
Pagi subuh udara begitu sejuk, Menusuk tulang, Yara terbangun, gadis itu menoleh ke arah samping ternyata suaminya itu masih terlelap.
Yara bangun untuk membersihkan diri dari hadas besar. Selesai mandi gadis itu membangunkan suaminya.
"Mas..sudah subuh...!"
Yara dengan lembut membangunkannya. Erlangga tercelang pria itu menyipit matanya silau karna cahaya lampu.
"Sudah jam berapa..?"
Tanya Erlangga.
"Jam empat tiga puluh, mas..!"
Ucap Yara lembut.
"Heeem masih terlalu pagi..!"
Bangunkan saya jam enam saja..!"
Pinta Erlangga malas Pria itu belum terbiasa bangun sepagi ini.
"Jika bangun jam enam, nanti subuannya kesiangan mas..!"
Protes Yars.
"Ya sudah, solatnya diwakilkan kamu saja..!"
Erlangga berucap enteng.Yara mendekat pada suaminya. Ia duduk di pinggir ranjang, sembari mengelus lembut surai halus milik Erlangga.
"Gak bisa gitu mas..! kalau bisa pasti saya akan wakilkan, tapi tak apa, jika solatnya mau diwakilkan tunggu kamu jadi mayat dulu y mas..!"
Erlangga langsung duduk mendengar ucapan gadis bercadar itu.
"Kamu doakan saya mati..?"
Pria itu menatap gadis di sebalahnya tak percaya.
"Sapa yang doakan, saya hanya memperjelas kemauanmu, mas..!"
"jangan ngaco kamu..!"
Sepertinya Erlangga terpancing emosi.
"Loh, bukannya tadi mas yang minta solatnya di wakilkan..?"
Erlangga terdiam lalu pria itu bangkit dari duduknya. pria itu akhirnya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Saat Erlangga bersih bersih, gadis itu segera menyiapkan pakaian dan tak lupa gadis itu menggelar dua sajadah.
Erlangga keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk, yang terlilit di pinggang. Yara yang melihatnya salah tingkah, gadis itu belum terbiasa dengan pemandangan semacam itu.
Selesai memakai pakaian pria itu mengambil kopiahnya dari tangan Yara. Sebenarnya pria itu bingung sudah lama ia tak pernah mengerjakan solat. Seingatnya terakhir dia solat delapan tahun yang lalu.
Hari ini pria itu kembali berdiri menjadi imam. Dengan mengucapkan niat solat subuh sebagai imam pria itu mulai memimpin solat.
Ada rasa yang berbeda menelusup ke dalam hatinya. Selama ia menjadi seorang suami, ini pertama kalinya ia menjadi imam solat fardu untuk istrinya. Selesai solat, yara pamit untuk ke dapur.
"Mas..! saya buat sarapan dulu..!, saya tinggal sebentar ya..!"
Yara meminta izin untuk masak.
"Buat sarapan apa..?"
Tanya Erlangga ingin tau
"Mas maunya apa..?"
Yara balik bertanya. Erlangga berpikir sejenak.
"Saya mau dibuatkan sambal tomat, ikan asin peda goreng, sama rebus kangkung"
Menyebutkan menu sederhana itu air liur Erlangga langsung mengucur.
"Tunggu sebentar saya buatkan..!"
Ucap Yara semangat.
__ADS_1
Gadis itu dengan suka cita menyiapkan sarapan.Sementara Erlangga sudah menunggu di meja makan ia tak sabar ingin menikmati sambal tomat.
Yara berjalan dengan membawa hasil masakanya.Sampai di meja gadis itu dengan cepat mengisi piring suaminya.
Erlangga sudah tak sabar untuk melahap olahan istrinya. Tak sampai lima menit nasi di piring Erlangga ludes.
"Terima kasih, sudah lama saya merindukan masakan kampung seperti ini..!"
Ucap Erlangga semangat.
"Sama sama mas..!"
Selesai mengisi kampung tengah, Erlangga pamit pulang, tak lupa gadis itu mengantar sampai suaminya masuk ke dalam mobil. Setelah mobil Erlangga tak terlihat, Yara segera masuk dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Pagi ini Yara kembali menunggu mbak ojol langganannya. Sanpai di kantor Yara bertemu dengan Kinan.
"Pagi Ra..!"
Ucap Kinan ramah.
"Pagi juga Ki..!"
Sahut Yara sembari tersenyum. Saat hendak masuk kantor Yara berpapasan dengan bos gantengnya itu, seketika jantung Yara berdebar dengan sendirinya.
"Pagi pak..!"
Tegur karyawannya yang berpapasan dengan Erlangga, termasuk Yara, namun gadis itu hanya menundukkan kepalanya.
Yara duduk di ruangan, gadis itu dengan ligat mulai mengerjakan laporan.Ia tampak fokus memeriksa setiap angka angka yang tertera di layar laptopnya.
"Permisi buk yara, ibu di panggil ibu HRD, untuk segera ke ruangannya!"
Ucap Kinan sambil terkekeh.
"Iiiiihhh...! Kinan ngagetin aja sih..!"
Protes Yara kesal
"Bener Ra..! aku gak bohong..!!"
Jelas Kinan pada Yara.
