Putri Rahasia Raja Mafia

Putri Rahasia Raja Mafia
40. PEMBUKTIAN


__ADS_3

Mikaila dan keluarganya tidak menyangka bahwa jaksa penuntut umum yang awalnya begitu gigih menekan Mikaila dengan sejumlah fakta yang direkayasa oleh pihak bea cukai, kini dengan lantang membela Mikaila dan pada akhirnya Mikaila diputuskan tidak bersalah karena Mikaila tidak terbukti bersalah.


Mendengar pernyataan hakim yang membebaskan Mikaila dari segala jeratan hukum membuat ibu satu anak ini, menangis haru.


Upaya pembebasan Mikaila tidak serta merta lolos begitu saja karena banyak pihak yang dilibatkan yaitu jaksa penuntut umum, pengacara Mikaila dan tentunya peran suami yang harus ke bandara Incheon untuk meminta rekaman hasil scanning pada koper Mikaila dan Syakira


selama melewati beberapa tahap pemeriksaan sampai di tempat penyimpanan bagasi, untuk dijadikan sebagai bukti.


Zefran memeluk istrinya sambil menangis. Syakira mendekati tuan Mahendra yang mempunyai peran besar dalam kasus tersebut untuk membuktikan ibunya Mikaila tidak bersalah.


"Tuan jaksa!" Tegur SYAKIRA lirih.


Jaksa yang sedang mengemas berkas-berkas perkara Mikaila harus berhenti sesaat karena SYAKIRA sedang menghampirinya.


"Ada apa gadis kecil?"


"Aku tahu, tuan jaksa yang punya andil besar dalam kebebasan untuk ibu saya. Semoga penyakit ayah anda diangkat oleh Allah SWT.


Dan saya yakin karir anda akan lebih cemerlang berkat kerja keras dan integritas anda sebagai jaksa penuntut umum.


Terimakasih tuan jaksa. Walaupun hidup ibuku tidak lama lagi, tapi setidaknya ia meninggal dalam keadaan bebas dari fitnah keji dari dendam seseorang." Ujar SYAKIRA penuh haru.


Syakira segera pamit dari tuan Mahendra yang masih termangu di tempatnya berdiri menatap punggung Syakira yang berjalan dengan wajah tertunduk.


"Ya Allah. Apa yang telah aku lakukan sebelumnya pada ibunya yang saat ini sakit parah sementara anak sekecil itu saja sedang mempersiapkan batinnya untuk kehilangan sang ibu tercinta.


Sementara aku yang sudah sebesar ini, melakukan apa saja untuk mempertahankan kesehatan ayahku dengan cara yang salah. Ampuni aku ya Allah."


Gumam jaksa penuntut umum itu sambil berkaca-kaca.


Sementara itu, Zefran meminta pengacaranya, tuan Rayansa untuk melapor balik tuan Aryo dan kroni-kroninya yang telah merekayasa penangkapan istrinya Mikaila dengan menjebak barang haram itu yang sudah berada dalam koper istrinya.


Zefran sengaja menuntut balik pihak bea cukai bandara, untuk memberikan efek jera pada oknum di dalamnya yang mengambil kesempatan untuk meraup keuntungan dari pihak-pihak tertentu yang memiliki dendam pribadi pada korban atau penumpang pesawat lainnya yang akan menjadi korban mereka berikutnya.


Bukan itu saja, pengorbanan Zefran, suami dari Mikaila ini harus membiayai pengobatan ayah dari tuan Mahendra karena tuan Mahendra sendiri tidak bisa lagi melanjutkan pengobatan untuk ayahnya jika tidak mendapatkan uang yang banyak dengan cara yang salah.


Setibanya di kediaman suaminya, Mikaila dan Zefran duduk ngobrol bersama dengan keluarganya yang dari kampung.

__ADS_1


"Mikaila! Apakah kamu tidak ingin mengunjungi kampung halamanmu sebelum balik ke Seoul?" Tanya kakak iparnya Ika.


"Tidak! Dia tetap di sisiku dan tidak boleh lagi kembali ke Seoul." Sela Zefran.


Mikaila hanya mengangguk menyetujui pernyataan suaminya.


"Sebelum aku pulang ke sini, aku sudah melimpahkan surat kuasa kepemimpinan perusahaan pada sahabatku Dokter Ae RI yang mengawasi langsung roda perusahaan." Sahut Mikaila.


"Apakah kamu sudah gila Mikaila, mempercayai orang lain untuk mengelola perusahaanmu?"


Tanya Hanna merasa tersinggung dengan sikap Mikaila yang mengabaikan permintaannya beberapa bulan yang lalu.


Hanan tersentak mendengar perkataan adiknya Hana yang keberatan jika perusahaan adik mereka dikelola orang lain.


"Apa urusanmu dengan perusahaan perusahaan milik Mikaila? Terserah dia mau memilih siapa yang pantas mengelola perusahaan miliknya." Ujar Hanan kesal.


