
Syakira mencari cara untuk bisa mendapatkan alasan yang tepat agar ibunya tidak marah padanya.
"Ibu! Teman-temanku sudah pada pulang dan aku tidak mau tunggu di luar sendirian. Makanya aku sengaja ke ruangan latihan taekwondo."
"Apakah ada temanmu latihan taekwondo juga?"
"Tidak ada ibu. Aku hanya ngobrol dengan pelatihnya saja."
"Apakah kamu mengenal pelatihnya?"
"Iya bu. Namanya Oppa Kwan. Dia sangat baik pada SYAKIRA."
"Baiklah. Ayo kita pulang!"
Mikaila melangkah keluar sambil menggandeng tangan putrinya. Tiba-tiba saja pandangannya mulai kabur lagi. Nafasnya mulai tersengal dengan peluh bercucuran di pelipis dan lehernya.
Syakira mendongakkan wajahnya menatap ibunya yang terlihat pucat sambil memegang kepalanya.
"Ibu..! Ibu kenapa?" Syakira mengajak ibunya duduk sebentar di kursi yang ada di luar gedung itu.
Gadis ini tetap bersikap tenang walaupun hatinya sangat kuatir.
Di saat yang sama, Oppa Kwan juga ingin pulang juga. Melihat SYAKIRA yang sedang memeluk ibunya yang terlihat makin lemas, Oppa Kwan menghampiri SYAKIRA.
"Syakira! Ada apa dengan ibumu?"
"Oppa! Tolong bawa ibuku ke rumah sakit!" Pinta SYAKIRA sambil menangis.
Oppa Kwan menggendong tubuh Mikaila membawanya ke dalam mobil mewah milik Mikaila. Syakira menemani ibunya di jok belakang mobil. Sementara Oppa Kwan menyetir mobil menuju rumah sakit yang sudah diberitahu SYAKIRA.
Setibanya di rumah sakit, Mikaila segera dirawat di ruang IGD. Syakira menghubungi dokter Ae RI yang kebetulan ada jadwal praktek hari ini.
Dokter Ae RI segera menemui SYAKIRA yang sedang menunggu ibunya.
"Tante!"
"Syakira!"
Keduanya berpelukan. Dokter Ae RI mencoba menenangkan SYAKIRA. Sementara Oppa Kwan hanya memperhatikan keduanya dengan perasaan bingung.
Dokter Kyu memanggil dokter Ae RI untuk menjelaskan penyakit Mikaila yang makin kronis kepada gadis ini.
"Sepertinya nona Mikaila sudah tidak bisa bertahan lama hidupnya, dokter Ae RI.
Tolong bahagiakan dia di sisa hidupnya dengan orang-orang terdekatnya." Ujar dokter Kyu tanpa melihat SYAKIRA yang diam-diam ikut mendengarkan obrolan mereka.
Gadis ini buru-buru keluar dan mencari ponsel ibunya untuk menghubungi ayahnya Zefran. Zefran yang baru selesai meeting dengan para pemegang saham mengambil ponselnya dan melihat panggilan dari istrinya.
Betapa senangnya Zefran ketika mendapatkan telepon dari mantan istrinya itu. Karena selama ini ia sudah sangat merindukan Mikaila.
"Assalamualaikum Mikaila!"
Sapa Zefran sambil menunggu balasan dari seberang telepon.
"Waalaikumuslam ayah!"
Balas SYAKIRA hampir membuat ayahnya jantungan.
Suara SYAKIRA yang terdengar parau sambil menahan tangisnya.
"Syakira..? ini benar SYAKIRA nya ayah?"
Tanya Zefran setengah tak percaya, kalau putrinya yang menghubunginya.
"Iya ini aku ayah!"
__ADS_1
"Apa kabar sayang!"
"Buruk ayah!"
"Maksudmu..?"
"Ibu sedang sakit parah dan hidupnya tidak lama lagi."
Degggg..
Zefran langsung berdiri dan keluar dari ruang kerjanya sambil membawa tas kerjanya.
"Syakira! tunggu ayah, sayang! ayah berangkat ke Korea Selatan sekarang juga."
"Ayah!"
"Iya sayang..!"
"Bolehkan SYAKIRA meminta sesuatu kepada ayah?"
"Katakan! apa yang Syakira inginkan dari ayah?"
"Menikahlah dengan ibu!"
Langkah Zefran terhenti dan hatinya merasa sangat bahagia mendapatkan lampu hijau dari putrinya untuk bisa memiliki lagi wanita pujaannya.
"Baik sayang! Ayah akan membawa penghulu bersama ayah untuk menikahi ibumu."
"Hanya ayahlah yang ibu cintai dan hanya ayah yang membahagiakan ibu selain Syakira."
"Terimakasih SYAKIRA, ayah bangga memiliki putri sepertimu sayang." Ujar Zefran.
Syakira menutup teleponnya dan menghubungi keluarga ibunya. Ia menghubungi pamannya beberapa kali namun panggilan itu di luar jangkauan.
Rupanya pamannya saat ini sedang rapat anggota dewan dan ponselnya ditinggalkan di ruang kerjanya.
Syakira hanya meninggalkan sebuah pesan untuk paman dan Tantenya.
...----------------...
Zefran langsung menuju rumah sakit di mana Mikaila sedang di rawat. Zefran melihat putrinya sedang tidur di tempat tidur keluarga pasien yang di kamar inap VVIP tersebut.
