
Syakira baru menyadari bahwa saat ini, ia tidak sedang berada di kamar pribadinya, melainkan di kamar hotel.
"Astaga! tempat ini... dan ... Zhyan..?"
Syakira segera bangkit dan melihat wajah tampan Zhiyan yang masih tidur dengan tenang.
"Alhamdulillah. Ternyata dia masih tidur."
Syakira mengelus dadanya dan mengambil handuk untuk menutup lagi kepalanya lalu buru-buru masuk mengambil jilbabnya yang sudah ia cuci dan di keringkan dibawah heksos kamar mandi.
Syakira mengenakan lagi hijabnya dan keluar dari kamar mandi. Baru saja ia membuka pintu kamar, Zhyan sudah berdiri di depan pintu kamar mandi membuatnya terperanjat.
"Apakah kamu sudah lapar?"
Tanya Zhiyan terkesan biasa saja di depan Syakira.
"Apakah kamu tidak bisa menungguku di sofa tanpa mengagetkan aku?"
Syakira terlihat kesal dengan sikap Zhyan.
"Oh sorry! Tadi aku baru mau mengetuk pintu kamar mandi, tapi kamu sudah keburu keluar." Jelas Zhyan agar Syakira tidak gagal paham.
Syakira kini sudah merasa nyaman karena ia tidak perlu ketakutan Zhyan melihat rambutnya. Ia berjalan ke meja untuk mengambil menu apa saja yang tertera di buku menu yang menjadi menu andalan hotel tersebut.
Ia memesan sup daging sapi dan beberapa menu lainnya. Dan Zhyan memesan yang sama seperti menu pilihan Syakira.
Sambil menunggu pesanan mereka, lagi-lagi Zhyan mengulangi pertanyaannya yang belum sempat dijawab oleh Syakira.
Gadis ini hanya bisa memijit pelipisnya yang tidak sakit karena ia tak mampu lagi untuk berkelit dari pertanyaan Zhyan.
"Jika aku bercerita kepadamu, apakah kamu mau mempercayai apa yang akan aku katakan nanti padamu?" Memastikan dulu kepercayaan Zhiyan kepada dirinya.
"Insya Allah dengan kejadian tadi menimpa para pengunjung pantai, membuat aku tidak punya alasan untuk menolak mempercayai perkataanmu."
Sahut Zhyan membuat Syakira lega.
"Sebenarnya aku diberikan kelebihan oleh Allah dengan memberiku kesempatan untuk memiliki Indra ke enam. Aku bisa melihat kejadian yang akan terjadi ke depannya baik itu sebulan, seminggu, sehari maupun sejam atau tiba-tiba saja akan terjadi sebelum lima menit berlalu."
"Apakah itu berarti kejadian yang menimpaku beberapa bulan yang lalu adalah peringatan dari Indra ke enam yang kamu miliki itu?"
"Hmm!"
Spontan Zhyan memeluk Syakira karena sudah menyelamatkan dirinya padahal saat itu keduanya merupakan dua orang asing yang sempat berdebat.
"Terimakasih Syakira! Kamu rela menyelamatkan aku padahal aku sudah membuatku kesal sebelumnya.
Andai bukan karena mu, mungkin aku tidak akan bisa bersamamu saat ini."
__ADS_1
Ucap Zhyan masih memeluk Syakira.
"Zhyan bersyukurlah kepada Allah karena Dia yang mengingatkan aku untuk menyelamatkanmu."
Syakira tidak mau takabur dengan mengesampingkan peran Allah dalam kelebihan yang dimilikinya saat ini.
Zhyan merasa kagum dengan setiap nasehat Syakira yang syarat akan nilai agama.
Selama ini, tidak ada yang menasehatinya dengan nilai agama kecuali ibunya dan guru agamanya saat ia masih mengenyam pendidikan di Singapura.
Zhyan semakin yakin dengan pilihannya untuk bisa mempersuntingkan Syakira menjadi istrinya.
Zhyan segera melepaskan pelukannya pada Syakira setelah mendengar bel kamar mereka berbunyi.
Ia membuka pintu untuk pelayan hotel yang membawa makanan untuk mereka. Zhyan memberikan tip untuk pelayan hotel itu dan menutup lagi pintu kamarnya sambil mengucapkan terimakasih pada dua pelayan yang mengantar makanan untuk mereka.
Keduanya menikmati makan malam mereka dengan lahap hingga makanan yang ada di piring itu semuanya habis tak tersisa.
