Putri Rahasia Raja Mafia

Putri Rahasia Raja Mafia
18. MENGALAH


__ADS_3

Zefran segera menyusul Mikaila ke Seoul Korea Selatan dengan pesawat jet pribadinya. Ia tidak lagi memikirkan perasaan Mikaila sebuah ibu dari putri kandungnya SYAKIRA karena ingin mendapatkan hak asuh untuk putrinya.


Alamat tempat tinggal Mikaila sudah ia kantongi. Hanya saja ia tidak mengetahui kalau Mikaila memiliki perusahaan sendiri saat ini. Ia mengira Mikaila hanya bekerja di perusahaan bukan pemilik perusahaan di Seoul.


Mikaila yang sudah tiba di rumahnya bersama keluarga besarnya nampak bahagia menyambut keluarga itu.


Saat ini mereka sedang memasak makanan khas Korea Selatan dengan menggunakan bahan yang halal sebagai bumbu pelengkapnya.


Anak-anak tampak senang menikmati makanan Korea Selatan itu yang biasa mereka melihatnya melalui drama Korea yang tidak lupa menampilkan makanan khas Korea di setiap season nya, kecuali SYAKIRA yang tidak asing lagi dengan makanan Korea.


Sementara itu Zefran yang tiba-tiba datang menyambangi rumah mikaila saat gadis ini belum mempersiapkan diri mereka dengan pengawalan ketat yang sudah mereka rencanakan dari Indonesia.


"Permisi nona Mikaila!"


"Iya, ada apa Wiwin?"


"Ada tamu yang mencari anda?"


"Siapa?"


"Ia tidak mengatakan namanya, hanya bilang kolega Anda, nona."


"Baiklah. Aku akan menemuinya."


Mikaila tidak menaruh curiga sama sekali pada tamu yang datang ke rumahnya. Iapun begitu antusias karena merasa itu adalah sekertarisnya yang ingin memberinya kejutan untuknya karena hari ini ia merayakan ulang tahunnya.


Tanpa melihat CCTV yang ada di layar sebelah pintu, Mikaila membuka pintu itu dan betapa terkejutnya Mikaila melihat wajah tamunya saat ini.


Tubuh Mikaila ditarik keluar oleh Zefran dengan kasar dan mengancam mantan istrinya itu.


"Di mana putriku SYAKIRA? serahkan ia kepadaku atau aku akan mencekik mu!"


"Iya, silahkan bunuh saja aku! lebih baik aku mati dengan begitu kamu bisa membawa pergi SYAKIRA dari pada aku hidup melihat kamu membawa pergi putriku yang sudah kamu tolak keberadaannya." Ujar Mikaila sengit.


Zefran melepaskan cengkraman tangannya dari leher Mikaila saat mantan istrinya ini memilih mati daripada hidup tanpa putrinya. Ia akhirnya mengalah pada Mikaila yang sangat keras kepala.


"Baiklah. Kalau begitu pertemukan aku dengan putriku sekali saja dan setelah itu aku tidak akan mengganggu kalian lagi." Pinta Zefran tulus.


Mikaila jatuh terduduk sambil menangis di teras rumahnya. Antara kasihan dan tega bercampur jadi satu saat ini. Iapun menangis histeris sambil membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.


Zefran yang melihat itu, hendak mendekati istrinya dan berusaha untuk mengusap kepala Mikaila namun ia hanya bisa mengepalkan lagi tangannya karena tidak ingin membuat Mikaila makin marah kepadanya.

__ADS_1


"Mengapa kamu datang, di saat putrimu tidak lagi menganggap kamu ada. Kamu tidak tahu saat kita bercerai, Syakira sempat sakit hampir satu Minggu sambil memanggil namamu.


Dokter memintaku untuk menghubungimu karena SYAKIRA sakit karena merindukan ayahnya. Betapa tersiksanya aku saat itu karena aku tidak tahu cara mengatakan kepadamu agar kamu bisa datang menemuinya agar sakitnya berkurang. Aku hampir kehilangannya Zefran karena ulahmu yang menolak putrimu sendiri."


Ujar Mikaila mengisahkan kembali bagaimana ia harus melewati masa sulit untuk membuat putrinya ceria lagi dan mencoba menyingkirkan semua kenangan yang menyangkut dengan ayahnya.


Zefran yang mendengar cerita Mikaila merasakan sesak. Perasaan bersalah dan penyesalannya saat ini mengaduk-aduk emosinya karena kebodohannya saat itu.


"Aku, akui kalau aku sudah melakukan kesalahan besar padamu dan juga putriku SYAKIRA."


