
Jangan pusingkan rencana Allah tentang rasa cinta yang belum datang karena Allah lebih tahu kapan waktu terbaik menghadirkan rasa cinta itu. Bermunajatlah karna itu cara mencintai paling rahasia.
Yara duduk terpekur di atas sajadah, di pertigaan malam,hanya keheningan malam yang menemani ibu satu anak itu dalam tafakurnya mengingat keEsaan Allah dan bermunajat menumpahkan segala rasa kegundahan hati yang mulai merasuk di rongga dada.
Karna hanya Allah tempat terbaik untuk berkeluh kesah dan memohon sesuatu yang kita butuhkan. Sayup sayup suara lirih terdengar di indra pendengaran Erlangga. Manik hitam itu tercelang memperhatikan sosom putih tengah bersimpuh dengan khusuknya di hadapan sang illahi, begitu syahdunya doa yang wanita itu bisikkan pada sang ilahi robbi. Tanpa Yara sadari manik hitam itu menitikkan bulir bening setiap doa yang Yara panjatkan untuk dirinya.
"Ya Allah, berikanlah kepadaku suami yang terbaik di sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat.
Ya Allah, wahai Pemberi Petunjuk orang-orang yang sesat. Berikanlah aku dan suamiku dzikir berupa dzikir mengingat-Mu secara berkesinambungan, serta dengan Taufiq-Mu. Bantulah hambamu untuk menumbuhkan benih kasih dalam hati suamiku.
Alloohummaj’alnii mahbuuban ‘inda zuaji birohmatika yaa arhamar roohimiin.
Artinya: Ya Allah, jadikanlah hamba orang yang dicintai oleh suami, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Ya Allah, wahai harapan orang-orang yang rindu. Sediakanlah untukku sebagian dari rahmat-Mu yang luas. Berikanlah aku petunjuk kepada ajaran-ajaran-Mu yang terang, serta bimbinglah aku dan suamiku menuju kepada kerelaan-Mu yang penuh dengan kecintaan-Mu.
Yaa Allah, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara semua pengasih. Jadikanlah aku dan suamiku berada di antara orang-orang yang memohon ampunan. Jadikanlah aku dan suamiku sebagai hamba-Mu yang sholeh solehah dan setia. Serta jadikanlah aku dan suamiku di antara Auliya’-Mu yang berada dekat di sisi-Mu, dengan kelembutan-Mu ya rabb...!"
"Aamiin...!"
Dengan hati bergetar Erlangga mengaminkan setiap doa yang Yara panjatkan dalam sujudnya. Selesai solat malam Yara membuka mukenahnya, ibu satu anak itu kembali membaringkan tubuhnya di sebelah suaminya. Sementara pria di sampingnya pura pura terlelap seolah ia tak mengetahui apapun.
Mata Yara menelisik wajah lelah Erlangga, entah keberanian dari mana tiba tiba jemari lentik itu membelai lembut rahang kokoh milik suaminya.
"Maafkan aku di dalam diam, aku telah lancang mencintaimu, mas...!"
Bisik Yara dengan suara bergetar, jemarinya tetap setia membelai rahang hingga ke rambut ikal yang berwarna hitam pekat itu. Saat Yara hendak menarik jemarinya menyudahi pencuriannya, mata Erlangga tercelang dengan cepat pria itu meraih jemari Yara.
"Ada apa...?"
Erlangga pura pura bertanya. Yara tergagap pipinya memerah seketika.
"Ah maaf, tadi ada nyamuk di pipimu. Aku hanya ingin memukulnya...!"
Ucap Yara sembari membuang pandangan.
"Ooo aku pikir ada sesuatu..."
Sahut Erlangga datar. Yara menahan nafasnya yang terasa tercekat.
"Ah tidak, tidurlah lagi. Maaf aku jadi mengganggu tidurmu..!"
Yara berucap secepat mungkin, lalu ibu satu anak itu kembali menarik selimutnya. Erlangga tersenyum dalam hati, sepertinya pria itu tak mampu memejamkan matanya malam ini, pria itu terus terngiang ngiang doa yang istrinya panjatkan untuknya.
Cuitan burung bersahutan diantara rerantingan pohon yang ada di sekitaran rumah Aisah. Erlangga bangkit lebih dulu dari atas ranjang, karna memang pria itu tak bisa tidur setelah tidurnya terjaga tadi malam.
"Kamu sudah bangum mas...? Maaf bangunku sedikit telat..!"
Ucap Yara merasa tak enak.
"Gak masalah, aku tau kamu lelah tiap malam harus terjaga oleh tangisan putraku, untuk memberikan asi untuknya..!"
Erlangga mendekat ke arah Yara, tiba tiba pria itu menangkup wajah ayu Yara dengan kedua tangannya.
"Terima kasih kamu telah menjadi ibu yang baik untuk putraku...!"
Sebenarnya Erlangga ingin mengucapkan sesuatu tang lebih penting. Namun entah kenapa yang keluar dari mulutnya hanya ucapan terima kasih. Yara tak bergeming ibu satu anak itu hanya mampu menatap Erlangga dengan tatapan penuh tanya.
"Bukankah itu telah menjadi tanggung jawabku, mas..? Jadi kamu gak perlu berterima kasih...!"
__ADS_1
Erlangga kembali salah tingkah, dengan cepat ia menarik tangannya dari wajah ayu Yara. Pria itu tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Erlangga terlihat konyol di hadapan Yara.
"Apa aku tak boleh mengucapkan terima kasih...?"
