Putri Rahasia Raja Mafia

Putri Rahasia Raja Mafia
8. SIAPA MEREKA..?


__ADS_3

Zefran menghentikan ciumannya pada Mikaila karena istrinya ini tiba-tiba terlihat lemas karena kehabisan oksigen.


Gadis yang sedang berbadan dua ini tidak bisa membiarkan begitu saja Zefran mengusai tubuh dan pikirannya karena dendamnya pada Zefran yang meninggalkannya begitu saja tanpa ada kabar berita untuknya.


"Mikaila! Ada apa sayang?" Tanya Zefran panik.


"Apakah saat ini kamu ingin membunuhku, hah?"


Omel Mikaila dengan nafas tersengal. Dada Zefran didorong dengan kasar oleh Mikaila.


"Maafkan sayang! Aku terlalu merindukanmu hingga tidak memperhatikan kondisimu.


Apa kabar sayang! Apakah kamu merindukanku juga, hmm?" Tanya Zefran berentetan membuat Mikaila sangat jengah.


"Tidak perlu tampil naif kepadaku Zefran! Aku sudah mengetahui siapa dirimu dan kamu kini sudah memiliki istri lagi dan parahnya saat ini kalian berdua sedang menjalani program bayi tabung."


Deggggg..


"Bagaimana bisa kamu mengetahuinya?" Tanya Zefran heran.


"Bukankah kalian para borju lebih terkenal daripada orang seperti aku yang hanya dikenal satu malam saja dan langsung dinikahi seperti mie instan." Sindir Mikaila sarkas.


"Setidaknya aku memperlakukan kamu terhormat daripada menjerumuskanmu terlebih dahulu dan meninggalkan kamu begitu saja dengan segudang janji yang pada akhirnya membuatmu sengsara dengan reputasi yang buruk. Pilih mana instan terhormat atau gadis sekali pakai dibuang?" Timpal Zefran.


Mikaila terdiam menyimak perkataan suaminya yang memang benar adanya.


"Tapi tidak berarti aku harus ditinggalkan kawin olehmu lagi, bukan?"


"Aku tidak punya pilihan lain Mikaila untuk melindungimu agar tetap aman dari ancaman keluargaku." Batin Zefran.


"Kenapa diam? Apakah karena status sosialku yang tidak sesuai dengan keluargamu, lantas kamu dengan mudahnya berpaling dariku, begitu?" Tuduh Mikaila sengit.


"Aku bukan seperti yang kamu katakan itu Mikaila." Bantah Zefran tidak terima tuduhan istrinya.


"Lantas apa masalahnya? Apakah wanita itu sudah mengetahui kalau kamu sudah memiliki istri, yaitu aku?"


Zefran menggeleng lemah. Pria tampan itu tiba-tiba tertunduk lesu karena ketidakmampuannya melawan keinginan sang ayah dengan memanfaatkan istri pertamanya."


Karena tidak ada tanggapan dari Zefran, Mikaila mengusir suaminya dari mobilnya.


"Keluar... keluar dari mobilku brengsek!" Umpat Mikaila kesal.

__ADS_1


"Tidak sayang! Aku ingin mengantarmu pulang dan ingin mengetahui tempat tinggal mu sekarang. Apakah kamu sudah lama berada di Jakarta?"


"Bukan urusanmu. Aku minta kamu keluar dari mobilku dan aku ingin kita cerai." Ujar Mikaila mulai berkaca-kaca.


"Mikailaaaa!"


Bentak Zefran geram.


"Apakah kamu kira aku mau dimadu? jika pada akhirnya aku tahu kalau aku bakal di madu, aku tidak akan pernah mau menikah denganmu." Ujar Mikaila sambil berdecih.


"Aku tidak peduli dengan istri keduaku. Aku melakukannya karena banyak hal yang tidak bisa aku jelaskan kepadamu, sayang." Ujar Zefran dengan wajah sendu.


"Itu urusanmu dengan keluargamu dan juga wanita itu. Aku hanya tidak ingin hatiku setiap saat harus menderita tiap kali membayangkan bagaimana suamiku harus berbagi tubuhnya dengan wanita lain." Ujar Mikaila ketus.


Zefran bingung menjelaskan pada Mikaila jika pernikahannya dengan Hesty hanya untuk melindungi gadis itu tetap aman.


"Kau lebih memilih menghabiskan waktumu dengannya dan membiarkan aku merana sendirian di kampung dan lebih menyakitkan lagi aku mencarimu seperti orang gila di kota sebesar ini tanpa ada alamat tempat tinggal mu. Aku hanya mengandalkan instingku berdasarkan petunjuk dari Allah." Ujar Mikaila panjang lebar.


"Kebersamaan yang terjadi setiap waktu tidak menjamin kebahagiaan itu ada Mikaila. Tanpa melihat ragamu setiap waktu, namun setiap saat aku selalu merindukanmu." Ujar Zefran.


