
Mikaila dan putrinya Syakira menemui paman Hanan yang belum mengetahui kedatangan kedua orang yang mereka rindukan ini.
Syakira menahan tawanya saat berdiri di depan pintu kamar pamannya. Mikaila memencet bel kamar itu berkali-kali kemudian bersembunyi untuk membuat abangnya kesal. Paman Hanan segera membukanya, hendak mengomeli orang yang iseng memencet bel kamar mereka.
"Siapa lagi nih..?"
Cek.. lek..
"Kejutan!"
Teriak Mikaila dan Syakira sambil tertawa terbahak-bahak. Paman Hanan langsung menggendong ponakan kesayangannya. Sementara Mikaila menyalami abangnya dan memeluk erat kakak iparnya Ika.
"Apa kabar keponakan cantik paman!"
"Sangat baik paman."
Syakira mengecup kedua pipi paman Hanan dan sebaliknya paman Hanan padanya.
"Mana Lintang dan Lia?" Tanya mikaila yang sudah di sofa bersama putrinya.
"Mereka sedang berenang."
"Bagaimana perjalanan kalian, apakah ada kendala, SYAKIRA?" Tanya Tante Ika.
"Lumayan lelah Tante karena perjalanannya yang langsung ke Bali bukan ke Jakarta. Tapi SYAKIRA pingin berenang juga sama Lintang dan Lia, ibu."
Rengek SYAKIRA manja.
"Baiklah. Ganti baju renangmu dan Tante Ika akan mengantarmu menemui Lintang dan Lia di kolam renang." Ujar Tante Ika membuat SYAKIRA berbinar.
"Horeee! Bolehkan ibu, SYAKIRA berenang?"
"Tentu boleh sayang."
Syakira dan Tante Ika menghampiri lintang dan Lia yang begitu gembira melihat SYAKIRA sudah datang.
"Kalian ini jahat sekali tidak menungguku berenang bersama, malah asyik berenang berdua saja." Gerutu SYAKIRA pada kedua sepupunya.
Syakira segera masuk ke kolam renang dibantu dua saudaranya.
"Kami kira kamu tiba malam hari, nggak tahunya sore hari, SYAKIRA, sementara kami tiba tadi pagi dan tidak sabar ingin segera berenang." Ujar Lia sambil berpegangan tangan dengan SYAKIRA di dalam kolam renang.
"Kami sengaja ingin buat kejutan untuk kalian." Ujar SYAKIRA.
"Berarti nanti malam kita bisa jalan-jalan mengelilingi kota Bali, ya mama!" Pinta Lintang.
"Tergantung Tantemu Mikaila, sayang!" Ujar Tante Ika pada putra sulungnya.
"Biar SYAKIRA yang meminta ibu agar kita bisa makan di luar sembari menikmati kota Bali di malam hari." Timpal SYAKIRA.
Tante Ika mengawasi ketiganya berenang sambil bermain ponselnya, sementara itu Mikaila dan abangnya sedang ngobrol di kamar membahas perusahaan milik Mikaila dan menanyakan ibu satu anak itu tentang teman prianya.
"Apakah kamu tidak ingin menikah lagi Mikaila ?"
"Aku tidak punya tujuan lain dalam hidupku kecuali Allah dan putriku satu-satunya SYAKIRA, Abang."
"Apakah sampai saat ini kamu tidak merindukan sosok laki-laki yang akan menggantikan Zefran untuk memberikan kasih sayang untuk kamu dan SYAKIRA?"
__ADS_1
"Aku bisa jadi apa saja yang diinginkan putriku tanpa harus mencari ayah untuk SYAKIRA."
"Bagaimana kalau, suatu saat nanti Zefran mengetahui siapa SYAKIRA?"
"Aku tidak peduli bagaimana caranya dia mengetahui SYAKIRA putrinya, yang jelas aku tidak akan mengijinkan dia mengambil putriku karena dari awal dia sudah menolak mengakui SYAKIRA adalah putri kandungnya."
"Apakah kamu tidak berpikir jika suatu saat nanti SYAKIRA akan menikah dan butuh wali untuk menikahkan dirinya dengan pria idamannya."
Deggggg...
Mikaila nampak terdiam mendengar penuturan abangnya untuk masa depan SYAKIRA. Bagaimana pun juga SYAKIRA harus mendapatkan haknya untuk menjadikan ayahnya menjadi wali nikahnya jika ayahnya masih hidup hingga ia dewasa.
"Kita lihat saja nanti bang. Saat ini aku tidak mau berpikir sejauh itu. Biarkan aku menikmati kebersamaan aku dengan putriku."
"Baiklah. Kita bahas yang lain saja tentang perusahaanmu, apakah semuanya lancar?"
"Alhamdulillah bang, perusahaan garmen itu, income nya makin memuaskan."
Keduanya berceloteh apa saja di kamar itu, sementara anak-anak mereka sudah asyik menikmati burger dan susu hangat usai berenang.
