Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 39


__ADS_3

Untuk menutupi rasa kecewa terkadang kita harus bersikap angkuh, seolah kita tak membutuhkan dia yang telah menorehkan luka.


Itulah yang sekarang sedang Yara lakukan. Gadis itu sebisa mungkin menolak bantuan sekecil apapun dari Erlangga.


Jika fisik yang terluka dua tiga hari lukanya akan mengering, namun jika hati yang terluka begitu sulit untuk memulihkannya, karna luka itu tak kasat mata. Begitulah yang Yara rasakan.


Setelah satu minggu akhirnya Erlangga memutuskan untuk membawa putranya pulang. Namun Erlangga harus melengkapi peralatan medis di rumahnya, seperti inkubator dan sebagainya.


Bahkan Erlangga memita khusus pada dokter Safa untuk memantau perkembangan bayinya tiap hari. Dokter Safa adalah dokter anak, yang direkomendasikan dokter Laras. Tepat pukul satu dini hari, Yara terjaga dari tidurnya ibu muda itu harus memberikan asinya pada Baby Boy.


Saat hendak turun dari ranjang Erlangga terbangun, pria itu dengan sigap mengulurkan tangannya untuk membantu Yara. Namun dengan cepat Yara mengangkat tangannya.


"Tidak, aku bisa sendiri...!"


Yara berjalan ke kamar khusus perawatan baby Ez, Erlangga menatap Yara tak percaya. Berkali kali Yara menolak bantuan dirinya. Tanpa Erlangga sadari pria itu mulai merindukan sikap Yara yang manja.


Sebelum masuk ruangan baby Ez, Yara tak lupa mengetuk pintu, karna di dalam sana selain ada Ezra, di ruangan itu ada suster Elsa yang khusus merawat baby Ez. Yara mendekat ke arah inkubator, baby Ez masih tertidur pulas.


"Dia belum bangun sus..?"


"Iya ibu, biar saya bangunkan. Karna sudah waktunya baby Ez minum asi..!"


Sepertinya baby Ez enggan untuk bangun, namun dengan sabar sustrr Elsa membangunkannya dengan cara mengelitikin tapak kaki baby Ez. Setelah bangun suster Elsa dengan hati hati menyerahkan baby Ez pada Yara.


Ibu muda itu begitu telaten menyusui baby Ez. Setiap dua jam sekali ibu muda itu terbangun dari tidurnya untuk memberikan haknya pada baby Ez.


Hal itu tak lepas dari perhatian Erlangga, bahkan pria itu begitu salut pada Yara. Sat ini Erlangga ikut menemani Yara memberikan asi pada putranya.


"Dia sangat mirip denganmu...!"

__ADS_1


Ucap Erlangga pada Yara.


"Tentu, dia anakku...!"


Sahut Yara datar. Bola hitam Erlangga melirik ke ibu muda di sebelahnya.


"Dia juga anakku, lihatla hidungnya mancung sepertiku...!"


Yara tak menjawab, ibu muda itu seolah fokus memberikan asinya pada baby Ez. Selesai memberi asi, Yara kembali menyerahkan putranya pada suster Elsa, lalu Yara kembali ke kamarnya.


Saat Yara mulai merebahkan tubuhnya ke ranjang Erlangga datang, pria itu tak langsung berbaring ia duduk di pinggir ranjang membelakangi Yara.


"Aku perhatikan, sepertinya kamu mempunyai masalah denganku..?"


Tanya Erlangga datar.


"Tidurlah ini masih larut malam, aku ingin kembali istirahat..!"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku tak suka. Jawab pertanyaanku..!"


Tuntut Erlangga datar. Yara menoleh menatap datar punggung pria yang berulang kali menyakitunya.


"Aku haru menjelaskan apa padamu, mas..? Tak ada gunanya juga aku katakan, tak ada yang lebih peduli dengan perasaanku kecuali diriku sendiri..!"


Sahut Yara pada pria egois itu. Erlangga memutar badannya untuk menghadap Yara, pria itu menatap Yara tajam. Netra hitamnya menghunus sampai ke jantung.


"Kamu pikir aku tak peduli padamu..? Lalu kamu anggap apa kepedulianku selama ini..??"


Erlangga berang mendengar jawaban Yara yang seolah dirinya tak memperdulikan ibu muda itu.

__ADS_1


"Hanya kamu yang tau jawabannya, apa arti kepedulianmu terhadapku, mas...!"


Erlangga terbungkam, pria itu menatap Yara penuh tanya.


"Jangan bermain teka teki padaku, katakan yang jelas apa maksud ucapanmu itu..?"


Seketika Yara memejamkan matanya, nafasnya ia tarik perlahan, dada Yara terasa sesak, jika mengingat pernyataan Erlangga kepada dokter Bram.


"Jujur sedikitpun aku tak mempunyai masalah apapun padamu, mas..! aku hanya belajar mengontrol sikapku dan lebih tepatnya aku ingin menjaga hatiku..!"


"Aku tak paham, kemana arah pembicaraanmu, berkatalah yang jelas..!"


Yara semakin tak kuat menahan sesak di dadanya, matanya semakin panas. Berkali kali ibu muda itu mengedip ngedipkan matanya untuk mencegah agar air sebening kristal itu tak meluncur dari kelopak matanya.


"Aku ingin kamu memper jelas sikapmu terhadapku..! Apa maksud perhatianmu selama ini..? Jika semua itu kamu lakukan atas dasar, tanggung jawabmu terhadap janin di kandunganku, maka tanggung kawabmu telah selesai, karna anakmu sudah ku lahirkan dengan selamat. Jadi kamu tak perlu repot repot memperhatikanku lagi, kamu cukip memperhatikan Ezra, mas...!"


"Kenapa kamu berkata seperti itu...?"


Erlangga tak terima atas penjelasan Yara.


"Ya, karna aku tak menyukai kepura puraan,..! Maaf jika selama kehamilan baby Ez, aku selalu merepotkanmu dengan sikaku yang diluar batas..!"


Erlangga terdiam, mulutnya terasa terkunci. Pria itu menatap Yara dengan rasa bersalah, karna Erlangga dapat melihat jelas di netra hitam Yara semburat luka yang begitu dalam.


"Maafkan aku, aku tak bermaksud seperti itu..!"


Erlangga mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun dengan cepat Yara menghentikannya, Yara tak ingin mendengarkan sesuatu yang menurtutnya itu hanya sebuah pembelaan belaka.


"Tidak, kamu gak perlu minta maaf padaku, jangan pernah memaksa dirimu untuk membahagiakanku, jika hatimu sendiri tak merasa bahagia melakukannya...! Aku bisa terima jika kamu belum bisa menerimaku, lebih baik begini daripada harus berpura pura..!, sudah malam mas, lebih baik kita istirahat...!"

__ADS_1


Yara menutup obrolannya, dengan menarik selimut lalu ibu muda itu memiringkan badannya ke kanan. Sementara Erlangga duduk terpaku mencerna setiap ucapan Yara yang mampu mengusik hatinya. Batinnya mulai dilema, pria itu hanya diam membisu dengan terus menatap langit langit kamarnya yang tampak menertawakannya.


__ADS_2