"Apakah kamu kira aku kenyang dengan rasa rinduku padamu, begitu? bagaimana dengan rinduku yang tidak pernah terbalaskan olehmu, hah? Boro-boro mau menemui ku, menanyakan kabar saja kamu enggan. Suami macam apa kamu ini, Zefran!?"


"Mikaila!"


Jelas Zefran untuk membuat Mikaila mengerti posisinya saat ini.


"Sekarang kamu sudah di sini, sebaiknya cepat jelaskan karena saat ini kamu sudah jauh dari istri keduamu itu, bukan? apakah kamu takut ada yang sedang mengawasi kamu menemui ku?"


Deggggg.....


"Baiklah. Aku akan menjelaskannya padamu. Tapi aku harus mengetahui di mana alamatmu supaya aku bisa menemuimu kapan saja." Pinta Zefran lembut.


"Ok, kalau begitu kamu yang bawa mobil ini dengan sendirinya kamu akan mengetahui di mana aku tinggal." Ujar Mikaila senang sudah mulai melunak pada sang suami.


"Oh ya!"


Apakah mobil ini akan memberitahu aku, arah tempat tinggal mu?"


"Hmm!"


"Ok, baiklah. kita berangkat sayang! Balas Zefran sambil mencium punggung tangan istrinya.

__ADS_1


Baru saja mobil mewah milik Mikaila keluar dari pelataran parkir basemen, mobil itu di hadang oleh beberapa orang anak buahnya tuan Noya membuat Zefran tersentak.


Zefran menginjak rem mobilnya Mikaila sekuat mungkin, hingga akhirnya ban mobil itu berderit kencang saat mengenai aspal.


Mikaila yang hampir terbanting ke depan gara-gara rem mendadak dilakukan oleh suaminya, berusaha menahan tubuhnya dengan tangan menjauhi benturan pada tubuhnya untuk melindungi janinnya.


Keduanya melihat lima orang lelaki yang bertubuh tinggi besar berdiri di depan mobil itu.


"Siapa mereka Zefran?"


Tanya Mikaila ketakutan sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh suaminya.


"Tenang sayang! Mereka hanya menginginkan aku dan sebaiknya kamu harus pulang sendiri.


Apapun yang terjadi padaku, percayalah sayang kalau aku sangat mencintaimu Mikaila!"


Ucap Zefran lalu buru-buru keluar dari mobil istrinya. Mikaila pindah ke kursi sopir sambil melihat suaminya di bawa pergi oleh para lelaki bertubuh besar itu.


"Aku akan menurut pada kalian asalkan jangan menyakiti istriku." Lirih Zefran sambil berjalan seperti biasa menuju mobilnya yang sudah menunggu dengan sopir pribadinya.


Mikaila diam-diam menyaksikan itu semua. Ia mulai memahami bahwa pengorbanan suaminya semata-mata demi melindungi dirinya.


"Apakah semua ini ada hubungannya denganku, sayang? Kamu terlihat mengalah bahkan pasrah tanpa perlawanan mengikuti anak buahmu atas perintah ayahmu, bukan." Ujar Mikaila lirih sambil mengikuti mobil mewah milik suaminya yang makin menjauh meninggalkan mobilnya di jalan raya itu.


"Kasihan suamiku. Ia tidak berdaya dengan ancaman ayahnya. Sepertinya benar aku adalah alasannya untuk mengalah."


Mikaila menangis sepanjang jalan menuju apartemen miliknya.


"Apakah Zefran perlu tahu kalau saat ini aku sedang mengandung bayinya?


Tapi jika dia mengetahuinya, dia hanya mengambil bayiku saja tanpa diriku dan itupun pasti perintah ayahnya." Batin Mikaila.


Mikaila membawa belanjaannya dan masuk ke kamar apartemennya dengan wajah lesu.


Ia sudah sangat gembira bisa bertemu dengan suaminya hari ini.


Khayalannya sempat melambung tinggi untuk mendapatkan perhatian lebih dari suaminya. Ia ingin bercinta dengan suaminya lagi setelah sekian lama mereka berpisah.


Namun harapan itu pupus. Ia hanya diberikan waktu sesaat saja bisa bersama dengan suaminya dan itupun hanya mendapatkan ciuman penuh kemesraan yang barusan mereka lakukan ditempat parkir mall.


Mikaila menghempaskan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Ia membenamkan wajahnya di bantal dan menangis sejadi jadinya karena haknya sebagai istri telah dirampas oleh suatu kekuasaan yang lebih tinggi oleh ayah mertuanya.

__ADS_1


"Sayang! Kita tidak bisa berkumpul dengan ayah. Mungkin ayah akan menemui kita suatu saat nanti, entah sampai kapan." Ujar Mikaila sambil mengusap perutnya.


__ADS_2