Air matanya ikut luruh bersama kepedihan yang ia rasakan tidak bisa hadir sebagai figur ayah yang dibutuhkan putrinya. Zefran memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Penyesalan terbesarnya saat ini adalah membuang waktu percuma dengan kecemburuan yang tidak mendasar hingga mengorbankan perasaan putrinya yang saat itu mampu mengenali dirinya sebagai ayah kandungnya, namun


tidak dengan dirinya yang saat itu, ia sendiri tidak mengetahui syakira adalah putri kandungnya.


"Putriku bisa mengenaliku hanya melihat fotoku saja setiap tidur malamnya sementara aku yang menghadirkan dia ke dunia ini, justru menolak putriku sendiri." Gumam Zefran lirih.


"Aku tidak tahu, apakah dia mau menerimamu atau tidak. Hatinya begitu sakit, hingga ia tidak lagi merasa kamu ada untuknya. Ia sudah terlanjur membencimu Zefran. Aku tidak bisa membujuknya untuk menemuimu."


Mikaila memberi pengertian untuk mantan suaminya untuk bersabar menunggu SYAKIRA untuk membuka hatinya kembali menerima Zefran sebagai ayah kandungnya.


"Aku menunggu kalian besok di pasaraya tidak jauh dari rumahmu." Pinta Zefran penuh harap.


"Baiklah. Aku tetap berharap semoga SYAKIRA bisa memaafkan aku. Besok jam empat sore aku tunggu kedatangan kalian."


Zefran segera pamit dari rumah Mikaila. Ia pulang ke hotel dengan membawa kesedihan mendalam yang dirasakannya saat ini. Apa lagi mendengar cerita Mikaila tentang sakit putrinya setelah mendapatkan penolakannya, membuat hatinya makin hancur.


"Syakira! ayah tahu kamu sulit memaafkan ayah, namun ayah berharap kamu mau menemui ayah sekali saja seumur hidup ayah." Ujar Zefran sambil menuju mobilnya di mana para pengawalnya sudah menunggunya.


Mikaila hanya menatap punggung mantan suaminya itu dengan perasaan bingung. Antara kasihan dan kecewa menyatu dalam jiwanya saat ini.


Walaupun begitu, ia masih sulit memaafkan perbuatan mantan suaminya itu bukan karena tuduhan keji lelaki itu padanya, tapi penolakan Zefran yang membuat putrinya sempat sakit saat itu.


"Kau datang hanya memberi putrimu sebuah luka hingga hatinya menjadi kebas hingga ia tidak merasakan lagi cinta yang saat ini kamu tawarkan padanya, Zefran ."


Mikaila menemui lagi Keluarganya. Beruntunglah keluarganya itu tidak keluar untuk kepo tamunya, kalau tidak, mungkin akan terjadi keributan besar di rumahnya karena abangnya Mikaila yaitu Hanan yang sudah tidak suka lagi pada Zefran yang tega menyingkirkan adik dan keponakannya itu karena salah paham.


"Apakah temanmu sudah pulang Mikaila?" Tanya Hanan sambil menonton film laga kesukaannya.


Mikaila tersentak mendengar pertanyaan abangnya.

__ADS_1


"Oh iya bang. Mereka sudah pulang." Ujar Mikaila bohong.


"Mikaila mau ke kamar dulu bang, ada kerjaan yang mau Mikaila selesaikan." Ujar Mikaila.


"Silahkan Mikaila!"


Ujar Hanan dengan tetap fokus pada film yang saat ini sedang ia tonton.


Mikaila ke kamar putrinya yang sedang bercanda dengan kedua sepupunya.


"Syakira!"


"Iya ibu!"


Syakira menghampiri ibunya yang berdiri di pintu kamarnya.


"Lintang, Lia! Tante mau pinjam SYAKIRA sebentar, kalian main sendiri dulu ya!"


"Baik Tante."


"Emangnya ada apa ibu?"


"Tolong ikut ke kamar ibu sebentar SYAKIRA! Ada yang ibu ingin bicarakan kepada Syakira." Ujar Mikaila sambil menggandeng tangan putrinya.


Keduanya sudah ada di dalam kamar. Syakira duduk berhadapan di atas tempat tidur Ibunya saling berhadapan.


"Emang ibu mau bicara apa?"


"Ini tentang ayahmu SYAKIRA."


"Apakah dia menganggu ibu lagi?"


Mikaila menggeleng kepalanya buru-buru.


"Tidak sayang! Ayahmu ingin bertemu denganmu besok sore. Apakah kamu mau bertemu dengan ayahmu?"


Tanya Mikaila sambil menatap manik hitam legam putrinya.


Syakira langsung turun dari tempat tidur Ibunya.


"Maaf ibu! Syakira tidak ingin bertemu dengan ayah." Ucap SYAKIRA sambil berjalan keluar dari ibunya.

__ADS_1


Deggggg...


__ADS_2