"Bukankah tidak mungkin mempercayai orang lain yang suatu saat nanti akan mengkhianati dirimu, Mikaila? Dari pada orang lain lebih baik saudara sendiri." Tukas Hanna percaya diri.


"Oh, jadi maksudmu, jika kamu yang mengelolanya yang akan berkembang pesat perusahaan itu? Bukannya malah sebaliknya perusahaan itu akan bangkrut di tangan kalian karena akan habis di atas meja judi." Ucap Hanan sarkas pada adiknya Hanna dan adik iparnya Handy.


Tegur Zefran yang sudah tidak tahan dengan perdebatan kakak beradik ini yang mempermasalahkan kepemimpinan baru perusahaan milik istrinya.


Suasana yang tidak lagi kondusif sangat mempengaruhi kondisi kejiwaannya Mikaila dan itu membuat Zefran mengambil alih untuk meredakan perdebatan diantara keduanya.


Semuanya terdiam mendengar teguran Zefran. Mereka baru menyadari saat ini mereka sedang berada di kediaman adik ipar mereka yaitu Zefran.


"Ijinkan aku bicara. Jika di tanya siapa yang lebih pantas atau lebih berhak mengelola perusahaan itu, jawaban yang tepat adalah aku orangnya karena aku memiliki saham 25 persen di perusahaan istriku kemudian di susul dengan dokter Ae RI yang memiliki saham sepuluh persen dan keluarga dokter AE RI 15 persen.


Kalau Mikaila memilih dokter Ae RI yang mengelola perusahaan miliknya itu masih pantas karena dia juga memiliki saham di perusahaan Mikaila." Ujar Zefran.


"Hebat sekali kamu Zefran! Ternyata kamu orangnya serakah juga. Kamu sudah memiliki banyak perusahaan tapi masih ngiler dengan perusahaan milik istrimu Mikaila. Sangat memuakkan." Sindir Hanna sinis.


"Ayo kita pulang bang Handi. Aku sudah muak melihat wajah-wajah munafik di sini." Semprot Hanna dengan tidak tahu malunya.


Mikaila dan yang lainnya hanya menggeleng kepala melihat sifat arogan Hanna yang ingin hidup kaya tapi dengan cara yang salah.


"Zefran, Mikaila, kalau begitu kami juga pamit pulang ke kampung karena sudah lama ijin untuk ke Jakarta. Tolong kabari kami jika ada apa-apa dengan Mikaila.

__ADS_1


Keluarga itu bersalaman sambil berpelukan satu sama lain.


Terimakasih bang Hanan dan kak Ika, Insya Allah kalau Mikaila di kasih kesempatan oleh Allah, Mikaila akan berkunjung ke Palembang." Ujar Mikaila merasakan kesedihan ditinggalkan lagi oleh keluarganya.


"Jaga dirimu Mikaila!"


Peluk cium abangnya Hanan yang sudah tahu jika ia tidak bisa lagi bertemu dengan adik kesayangannya.


"Maafkan Mikaila bang Hanan dan kak Ika."


"Kami juga minta maaf kepadamu Mikaila karena sudah menyusahkan kamu selama ini." Ujar Ika sedih.


Mikaila merasa sangat sedih dengan sikap kakaknya Hana yang tidak pernah berubah. Tidak lama Hanan dan istrinya juga pamit pulang kembali ke kampung halaman mereka.


Dalam sekejap kediaman Zefran langsung sepi. Zefran mengajak istrinya untuk beristirahat.


"Sebaiknya kamu makan, minum obat dan istirahat. Aku sangat senang sekali kamu akhirnya bebas dari kasus yang membelit mu. Bertahanlah untukku Mikaila.


Aku tidak menentang takdir Allah, tapi aku ingin Allah tangguhkan ajal mu sebentar saja sayang." Pinta Zefran lalu mengecup bibir pucat Mikaila.


Mikaila hanya memberikan senyum samar nya dengan pandangan mulai kabur lagi.


"Ya Allah, kabulkan permohonan suamiku. Berikan aku waktu sebentar saja." Pinta Mikaila dalam dekapan suaminya.


Tidak lama pelayan mengantarkan makan malam untuk keduanya di kamar. Zefran menyuapi istrinya sambil makan makanannya.


"Biarkan aku makan sendiri Zefran!" Pinta Mikaila.


"Tidak apa sayang. Aku hanya ingin menebus waktu yang pernah terlewatkan diantara kita." Ujar Zefran masih menyuapi istrinya dengan telaten.


"Justru aku yang harus melayani kamu sayang." Protes Mikaila.


"Aku akan menunggu pelayanan mu setelah kamu sehat, sayang."


"Kamu tahu itu tidak mungkin akan terjadi Zefran."


"Itu kuasa Allah Mikaila. Jangan pesimis dengan Rahmat Allah. Jangan menunggu ajalnya tapi memohon lah untuk mendapatkan kesempatan lagi agar bisa hidup lebih lama lagi." Pinta Zefran.

__ADS_1


__ADS_2