
Mikaila segera dibawa ke rumah sakit. Dokter meminta persetujuan operasi darurat pada Zefran, ayah satu anak ini menyetujuinya untuk kesembuhan istrinya Mikaila.
"Lakukan yang terbaik untuk istriku dokter!"
Pinta Zefran dengan wajah tegang.
"Kami hanya ingin membantu pasien untuk mengangkat kankernya walaupun hasilnya belum tentu memuaskan. Bisa jadi pasien tidak selamat saat menjalani operasi." Ujar dokter Kyu apa adanya.
"Kami siap menerima hal yang terburuk sekalipun, dokter, asalkan kita berusaha dulu sebelum menyerah." Ucap Zefran pasrah.
"Baiklah. Doakan saja yang terbaik untuk istri anda dan persiapkan mental kalian untuk hal yang tidak terduga."
Dokter Kyu meninggalkan wali pasien, lalu masuk ke dalam kamar operasi di mana tim dokter sudah menunggunya siap melakukan operasi pada Mikaila.
Diluar sana, SYAKIRA, Oma IFA dan Zefran hanya bisa mendoakan ibu dari SYAKIRA ini dengan bacaan terbaik yang mereka bisa.
Hampir dua jam mereka menunggu, tiba-tiba dokter Kyu sudah keluar sebelum waktunya operasi berakhir.
Keluarga itu serentak berdiri dengan wajah tegang lagi pucat. Zefran tidak bisa mengucapkan satu katapun kecuali menunggu penjelasan dokter.
Oma IFA memeluk cucunya SYAKIRA seakan memberikan kekuatan pada cucunya agar menerima kabar terburuk dari ibunya dengan sabar.
Dokter Kyu menatap ketiga wajah itu bergantian lalu mulai bicara.
"Tuan!"
Dokter menarik nafasnya dalam lalu menjelaskan tentang keadaan Mikaila.
"Entah mengapa, kami menemukan suatu keajaiban pada nona Mikaila kalau kangkernya tiba-tiba saja lenyap." Ujar dokter Kyu sungguh-sungguh.
"Apa...? Lenyap ..? Apa yang terjadi sebenarnya dokter?"
"Entahlah tuan! kami sendiri juga penasaran dengan kasus pasien Mikaila yang sudah tidak ada lagi kangker yang bersemayam dalam lambungnya.
Mungkin saja ini suatu keajaiban yang jarang terjadi pada pasien dengan penyakit yang sama." Ujar dokter Kyu dengan tawa ceria.
Zefran dan ibunya terlihat bahagia mendengar kabar baik itu, namun tidak dengan SYAKIRA. Gadis itu merasa kalau kabar baik itu hanya suatu kebahagiaan semu.
"Sayang! Ibumu sudah sembuh. penyakitnya sudah lenyap dari tubuhnya." Ucap Zefran tertawa bahagia sambil memeluk putrinya.
Syakira hanya menarik bibirnya memberikan senyum getir pada sang ayah yang terlampau bahagia.
"Ayah! Jangan terlalu girang ayah! Karena ibu tetap meninggalkan kita nantinya." Batin SYAKIRA.
Nyonya IFA heran dengan sikap cucunya yang masih terlihat pendiam padahal kegembiraan sudah ada di hadapan mereka.
"Syakira!"
__ADS_1
"Iya Oma!"
'Kenapa kamu diam saja? apakah kamu tidak percaya kalau ibumu sudah sembuh?"
"Syakira senang Oma. Apakah SYAKIRA harus joget-joget senangnya?"
"Biasanya anak seumur mu akan meluapkan kegembiraannya menggebu-gebu."
"Sayangnya, aku bukan mereka Oma."
"Kenapa begitu?"
"Karena kebahagiaan dunia ini tidak akan pernah kekal. Kita akan dihadapkan dengan duka setelah ujian kesenangan yang kita dapatkan terlalu berlebihan. Dan aku takut jika kebahagiaan itu hanya sementara saja dan itu membuatku lebih kecewa."
Brangkar Mikaila di dorong oleh dua Suster menuju ruang inap. Mikaila masih dibawah pengaruh obat bius. Keluarganya menemaninya menuju ke kamar inap.
...----------------...
Beberapa hari kemudian, Zefran dan ibunya pamit kembali ke Indonesia karena ayahnya saat ini masih butuh perhatian ibunya.
Mikaila kelihatan lebih segar berenergi saat dokter mengklaim dirinya sudah bebas dari kangker lambung yang dideritanya.
Zefran memeluk istrinya yang terlihat makin cantik dan makin membuatnya bergairah untuk bercinta terus dengan wanita pujaannya.
