
Angin berhembus lembut seolah menyapa wajah yang terlihat sendu. Yara tampak gelisa, gadis itu terus mondar mandir di depan ruang oprasi. Hatinya makin gelisah. Hampir satu jam gadis itu menunggu akhirnya pintu berderit. Yara dengan cepat mengejar ke sumbersuara.
"Dok..gimana oprasinya..?"
"Alhamdulillah, Oprasi berjalan dengan lancar, kita tinggal tunggu bu Hana siuman...!"
Ucap dokter Dwi lembut. lalu bu dokter itu dengan langkah cepat meninggalkan ruang oprasi.
"Keluarga bu Hana..!"
Panggil salah satu perawat.
"Iya sus, saya..!"
Sahut Yara cepat.
"Ibu, silahkan masuk, dampingi ibu Hana..!"
Pinta perawat itu ramah.
"Baik sus..!"
Dengan tak sabar Yara bergegas masuk ke dalam ruang observasi. Di sana Hana terbaring, tubuhnya dipenuhi alat alat penopang nyawa.
Terlihat perawat mondar mandir mengecek setiap pasien. Hanapun tak terlewatkan untuk dipantau perkembangannya. Terlihat salah satu suster menyuntikkan obat lewat selang infus.
"Maaf sus itu obat apa yang di suntikkan ke mama..!"
Tanya Yara ingin tau.
"Oh ini obat antibiotik bu..!"
Sahut perawat itu menjelaska.
"Makasih sus..!"
"Sama sama ibu."
Ucap suster itu lalu meninggalkan ranjang Hana.
Setelah lima belas menit di ruang observasi akhirnya ada pergerakan pada anggota tubuh Hana.
"Yara..!"
Panggil Hana.
"Iya ma, Yara di sini..!"
Sahut Yara lembut sembari mengecup jemari ibundanya.
"Nak..dada mama terasa sesak..!"
Keluh Hana lemah.
"Iya ma, sebentar Yara panggil perawat dulu..!"
"Sus sus tolong ibu saya..!"
Yara terlihat panik. Suster itu kembali mendekat.
"Ya Allah...bu Hana..."
Ucap suster itu, suster itu segera memencet tombol darurat, dokterpun terlihat berlarian menuju ranjang Hana.
"Dok..kenapa mama saya...?"
Yara berucap sembari menanggis.
"Silahkan ibu tunggu di luar biar kami dan tim dokter menangani..!"
Belum sempat keluar pintu suara monitor pendeteksi jantung berdering nyaring,
"Tiiiiii.....tttttt...!"
seketika Yara membalikkan badan. Terdengar suara dokter itu mengucapkan.
"Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn..!"
"Mamaaaa....!"
Yara terpekik memanggil Hana, gadis itu langsung menubruk tubuh Hana yang terasa dingin.
Di pemakaman Yara terisak di atas batu nisan Hana. Gadis itu belum siap untuk kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
"Ra..ayo pulang..!"
Ucap Kinan membujuk sahabatnya.
"Biarkan aku di sini Ki..! Aku masih ingin bersama mama..!"
Sahutnya sembari terisak.
"Jangan bodoh Yara, setehunpun kamu menunggu di sini, bu Hana tidak akan bangkit kembali, pulang lah bukan tangisan yang mamamu butuhkan saat ini, tapi doa tulus darimulah yang ia harapkan..!"
Mendenngar ucapan Kinan, Yara langsung bangkit, ia menatap Kinan sejenak, lalu tubuhnnya ambruk di pelukan Kinan.
"Ra..Ra..bangun..!"
Kinan terus menyadarkan sahabatnnya namun gadis itu tak kunjung sadar.
Kebetulan di pemakaman masih bannya pelayat termasuk Erlangga dan rekan kerjannya yang lain. Namun di sana hanya Erlangga yang laki laki.
"Pak Erlangga, bisa tolong bantu angkat Yara ke mobil..?"
Pinta Kinan pada atasannya. Merasa namannya di panngil Erlangga membalik badan. Lalu mendekat pada Yara.
Dengan penuh hati hati pria itu membopong Yara istrinya yang baru ia nikahi. Namun Erlangga tak mengetahui jika Yara adalah istri sirihnnya.
Setelah membopong Yara ke mobil, Erlangga langsung kembali ke mobilnya.
"Terima kasih pak..!"
Ucap Kinan. Erlanngga mengangguk sembari tersenyum.
Sampai di rumah Yara mengambil air wudu lalu gadis itu membacakan surah Al-Fatihah yang ditemani Kinan.
Usai membaca doa untuk ibunnya.Kinan membawakan sepiring nasi.
"Ra makan dulu ya..!"
Bujunk Kinan penuh kesabaran. Yara menggeleng tanda menolak.
"Jangan keras kepala Ra..! kamu mau, pingsan lagi..? Untung aja tadi masih ada pak Erlangga, jadi dia yang bantu bopong kamu, Ra..! kalau gak ada pak Erlangga mesti tak tinggal di pemakaman kamu.!"
Omel Kinan pada Yara. Mata kinan membulat mendengar Nama Erlangga.
"Pak Erlangga...?"
Ucap kinan tak percaya.
Yara terdiam, jantungnnya berdetak lebih kencang.
"Ra..lo kenapa..?"
Tanya Kinan hawatir. Yara menggeleng tanda ia tak ingin menjawab.
"Ya udah makan dulu..gi..!"
Dengan terpaksa akhirnya gadis itu menyuap nasi ke mulutnnya. Ia tak ingin sakit, Jika dirinya sakit, siapa yang akan mendoakan mamannya, pikir Yara.
