Putri Rahasia Raja Mafia

Putri Rahasia Raja Mafia
20. MURUNG


__ADS_3

Usai liburan, keluarga Mikaila kembali lagi ke kampung halaman mereka di Palembang. Syakira terlihat murung saat tidak ada lagi teman bermainnya yang selalu menemaninya setiap saat.


"Sayang! Hari Senin kamu akan kembali ke sekolah. Kamu akan bertemu lagi dengan teman-teman sekolahmu. Apakah kamu tidak senang?"


"Senang ibu."


"Berarti kamu bisa merubah wajah murung mu itu kembali ceria, hmm!"


"Baik Bu."


Syakira masuk ke kamarnya dan menyiapkan buku sekolahnya untuk jadwal hari Senin.


"Ibu! andai saja kamu mengetahui kalau aku tidak bahagia di sekolah itu, mungkin kamu mengerti mengapa aku murung melihat sepupuku pulang kampung hari ini." Lirih SYAKIRA.


Syakira mengenang lagi obrolannya dengan Lintang dan Lia.


"Apakah teman-teman sekolah kalian menyenangkan?"


"Iya SYAKIRA! Di sana kami selalu akrab satu sama lain." Jawab Lia.


"Apakah ada yang pernah membully kalian?"


"Tidak pernah. Kami selalu rukun walaupun kadang ada juga yang berantem gara-gara ada teman yang pelit pinjamkan peralatan tulisnya." Ujar Lintang


"Apakah temanmu bersikap buruk kepadamu, SYAKIRA?"


Lintang balik bertanya.


"Ah, tidak. Mereka semua baik-baik padaku."


Syakira berbohong agar sepupunya tidak mengadukan curhatannya pada ibunya.


"Ibuku sudah lelah bekerja seharian. Aku tidak ingin membuat ia kecewa." Batin SYAKIRA.


"Apakah kamu tidak ingin merasakan sekolah di Indonesia SYAKIRA?"


"Mungkin suatu saat nanti aku akan pindah ke Indonesia dan sekolah di sana." Ujar SYAKIRA.


Tik..tok...


Syakira segera naik ke tempat tidurnya saat ibunya membuka pintu kamarnya.


"Syakira! Apakah kamu sudah mau tidur, sayang?"


Mikaila duduk di samping putrinya yang sedang melihat foto-foto keluarga mereka.


"Sebentar lagi ibu!"


"Baiklah. Kalau begitu kita saling cerita apa saja supaya bisa membuat SYAKIRA bisa tidur?"


"Ceritakan tentang ibu saja. Apakah saat ini, ada yang naksir sama ibu?"


"Banyak."


"Apakah mereka tampan?"


"Sayangnya mereka jelek jadi ibu tidak suka."


"Lelaki seperti apa yang ibu sukai?"


"Ibu tidak punya angan-angan untuk menikah lagi SYAKIRA."


"Apakah karena SYAKIRA, ibu tidak ingin menikah lagi?"


"Bukan karena kamu sayang."

__ADS_1


"Apakah cinta dihati ibu hanya untuk ayah?"


Deggggg..


"Tidurlah sayang! Sekarang sudah malam. Besok kamu harus sekolah. Jangan sampai kamu bangun telat."


Mikaila tidak ingin menjawab pertanyaan putrinya tentang Zefran.


"Baik ibu."


Syakira membaca doa tidur lalu memejamkan matanya.


Tidak lama berselang, nafas Syakira sudah mulai stabil. Mikaila merapikan selimut putrinya dan mengecup kening SYAKIRA dengan lembut.


Ia juga tidak lupa mematikan lampu kamar itu dan menyalakan lampu tidur.


Mikaila kembali ke kamarnya dan ikut beristirahat.


Keesokan harinya, Mikaila mengantar putrinya ke sekolah. Hari pertama sekolah usai liburan membawa keceriaan tersendiri untuk anak-anak sekolah tersebut.


Entah kepuasan liburan yang mereka rasakan atau kerinduan mereka pada teman dan gurunya yang membuat mereka semangat pagi ini. Tapi tidak dengan SYAKIRA, wajah datar itu nampak tenang turun dari mobilnya.


"Sayang! Rajinlah belajar dan harus semangat menerima pelajaran dari gurumu. Saling menghargai teman-temanmu walaupun mereka berbeda denganmu." Ujar Mikaila lalu mengecup pipi putrinya.


"Jangan telat jemput ya Bu!"


"Insya Allah sayang. Ibu akan usahakan untuk menjemput kamu tepat waktu." Ujar Mikaila sambil melambaikan tangannya ke arah putrinya yang tersenyum kepadanya.


Mikaila meninggalkan sekolah putrinya dan langsung menuju perusahaannya.


Dreetttt...


Mikaila menggapai ponsel yang ada di sampingnya. Ia lalu memasang headset bluetooth sambil bicara dengan dokter Ae RI yang menghubunginya lebih dulu.


"Apakah kamu sudah balik dari Jakarta, Mikaila?"


"Apakah kamu tidak merindukanku?"


