
Tiga bulan berlalu, semua berjalan sesuai yang Erlangga harapkan, kehamilan Yara semakin membesar, kini usia kandungan Yara telah memasuki tujuh bulan. Gadis itu semakin terlihat kesulitan membawa perutnya yang semakin membuncit.
Erlangga benar benar menampilkan sikap suami siaga. Setiap pagi pria itu membantu Yara bangkit dari tempat tidur. Bahkan semakin hari sikap Yara terlihat semakin manja pada Erlangga. Entah itu bawaan bayinya entah memang sikap asli gadis itu yang selama ini Erlangga tak memahaminya.
Sejauh ini Erlangga tak mempermasalahkan sikap Yara itu, Erlangga hanya menghargai Yara sebagai calon ibu dari anaknya saja. Erlangga benar benar berubah, pria itu menjadi pria dingin dan tertutup, bahkan Erlangga mudah cepat tersinggung. Semenjak Erlangga resmi bercerai dengan Amira.
Pukul satu dini hari Yara terbangun, ia sesak ingin buang air kecil. Sejak usia kandungannya makin menua, gadis itu semakin sering bolak balik kamar mandi.
"Kenapa bangun, ini masih larut malam, jika kamu mau mengajakku jalan jalan pagi..!"
Oceh Erlangga asal, dengan mata terkantuk kantuk, pria itu ikut terbangun.
"Aku mau buang air kecil mas, lihatlah anakmu ini, dia terlalu lasak di dalam sini. Setiap kali dia menendang rasanya aku ingin buang air kecil..!"
Oceh Yara sembari memegang perutnya. Erlangga menatap datar menanggapi omelan calon ibu muda itu. Yara mengangsurkan tubuhnya untuk turun dari ranjang, sementara Erlangga berdiri dengan setengah membungkuk sembari memegangi kedua tangan Yara.
Meskipun bersikap dingin Erlangga menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami siaga.
"Hati hati..!"
Ucap Erlangga pelan.
"Iya, maaf tidurmu jadi terganggu. Harusnya kamu gak perlu repot repot begini mas, aku bisa bangun sendiri..!"
Ucap Yara pada Erlangga. Gadis itu merasa tak enak pada suaminya. Pria itu jadi ikut terbangun.
"Tak apa, ini tanggung jawabku..!"
Yara tak menjawab, gadis itu merasakan perubahan Erlangga yang semakin hari semakin kentara, Namun Yara selalu berpikir positif, bahwa pria itu akan berubah seperti semula.
Selesai dari kamar kecil, Yara kembali membaringkan tubuhnya, gadis itu tidur miring karna jika tidur terlentang nafas Yara terasa engap.
"Maaf, aku membelakangimu...!"
Yara memita izin sebelum memiringkan tubuhnya.
"Tak apa, tidurlah senyamanmu..!"
Erlangga kembali berbaring di sebelah Yara.
Pukul enam pagi Yara bersiap untuk melakukan rutinitas barunya, ia selalu jalan pagi guna untuk mempermudah proses waktu persalinan nanti.
"Kamu sudah siap...?"
Tanya Erlangga mendekat
__ADS_1
"Alhamdulilah sudah..!"
"Ya sudah ayo, kita jalan nanti keburu siang..!"
Ajak Erlangga sembari meraih jemari lentik Yara untuk ia gandeng. Yara manut gadis itu berjalan beriringan, di sepanjang jalan Erlangga tak sedikitpun melepas tangan Yara, Erlangga benar benar menjaga Yara dengan baik, ia takut sewaktu waktu ada orang yang akan mencelakainya.
Saat mereka jalan santai, tiba tiba bahu Erlangga ditepuk oleh seorang pria yang tak asing. Erlangga menoleh.
"Bram...! Ngapain kamu di sini..?"
Tanya Erlangga terdengar konyol.
"Heey apa lo gak bisa lihat, jelas aja gue sedang lari pagi..! Lo pikir gue sedang belik cabai di sini..!"
"Maksutku kenapa kamu lari di komplek ini, bukannya kamu tinggal di apartemen, satu gedung denganku..?"
Erlangga menatap heran pada dokter ganteng itu.
"Beberapa minggu ini, gue tinggal tempat mama. Soalnya, kesehatannya kurang baik jadi gue harus memantaunya..!"
Mereka terus ngobrol, dengan tangan Erlangga masih tetap bertautan di jemari Yara. Hal itu tak luput dari pengawasan Bram.
"Mas, aku ke sana dulu ya..!"
"Pergilah..!"
Erlangga memberi izin, lalu pria itu memberi kode pada dua pria berbadan kekar untuk mengawasi .Yara berjalan ke arah kursi taman dengan diawasi dua orang Bodyguard.
"Dia hamil..?"
Tanya Bram heran.
"Iya..! Kenapa, ada yang salah..?"
