Putri Rahasia Raja Mafia

Putri Rahasia Raja Mafia
30. Demi Ibu


__ADS_3

Mikaila mendekati putrinya sambil menahan amarahnya.


"Jika sikapmu seperti ini, kamu tidak akan punya teman apa lagi untuk menikah, apakah kamu kira ibu akan menemanimu terus menerus di dunia ini, hah?"


"Ya! aku tidak ingin menikah dan tidak ingin berteman dengan siapapun. Aku ingin tinggal dengan ibu seumur hidupku."


"Bagaimana kalau ibu tidak bisa menemanimu selama itu? bisa saja kapanpun ibu akan meninggalkan kamu, entah itu bulan depan, Minggu depan bahkan besok. Lantas apa yang akan kamu lakukan tanpa orang lain yang membantumu, hah?"


Deggggg....


Syakira syok dengan perkataan ibunya. Matanya terasa sangat panas dengan tangisnya mulai tercekat memenuhi tenggorokannya.


"Tidak! Ibu tidak akan meninggalkan aku. Jangan terlalu keras kepadaku Bu. Ibu melahirkan aku bukan untuk ditinggalkan. Jika tahu ibu akan pergi secepat ini, aku pun tidak akan minta dilahirkan."


Syakira masuk ke dalam selimutnya. Hatinya makin sakit membayangkan ibunya akan pergi.


Betapa bingungnya ia merasa serba salah antara egonya dan juga keinginan ibunya agar ia bisa berteman lagi dengan teman-temannya yang dulu sangat menyayanginya.


"Ya Allah bantu aku! Beri aku petunjuk!" Ucap SYAKIRA dalam tangisnya.


Zefran membawa istrinya ke kamar mereka. Keduanya saling membicarakan tentang keadaan putri mereka, SYAKIRA.


"Jangan terlalu memaksa kehendak kita kepadanya karena di usianya saat ini, dia sedang menentukan identitasnya sendiri.


Biarkan dia memilih bagaimana hatinya meminta pikirannya untuk berbuat sesuai dengan maunya, bukan kemauan orang lain." Ucap Zefran menasehati istrinya.


"Tapi Zefran, SYAKIRA tidak bisa hidup sendiri kalau cara dia terus menutup dirinya tanpa memberikan kesempatan kepada temannya untuk memahaminya." Protes Mikaila.


"Itu karena putri kita berbeda dengan yang lainnya. Ada orang yang bahagia karena temannya banyak, tapi ada orang yang menikmati kesendiriannya dan itu sudah membuat dirinya bahagia.


Jadi kita butuh teman seperlunya bukan menggantungkan mereka menjadi segalanya untuk kita." Timpal Zefran.


"Kamu bicara seperti itu, tentang putrimu seperti kamu sedang membicarakan dirimu sendiri. Sepertinya sifatmu itu sudah menurun pada putrimu."


"Karena jiwa seorang pemimpin tidak begitu membutuhkan orang lain untuk membuat dirinya mampu merubah dunia karena ia sudah memiliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya menjadi sesuatu yang dibutuhkan dunia melalui pemikirannya.


Orang yang menyendiri lebih banyak waktu untuk ngobrol dengan Tuhannya karena itu lebih banyak memberikan keuntungan lebih untuknya dari pada memiliki banyak teman tapi kurang berkualitas dalam memberikan kontribusi untuknya dalam hal menyumbangkan ide atau membuat konsep."


"Apa maksudmu Zefran?"

__ADS_1


"Maksudku adalah di saat kita sendirian, kita lebih banyak punya waktu untuk bertanya kepada Allah, apa yang harus kita lakukan untuk masalah ini dan itu, dengan begitu petunjuk Allah lebih cepat sampai melalui suara hati kita karena suara hati itu adalah suatu kebenaran.


Dibandingkan jika kita bertanya pada teman, mereka lebih banyak mempengaruhi kita dengan pemikiran mereka yang belum tentu memberikan jawaban yang memuaskan untuk kita."


"Waww! Jawabanmu sangat keren Zefran. Justru jawabanmu yang seharusnya lebih aku butuhkan bahkan aku harus amalkan untuk bekalku di waktu ku yang makin sedikit ini." Ujar Mikaila.


"Kenapa pembicaraan hangat kita harus berujung pada kesedihan Mikaila? Kamu seakan merasa penyakit itu adalah penentu ajal padahal orang yang sehat pun ajalnya juga datang tanpa ia


duga."


