibu pingsan sebentar lalu siuman lagi. Itupun kalau ibu pingsan kalau habis muntah-muntah."
"Siapa yang mengurus ibu kalau ibumu sakit?"
"Tante Ae RI dan aku ayah."
Zefran mengusap wajahnya, merasakan penyesalannya yang telah membuat Mikaila berakhir seperti ini.
"Ayah! apakah ayah tidak takut kalau..?"
Syakira menghentikan pertanyaannya. Ia takut mengingatkan ayahnya kalau istri ayahnya yang satu lagi akan mengamuk bila mengetahui ayahnya menikah lagi dengan ibunya.
"Takut kenapa sayang?"
"Apakah ayah takut kalau ibu meninggal dunia?"
Syakira mengalihkan pertanyaannya.
"Kematian adalah suatu hal yang pasti terjadi pada semua makhluk hidup. Hanya waktunya saj yang akan bergilir siapa yang Allah panggil duluan. Entah ibu, ayah atau SYAKIRA.
Yang jelas kita hanya bisa mempersiapkan diri dengan amal baik untuk dibawa pulang ke sana agar dimudahkan dalam tidur panjang kita."
"Berarti kita harus mempersiapkan diri kita untuk kehilangan orang yang kita cinta ya ayah?"
__ADS_1
"Allah selalu mengambil seseorang yang kita cintai tapi Allah juga akan menggantikan dengan sesuatu yang lebih baik.
Menguatkan hati keluarganya yang ditinggalkan. Apa lagi kehilangan itu terjadi pada seorang anak, itu Allah sangat memperhatikan hati anak-anak yang akan ditinggalkan oleh ibu atau ayahnya dan mungkin keduanya." Jelas Zefran secara mendetail.
"Seperti Rosulullah ya ayah?"
"Benar sekali sayang. Rosulullah ditinggalkan ayahnya saat masih dalam kandungan ibunya dan di tinggalkan ibu saat usianya tujuh tahun."
"Tapi Syakira belum berumur tujuh tahun ayah. Apakah Allah tetap mengambil ibu dari SYAKIRA?"
Keluh SYAKIRA sambil tertunduk sedih.
"Bukankah ada ayah?"
"Tapi SYAKIRA tidak mau tinggal dengan ibu tiri ayah."
"Nanti SYAKIRA mau tinggal sama siapa, kalau bukan sama ayah?"
"Sama paman Hanan saja. Lagi pula Syakira mau sekolah di pesantren ayah agar ilmu agama SYAKIRA lebih bagus lagi."
"Masya Allah. Putri ayah! Tapi ayah akan mengupayakan agar SYAKIRA tetap bersama ayah. Jika ibu tirimu jahat padamu, ayah akan menceraikannya." Ujar Zefran tegas.
"Lagi pula ayah tidak mencintainya SYAKIRA, cinta ayah hanya untuk ibumu." Batin Zefran.
...----------------...
Di pagi harinya, dokter Ae RI menjemput SYAKIRA untuk berangkat ke sekolah. Gadis kecil itu sudah berpakaian rapi hanya menunggu dokter Ae Ri menjemputnya.
Sebenarnya Zefran ingin sekali mengantar putrinya ke sekolah. Karena Mikaila masih belum siuman, ia urung melakukannya.
"Sudah siap sayang?"
"Iya Tante!"
"Tuan Zefran! Kami berangkat dulu."
Pamit dokter Ae RI."
"Terimakasih atas kebaikan anda dokter!"
Dokter Ae RI hanya mengangguk sambil tersenyum samar.
"Apakah ayahmu sudah baikan dengan ibumu, SYAKIRA?"
"Mereka bukan cuma baikan Tante, tapi mereka sudah menikah lagi."
Deggggg...
"Apaa..?" Sentak Dokter Ae RI tidak percaya.
"Bagaimana bisa mereka menikah lagi sementara ibumu saja masih terbaring sakit."
"Itulah bedanya agama kami dengan yang lain. Dari pihak perempuan hanya butuh pengantin laki-laki, wali dari pihak perempuan, penghulu, saksi dan mahar.
