Putri Rahasia Raja Mafia

Putri Rahasia Raja Mafia
36. Cenayang!


__ADS_3

Wajah syakira nampak bingung mendengar barang terlarang itu bisa berada di dalam koper ibunya. Ia meminta pada petugas bandara untuk ikut masuk bersama ibunya yang sedang di amankan oleh pihak bea cukai bandara.


"Pak! Tolong aku! Aku ingin bersama ibuku! Pinta SYAKIRA sambil menangis.


"Apakah kamu bisa menghubungi ayahmu atau yang lainnya untuk datang ke sini?" Tanya petugas bandara tersebut


"Aku sudah menghubungi ayahku tapi nomornya berada di luar jangkauan. Tolong aku pak! Aku ingin bersama ibuku.


Ibuku tidak mungkin melakukan hal bodoh itu karena kami berdua yang mengemasi koper kami bersama-sama." Pinta syakira yang ingin menjadi saksi untuk ibunya.


"Baiklah ikut aku nak!"


Ujar petugas bandara itu yang tidak mengetahui skenario penangkapan Mikaila di bandara tersebut.


Setibanya di ruang interogasi Mikaila dipaksa untuk mengakui barang haram yang ditemukan di kopernya.


"Apakah barang itu milikmu?" Tanya Tuan Aryo.


"Aku tidak merasa memiliki barang itu pak dan untuk apa aku berurusan dengan barang haram itu?"


Mikaila membantah petugas itu.


"Jika kamu tidak mengakuinya, kamu akan dikenakan pasal berlapis dan itu akan mengantarkanmu ke tiang gantungan alias hukuman mati!" Ancam Tuan Aryo menakuti Mikaila.


"Permainan apa ini? Apakah ada yang sedang menjebakku untuk membuatmu kaya tuan?" Ujar Mikaila tidak gentar dengan ancaman petugas bea cukai bandara tersebut.


"Hei gadis bodoh! Apakah kamu kira aku bisa dibohongi oleh perempuan sepertimu? Dasar babu!" Umpat tuan Aryo yang tidak mengetahui siapa orang yang mereka tangkap.


"Apakah anda sudah menelusuri indentitas pribadiku sebelum anda diperintahkan untuk menjebakku?" Tanya Mikaila tidak mau kalah.


"Oh ya! Sehebat apa kamu di sana sehingga aku harus menghormati dirimu yang tidak lebih dari seorang wanita jal*ng di Seoul?" Tanya tuan Aryo makin meremehkan Mikaila.


Cek...lek..


Pintu di buka oleh anak buahnya tuan Aryo dan membisikkan sesuatu kepada tuan Aryo.


"Wanita ini adalah CEO sebuah perusahaan yang ada di Seoul, sekaligus pemilik perusahaan itu. Dia juga istri pertama dari tuan Zefran Noya yang merupakan raja mafia."


Deggggg..


Mata tuan Aryo melebar dengan mulut terbuka. Namun ia buru-buru mengendalikan kegugupannya karena sudah menerima uang yang sangat banyak dari atasannya. Dia hanya pelaku eksekutor untuk membuat Mikaila masuk penjara atau dihukum mati.


Tok...tok...


Petugas bandara itu masuk membawa SYAKIRA menemui ibunya.


"Maaf tuan Aryo gadis kecil ini ingin bertemu dengan ibunya."


Syakira menyerobot masuk ke dalam ruang interogasi itu tanpa menunggu persetujuan tuan Aryo.

__ADS_1


"Ibuuuu..!" Pekik SYAKIRA saat melihat ibunya duduk dengan tangan di borgol.


Syakira memeluk ibunya sambil menangis.


"Ibu! Ini yang SYAKIRA takutkan. Syakira sudah tahu kalau ibu di tangkap oleh mereka." Ucap SYAKIRA dengan menggunakan bahasa Korea yang tidak di mengerti oleh tuan Aryo dan lainnya.


"Syakira! Maafkan ibu! Jika ibu lebih mendengarkan mu kita tidak akan masuk dalam jebakan ini." Ucap Mikaila sambil menangis dalam pelukan putrinya.


"Bawa anak ini keluar!" Titah tuan Aryo sengit.


Petugas bandara menarik lagi tangannya SYAKIRA menjauhi ibunya.


Syakira menahan tubuhnya agar ia bisa bicara dengan tuan Aryo.


"Tuan Aryo!" Syakira membaca nama yang tertera di seragam tuan Aryo.


"Ketahuilah, sesaat lagi tuan akan mendengar berita buruk mengenai putramu satu-satunya akan mengalami kecelakaan lalu lintas. Dan dengan uang haram yang sudah tuan terima itu hanya untuk membiayai operasi amputasi kakinya saja, bukan untuk dinikmati oleh keluargamu." Ucap SYAKIRA lantang.


Syakira sudah melihat kejadian selanjutnya pada putra tuan Aryo melalui mata batinnya. Ia lalu keluar bersama petugas bandara yang bernama pak Saidi.