"Zefran! yang kamu katakan itu benar, sayang. Sepertinya aku harus lebih banyak beramal, melalui sholat selain sholat fardhu, membaca Alquran dan berinfaq juga silaturahim." Ujar Mikaila yang merasa amalnya masih minim saat ini sementara waktunya sedikit lagi.


"Lakukan ibadah karena Allah, karena cintamu kepada Allah bukan karena kamu ingin mati besok." Ujar Zefran terlihat kesal.


"Insya Allah sayang." Ujar Mikaila mengalah.


......................


Beberapa hari kemudian, Zefran pamit kepada Mikaila untuk kembali ke Jakarta setelah memastikan keadaan istrinya yang sudah lebih baik.


"Sayang..!"


"Hmm!"


"Tidak apa Zefran! Aku sekarang sudah lebih baik. Sebaiknya kamu segera pulang karena kamu sudah terlalu lama menemaniku di sini."


"Tidak apakan kalau aku tinggal?"


"Tidak apa sayang."


Mikaila cukup tahu diri karena dirinya sekarang adalah istri kedua walaupun pernah menjadi istri pertama dalam hidup Zefran.


Keesokan harinya, Zefran pamit kepada anak dan istrinya. Syakira terlihat tidak suka ayahnya meninggalkan mereka berdua karena ia begitu takut jika penyakit Ibunya akan kambuh kapan saja. Tapi karena ayahnya memiliki dua istri membuatnya harus menerima kenyataan itu.


Seperti biasa Zefran pulang dengan pesawat jet pribadinya setelah mengkonfirmasi kepulangannya pada asistennya Rizal untuk menjemputnya di bandara Soekarno-Hatta.


Sepulangnya Zefran, SYAKIRA berangkat sekolah diantar lagi ibunya. Di saat makan siang, ia mengambil makanan milik A Yeong dan itu membuat teman-teman A Yeong cukup tersentak. Wajah A Yeong memerah


"Ternyata makananmu enak juga. Apakah kamu ingin mencoba minumanku?" Tawar SYAKIRA memberikan jus mangga yang di buat ibunya tadi pagi.

__ADS_1


A Yeong mulai mengerti, jika SYAKIRA ingin berbaikan dengannya.


"Aku minta maaf atas sikapku yang sudah membuat kamu sakit hati. Apakah kamu mau memaafkan aku?" Tanya SYAKIRA sambil menyodorkan tangannya untuk minta maaf.


"Baiklah mulai sekarang kamu boleh berteman lagi dengan kami." Ujar A Yeong.


"Terimakasih! Tapi, apakah aku boleh minta tolong kepada kalian?"


"Katakan SYAKIRA! Apa yang bisa kami bantu?" Tanya A Yeong.


"Ibuku saat ini sedang sakit parah dan usianya tidak lama lagi bertahan di dunia ini. Aku ingin menyenangkan hatinya sebelum ia menutup mata untuk selamanya."


Syakira berhenti sesaat karena suaranya sudah terdengar parau.


Teman-temannya memeluknya dan sambil menenangkannya.


"Lalu apa yang kamu inginkan dari kami untuk menyenangkan ibumu?" Tanya A Yeong ikut menangis.


"Bukankah selama ini kalian sedang berlatih untuk lomba komposer musik Minggu depan?"


"Hmm!"


Teman-temannya mengangguk serentak.


"Bolehkah aku ikut serta dalam lomba itu?" Aku sudah berlatih sesuai dengan latihan yang kalian lakukan. Tapi saat lomba itu selesai, maukah kalian berlatih sebuah instrumen musik dari sebuah lagu tentang ibu?"


Teman-temannya saling berpandangan lalu mengangguk menyanggupi permintaan SYAKIRA.


"Berikan not lagu itu pada kami, kita bisa berlatih bersama nanti sore." Ucap A Yeong.


"Terimakasih A Yeong dan teman-teman lainnya. Nanti pulang sekolah, maukah kalian mampir ke rumahku sebentar, agar ibuku tahu kalau kita sudah baikan." Pinta SYAKIRA.


"Baiklah. Kami akan mengunjungi ibumu." Ujar A reum.


Saat pulang sekolah, teman-temannya SYAKIRA mengunjungi Mikaila yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Ibu! Ada teman-teman SYAKIRA ingin menjenguk ibu." Ujar SYAKIRA berbinar.


"Selamat sore Tante!"

__ADS_1


"Sore semuanya! selamat datang di rumah SYAKIRA! silahkan duduk!"


Mikaila duduk menemani teman-teman putrinya. Mereka terlibat obrolan seru sambil menikmati cemilan yang disiapkan oleh pelayan.


__ADS_2