
Syakira tidak bisa lagi menghindari pertanyaan ayahnya yang penuh curiga pada dirinya. Walaupun ia salah telah berbohong kepadanya, tapi ia merasa tidak mengkhianati ayahnya karena sudah menjaga dirinya dengan baik.
Syakira menceritakan kronologi peristiwa sebelumnya yang membuat ia dan Zhyan harus menginap.
"Apakah kalian tidur satu kamar Syakira?"
"Iya ayah. Tapi kami tidak melakukan hal yang dilarang oleh agama ayah."
"Tapi itu sudah mengundang fitnah Syakira."
"Maafkan Syakira ayah! Keadaannya kemarin sangat genting membuat kami mau tidak mau harus menginap satu kamar berdua, karena sudah penuh.
Sementara tidak ada kendaraan umum tidak boleh melintas karena hiruk pikuknya kota imbas dari bencana kemarin."
Gumam Syakira memberi alasan.
"Baiklah Syakira. Tolong hubungi lagi teman priamu itu, mumpung dia belum jauh!"
"Tapi ayah..!"
"Berhentilah mengeluh dan turuti perintah ayah!"
"Baik ayah."
Syakira segera menghubungi Zhyan.
"Hallo Zyan!
"Ada apa Syakira?"
"Apakah kamu bisa kembali lagi ke apartemenku?"
"Apakah kamu sedang ada masalah?"
"Iya Zhyan. Aku harap kamu segera kembali ke apartemen ku lagi."
"Baiklah."
Zhyan meminta taksi untuk kembali ke apartemen Syakira.
Dalam waktu sepuluh menit, Zhyan sudah memencet bel kamar apartemen Syakira.
Syakira membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Zyan masuk untuk menemui ayahnya. Zhyan begitu kaget melihat ayahnya Syakira sudah duduk di ruang tamu.
Zhyan mengucapkan salam seraya menyalami Zefran yang menatapnya penuh selidik. Syakira merasa bingung menghadapi dua lelaki yang sedang bertaruh untuk merebutnya. Zhyan memperkenalkan namanya dan nama besar keluarganya pada ayahnya Syakira.
"Zhyan semua ini tergantung padamu bagaimana kamu bisa mendapatkan aku dengan interprestasi mu yang harus membuat ayahku kagum padamu."
Batin SYAKIRA terlihat cemas menatap wajah dingin ayahnya.
"Apakah kamu menyukai putriku SYAKIRA?"
"Tidak!"
__ADS_1
Zhyan sengaja menjedah perkataannya.
Syakira dan ayahnya terhenyak mendengar pengakuan Zhyan.
"Aku sangat mencintai putrimu Syakira dengan segenap hati dan jiwaku."
Ucap Zhyan membuat ayah dan anak ini menarik nafas lega.
Syakira merasa bersyukur mendengar penuturan Zhyan yang begitu lugas dan tegas.
Kini giliran Syakira yang juga ditanyai ayahnya.
"Syakira! Apakah kamu mencintai lelaki ini?"
Zhyan terlihat senang dengan pertanyaan calon ayah mertuanya. Dengan begitu ia bisa mengetahui isi hati gadis ini. Syakira menatap wajah tampan Zhiyan sekilas lalu memejamkan matanya untuk menjawab pertanyaan ayahnya.
"Aku mencintainya sebagaimana aku mencintai ayah karena dia akan menjadikan diriku berharga untuknya dan membimbingku untuk sampai masuk ke surgaNya Allah saat dia sah menjadi imanku."
Jawaban Syakira sangat menyentuh relung hati kedua lelaki beda generasi ini. Manik Zefran hampir berkaca-kaca mendengar ucapan putrinya.
"Wow amazing!"
Puji Zhyan haru mendengar jawaban Syakira tentang cinta gadis itu padanya.
"Baiklah. Zhyan, kamu bicarakan hubungan kalian kepada keluargamu dan ayah menunggu kedatangan kalian untuk melamar putriku di rumahnya di Jakarta." Pinta Zefran tegas.
"Siap ayah." Ujar Zhiyan antusias.
"Kamu boleh pulang sekarang dan ayah tunggu kamu dan keluargamu berkunjung ke Jakarta Minggu depan. Jika keluargamu mempersulit hubungan kalian, ayah akan menjodohkan SYAKIRA dengan pria lain!"
Antara bahagia dan kuatir berkecamuk di dada Zhyan. Berbicara dengan ayahnya SYAKIRA untuk pertama kalinya dalam suasana yang terlihat semuanya dadakan.
Tapi bagi Zhyan mendapatkan restu dari ayahnya SYAKIRA sudah membuatnya bangga. Tidak mudah baginya bisa memiliki Syakira yang sangat menjaga kehormatannya.
Semua yang diinginkan Zhyan tentang karakter seorang gadis, hanya Syakira yang memenuhi syarat sebagai pilihan terakhirnya daripada yang sebelumnya lebih mengutamakan ego dan nafs*.
...----------------...