Sementara dokter Ae RI sedang duduk di samping Mikaila yang sedang tertidur.
Dokter Ae RI segera berdiri begitu melihat Zefran masuk. Ia sangat heran melihat Zefran yang mengetahui Mikaila sedang dirawat di rumah sakit ini.
"Bagaimana keadaan Mikaila, dokter?"
"Keadaannya sudah lebih baik Tuan Zefran ."
"Syukurlah!"
"Bagaimana anda bisa tahu Mikaila masuk rumah sakit?"
"Putriku SYAKIRA yang menghubungi aku. Makanya aku buru-buru ke sini." Ujar Zefran.
"Apakah SYAKIRA sudah menceritakan semuanya pada anda tentang sakit ibunya?"
Zefran menautkan alisnya saat mendengar pertanyaan dokter Ae RI.
"Dia hanya mengatakan ibunya sakit parah dan aku langsung berangkat ke sini." Jawab Zefran.
"Baiklah. Sebaiknya kita bicara diluar saja karena keduanya sedang tidur." Ajak dokter Ae RI.
Keduanya berdiri didepan kamar Mikaila dan mulai berkenalan secara resmi walaupun mereka sudah pernah bertemu saat SYAKIRA masih kecil.
__ADS_1
Walaupun begitu, keduanya sudah mengetahui latar belakang kehidupan mereka masing-masing. Dan sumber informasinya adalah Mikaila sendiri yang menceritakan tentang keduanya.
"Apakah selama ini, Mikaila sering berkomunikasi denganmu?"
"Tidak pernah semenjak SYAKIRA menolak bertemu denganku."
"Dan kamu sama sekali tidak berusaha menghubungi keduanya?"
"Karena keduanya memblokir nomor ponselku." Ujar Zefran berdalih.
"Baiklah. Untuk lebih jelasnya biar aku menceritakan kepadamu tentang kondisi penyakit yang diderita oleh Mikaila saat ini.
Sudah hampir tiga bulan Mikaila menderita sakit kangker lambung stadium lanjut."
Deggggg...
Zefran termangu di tempatnya berdiri. Ia ingin masuk menemui Mikaila namun di cegah oleh dokter AE RI.
"Dengar dulu penjelasanku tuan Zefran!"
Zefran berbalik dan melihat wajah cantik dokter Ae RI yang masih ingin menceritakan banyak hal tentang sakitnya Mikaila.
"Aku tidak ingin mendengarkan nya. Cukup dengan mengetahui penyakitnya, aku sudah mengetahui kalau ibu dari putriku sedang menghadapi maut." Balas Zefran lirih.
"Masalahnya, sampai saat ini Mikaila tidak mengetahui kalau putri kalian sudah mengetahui semuanya. Syakira memintaku agar ibunya tidak perlu kuatir kalau dia sudah tahu tentang penyakitnya. Karena SYAKIRA ingin ibunya tenang dan menganggapnya semuanya baik-baik saja."
"Sudah separah ini, kamu masih merasa ini perlu dirahasiakan? terimakasih dokter Ae RI. Aku minta waktu untuk bersama keluargaku." Pinta Zefran tulus.
"Baiklah. Aku akan meninggalkan kalian. Permisi!"
Zefran masuk kedalam kamar inap istrinya dan menghampiri Mikaila yang masih tidur karena dibawah pengaruh obat penenang.
Zefran duduk di samping Mikaila sambil memegang tangan Mikaila yang sedang dipasang saturasi.
Hidungnya juga di pasang selang oksigen dan juga cairan infus di sebelahnya mengalir perdetik memasuki pembuluh darahnya lewat jarum infus.
"Mikaila, sayang! aku mencintaimu." Zefran mengecup punggung tangan Mikaila sambil berlinangan air mata.
Mikaila merasa bahwa ia sedang bertemu dengan Zefran di alam mimpinya. Ia tersenyum dalam tidurnya sambil mengigau memanggil nama Zefran.
"Zefran.. aku mencintaimu!"
Deggggg....
Zefran merasa haru mendengarkan pengakuan istrinya di alam bawah sadarnya.
"Mikaila! Mengapa kamu jadi seperti ini sayang? mengapa menyembunyikan penderitaan mu sendiri? kenapa kamu merahasiakannya dariku? apakah kamu tidak tahu, kalau aku masih sangat mencintaimu.
Api cintaku tidak pernah padam untukmu walaupun aku pernah salah paham padamu."
Zefran menangis di atas perutnya Mikaila membuat gadis ini perlahan membuka matanya.
Ia mengusap kepala Zefran dengan tangannya sambil berlinangan air mata.
merasa usapan tangan Mikaila, Zefran mengangkat kepalanya dan melihat wajah pucat Mikaila.
Mikaila membuka cup oksigen dari mulutnya karena ingin bicara dengan Zefran.
"Aku kira, aku hanya mimpi Zefran. Ternyata kamu benar-benar datang melihatku. Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku ada di sini?"
Tanpa ingin menjawab pertanyaan Mikaila , Zefran nekat memagut bibir Mikaila hingga gadis itu terhenyak.
Mikaila ingin mendorong wajah Zefran, namun ayah dari SYAKIRA ini makin memperdalam ciumannya.
......
__ADS_1
"Apakah ada yang tahu mengapa Zefran berani mencium Mikaila?"