Tuan Aryo nampak tercenung mendengar kata-kata SYAKIRA yang mengetahui kalau dirinya hanya memiliki anak tunggal dan berjenis kelamin laki-laki. Tapi anehnya bukannya merespon perkataan SYAKIRA, ia malah menertawakan putrinya Mikaila dengan mengucapkan kata-kata bullying


"Apakah saat tinggal di Korea Selatan, putrimu belajar menjadi seorang cenayang. Bukankah di sana gudangnya cenayang?"


Tanya tuan Aryo sambil terkekeh.


Tapi tawanya seketika terhenti saat ponselnya mulai bergetar di kantong celananya. Ia segera mengangkat panggilan dari istrinya.


Deggggg...


Wajah tuan Aryo terlihat pucat. Ia tidak menyangka omongan SYAKIRA terbukti benar.


"Sial!"


Ia meminta petugas lainnya memanggil polisi untuk membawa Mikaila ke kantor polisi.


"Aku harus pergi karena putraku mengalami kecelakaan lalulintas. Tolong telepon polisi untuk memproses nona Mikaila sesuai dengan kejahatannya." Ucap tuan Aryo dengan tuduhan palsunya.


Mikaila makin bingung dengan sikap tuan Aryo yang bukannya sadar tapi malah makin menjadi.


Ibu dari SYAKIRA ini masih bersikap tenang karena ia yakin suaminya akan datang menolongnya untuk membebaskannya dari tuduhan itu.


Tuan Aryo berjalan dengan cepat dengan wajah panik. Namun langkahnya di hadang oleh SYAKIRA dengan suatu peringatan dari gadis itu padanya.


"Tuan Aryo! Jika anda masih menahan ibuku, bukan tidak mungkin anda akan kehilangan putra anda karena operasi yang saat ini sedang ia jalani akan gagal." Ucap SYAKIRA terlihat serius.


"Dasar bocah gila! Kau hanya seorang anak gila yang sedang menakuti orang dewasa untuk meluluskan permintaanmu atas kejahatan ibumu." Ujar tuan Aryo mengabaikan peringatan SYAKIRA yang dianggapnya main-main.


Setibanya di rumah sakit tuan Aryo bertemu dengan istrinya yang sedang menangis bersama ibu mertuanya di depan kamar operasi.

__ADS_1


"Bagaimana dengan keadaan Ilmi bunda?"


"Masih di operasi ayah!"


"Apakah pembayarannya bisa menggunakan BPJS?"


"BPJS tidak menerima korban kecelakaan lalulintas ayah, kecuali yang menderita sakit dari penyakit yang terdapat ditubuhnya."


"Berapa biaya operasinya bunda?"


Nyonya Erika menjawab pertanyaan suaminya sesuai nominal yang diterimanya dari bosnya itu untuk biaya operasi putranya.


"Astaga! jadi apa yang dikatakan gadis kecil itu benar adanya." Sesal tuan Aryo.


Sementara di Seoul, Zefran yang baru tiba di bandara membuka pesan masuk begitu banyak dari putrinya.


"Apaaaa...? Mikaila di tangkap di bandara Soekarno-Hatta Jakarta, karena membawa narkoba? Ini apa-apaan ini?"


Otak Zefran langsung teringat pada ancaman Hesty mantan istrinya.


"Pasti perempuan sialan itu yang sudah menjebak istriku Mikaila."


Ia segera menghubungi lagi putrinya.


"Syakira!"


"Ayah.. ayah di mana? kenapa tidak datang ke bandara?"


"Sayang! Justru ayah baru tiba di Bandara internasional Korea Selatan sayang. Apa yang terjadi pada ibumu?"


"Entahlah ayah! sepertinya ada yang menjebak ibu.


"Baiklah." Ayah harap kamu tenang, ayah akan menghubungi Oma kamu untuk menjemputmu di bandara.


Nanti ayah yang akan mengurus ibumu agar cepat bebas. Kamu tetap berdoa. Sekarang ayah mau balik lagi ke Jakarta."


Ucap Zefran menenangkan putrinya sementara hatinya sendiri saat ini tidak karuan perasaannya.


Nyonya IFA begitu syok mengetahui menantu dan cucunya dalam masalah besar. Ia segera berangkat ke bandara Soekarno Hatta menemui menantu dan cucunya SYAKIRA.


"Pasti ini permainan perempuan kurangajar itu." Tebak nyonya IFA geram.


Sekitar lima jam menunggu putranya di operasi, dokter keluar menemui pasutri itu dengan wajah sendu.


"Maafkan kami Tuan! Kami tidak bisa menyelamatkan putra kalian."


Degggg....


"Tidakkkkkk! Putrakuuu..!"

__ADS_1


Tangis istri dari tuan Aryo tidak sanggup menerima kematian putra satu-satunya.


__ADS_2