Putri Rahasia Raja Mafia

Putri Rahasia Raja Mafia
41. Perpisahan


__ADS_3

Waktu seakan ingin meninggalkan banyak kesan romantis untuk keluarga kecil Zefran. Dokter yang menangani penyakit kronis Mikaila yang ada di Indonesia hanya menyarankan Mikaila untuk tetap melakukan rawat jalan walaupun hasil tidak menunjukkan perubahan secara signifikan.


Mikaila hanya ingin menikmati hari-harinya bersama keluarga kecilnya. Syakira saat ini sudah pindah sekolah di Indonesia. Gadis kecil ini memilih sekolah berbasis Islam untuk mempersiapkan dirinya masuk ke pesantren modern.


Hari-hari Mikaila hanya di habiskan untuk mengurus suami dan putrinya SYAKIRA. Ia juga harus memberitahukan kebiasaan putrinya yang di sukai dan tidak di sukai SYAKIRA kepada suami dan ibu mertuanya.


Mulai dari makanan, penampilan dan pergaulan. Mikaila juga mencatat apa saja yang dialaminya bersama putrinya itu agar mertua dan suaminya mengetahui bagaimana membuat SYAKIRA bisa nyaman tinggal dengan mereka setelah kepergiannya.


"Mami ini buku catatan tentang SYAKIRA. Jika ada waktu, tolong mami baca supaya mami bisa lebih dekat dengan SYAKIRA."


Ucap Mikaila seraya menyerahkan buku tersebut pada ibu mertuanya yang menerimanya dengan wajah sendu.


"Mikaila! sebenarnya mami tidak terlalu suka dengan momen sedih seperti ini, nak. Jika bisa memilih, mami ingin kamu sendiri yang mengurus SYAKIRA. Mami juga tidak tahu apakah usia mami cukup untuk menemani SYAKIRA sampai ia remaja atau dewasa." Ucap nyonya IFA terlihat sedih.


"Mami!"


Mikaila terlihat kecewa dengan penolakan ibu mertuanya. Namun nyonya IFA sedang memikirkan sesuatu yang belum sempat ia ceritakan kepada menantunya.


"Apakah kamu tidak tahu bahwa putrimu memiliki kelebihan dalam dirinya?"


"Aku sudah mengetahuinya mami, hanya saja aku belum begitu yakin hingga aku membuktikan sendiri perkataannya yang melarang aku untuk tidak kembali ke Indonesia di hari naas itu." Sahut Mikaila.


"Putrimu cukup berani bahkan terbilang berani di usianya karena ia begitu yakin saat memberitahukan orang-orang yang berkaitan langsung dengan kasus mu kemarin."


"Apa...? Memberitahu siapa mi?"


"Ia berani menghadang jaksa penuntut umum yaitu tuan Mahendra, hanya untuk menyampaikan sesuatu yang membuat tuan Mahendra terkesima mendengar peringatan SYAKIRA kepadanya.


"Memang apa yang SYAKIRA katakan kepadanya?"


"Ia mengatakan agar tuan Mahendra lebih mengutamakan integritasnya sebagai jaksa penuntut umum dalam menegakkan keadilan daripada memikirkan kepentingan pribadi yang akan mengorbankan nyawa orang lain yang tidak bersalah, seperti dirimu, nak."


"Astaga! Mengapa putriku, Syakira begitu nekat melakukan itu Untukku mami?"


"Iya sayang. Padahal ayahnya sudah mengingatkan dirinya agar tidak begitu frontal pada orang-orang yang tidak ia sukai, tapi ia ingin menolong mu agar cepat bebas dari tuduhan yang bisa membuat nyawamu melayang sia-sia." Imbuh nyonya Ifa.


"Masya Allah!"


Hati Mikaila begitu terenyuh mendengar perjuangan putrinya dengan kelebihannya itu.


"Assalamualaikum Ibuuu....!"


Teriak SYAKIRA begitu tiba di rumah.


Mikaila membalikan tubuhnya menyambut kepulangan SYAKIRA dengan menjawab salam putrinya.


"Tumben pulang cepat sayang!"


"Hari ini ada rapat guru ibu!" Ujar SYAKIRA sambil menyalami ibu dan omanya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan teman-teman mu di kelas? apakah mereka menyukai kamu?"


"Semua mereka sangat senang berteman dengan SYAKIRA. Beda sekali Bu dengan teman-teman di Seoul Korea Selatan.


Di sini semuanya sopan, ramah dan mau berbagi apa saja dengan Syakira di tambah lagi mereka ingin sekali belajar bahasa Korea atau tanya tentang K-Pop kesukaan mereka."


Syakira begitu bersemangat bercerita kepada sang ibu, membuat Mikaila dan omanya hanya bisa tertawa.


"Apakah kamu lebih senang sekolah di Indonesia?" Tanya Oma IFA.


"Kalau untuk seusiaku, aku lebih senang sekolah di sini Oma, tapi kalau sudah besar nanti SYAKIRA belum tahu mau kuliah di mana."


"Nanti saja kalau SYAKIRA sudah besar memikirkan lagi di mana SYAKIRA mau melanjutkan pendidikan, jadi dinikmati saja pendidikan dasarnya dulu." Timpal nyonya IFA.