"Ah tidak, aku pikir adikmu itu masih gadis..!"
Sahut Bram pura pura. Erlangga menatap Bram tak suka.
"Emang kenapa kalau dia hamil..? dia punya suami..!"
Sahut Erlangga cepat.
"Nah, itu dia yang membut aku tak suka..!"
"Maksutmu..?"
__ADS_1
"Aku pikir adikmu itu masih gadis..!"
Ledek Bram, padahal ia tau jika Yara bukanlah adiknya, Bram mendapat kabar dari Hanum mamanya Bram, karna Hanum hadir saat acara syukuran di rumah Yara waktu itu. Bram hanya ingin melihat reaksi sahabatnya itu, Bram tak rela jika Erlangga menyakiti Yara.
"Dia bukan adikku, dia istriku..!"
Erlangga melotot menatak Bram. Pria itu tak suka jika Bram terang terangan tertarik pada Yara. Meskipun Erlangga tak mencintai Yara,pria itu tak suka jika sesuatu yang telah menjadi miliknya diusik oleh siapapun.
"Istri...? wauuu...! Luar biasa, lo baru cerai tapi lo udah langsung punya pengganti...! Oya aku lupa memberimu selamat..!"
Ucap Bram lagi.
"Selamat untuk apa..?"
"Ya, selamat atas perceraianmu dengan Amira..! Aku senang mendengarnya, wanita busuk itu tak pantas mendapatkan cintamu..!"
Erlangga kembali melotot. Mendengar pernyataan sahabatnya itu.
"Baru kali ini aku memiliki sahabat sepertimu..!, mana ada orang memberikan selamat atas kehancuran seseorang..!"
Bram tertawa mendengar ucapan Erlangga. Begitulah sikap Bram, pria itu terlalu blak blakkan.
"Sudahlah, tindakanmu itu tepat.Toh.., lo udah ada gantinya, aku rasa Yara bukan gadis yang buruk untuk kau jadikan pengganti Amira..!, aku lihat dia sangat mencintaimu...! Aku harap kamu tak menyakitinya...! Buka hatimu untuk gadis baik hati itu Ga..!"
Ucap Bram datar. Erlangga terdiam, pria itu tampak menarik napas panjang.
"Kamu benar, Yara gadis yang baik. Mungkin untuk menyakitinya tidak, tapi jika untuk mencintainya rasanya tak mungkin. Bram..! Butuh waktu bagiku untuk memulai semuanya...! Bayangan penghianatan itu terus melekat di benakku...!"
Erlangga terlihat frustasi, hanya pada Bramlah Erlangga mampu menceritakan semuanya. Erlangga begitu terpukul dengan perceraiannya, meskipun dia sendiri yang menggugat Amira. Tetap saja tak mudah baginya menghapus jejak Amira dalam hidupnya. selama ini Erlangga tak pernah berpikir sedikitpun akan bercerai dengan Amira. Amira benar benar mampu mengubah hidup Erlangga menjadi pria berhati dingin. Bahkan Erlangga menjadi tertutup pada Yara. Bahkan pria itu tak menceritakan prihal perceraiannya pada Yara.
Sikap kerasnya mengutuk Amira, itu hanya bentuk pelampiasan kekecewaannya, hingga Erlangga sanggup menceraikan Amira, semua itu ia lakukan demi menjaga harga dirinya. Penghianatan Amira benar membuat Erlangga terpukul. Meski Erlangga mengatakan muak pada Amira toh, pria itu nyatanya sulit mengubur nama Amira dari hatinya.
"Lupakan wanita itu..! lo terlalu bodoh jika lo menyakiti wanita sebaik Yara. Aku lihat kamu terlihat perduli padanya.!"
Ucap Bram mengingatkan sahabatnya itu.
"Tentu aku perduli, ada darah dagingku dalam rahimnya. Semuanya butuh proses, Bram..!, akupun tak ingin menyakiti hatinya..!"
Erlangga mencoba menjelaskan pada Bram, betapa sulitnya Erlangga untuk membuka hati setelah penghianatan Amira, jujur Erlangga memang nyaman berada di sisi Yara, karna hal hal sepele yang tak Erlangga dapatkan dari Amira dulu.
Tapi sayang tanpa Erlangga sadari, pria itu telah melukai hati Yara sedemikian dalamnya. Tanpa mereka sadari Yara telah berdiri tepat di belakang mereka. Saat Erlangga mengatakan
"Erlangga perduli karna anak dalam rahimnya"
Gadis itu mematung menyaksikan pembicaraan dua orang pria itu. Takut akan mendengar sesuatu yang lebih menyakitkan lagi, akhirnya pelan pelan Yara melangkah mundur, gadis itu berjalan menjauhi Erlangga dan dokter Bram. Yara berusaha menata hatinya agar terlihat baik baik saja.
__ADS_1