
Beberapa hari kemudian.....
Untuk menyambut kedatangan neneknya yang diperkirakan akan tiba besok pagi, Kanaya sengaja pergi ke mall untuk membeli sesuatu. Dia ingin memberikan neneknya barang sebagai hadiah sebagai ucapan selamat karena berhasil melalui pengobatan dengan sukses.
"Nenek pernah bilang ingin memiliki kalung emas yang sama kayak punyanya dulu yang udah dijual untuk biaya hidup. Apa aku belikan itu saja ya," pikir Kanaya. Dia masih menyimpan foto gelang neneknya tersebut karena berharap suatu hari nanti dia bisa membelikan gelang dengan desain yang sama.
Kanaya langsung masuk ke salah satu toko emas yang ada di mall tersebut dan mulai melihat-lihat.
"Selamat datang, Bu. Bisa saya bantu?" tanya seorang perempuan yang bekerja di toko emas tersebut.
"Mbak saya mau beli gelang, kalau bisa yang desainnya seperti ini." Kanaya menunjukkan gambar di layar ponselnya.
"E... Sepertinya kalau yang sama persis nggak ada, Bu. Paling adanya yang desainnya mirip," jawab pelayan itu setelah memperhatikan gambar yang ditunjukkan oleh Kanaya.
"Ya sudah yang mirip juga nggak apa-apa kalau memang nggak ada yang sama persis," jawab Kanaya.
"Mari, Bu, ikut saya! Kebetulan untuk gelang ada di etalase sebelah sana!" ajak si pelayan sambil menunjuk etalasi yang berada tidak jauh dari mereka.
Kanaya mengikuti langkah pelayan tersebut menuju etalase.
__ADS_1
"Bagaimana, Bu, yang ini mirip dengan gelang di foto Ibu kan?" pelayan tersebut menunjukkan sebuah gelang yang desainnya paling mirip dengan gelang yang ada di gambar.
Kanaya memperhatikan gelang yang ditunjukkan oleh si pelayan dengan seksama dan membandingkannya dengan gelang yang ada di galeri ponselnya. Dan ternyata cuma itu satu-satunya gelang yang desainnya hampir mirip.
"Ya sudah, saya ambil yang itu," ujar Kanaya. "Kalau boleh tahu itu beratnya berapa gram ya?"
Pelayan itu melihat kode yang tertera di gelang tersebut. "Ini beratnya kurang lebih 10 gram, nanti bisa kita timbang dulu saat akan membayar dan harga per gramnya Rp 900.000," jawabnya.
"Ya udah aku ambil ini saja. Ohya disini bisa pakai kartu kan?" tanya Kanaya. Dia memang tidak pernah membawa uang cash dalam jumlah banyak apalagi Yuga pun memberinya uang langsung ke nomor rekening.
"Bisa, Bu. Mari ikut saya ke kasir."
"Terima kasih atas kunjungnya," ujar penjaga kasir kepada Zielin sambil memberikan papper bag berukuran kecil.
"Terima kasih ya, Sayang. Kamu tuh selalu bisa bikin mood aku kembali baik," ujar Zielin.
"Hah, rasanya malas sekali harus pulang ke rumah dan berpura-pura menjadi istri yang baik bagi Mas Yuga," keluh Zielin.
"Bersabarlah, bukankah dua bulan lagi anak itu lahir. Begitu kamu berhasil mendapatkan harta warisan dari papanya si Yuga. Kita langsung pergi ke luar negeri. Aku juga bosan harus terus-terusan berlagak jadi asisten yang baik untuk si tua bangka itu," jawab laki-laki yang bersama dengan Zielin.
__ADS_1
Zielin tertawa.
"Kenapa kamu tertawa, Sayang?" tanya laki-laki tersebut.
"Tidak, aku hanya merasa ini lucu. Si tua itu menyuruhmu mencari tahu siapa selingkuhanku, padahal selingkuhanku ada di dekatnya." Zielin kembali cekikikan.
"Jangan keras-keras, bagaimana kalau disekitar sini ada anak buah si Yuga!" tegur laki-laki itu.
"Tenang saja, anak buah Mas Yuga kan nggak bisa diandelin. Ayah dan anak itu memang sama-sama bodohnya," jawab Zielin.
"Sudah tidak ada yang ingin kamu beli kan?"
"Sementar ini saja, lain kali kalau kamu berhasil mencuri uang si tua bangka itu lagi baru kita kesini lagi," jawab Zielin.
Zielin dan laki-laki yang diketahui adalah selingkuhannya itu pun berbalik sambil memeluk pinggang masing-masing. Namun, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat keberadaan Kanaya di sana. Keduanya berusaha untuk tetap bersikap normal dan berpura-pura tidak mengenali Kanaya.
Hal sebaliknya juga dilakukan oleh Kanaya. Ia hanya menatap Zielin dan selingkuhanya sebentar kemudian melewati keduanya untuk membayar.
*
__ADS_1
Kanaya menghela napas panjangnya begitu keluar dari toko. Dia merasa lega karena Zie dan selingkuhannya sudah tidak ada disana. Namun itu tidak berlangsung lama, dia begitu terkejut ketika ada yang membekapnya dari belakang.