Mendengar celotehan Kinan, Yara mematikan laptopnya segera. Sampai depan pintu ruangan Ketua divisi Yara mengetuk pintu dengan sopan.
"Masuk..!"
Ucap suara dari dalam.
"Permisi bu...apa benar, ibu memanggil saya..?"
Tanya Yara pada ibu HRD.
"O iya..duduk ada yang harus saya sampaikan kepada ibu, sebentar..!"
Yara duduk sembari menunggu ibu HRD yang sedang menandatangani surat surat penting.
"Begini ibu, berhubung ibu Nila resigen, karna beliau harus mengikuti suaminya pindah tugas. Pak Erlangga meminta kepada setiap divisi untuk menyeleksi staf yang layak untuk menjadi sekretarisnya.
Hasil dari keputusan rapat maka kami sebagai ketua devisi memutuskan, kamu yang pantas untuk menjabat sebagai sekretaris bapak Erlangga selaku CEO di perusahaan ini.
Kami memilih ibu, karna melihat dari sepak terjang kinerja ibu, ibu Yara yang paling tepat untuk menggantikan posisi bu Nila."
Mendengar penjelasan ibu HRD Yara bimbang.
"Maaf bu, apa tidak bisa digantikan dengan rekan yang lain..? saya takut kemampuan saya tidak sampai ke sana..."
Tolak Yara secara halum.
"Tidak bisa ibu, ibu sudah ditetapkan sebagai sekretaris presiden direktur...! jangan hawatir nanti ibu akan mendapatkan pelatihan..!"
Jelas Ibu HRD penuh wibawa.
"Baik bu terima kasih, atas kepercayaan dan amanah yang ibu percayakan terhadap saya, Insya Allah saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan ibu..!"
Ucap Yara sopan.
"Selamat ya Ibu Yara..!"
__ADS_1
Ibu HRD tak lupa memberikan selamat pada staf terbaiknya.
"Terima kasih ibu, kalau begitu saya permisi..!"
Yara berjalan gontai, isi kepalannya mulai kusut, banyak hal yang ia pikirkan, jika ia menjadi sekretaris Erlangga cepat atau lambat setatusnya sebagai istri pasti akan segera ketahuan.
Yara duduk termenung di ruangannya. Gadis itu pasrah saja akan nasibnya ke depan, toh selama ini ia tak ada maksut untuk membohongi Erlangga, Yara juga tak pernah menutupi identitasnya. Pria itu sendiri yang tak pernah bertanya tentang dirinya.
Yara mulai memberesi barang barangnya yg penting, sesuai perintah ibu Reka selaku HRD.
Saat jam istirahat Yara makan di kantin kantor bersama Kinan.
"Ada apa ra, kok kamu dipanggil ibu HRD..?"
Tanya Kinan penasaran.
"Saya dipindah, Ki..!"
Ucap Yara berbisik, gadis itu tak ingin ada yang mendengarnya.
"Beneran Ra..!"
Tanya Kinan tak percaya.
"Iya..!"
"Jadi aku gak ketemu kamu lagi dong, kamu dipindah ke mana Ra..gak jauhkan..?"
Crocos Kinan tampak sedih.
"Cuma pindah ruangan aja kok Ki..!"
"Maksut kamu...?"
Tanya Kinan tak mengerti.
"Aku diangkat jadi sekretaris pribadi pak Erlangga..!"
Ucap Yara lagi. Kinan melongo tak percaya.
"Beneran Ra, waaah hebat kamu bisa jadi sekretari CEO tertampan...!"
Ceplos Kinan semangat.
"Huuuss apaan sih Ki..! heboh banget..!nanti yang lain denger lo, aku g enak..!"
Yara mengingatkan sahabatnnya itu.
"Hehe..maaf keceplosan..!"
Kinan terkekeh sembari meminta maaf.
Waktunya pulang, kerja. Kinan bergegas turun, karna embak ojol sudah menunggu gadis itu, langit tampak mendung gerimis halus mulai berjatuhan.
"Mbak Yara, ini mau lanjut apa berteduh dulu..?"
Tawar mbak ojol.
"Lanjut aja mbak..keburu hujannya deras..!"
Pinta Yara pada mbak ojol.
"Oke siap mbak..!"
Motor melaju karna takut kejebak hujan,Yara buru buru ingin cepat sampai rumah agar tak kejebak hujan. Akhirnya gadis itupun lupa tak mengganti pakaian, otomatis Yarapun tak mengenakan cadarnya.
Yara segera membuka pintu rumahnya, namun Yara heran ternyata rumahnya tak dikunci. Dengan langkah waspada gadis itu berjalan mundur, ia takut ada orang jahat yang masuk kerumahnya.
Saat gadis itu berjalan mundur dengan mengendap endap, Yara di kejutkan oleh sosok di belakang tubuhnya yang tak sengaja ia tabrak, sepontan gadis itu berteriak.
"Maliiiiing..!"
Pekiknya lantang. Sosok itupun ikut terkejut, dengan cepat sosok itu membungkam bulut Yara agar tak berteriak.
"Saya bukan maling..!"
Ucap sosok itu tegas. Mendengar suara itu, seketika tubuh Yara gemetar. Yara perlahan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu...?"
Ucap Erlangga terkejut. Yara terdiam terpaku, gadis itu tak berani menatap atasannya.