
Zefran melihat wajah cantik istrinya yang masih tenang dalam tidurnya dengan nafas yang tetap stabil seakan tidak peduli dengan rasa syok nya pada sang istri yang tak berkesudahan.
"Tuan! Saya pamit dulu!" Ucap Araa buru-buru meninggalkan Zefran dengan segudang pertanyaan yang berkecamuk dipikirannya.
"Mikaila! Aku tidak mengerti dengan semua ini sayang. Apa yang terjadi padamu? Bagaimana mungkin kamu bisa memiliki perusahaan sendiri di negara orang lain.
Apa yang sudah kamu lakukan dengan gebrakan besar di luar dari dugaanku? Apakah kerena kamu memiliki segalanya sehingga membuatmu menjadi wanita tangguh dan siap pisah denganku saat itu?" Tanya Zefran sambil membelai pipi Mikaila.
Tidak lama jari jemari tangan Mikaila mulai bergerak perlahan dengan gumaman menahan sakit. Zefran sigap mendekati wajah istrinya.
"Mikaila!"
Zefran ingin saat Mikaila membuka matanya hanya wajahnya yang dilihat gadis itu.
"Zefran!"
Satu nama itu lolos juga dari mulutnya Mikaila membuat Zefran sangat senang karena namanya yang dipanggil istrinya.
"Apa yang kamu butuhkan?"
"Aku ingin duduk Zefran!"
Zefran mengatur ranjang tidur Mikaila sedikit tinggi agar bisa bersandar santai dan ngobrol dengannya.
"Mau minum..?"
Mikaila mengangguk lemah. Zefran membantunya untuk minum. Zefran menekan tombol nurse call. Dalam sekejap dokter dan suster datang bersamaan dan mulai melakukan pemeriksaan pada Mikaila.
Tim medis itu tampak lega melihat pasiennya sudah siuman.
"Nona Mikaila! sebaiknya anda makan dan minum obat agar cepat pulih dan bisa kembali ke rumah dengan keluarga." Ujar dokter Kyu.
"Kira-kira aku kapan bisa pulang dokter?" tanya Mikaila yang sudah rindu pada rumah dan putrinya.
"Mungkin sekitar dua hari lagi anda baru boleh diijinkan pulang dan itupun kondisimu harus benar-benar pulih, nona Mikaila ." Jawab dokter Kyu.
"Terimakasih dokter!"
Dokter Kyu meninggalkan kamar Mikaila. Tidak lama kemudian bagian dapur rumah sakit datang membawa bubur abalon untuk Mikaila.
__ADS_1
Zefran menyuapi istrinya dengan sangat telaten. Mikaila menghabiskan makanannya dan meminum obat yang sudah ada di tangan Zefran. Lima jenis obat itu di minumnya sekaligus.
"Terimakasih Zefran. Maafkan aku sudah menyusahkan mu."
"Aisss! Kamu ini bicara apa sayang? kita ini suami istri dan sudah sepatutnya saling tolong menolong. Oh iya tadi sekertaris mu yang bernama Araa ke sini. Dia bilang ada yang harus ia bicarakan kepadamu tentang desain busana yang akan kalian launching." Ujar Zefran sekaligus memancing reaksi istrinya.
Mikaila hanya menanggapinya dengan senyum. Ia tidak begitu kaget dengan perkataan suaminya.
"Maafkan aku Zefran! Selama ini aku merahasiakan nya darimu."
"Bagaimana mungkin kamu bisa memiliki perusahaan sendiri?"
"Semuanya berawal dari uangmu yang kamu transfer begitu banyak hingga aku berpikir apa yang bisa aku lakukan dengan uang itu agar bisa bermanfaat bukan hanya untukku saja tapi untuk orang lain.
Akhirnya aku menggunakannya untuk membeli saham dan ternyata progres nya bagus. Dengan berbekal pendidikan manajemen bisnis yang aku tempuh, akhirnya aku bisa membangun perusahaan sendiri dibantu oleh dokter AE RI yang punya banyak koneksi di bidang yang sama denganku untuk membantuku mengembangkan usahaku hingga berkembang pesat sampai saat ini." Ujar Mikaila.
"Masya Allah. Ternyata kamu sangat pintar sayang bisa mengusai bisnis dalam waktu singkat. Kamu mampu membaca kemauan pasar yang dibutuhkan mereka saat ini." Puji Zefran.
Zefran lebih mendekatkan wajahnya ke Mikaila sehingga tidak ada jarak yang terkikis diantara wajah keduanya. Ciuman kembali terjadi di antara keduanya.
Rasa kagum, haru dan apa lagi yang dirasakan oleh Zefran saat ini pada sang istri yang tidak bisa lagi ia gambarkan untuk sosok yang paling istimewa dihatinya kini.
