
Zefran menunggu kedatangan putri dan mantan istrinya di Mall yang sudah mereka sepakat untuk bertemu di sana. Sudah hampir satu jam kedua orang yang ia cintai itu tidak muncul juga sampai saat ini.
Tapi Zefran tidak mau menyerah begitu saja. Ia masih berharap Mikaila membawa putrinya untuk menemuinya. Zefran memesan lagi minuman dan kudapan lainnya untuk menemaninya sore itu.
Kini waktu makin bergulir hingga menunjukkan sudah dua jam ia berada di restoran itu. Zefran ingat kata-kata Mikaila kemarin malam, jika mereka tidak muncul juga berarti SYAKIRA tidak ingin menemuinya.
Zefran akhirnya beranjak dari tempat itu. Mikaila yang baru datang tergopoh-gopoh memanggilnya.
"Zefran!"
Langkah kakinya terhenti saat mendengar suara Mikaila. Wajahnya berubah sumringah merasakan penantiannya tidak sia-sia. Ia segera membalikkan tubuhnya mengarah ke asal suara Mikaila datang.
"Syakira!"
Ujarnya dengan senyumnya tersungging menghiasi wajah tampannya. Senyum itu kembali terbenam dengan raut wajah berubah kecewa saat melihat yang datang hanya Mikaila sendiri yang saat ini sedang menghampirinya.
"Maafkan saya Zefran!"
Ujar Mikaila sambil mengigit bibir bawahnya.
"Di mana SYAKIRA?"
Zefran masih cilingak-cilinguk melihat ke belakang punggung Mikaila.
"Dia tidak mau bertemu denganmu. Aku sudah menjelaskan kepadanya atas penyesalan mu dan juga keinginanmu yang ingin bertemu dengannya sekali saja, tapi dia tetap menolakmu." Ujar Mikaila nggak enak hati.
Zefran mendongakkan wajahnya ke atas sambil mengusapkan wajahnya dengan kedua tangannya dengan perasaan gusar. Ingin rasanya ia berteriak di tempat itu, namun ia sadar mereka saat ini sedang berdiri di tempat umum.
"Baiklah Mikaila! Kalau begitu aku pamit pulang kembali ke tanah air." Ujar Zefran lalu berjalan menuju pintu lift.
Mikaila berusaha menghubungi lagi putrinya agar SYAKIRA mau berbicara dengan ayahnya walau hanya sesaat saja.
Mikaila ikut masuk ke lift itu dan berdiri di sebelah Zefran yang terlihat sedih.
"Ada apa ibu?"
"Sayang! Tolong dengarkan mama sebentar! jangan ditutup teleponnya."
Mikaila memberikan ponselnya pada Zefran.
"Bicaralah dengannya, walaupun kalian tidak bisa bertemu secara langsung, setidaknya kalian bisa menyampaikan perasaan kalian masing-masing." Ujar Mikaila masih toleransi dengan Zefran.
Zefran menerima ponsel dari tangannya Mikaila. Terdengar lagi suara sapaan lembut dari seberang sana.
"Hallo ibu!"
"Hallo SYAKIRA!"
Deggggg...
Syakira menjauhkan ponselnya dari kupingnya saat mendengar suara ayahnya.
"Syakira! Ayah ingin bicara sebentar denganmu, bolehkah?"
"Sejak kapan kamu menjadi ayahku?"
__ADS_1
Glekkkk...
"Ayah hanya mau minta maaf karena pernah menyakitimu dan itu semua ketidaktahuan ayah tentangmu."
"Kata ibu guruku, kata maaf itu memang mudah diucapkan oleh orang yang berbuat salah pada orang lain.
Apakah sakit hati orang itu mudah hilang begitu saja, hanya mendengar perkataan maaf dari orang yang telah menyakitinya?" balas SYAKIRA dengan kata-kata menohok.
Glekkkk..
"Apa yang harus ayah lakukan untuk membuat SYAKIRA memaafkan ayah?"
"Sebagai mana awal tuan menolak mengakui aku sebagai putrimu, seperti itulah aku pada tuan saat ini. Aku tidak pernah menganggapmu ada, tuan."
Duaaarrr...
Syakira mematikan ponselnya sambil menahan air matanya yang hampir menetes.
"Hallo SYAKIRA...! Hallo sayang!"
Zefran langsung lemas seraya menyerahkan ponsel milik Mikaila dengan wajah sedih.
"Apakah dia memutuskan sambungannya?"
Zefran mengangguk lemah.
"Maafkan aku Zefran! Aku hanya bisa membantumu dengan cara ini."
"Tidak apa Mikaila! Setidaknya aku mengetahui perasaan sakit hati putriku padaku yang selama ini ia pendam."
Mikaila mencoba menghibur Zefran agar mantan suaminya ini tidak begitu sedih.