...----------------...
Di Jakarta, Zefran menyerukan banyak anak buahnya untuk mencari keberadaan Mikaila dan putrinya SYAKIRA.
Atas kehebatan anak buahnya yang mengusai bidang IT, mampu menemukan Mikaila dan putrinya yang saat ini sedang berlibur ke Bali bersama keluarga besarnya.
"Bos!"
"Hmm!"
Deggggg...
"Di mana mereka saat ini, Faruk?"
"Di W hotel Seminyak."
Zefran mengulum senyumnya dan buru-buru meminta asistennya Rizal untuk menyiapkan pesawat jet pribadi miliknya.
"Kita berangkat ke Bali sekarang Rizal! Siapkan rekaman yang kita butuhkan untuk bisa merebut Putriku SYAKIRA dari Mikaila, jika mantan Istriku itu tidak ingin rujuk denganku." Ujar Zefran serius.
"Tuan! Bagaimana dengan nyonya Hesty? Apakah dia perlu mengetahui cerita ini? kalau tuan punya anak dari wanita lain yang merupakan istri pertamanya tuan sendiri. Bagaimana kalau dia marah?"
"Tidak penting. Aku tidak peduli dia cemburu, marah, dan melakukan tindakan gila sekalipun, aku tidak peduli. Aku akan membawa pulang putriku dan kembali rujuk dengan Mikaila. Lagi pula ayahku sudah tidak berdaya karena stroke yang di deritanya dan dia tidak bisa mengaturku lagi." Ujar Zefran tegas.
"Tapi tuan, wartawan akan mengendus berita ini dengan begitu....?" Kata-kata Rizal terhenti ketika dipelototi bosnya Zefran.
"Apakah yang lain penting? Dan siapa yang meminta pendapatmu Rizal?"
"Baik Tuan Zefran. Maafkan kelancangan ku karena sudah ikut campur urusan Tuan!"
"Ayo kita berangkat sekarang ke Bali!"
"Siap tuan!"
Keesokan harinya Mikaila bersama keluarga besarnya berkunjung ke pantai Sanur Uluwatu Bali. Keluarga besar ini tidak tahu bahwa saat ini mereka dikuntit oleh anak buahnya Zefran yang ingin bertemu langsung dengan Mikaila dan putrinya.
Zefran merencanakan strategi untuk menculik putrinya sendiri dari Mikaila. Namun penculikan itu segera digagalkan oleh SYAKIRA sendiri yang mengetahui bahwa saat ini dirinya akan dibawa oleh dua orang pria yang tidak ia kenal.
__ADS_1
"Syakira!"
Panggil Lintang.
Saat gadis ini masih enggan untuk menikmati air laut yang sedang merendam tubuh saudara sepupunya Lia dan Lintang.
"Apakah kamu tidak mau mandi?"
"Nanti saja!"
Ujar SYAKIRA sambil melihat ke bagian kiri tepat posisinya berdiri dua orang lelaki sedang menghampirinya.
Syakira segera berlari sambil berteriak memanggil ibunya.
"Sepertinya itu putrinya tuan Zefran." Ujar salah satu anak buahnya sambil pura-pura berjalan acuh mendekati SYAKIRA.
"Iya, lebih baik kita tangkap gadis itu dengan pura-pura memberinya coklat ini." Ujar Temannya.
"Baiklah. Mumpung ada yang tidak melihat kita."
Syakira mundur beberapa langkah begitu merasa bahaya mengancam dirinya. Ia melihat ibunya yang lagi mengobrol dengan paman dan Tantenya tidak memperhatikan dirinya. Sementara ayahnya Zefran mengamati dari kejauhan pergerakan anak buahnya untuk menculik putrinya.
"Ibuuuuu!"
Mikaila tersentak mendengar teriakan putrinya." Syakira!"
Mikaila berlari menghampiri putrinya yang sudah mendekatinya.
"Ada apa sayang?"
Mikaila memegang kedua bahu putrinya sambil memindai tubuh putrinya.
"Ada penjahat ibu!"
Ujar SYAKIRA sambil menunjukkan ke arah dua pria yang sudah berlari menjauh dari tempat Mikaila dan putrinya.
"Mana orangnya SYAKIRA?"
Tanya Mikaila sambil melihat ke arah yang ditunjukkan putrinya.
"Mereka sudah menghilang ibu."
"Mana mungkin mereka mau menculik kamu sayang."
"Mereka benar ingin menculik aku ibu." Ujar SYAKIRA meyakinkan ibunya.
"Di pantai ini sangat aman sayang. Mungkin perasaan SYAKIRA saja."
Mikaila menenangkan putrinya.
"Selamat pagi SYAKIRA!"
Deggggg...
Syakira dan Mikaila tersentak mendengar suara sapaan itu yang sangat familiar di kuping Mikaila.
"Kauuu..!"
__ADS_1