Mungkin jika bisa, ia ingin mengulang kembali masa kebersamaan mereka seperti dulu dan tidak membuat kesalahan pada istri dan putrinya SYAKIRA.
"Zefran!"
"Jika usiaku tidak cukup menemani SYAKIRA, bawah lah putrimu bersamamu. Aku tidak tahu siapa yang pantas untuk mera...?"
"Hentikan Mikaila! Jangan bicara hal yang membuatku sedih! Aku ingin kamu hidup sampai SYAKIRA dewasa." Pinta Zefran dengan hati makin terenyuh.
"Ini wasiatku untukmu Zefran."
"Mikaila! Sudahlah sayang. Hatiku saat ini sedang bahagia sehingga aku begitu takut mendengarkan sesuatu yang membuatku seakan tak bisa bernafas lega." Keluh Zefran membuat Mikaila terdiam.
...----------------...
Zefran membawa pulang istrinya ke kediaman Mikaila setelah diperbolehkan pulang oleh dokter Kyu.
Mikaila rajin mengkonsumsi makanan sehat, rutin minum obat, dan berusaha melakukan gerakan yoga ringan untuk mengembalikan kebugarannya.
__ADS_1
Sudah hampir dua Minggu Zefran berada soul menemani istrinya hingga Mikaila benar-benar terlihat sehat kembali walaupun kanker itu masih bersarang di tubuhnya.
Ia harus menyelesaikan pekerjaannya sekaligus ingin mengumumkan mengumumkan sakitnya pada karyawannya.
Tapi itu akan dilakukannya usai pergelaran busana untuk musim salju yang akan tiba beberapa hari lagi sesuai dengan perkiraan BMKG di negara tersebut.
Pagi itu, Zefran mengantar sendiri putrinya SYAKIRA ke sekolah. Syakira terlihat bahagia karena ayahnya yang mengantarkannya ke sekolah agar terlihat oleh teman-temannya yang selama ini mengatakan kalau dia anak haram karena tidak jelas keberadaan ayahnya.
Sementara di rumahnya, Mikaila menerima telepon dari kakaknya Hanna yang selama ini jarang sekali melakukan komunikasi dengan dirinya.
"Mikaila!"
"Iya kak?"
"Aku dengar kamu sakit parah. Apakah itu benar?"
"Benar kak Hanna."
"Mikaila, jika kamu kuatir tentang SYAKIRA putrimu, aku siap merawatnya sampai dia dewasa walaupun kehidupan ku sendiri sangat sempit. Ku dengar kamu punya perusahaan di Korea Selatan, apakah itu benar?"
"Iya kak."
"Kalau kamu tidak keberatan, biar suamiku yang menggantikan posisimu untuk mengelola perusahaan mu itu hingga SYAKIRA dewasa. Apakah kamu bersedia menerima tawaranku?"
Ucap Hanna tanpa beban dan terkesan tidak tahu malu.
"Apakah kakak Hanna lupa kalau SYAKIRA masih punya ayah? Aku akan menyerahkan dia pada ayahnya bukan pada kak Hanna." Ujar Mikaila membuat Hanna menjadi berang.
"Tapi Mikaila, apakah kamu tidak kuatir pada putrimu yang harus dirawat oleh ibu tirinya? yang belum tentu menyayangi SYAKIRA seperti anaknya sendiri." Timpal Hanna dengan bujukan mautnya.
"Itu menjadi urusannya Zefran kak karena dia lebih mengetahui bagaimana cara melindungi putrinya. Aku kira Syakira mudah beradaptasi dengan siapa saja jika suatu saat nanti aku telah tiada."
"Tapi Mikaila, aku ini kakak kandungmu sendiri yang otomatis lebih menyayangi SYAKIRA daripada ayahnya sekalipun.
Lagipula putrimu tidak akan kekurangan karena dia punya asuransi pendidikan dan lainnya bukan?" Tanya Hanna makin membuat Mikaila sangat sakit hati.
"Mohon maaf kak, aku tidak perlu mengulangi perkataanku, karena SYAKIRA masih punya ayah yang mampu merawatnya.
Lagi pula putriku sangat mandiri dan tak akan menyusahkan orang lain termasuk ibu tirinya." Ujar Mikaila lalu segera pamit dari kakaknya Hanna karena terlalu geram pada kakaknya Hanna.
__ADS_1
"Dasar perempuan penyakitan! Sudah tahu mau mati besok, masih saja gila sama harta. Bukannya banyak beramal Sholeh untuk saudaranya yang nggak punya sepertiku.
Aku inikan kakak kandungnya, bukankah kerabat lebih diutamakan dari pada orang lain." Gerutu Hanna makin meradang dengan adik bungsunya Mikaila.