"Aku akan mengantar pulang ibu karena harus merawat ayah yang saat ini menderita stroke Aku juga harus mengurus perceraian ku dengan Hesty. Setelah itu aku akan kembali lagi pada kalian. Dan aku ingin memberikan adik untuk SYAKIRA agar putriku tidak kesepian lagi."
Zefran meng*Lum bibir Mikaila lembut.
"Bagaimana kalau benihku nyasar lagi di perempuan lain yang bukan istriku yang seperti ini?"
Keduanya terkekeh.
"Itu sudah takdir Allah untuk memberitahukan ayah mertua bahwa sesuatu yang dipersatukan Nya tidak bisa dipisahkan oleh manusia.
Makanya Allah mempertemukan aku dengan dokter-dokter yang sudah direkomendasikannya agar benihmu hanya untukku saja bukan untuk wanita yang lain." Timpal Mikaila.
"Benar juga apa katamu sayang. Syakira yang menjadi pemersatu kita." Ujar Zefran.
"Dan juga alasan sakit ku, yang membuat kamu kembali kepadaku." imbuh Mikaila .
"Andai saja kamu kembali ke Indonesia, aku tidak perlu pulang pergi jika merindukan kalian."
"Apakah kamu keberatan untuk melakukan itu?"
"Tidak juga, hanya saja terlalu lama jangkauannya untuk melihat wajah cantikmu."
"Dasar genit!"
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu aku berangkat dulu sayang. Ingat tetap jaga kesehatan dan istirahat yang cukup."
"Kamu juga! Usahakan cepat kembali secepatnya. Kami menunggumu."
"Semoga ada kabar baik, kamu bisa hamil lagi."
"Aaamiin."
Dalam beberapa menit, Zefran dan ibunya sudah berada di mobil. Syakira dan Mikaila hanya melepaskan kepergian keduanya hanya sampai di halaman depan rumah saja.
Syakira masih terlihat diam. Wajah gadis ini tetap datar menatap nanar mobil yang membawa ayah dan omanya yang makin menjauh dari pandangannya.
"Ayah! mengapa harus pulang secepat itu, padahal ibu sembuh hanya sementara. Ia hanya meminta kamu membahagiakannya di sisa waktunya. Mengapa harus pulang?" Sesal SYAKIRA yang tidak bisa menjelaskan kepada ayahnya tentang kondisi Ibunya.
Syakira, bulan depan ayahmu ulang tahun. Apakah kamu mau beri surprise pada ayahmu?"
Tanya Mikaila saat menemani putrinya tidur.
"Dengan cara apa Bu?"
"Bagaimana kalau kita pulang ke Indonesia? Mampir ke toko kue dan mengantarnya ke perusahaan ayah bekerja."
"Apakah karyawan ayah sudah mengenal ibu?"
"Belum! Hanya asistennya saja yang sudah pernah bertemu dengan ibu."
"Baiklah Bu, SYAKIRA ikut ibu saja." Ucap SYAKIRA tidak begitu antusias.
Iya segera membalikkan tubuhnya dan tenggelam dalam pikirannya saat ini. Entah mengapa ia merasa ibunya akan meninggalkannya sebentar lagi.
"Syakira! apakah kamu sudah tidur sayang?"
Mikaila melihat wajah cantik putrinya yang sudah memejamkan matanya. Ia lalu mengecup kening Syakira dan beringsut bangkit dari kasur empuk itu beralih ke kamarnya.
Saat ibunya keluar, SYAKIRA menangis seorang diri. Ia seakan marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengatakan kepada ayahnya bahwa kesembuhan ibunya hanya sementara.
Sementara di Jakarta, Hesty mengumpulkan anak buahnya untuk membunuh Mikaila agar rumah tangganya kembali utuh.
"Bunuh wanita itu bagaimanapun caranya! aku ingin dia mati dan bawa putrinya padaku karena dia adalah keturunan dari suamiku Zefran! Titah Hesty yang sudah memperlihatkan taringnya.
"Baik bos!"
Anak buahnya mengambil cek dari tangan Hesty lalu meninggalkan ruang kerja wanita itu dengan wajah puas karena lumayan banyak imbalan yang mereka dapatkan.
"Dasar perempuan bodoh! Kamu kira aku akan mengkhianati bosku Zefran." Umpat anak buahnya Zefran yang menyamar jadi pembunuh bayaran atas perintah Zefran.
"Mikaila! Hanya kematian yang bisa memisahkan kamu dan suami kita, sayang." Ucap Hesty sambil menyeringai seperti iblis.
__ADS_1
Hesty menghubungi anak buahnya yang lain untuk mengawasi orang-orang yang dia suruh untuk menghabisi nyawa madunya, Mikaila.
"Awasi tiga orang lelaki yang baru saja keluar dari ruang kerjaku! Jika mereka berkhianat langsung tembak di tempat." Titah Hesty yang merupakan anak mafia juga.