"Nah gitu dong..!"
Ledek Kinan pada Yara. Kinan tetus menghibur sahabatnnya.
Setelah satu minggu berlalu Yarapun sudah mulai beraktivitas kembali, ia masuk kerja seperti biasa. Saat jam pulang gadis itu mendapat telpon dari Amira.
"Halo Yara..temui saya di parkiran..!"
Pinta Amira menuntut.
"Baik bu..!"
Sahut Yara pelan. Sampai di parkiran Amira meminta Yara untuk masuk ke dalam mobil.
"Masuklah cepat, sebelum ada orang lain yang melihatnya..!"
Ucap Amira terlihat cemas.
Setela masuk ke mobil, Amira melajukan Roda empat itu.
"Mulai sekarang kamu tinggal di rumah yang saya sediakan...!"
Amira mulai mendikte hidup Yara.
"Tapi bu...!"
"Tidak ada penolakan...! Saya tank ingin mendengarnya..!"
__ADS_1
Sergah Amira dengan angkuhnnya.
"Baik bu..!"
"Heem..bagus, ini semua ku lakukan agar kamu segera memberikan hakmu pada mas Erlangga, aku inggin kamu segera hamil, agar hubunganmu dengan mas Erlangga cepat berakhir...!"
Mendengar ucapan Amira, darah Yara terasa mendidih, nmun gadis itu masih sanggup mengontrol emosinnya.
Yara terus beristigfar dalam hati agar terus mendapat ampunan dari ilahi robbi. Sampai di rumah yang di maksud Amira, Yara turun. Tak lupa gadis itu mengenakan cadarnnya, hannya mata bulat Yara yang terlihat.
"Masuk lah..! di dalam sudah ada mas Erlangga..!"
Setelah mengantar Yara, Amira pergi meninggalkan mereka berdua. Yara mulai memasuki rumah mewah itu, tak lupa gadis itu mengucap salam.
"Assalamualaikum..!"
Ucap Yara dengan suara bergetar.
"Waalaikumussalam..!"
Sahut Erlangga dari dalam.
"Masuklah...!"
Erlangga berjalan menuju ruang tengah pria itu duduk dengan santai di sofat, sementara Yara hannya berdiri mematung.
"Mau berapa lama kamu berdiri seperti itu..ini rumahmu. Kamu bebas melakukan apa saja..!"
Ucap Erlangga kaku. Dengan ragu ragu Yara mendudukkan bokongnnya ke atas sofa empuk. Mereka duduk bersebrangan. Erlangga melirik Yara sekilas, ia merasa tak asing dengan mata bulat itu. Mereka sama sama kaku. Ia tak tau harus mulai dari mana.
Akhirnnya Erlangga yang memecah keheningan terlebih dahulu.
"Maafkan jika kami harus melibatkan kamu dalam urusan rumah tangga saya dan Amira, Saya ke sini hanya me nuruti kemauan istri saya..!"
Ucap Erlangga sembari mengusap tengkuknnya yang tak gatal.
Amira mengangguk sebagai jawabannya.
"Malam ini saya harus menginap di sini, jika tidak istri saya itu, akan ngambek nantinya..! saya tidak inggin Amira bersedih..!"
Erlangga dengan jujurnya berkata pada Yara, apa dia lupa jika yang diajak bicara itu juga istrinya.
Yara sekilas menatap bosnnya itu. Dengan takut takut gadis itu berucap.
"Maaf, saya haru panggi anda apa..?"
Tanya Yara polos. Erlangga mengerutkan dahinnya, ia juga bingun.
"Eeem kamu bisa panggil saya mas Langga..!"
Sahut Erlangga tegas, Yara mengangguk tanda paham. Ternyata bosnya ini tak banyak perbedaan antara di kantor dan di luar. Pria ini tetap bersikap baik namun tetap kaku jika bersama wanita.
"Jika kamu butuh sesuatu, di dapur sudah lengkap, kamu bisa menggunakan dapur itu sesukamu..!"
Ucap Erlangga sembari berjalan ke belakang. Pria itu tampak mencari sesuatu di dapur, Erlangga mulai kebingungan barang yang ia cari tak kunjung ketemu, melihat hal itu Yara bangkit dari duduknnya.
Yarapun menyusul ke dapur.
"Ma..maaf, apa yang mas cari..? barang kali sa..saya bisa bantu"
Tanya Yara gugup.
"Saya ingin membuat kopi, tapi saya bingung saya gak tau cara buatnnya bagaimana..!"
Erlangga berucap dengan menggaruk garuk kepalannya, Pria itu sangat kentara jika ia sedang salah tingkah saat berada dekat dengan orang asing.
"Biar say bantu..!"
Tawar Yara sopan. Erlangga mundur satu langkah. Setelah kopinya selesai mereka akhirnya duduk di meja makan.
"Maaf pak, saya mau ke kamar dulu, kamar saya yang mana ya..?"
Erlangga menatap Yara heran.
"Kenapa kamu panggil saya bapak..?"
Gadis itu keceplosan, karna kebiasaannya di kantor.
"Maaf...! mas, maksudnnya..!"
Ralat Yara cepat.
"Untuk kamar di sini cuma ada satu..Kamu boleh tidur di dalam biar saya yang du sofa..!"
__ADS_1
Jelas Erlangga pada Yara.
Yara mengangguk tanda setuju. Tapi gadis itu merasa tak enak jika bosnnya tidur di luar. Akhirnnya Yara memutuskan untuk berbagi kamar dengan bosnnya itu, tapi gadis itu bingung harus berkata apa.