Cukup ayahku saja yang mengucapkan ikrar pernikahan dan itu sudah sah menurut agama dan negara." Ujar SYAKIRA.
Dokter Ae RI hanya manggut-manggut, memahami apa yang dikatakan oleh SYAKIRA.
Setibanya di sekolah, SYAKIRA sudah turun sambil melambaikan tangannya kepada tantenya.
Sementara itu, di rumah sakit Zefran masih setia menunggu istrinya siuman.
Tok.. tok...
__ADS_1
Cek lek. .
"Selamat pagi Tuan! sapa sekertarisnya Mikaila, yaitu nona Araa.
Zefran hanya membalas salam Araa sambil mengangguk dengan senyum pelitnya.
"Apakah kamu temannya istriku?"
"Bukan Tuan!"
"Lalu anda siapa?"
"Maaf saya bicara dengan tuan siapa?"
"Nama saya Zefran dan saya adalah ayah dari SYAKIRA..?"
"Oh, mantan suaminya nona Mikaila?" Tebak Araa sambil tersenyum.
"Cih! Gadis ini menyebalkan sekali dengan sok tahunya. Aku itu bukan mantannya tapi suaminya. Sudahlah! nggak penting juga jelasin pada gadis ini." Ujar Zefran jengah.
"Maaf Tuan Zefran! Perkenalkan nama saya Araa. Saya adalah sekertarisnya nona Mikaila.
Deggggg...
"What..?" Sentak Zefran syok.
"Sekertaris istriku..?"
"Iya Tuan!"
Araa kelihatan bingung dengan ucapannya sendiri.
"Apakah aku salah bicara dengan tuan ini?" Batin Araa.
Zefran yang melihat Araa menjadi canggung dihadapannya, ia pun segera merubah sikapnya dan menanyakan kepentingan Araa.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, nona Araa?"
"Maafkan saya Tuan! Saya lupa menanyakan kabar nona Mikaila. Apakah beliau sudah siuman?"
"Semalam sudah siuman, tapi tadi pagi sempat kritis dan sekarang sudah mulai membaik, tapi masih belum sadar." Jelas Zefran.
"Baiklah Tuan Zefran! Kalau begitu saya pamit mau berangkat ke perusahaan. Kalau nona Mikaila sudah sadar, tolong kabarin saya karena ada yang saya sampaikan kepada beliau karena ini sangat penting." Ucap Araa santun.
"Apakah yang akan kamu sampaikan hal yang sangat berat?"
"Tidak Tuan! Justru ini yang akan menguntungkan perusahaan."
"Ok, kalau begitu nanti saya akan sampaikan kepada bos mu ini. Apakah istriku punya jabatan penting di perusahaan itu? sehingga anda sangat membutuhkan dirinya dalam urusan pekerjaannya."
"Bukan seperti itu tuan. Masalahnya kami harus meminta persetujuan nona Mikaila untuk pergelaran desain busana terbaru kami yang siap di luncurkan Minggu depan. Hanya saja ada sedikit kendala yang harus kami diskusikan dengan nona Mikaila.
"Apakah bos mu, maksudku pemilik perusahaannya itu tidak bisa menanganinya sehingga harus memaksakan istriku yang sedang sakit parah ini untuk menangani perusahaan sialannya itu, hah?"
Bentak Zefran membuat sekertaris Araa makin gugup.
"Apakah kamu dengar perkataan aku, nona Araa? Tolong sampaikan pesanku kepada bos mu itu yang tidak punya hati mempekerjakan istriku hingga jatuh sakit seperti ini!
Apakah dia tidak tahu kalau istriku sakit parah? Baiklah. Biar aku yang menghadapi pemilik perusahaan itu." Omel Zefran tanpa juntrungan.
"Maaf Tuan! Jika Anda mau mengomel dengan pemiliknya, Silahkan! Karena pemiliknya ada di sini yang sedang terbaring sakit." Ujar Araa membuat Zefran tercengang.
"Haa..?"
__ADS_1