Setelah menyampaikan keinginannya kepada orangtuanya bahwa ia ingin segera menikah dengan wanita Indonesia. Kedua orangtuanya begitu teliti dengan calon mantu mereka bagaimana bibit, bebet dan bobot yang wajib dipenuhi oleh Syakira.
"Mami dan papi tidak akan kecewa dengan pilihan Zhiyan kali ini karena Syakira bukan orang sembarangan."
Ucap Zhyan sambil menceritakan tentang latar belakang kehidupan keluarga SYAKIRA.
"Jadi ayahnya bernama Zefran Noya? Bukankah ayahnya seorang raja mafia yang hampir mengusai separuh perusahaan di Indonesia? bahkan ia juga punya perusahaan di Singapura juga." Timpal Tuan David ayah dari Zhyan yang sudah mengenal siapa Zefran Noya.
"Iya ayah. Apakah kalian mau menerima Syakira menjadi menantu kalian?" Tanya Zhiyan hati-hati.
"Tugas kami hanya untuk menikahkan kamu dengan wanita yang kamu sukai, nak. Yang penting sesuai dengan keinginanmu dan kami hanya menyetujuinya." Balas nyonya Aisyah.
"Terimakasih mami."
Zhyan bersimpuh di bawah kaki orangtuanya yang telah memberikan restu mereka kepadanya.
__ADS_1
Dua hari setelah bertolak ke Singapura Zhyan tidak bisa lagi bertemu dengan Syakira karena saat ini Syakira sudah dibawah ayahnya ke Jakarta untuk mempersiapkan acara lamaran.
Seperti yang sudah di rencanakan keluarga dari kedua belah pihak calon pengantin, kedatangan keluarga Zhyan disambut hangat oleh keluarga Syakira.
Syakira memperkenalkan dirinya pada calon mertuanya. Seketika kedua orangtuanya Zhyan sangat senang dengan kepribadian Syakira yang begitu santun.
Zhyan yang sangat merindukan kekasihnya sangat gugup saat keduanya bertukar cincin tunangan sambil menunggu hari pernikahan mereka yang akan diadakan bulan depan.
"Kamu sangat cantik SYAKIRA."
Puji Zhyan sebelum menyemai cincin berlian ke jari manis SYAKIRA.
"Ehm..ehm..! Jangan lama-lama menatapnya karena belum sah!" Ujar Lintang yang ikut hadir dalam acara pertunangan sepupunya itu.
Para tamu terkekeh mendengar sindiran Lintang. Keduanya akhirnya bertunangan.
Seminggu kemudian Zhyan kembali ke aktivitasnya sebagai pengusaha sementara Syakira juga sedang mengikuti ujian semester pertamanya di kampus.
Untuk menjaga keamanan putrinya sampai hari pernikahannya, Zefran meminta anak buahnya untuk mengawasi putrinya secara diam-diam.
Seperti biasa keduanya sama-sama menumpang bus yang sama saat mengakhiri aktivitas mereka seharian.
Zhyan selalu mengajak makan malam dengan tunangannya sebelum mereka berpisah.
Di salah satu restoran mewah yang sudah menjadi langganan keduanya, Zhyan dan Syakira nampak menikmati makan malam mereka.
"Apakah setelah menikah aku boleh melanjutkan kuliahku, Zhyan?"
"Tentu saja sayang!"
"Tapi, apakah aku boleh bekerja setelah menjadi ibu rumah tangga?"
"Jika itu tidak membuatmu tidak kelelahan mengurus aku dan anak-anak kita nanti."
"Tapi, aku ingin melanjutkan mengelola perusahaan mendiang Ibuku yang ada di Korea Selatan Zhyan."
"What...?"
Sentak Zhyan yang tidak menyangka permintaan SYAKIRA yang dianggapnya terlalu berlebihan.
"Syakira! Kita nanti akan menjalani biduk rumah tangga yang tidak mungkin hidup terpisah dengan bergantung komunikasi sayang.
Tolong jangan meminta sesuatu yang dulu membuatmu sulit menerima cinta karena trauma dengan kisah cinta kedua orangtuamu."
Jelas Zhyan mengingatkan lagi prinsipnya Syakira.
"Tapi, aku sudah janji pada almarhumah ibuku untuk melanjutkan usahanya begitu aku sudah lulus kuliah."
"Iya aku tahu Syakira. Tapi itu tidak berarti kamu harus menetap di sana. Kamu bisa mengunjungi perusahaan itu seminggu sekali atau dua kali dalam sepekan. Dan aku tidak melarangmu untuk itu, tapi untuk mengijinkan kamu tinggal di Seoul itu adalah sebuah kesalahan besar."
Ujar Zhiyan memberi pengertian kepada tunangannya.
Syakira tercenung mendengar kata-kata calon suaminya. Iapun mempertimbangkan lagi permintaan Zhyan bagaimana ke depannya nanti saat mereka sudah berumah tangga.
__ADS_1
"Bagaimana sayang? Apakah kamu setuju dengan solusi dari permasalahan kita?" Tanya Zhiyan menyadarkan lamunan SYAKIRA.
"Entahlah Zhyan. Aku tidak bisa menentukan sikapku saat ini."