"Baiklah ibu, SYAKIRA mau ganti baju dulu baru makan siang."


Syakira kembali ke kamarnya sambil berdendang.


"Apakah kamu tidak membantunya untuk mengganti baju putrimu, Mikaila?"


"Aku ingin SYAKIRA belajar tanpa bantuan ku mami."


"Tapi kamu masih ada Mikaila, dia hanya diberikan kesempatan untuk belajar mandiri tapi bukan berarti tugasmu sudah selesai. Senangi hatinya agar dia masih bisa merasakan kasih sayang dan perhatianmu." Ucap nyonya IFA.


"Astaga! Betapa bodohnya aku melupakan hal itu, aku masuk dulu ya mami!"


Mikaila buru-buru menghampiri putrinya yang saat ini sedang mencari baju santai yang ingin dipakainya.


Entah mengapa, malam itu SYAKIRA tidak bisa memejamkan matanya. Wajah ibunya terus mengganggu pikirannya. Merasa sangat gelisah, iapun nekat ke kamar orangtuanya padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi.


Tok...tok..


Zefran membuka pintu kamarnya dan melihat SYAKIRA sudah berdiri didepannya.


"Ada apa sayang?"


"Maaf ayah! Apakah SYAKIRA boleh tidur bersama ayah dan ibu?"


"Apakah SYAKIRA mimpi buruk?"


"Iya ayah!" Ujar SYAKIRA bohong.


"Baiklah sayang! Masuklah, ibumu sudah lelap tidur."


"Terimakasih ayah!"


Syakira tidur disebelah ibunya yang nampak tenang.


"Ibu!" Aku ingin memelukmu untuk terakhir kalinya."

__ADS_1


Batin SYAKIRA yang merasa sudah waktunya berpisah dengan ibunya.


Syakira tidak mau memejamkan matanya, begitu pula dengan Zefran yang sejak tadi tidak bisa tidur karena gelisah. Ia merasa seperti ada yang hilang dalam hatinya tapi tidak tahu itu apa.


Ternyata benar perasaan keduanya terbukti malam itu. Tepat pukul dua pagi Mikaila membuka matanya.


"Ayah!"


Untuk pertama kalinya, Mikaila memanggil suaminya dengan sebutan ayah.


"Iya sayang!"


"Ibu! SYAKIRA ada di sini, ibu." Syakira menggenggam satu tangan ibunya.


"Ayah! Aku titip putri kita padamu. Tolong jaga dia sebaik kamu menjaga hatimu untukku."


"Sayang! Apakah ini adalah malam terakhir kita tidur bersama? apakah kamu tidak ingin menemani kami lagi?"


"Maafkan aku suamiku, ridhoi aku untuk menemui Tuhanku Allah." ucap Mikaila dengan nafas satu persatu.


"Syakira! Jaga ayah dan berbaktilah kepada ayahmu. Jangan pernah membantah ucapannya karena doanya selalu di ijabah Allah sama seperti ibu."


"Iya ibu. Jangan kuatirkan SYAKIRA. Hati SYAKIRA sudah siap untuk kehilangan ibu. Syakira tidak tega melihat ibu merasakan kesakitan setiap saat."


"Syakira! Ibu sudah meninggalkan banyak pesan untuk SYAKIRA di video yang ibu buat untuk SYAKIRA. Syakira harus membuka setiap rekamannya di saat SYAKIRA ulang tahun. Karena setiap pesan mengikuti kebutuhan usia SYAKIRA." Ucap Mikaila sambil menatap wajah cantik putrinya.


"Terimakasih ibu sudah melahirkan SYAKIRA dan menjaga SYAKIRA dengan baik. Maafkan kesalahan SYAKIRA ibu. Syakira janji akan menjadi anak Sholehah sesuai keinginan ibu."


Ucap SYAKIRA sambil menekan kuat perasaannya yang sudah bergejolak di dalam dadanya yang ingin meledak saat itu juga.


"Terimakasih putriku, ibu bangga melahirkan mu dan memilikimu."


Nafas Mikaila mulai perlahan. Tarikannya dari teratur makin lama makin terlihat putus-putus.


Zefran membisikkan kalimat tahlil pada istrinya untuk menuntun Mikaila agar mudah menyebutkan apa yang diucapkan istrinya untuk terakhir kalinya.


Syakira terlihat tegar dengan tetap tenang sambil berdoa untuk ibundanya tercinta.


"Ibu! Selamat jalan ibu! Syakira ridho di tinggal ibu. Syakira sudah punya ayah dan Oma yang akan merawat SYAKIRA." Imbuh SYAKIRA agar ibunya pulang dengan tenang menghadap Illahi Robby.


Zefran mengangkat tubuh istrinya untuk di pangku nya. Hatinya tidak setegar putrinya SYAKIRA.


Ia terus saja menangis sambil menuntun istrinya menyebut kalimat Allah.


Air mata Mikaila menetes di sudut matanya. Ia tidak punya lagi kesempatan untuk bicara banyak kepada putri dan suaminya. Hingga akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan sang suami dengan kalimat takbir.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun!"


Ucap Zefran dan Syakira bersamaan.

__ADS_1


"Selamat jalan istriku!"


__ADS_2