
Mikaila membangunkan putrinya yang masih tidur sementara sudah hampir pukul tujuh pagi.
"Syakira! Bangun sayang! kenapa setiap habis sholat subuh selalu tidur lagi? kamu bisa terlambat sayang." Gerutu Mikaila sambil mengguncang tubuh putrinya.
"Dari pada SYAKIRA tidur di kelas lebih baik SYAKIRA tidur dulu di rumah, ibu."
Ujar SYAKIRA membela diri.
"Baiklah. Sekarang mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Seragam dan tas sekolah sudah ibu siapkan." Teriak Mikaila.
Ia bergegas berdandan seadanya. Tidak lama, SYAKIRA sudah keluar dari kamarnya sambil menjinjing tas sekolah.
"Ayo Bu kita berangkat!"
Keduanya masuk ke mobil dan Mikaila langsung membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Ibu!"
"Iya sayang!"
"Apakah ibu dulu pernah bolos sekolah?"
Mikaila tertawa kecil mengenang masa kecilnya yang juga sering bolos sekolah kalau tidak suka pada guru killer.
"Pernah!"
"Apa alasannya?"
"Ya, malas, bosan dan pingin sendiri aja."
"Apakah ibu langsung pulang ke rumah?"
"Tidak! Ibu senang mengunjungi taman atau tempat permainan yang membuat ibu bisa terhibur."
"Apakah SYAKIRA boleh bolos sekolah ibu? please!"
Mikaila terperangah mendengar permintaan putrinya.
"Apakah kamu ingin bermain dengan ibu?"
"Itu yang aku inginkan. Aku ingin menghabiskan waktuku dengan ibu, bolehkah?"
Mikaila menipiskan bibirnya sambil menimang permintaan putrinya.
"Ok, ide yang bagus!"
Mikaila menyetujui permintaan putrinya.
"Horeee!" Ibuku adalah ibu terbaik di dunia. Terus apa yang harus kita lakukan ibu?"
"Bagaimana kalau kita ke toko sepeda?"
Ajak Mikaila.
"Apakah ibu ingin membelikan aku sepeda?"
"Kamu harus belajar lagi naik sepeda. Jika sudah besar nanti kamu harus mandiri, jadi mulailah dengan membawa kendaraan mu sendiri tanpa meminta diantarkan siapapun karena tidak semua orang terdekat di sisimu akan menolong mu, kalau bukan dirimu sendiri." Ujar Mikaila.
__ADS_1
"Iya Bu! Bukankah sekarang SYAKIRA sudah belajar mandi sendiri dan menyisir rambut sendiri?"
"Bagus! itu yang ibu inginkan dari SYAKIRA. Ikuti semua apa yang pernah ibu lakukan untukmu, dengan begitu ibu bisa bekerja dengan tenang tanpa terganggu dengan SYAKIRA lagi."
"Ibu! Kenapa kita tidak pulang saja ke Indonesia. Bertemu dengan ayah dan juga keluarga ibu di Palembang?"
"Kenapa harus pulang ke Indonesia sayang? bukankah rumah dan pekerjaan kita ada di sini?"
"Syakira ingin masuk ke pesantren dan menghabiskan waktu SYAKIRA dengan belajar ilmu Allah. Katanya di sana banyak pesantren modern yang sangat bagus."
"Kenapa harus di Indonesia?"
Syakira ingin menghafal Alquran."
Ujar SYAKIRA terlihat sendu.
Mikaila menepikan mobilnya saat mendengar permintaan putrinya.
"Kenapa harus sekolah di pesantren?"
"Supaya SYAKIRA bisa membuat ibu bahagia. Jika suatu saat nanti ibu meninggal, pahala SYAKIRA bisa tersalurkan semuanya untuk ibu.
Setidaknya ibu tidak mendapatkan azab kubur karena sudah mendapatkan kiriman doa dari SYAKIRA. Syakira pingin jadi anak sholehah.
Bukankah anak ibu hanya SYAKIRA? Siapa lagi yang mendoakan ibu kalau bukan SYAKIRA?" Ucap SYAKIRA membuat Mikaila terenyuh.
"Sayang, putriku!"
Mikaila memeluk putrinya dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi dipipi putrinya. Ia menangis histeris mendengar penuturan putrinya yang sibuk memikirkan kebaikan untuknya.
"Ibu akan memikirkan lagi permintaanmu, sayang. Beri ibu waktu!"
"Ibu! Alangkah baiknya jika kita meninggal dunia di lingkungan umat muslim yang akan mensholat kan jenasah kita lebih dari empat puluh orang sebagai jaminan kita masuk surganya Allah."
Syakira mempersiapkan dirinya untuk kehilangan sang ibu di tanah kelahiran ibu kandungnya.
Syakira ingin ibunya meninggal di sana dan dimakamkan di sana, yang penting di bumi Indonesia.
"Iya sayang. Itu yang ibu pikirkan akhir-akhir ini." Timpal Mikaila.