"Ternyata kita berdua hari ini benar-benar lapar berat." Ucap Zhyan membuat Syakira terkekeh.
Usai menyantap makan malam, keduanya memutuskan untuk ngobrol karena sudah kenyang tidur.
Tapi Syakira tidak bisa berlama-lama ngobrol dengan Zhyan karena matanya mulai mengantuk karena kekenyangan.
Keduanya yang sedang duduk di sofa panjang sambil menaikkan kaki mereka di atas meja.
Tanya Zhiyan yang tidak di tanggapi lagi oleh Syakira.
Zhyan melirik kearah Syakira yang ternyata sudah terlelap.
"Astaga! Kamu ini gampang sekali tidurnya."
Zhyan menggendong tubuh Syakira membuat Syakira spontan membuka matanya.
"Apa yang kamu lakukan Zhyan?"
"Aku mau membawamu ke tempat tidur. Apakah kamu tidur di sofa denganku?"
"Turunkan aku! harusnya kamu membangun aku bukan menggendongku."
Protes Syakira sambil berjalan sempoyongan dengan mata terpejam.
Iapun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dalam keadaan telungkup hingga kedua kaki jenjangnya masih bergelantung dipinggir tempat tidur.
Zhyan dengan sabar menaikkan kedua kakinya SYAKIRA sambil membenahi tubuh gadis itu agar lebih ke tengah untuk tidur.
"Syakira! Begini kah keseharian hidupmu yang terkadang kita juga ceroboh?"
__ADS_1
Ucap Zhyan sambil tersenyum melihat wajah cantik Syakira dengan jilbab yang sudah menutup wajahnya.
Seperti apa yang dikuatirkan Syakira padanya, Zhyan yang tiba-tiba merasa ingin memiliki Syakira, saat itu mulai tergoda dengan bibir ranum Syakira.
Rasanya ia ingin memagut bibir kenyal itu seperti yang ia lakukan pada Maura mantan kekasihnya.
Dulu Zhyan selalu bersikap mesra pada Maura nggak mengenal tempat untuk berciuman. Bahkan tidak segan bercinta dengan gadis itu layaknya suami istri.
"Syakira!" Mengapa denganmu aku begitu sulit melakukannya, bahkan tidak bisa menyentuhmu walaupun itu hanya bibirmu saja."
Batin Zhiyan sambil menikmati wajah Syakira dalam keadaan gadis itu tertidur.
...---------------- ...
Keesokan paginya, usai sarapan pagi di restoran hotel, keduanya memutuskan untuk kembali ke apartemen mereka masing-masing. Zhyan mengantar Syakira terlebih dahulu ke apartemennya baru ia pamit pulang.
"Apakah kamu langsung pulang ke apartemenmu Zhyan?"
"Tentu saja Syakira. Tubuhku masih lelah dan aku perlu istirahat sebelum besok kembali bekerja."
"Apakah kamu tidak ingin bertemu dengan ayahku?"
"Apakah beliau akan datang hari ini juga?"
"Mungkin! Ayahku selalu membuat kejutan jika ada kesempatan untuk mengunjungi aku ke sini."
"Wah, itu yang aku tunggu Syakira."
"Kamu terlihat antusias sekali ingin bertemu dengan ayahku." Gurau Syakira.
"Karena aku ingin mendapatkan restu dari ayahmu SYAKIRA dan bila perlu aku ingin meminangmu agar beliau segera menikahkan putri cantiknya denganku."
Ujar Zhiyan percaya diri.
"Cih! percaya diri sekali pria ini, seakan ayahku mau menerima dirinya." Batin SYAKIRA.
"Baiklah Syakira. Aku mau pulang dulu. Sampai jumpa besok pagi. Aku akan menjemputmu dan jangan naik bus dulu, ok?"
"Siap tuan Zhyan!" Sahut Syakira sambil bersikap hormat pada Zhyan.
Syakira kembali ke kamarnya ingin mengganti bajunya. Betapa terkejutnya Syakira saat melihat ayahnya sudah berada di dalam kamarnya.
"Ayah!" Sapa Syakira dengan tubuh gemetar.
"Dari mana kamu SYAKIRA? semalam tidur di mana dan dengan siapa?" Tanya Zefran sambil menahan amarahnya karena putrinya sudah mengkhianati kepercayaan yang diberikannya.
Deggggg...
__ADS_1