"Tentu saja kangen. Aku juga ingin bertemu denganmu. Apakah kita bisa makan siang bersama?"


"Baiklah. Kita bertemu di restoran langganan kita." Ujar dokter Ae RI.


"Siap Bu dokter!"


Keduanya terkekeh seraya mengakhiri obrolan mereka.


...----------------...


"Selamat pagi nona Mikaila !"


Mikaila menunduk hormat ala Korea saat karyawan menyapanya. Ia masuk ke ruang kerjanya diikuti oleh sekertarisnya, Araa.


Araa menyodorkan beberapa desain baju dari beberapa tim desainer perusahaan yang bekerja di perusahaan Mikaila.


"Ini nona, desain baju sesuai tema untuk musim salju yang akan datang. Ini dari dua tim yang menguji kebolehan mereka untuk memberikan kontribusinya pada perusahaan ini. Silahkan dipilih mana yang anda sukai?"


"Apakah mereka bisa mereview langsung hasil desain mereka padaku? Aku butuh detailnya agar bisa menentukan produk desain mana yang perlu kita prioritaskan." Ujar Mikaila.


"Sebentar! Aku akan hubungi mereka dulu."


Araa menghubungi dua tim desainer perusahaan tersebut.


"Nona Mikaila ingin kamu datang ke ruangannya karena dia ingin kamu menjelaskan langsung hasil rancangan mu." Ujar Araa.


"Saat ini tidak bisa karena kami lagi di luar. Kami sedang melakukan pemotretan hasil karya baru dengan beberapa model dari agensi langganan perusahaan kita." Ujar Aereum.

__ADS_1


"Berapa jam selesai pemotretannya?"


"Mungkin sampai siang."


"Apakah kalian melakukan pemotretan outdoor?"


"Iya!"


"Baiklah. Aku akan sampaikan lagi pada nona Mikaila."


Araa menyampaikan pesan dari dua tim desainer mereka yang sedang ada di luar perusahaan.


"Baiklah tidak apa. Aku bisa bertemu mereka sore hari. Aku belum bisa menentukan model pakaian musim salju yang akan kita luncurkan bulan depan." Ujar Mikaila.


"Tapi mereka bilang siang nanti mereka akan menemui anda."


"Aku sudah ada janji dengan sahabatku untuk makan siang bersama. Jadi aku tidak tahu apakah aku akan balik lagi ke perusahaan atau langsung menjemput putriku pulang sekolah nanti." Ujar Mikaila.


"Baik nona Aku akan mengatur lagi jadwal pertemuan kalian." Ujar sekertaris Araa.


"Terimakasih Araa!"


"Baik nona. Saya permisi!"


Araa kembali ke ruang kerjanya.


Sekitar jam dua belas siang, Mikaila sudah meluncur ke restoran favoritnya. Setibanya di sana, dokter Ae RI, melambaikan tangannya memanggil Mikaila yang baru datang sambil mengedarkan pandangannya mencari sahabatnya itu.


Keduanya saling berpelukan melepaskan rindu dan menanyakan kabar mereka masing-masing.


Mikaila menceritakan tentang apa yang terjadi pada Zefran yang sudah mengetahui kalau SYAKIRA adalah putri kandungnya.


Dokter Ae RI tersentak mendengar cerita Mikaila bagaimana ia bisa kabur dari pengawasan Zefran yang ingin merebut putrinya SYAKIRA.


"Cih! Dulu di tolak sekarang ngemis-ngemis kepada SYAKIRA. Syukurlah SYAKIRA membalas sakit hatinya pada ayahnya. Zefran pantas menerima penolakan putrinya." Sungut dokter Ae RI.


Tidak lama pesanan mereka datang juga. Keduanya menikmati makan siang mereka.


Tapi Mikaila merasakan tubuhnya terasa sangat lemah saat ini. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk tetap menikmati makanannya.


"Mikaila! Apakah kamu sakit? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat seperti itu?"


"Mungkin aku hanya kelelahan saja atau mungkin akhir-akhir ini aku banyak pikiran yang membuatku setress." Ucap Mikaila sambil sesekali batuk.


"Tidak Mikaila! Sepertinya kamu sakit parah. Kita ke rumah sakit ya?"


"Tidak usah Dokter Ae RI."


"Sudah. Jangan keras kepala Mikaila. Aku seorang dokter, jadi sangat tahu kalau kamu saat ini sedang sakit parah." Omel dokter Ae RI.


Keduanya menghabiskan makan siang mereka dan Mikaila ijin mau ke toilet.


"Aku akan mengantarmu ke toilet."


"Tidak! Aku bisa sendiri dokter."


Mikaila bangkit dan berjalan sempoyongan.


Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba saja Mikaila jatuh pingsan.


"Mikailaaaa!"


Pekik dokter AE RI saat melihat sahabatnya itu pingsan.


Mikaila segera di bawa ke rumah sakit oleh dokter Ae RI.

__ADS_1


"Ibu!"


Syakira menghentikan makan siangnya ketika melihat ibunya pingsan dalam penglihatan batinnya.


__ADS_2