"Baiklah kalau begitu kita ke toko sepeda, Bu."
Syakira mengalihkan kesedihannya dengan kesenangan yang ibunya tawarkan kepadanya.
Syakira mulai berdendang lagu yang biasanya ibunya nyanyikan jika rindu tanah air Indonesia.
"Tanah tumpah darahku yang suci mulia. Indah dan permai bagaikan intan permata. Tanah airku, tanah pusaka ibuku. Selama hidupku, aku setia padamu."
Keduanya bernyanyi bersama mengulangi penggalan lagu kebangsaan itu.
Kali ini Mikaila yang berdendang sendirian dan putrinya mendengarkan suara merdu ibunya.
"Di sana, tempat lahir Beta. Di buai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata."
Air mata Mikaila makin tak terbendung saat mendendangkan kalimat terakhir lagu itu, tempat akhir menutup mata.
Syakira membiarkan Ibunya menangis mengenang tanah airnya. Dengan begitu ibunya tergerak hatinya untuk kembali ke Indonesia dan meninggal di sana.
__ADS_1
...----------------...
Mikaila mengajak putrinya belajar sepeda di salah satu lapangan olahraga yang ada di komplek perumahan mereka. Malam itu ia gigih melatih SYAKIRA agar bisa naik sepeda tanpa bantuannya.
"Ayolah sayang, kayuh terus pedal sepedanya. Jangan takut, ibu akan menjagamu dari belakang supaya kamu tidak jatuh." Ujar Mikaila sambil memegangi jok sadel sepeda putrinya.
Lama juga SYAKIRA mengimbangi stir sepedanya hingga ia mampu menjalankan sepedanya sendiri.
"Ibu, jangan dilepas pegangannya! Syakira takut jatuh." Pinta SYAKIRA ketakutan.
"Iya sayang, ibu tidak akan melepaskan pegangan ibu sampai kamu bisa." Ujar Mikaila sambil mendorong sepeda putrinya.
Melihat SYAKIRA sudah bisa mengimbangi ketika mengayuh sepedanya, Mikaila melepaskan pegangannya dan SYAKIRA bisa melakukannya sendiri tanpa tahu ibunya sudah melepaskan pegangan pada sadel sepedanya.
Nafas Mikaila naik turun sambil melihat putrinya sudah mampu naik sepeda sendiri. Tapi, tiba-tiba pandangannya mulai kabur melihat putrinya dari kejauhan.
"Ya Allah, jangan ambilkan penglihatan ku sekarang!" Pinta Mikaila sambil menarik nafasnya yang masih terengah-engah.
Ia pun istirahat di salah satu bangku panjang yang ada di arena olahraga itu.
"Syakira! Jika suatu saat nanti ibu pergi meninggalkanmu, jangan pernah lupa bahwa ibu sangat mencintaimu.
Hiduplah bahagia bersama ayahmu dan jadilah wanita kuat agar tidak bergantung pada lelaki sekalipun ia sangat mencintaimu karena kita tidak pernah tahu takdir Allah seperti apa yang akan kita jalani hari esok." Mikaila bermonolog.
"Ibuuuu! Horeee! Syakira sudah bisa naik sepeda sendiri, ibu."
Teriak SYAKIRA kegirangan sambil mengayuh sepedanya.
Mikaila bertepuk tangan atas keberhasilan putrinya. Ia memberi semangat agar SYAKIRA tidak berhenti belajar.
"Syakira! Minum dulu sayang! Kamu pasti haus."
Syakira berhenti di hadapan ibunya lalu turun dari sepeda. Ia meneguk air putih sampai tandas.
"Astaga! rupanya putri ibu haus berat ya."
"Sejak tadi Syakira sudah menahan haus Bu. Karena terlalu bersemangat belajar sepeda, SYAKIRA jadi lupa untuk minum.
Untung ada ibu yang selalu ngingetin SYAKIRA. Bagaimana kalau ibu nggak ada ya, siapa yang akan mengingatkan SYAKIRA?"
Ucap SYAKIRA tidak sadar membuat Mikaila menautkan alisnya.
Deggggg...
Mikaila begitu takut untuk bertanya kepada putrinya, apakah SYAKIRA sudah mengetahui kalau dirinya saat ini sedang sakit parah.
Tapi melihat wajah datar SYAKIRA, Mikaila merasa lega, kalau perkataan putrinya hanya sebuah kebetulan bukan sindiran.
"Ayo kita pulang sayang, ini sudah malam." Ujar Mikaila.
Mikaila meminta SYAKIRA untuk naik lagi sepedanya sambil berjalan beriringan dengannya.
"Ibu! andai saja aku bisa meminta waktu ini berhenti sebentar saja, ingin rasanya aku membahagiakan ibu setiap saat.
Namun sayang, waktu terus berlalu sementara masih banyak yang ingin aku lakukan untuk membahagiakan kamu, ibu."
Ujar SYAKIRA dalam diamnya.
__ADS_1