"Apakah kamu langsung pulang ke rumah?"
"Iya Zefran! Di rumah ada Abang Hanan dan kakak iparku, aku sudah meninggal mereka begitu lama setelah seharian bekerja. Itu mobilku.
Selamat jalan Zefran. Belajarlah untuk mempercayai orang-orang yang kamu cintai sebelum kamu memvonisnya bersalah."
Mikaila melangkah menuju mobilnya, namun Zefran langsung memeluknya dari belakang.
"Mikaila! Maafkan aku! Aku masih mencintaimu, sayang. Ayo kita rujuk sayang! Dengan begitu aku bisa memiliki putriku." Desak Zefran.
"Maafkan aku Zefran! Sejak kau meragukan arti kesetiaan cintaku kepadamu selama kita dipisahkan oleh keegoisan ayahmu, di saat itu juga, cintaku padamu telah luntur bersamaan dengan tuduhan mu yang sangat menyakitkan hatiku.
Sampai saat ini sakitnya itu masih membekas dan sulit untuk disembuhkan walaupun kebaikanmu ingin menutupinya."
Mikaila melepaskan pelukan tangan mantan suaminya dari pinggang rampingnya.
"Mikaila, sayang! Tolong jangan lakukan itu padaku! Apakah tidak cukup penolakan dari putriku SYAKIRA dan kau ingin menorehkan luka yang sedang berdarah ini, lebih dalam lagi?"
"Seperti itulah rasa sakit hati kami yang sekarang ini kamu rasakan juga. Rasakan kepedihan yang sama yang selama ini kamu berikan kepada kami."
"Aku mencintaimu Mikaila. Aku sangat mencintai kalian berdua!"
Mikaila membuka pintu mobilnya dan langsung menyalakan mesin mobil itu.
__ADS_1
"Aku pulang Zefran. Assalamualaikum!"
"Wassalamualaikum!" Ujar Zefran lirih.
...----------------...
Mikaila menangis sepanjang jalan menuju rumahnya. Ia juga tidak bisa membohongi dirinya kalau ia juga masih mencintai Zefran.
"Mungkin sudah suratan cinta, kau dan aku harus berpisah, Zefran. Semua itu karena diawali dengan keraguanmu padaku dan di perparah dengan keegoisan mu." Lirih Mikaila sambil mengendarai mobilnya.
Di tempat yang berbeda Zefran sudah di bawa pergi oleh asistennya Rizal menuju bandara.
"Cinta itu tidak pernah berkurang nilainya Mikaila, andai saja kamu sedikit mau mengalah kepadaku, semuanya bisa di perbaiki." Gumam Zefran.
Setibanya di rumah, Mikaila buru-buru masuk ke kamarnya lalu disusul oleh putrinya SYAKIRA.
"Mengapa ibu mau menemui pria itu? Untuk apa merendahkan harga diri ibu pada lelaki seperti itu?"
Teriak SYAKIRA di hadapan ibunya.
Mikaila terhenyak mendengar penuturan putrinya yang terlihat dewasa.
"Syakira! Kenapa kamu tega mengatai ibu seperti itu? Itu kata-kata orang dewasa sayang?" Mikaila menasehati putrinya.
"Aku sudah dewasa sebelum waktunya Bu. Semenjak ayah tidak menginginkan kita ada dalam hidupnya!"
"Syakira! Kamu masih putri kecil ibu. Apa yang kurang dari cinta ibu? Kamu mendapatkan semuanya.
Jika hari ini ayahmu ingin bertemu denganmu, mungkin dia ingin memperbaiki kesalahannya. Bukankah kamu sendiri yang sudah menolaknya?"
"Aku sudah tidak ingin bertemu dengannya, lantas kenapa ibu masih peduli padanya? apakah tidak cukup sakit hati yang kita rasakan selama ini karenanya?"
"Syakira. Maafkan ibu nak! Kadang perasaan orang dewasa sulit dimengerti oleh anak seusia mu."
"Aku mengerti ibu! Aku sangat mengerti perasaan ibu terhadap ayah."
"Apa yang kamu bisa mengerti, hah?"
"Karena ibu masih mencintai pria yang telah melukai hati ibu dan aku, bukan?"
Glekkkk...
"Syakira!"
"Silahkan ibu mencintainya, tapi jangan harap SYAKIRA mau memaafkannya. Tidak akan!"
Teriak SYAKIRA histeris sambil menutup kedua kupingnya.
"Syakira. Maafkan ibu sayang! Tolong tenanglah! Ini sudah berakhir, sayang. Ayahmu tidak pernah lagi mengusik hidup kita."
Mikaila memeluk erat tubuh putrinya. Keduanya saling menangis.
"Anggap saja dia tidak pernah ada dalam hidup kita ibu....hiks..hiks!"
"Iya sayang!"
__ADS_1