Elak Erlangga untuk menutupi kegugupannya. Yara tersenyum memperhatikan gelagat suaminya.
"Tidak ada yang melarang hanya untuk mengucap terima kasih mas...!"
"Nah, itu benar...!"
Sahut Erlangga cepat. Yara tak menjawab ibu satu anak itu hanya menarik bibirnya membentuk lengkungan.
"Aku wudu dulumas...!"
Pamit Yara pada Erlangga.
"Tunggu, biar mas timbakan airnya...! Di luar masih gelap..!"
Sahut Erlangga cepat. Yara mengangguk lalu mengikuti Erlangga di belakangnya. Sementara baby Ez mereka tinggal karna masih tertidur. Setelah timba terisi air, Erlangga langsung membantu Yara berwudu dengan mengucurkan air dari dalam timba seperti padasan.
Sungguh mereka terlihat romantis, seperti pasangan pada umumnya.
Aisah tersenyum bahagia melihat kedua cucunya, dari balik pintu dapur, terlebih melihat perubahan Erlangga. Saat Erlangga menikah dengan Amira, cucunya itu berat sekali untuk mengerjakan solat lima waktu. Saat asyik melihat mereka berdua, tangisan Ezra terdengar lantang.
Aisah kembali ke dalam karna cicitnya telah terjaga.
"Makasih mas..!"
Ucap Yara tulus. Erlangga mengangguk lalu pria itu kembali menimba air untuk dirinya.
"Dek, sepertinya Ezra bangun...!"
"Iya mas, aku masuk dulu..!"
"Iya...! pelan pelan aja di situ agak li...!"
Belum selesai Erlangga berucap Yara sudah terpleset,Erlangga dengan cepat melepas tali timba, lalu menangkap tubuh sintal Yara agar tak mencium tanah.
"Sudah mas bilang hati hati...!"
Omel Erlangga pada ibu satu anak itu. Sambil membantu Yara berdiri tegak.
"Maaf, aku jadi merepotkanmu, mas...!"
Erlangga diam pria itu kembali menimba air untuk berwudu Yara, karna wudunya batal tak sengaja mereka bersentuhan.
Selesai berwudu mereka solat berjamaah bersama, sementara Aisah menimang cicitnya sembari bersolawat di kursi goyang yang terbuat dari rotan.
Selesai solat entah mengapa Erlangga mendekat ke arah tembok, tangannya meraih foto usang itu, lalu ia taruh ke dalam kardus.
"Kenapa di lepas mas...?"
Yara tak suka Erlangga melepas foto itu.
"Aku ingin mengubur masalaluku, melihat foti ini membuat aku terus teringat dengan amira...!"
"Tapi mas...!"
Protes Yara tak setuju.
__ADS_1
"Aku ada di depanmu, kamu tak perlu melihat foto itu untuk melepas rasa rindumu itu...! Jika kamu rindu kamu bisa memelukku..!"
Ceplos Erlangga asal. Yara mendengus untuk menyamarkan rasa malunya.
"Huh...tingkat kePDanmu terlalu tinggi mas...!, memangnya aku terlihat merindukanmu...?"
Ejek Yara tak mau kalah. Erlangga melangkah maju, jarak mereka begitu tipis. Yara menatap Erlangga gugup.
"Kamu mau ngapain mas...?"
Yara terlihat menarik wajahnya sedikit menjauh.
"Jika kamu tak merindukanku tak apa, biar aku saja yang merindukanmu...!"
Bisik Erlangga lembut, lalu tangan Erlangga meraih wajah Yara, ia bingkai wajah ayu itu untuk mendekat pada wajahnya. Erlangga merundukkan kepalanya perlahan, sementara wajah Yara mendongak menantang rahang kokoh Erlangga.
"Aku ingin dicintai seperti kamu mencintai aku tempo dulu...!"
Bisik Erlangga semakin menipiskan jaraknya. Yara gugup, nafasnya sesak seolah terserang asma, hingga Yara tak mampu berucap walau satu huruf saja. Ia hanya mengangguk memberikan jawaban untuk Erlangga.
Erlangga tersenyum, dengan lembut ia membawa tubuh Yara dalam pelukannya. Saat jarak itu semakin tipis, pintu kamarnya di ketuk oleh Aisah. Yara dengan cepat melepas pelukan Erlangga.
"Mas...nenek...!"
Bisik Yara pelan.
"Biarkan saja...!"
Sahut Erlangga tak suka. Erlangga malah menarik tubuh Yara kembali dalam pelukannya. Erlangga mengecup lembut kening Yara. Pria itu ingin melanjutkan kecupannya ke tempat lain namun sial nenek tak beranjak dari pintu.
"Lang, Lang...! Ezra ngompol...!"
Ucap nenek dari balik pintu.
"Uuuuh...nenek...!"
Dengus Erlangga kesal.
"Iya nek sebentar..!"
Akhirnya Erlangga membuka pintu kamarnya..!"
"Baru selesai solat...?"
Tanya nenek heran, karna Yara masih mengenakan mukenah lengkap, begitupun dengan Erlangga, kopiah dan sarung masih terpasang rapi.
"Iya nek...zikirnya kepanjangan..!"
Jawab Erlangga asal. Aisah menyerahkan Ezra pada Erlangga, sementara Yara mengambil celana ganti untuk putranya.
"Heeem masih kecil saja kamu sudah pintar ganggu kesenangan papa...!"
Omel Erlangga pada baby Ez. Yara tersenyum melihat tingkah mantan bosnya itu.
"Kenapa kamu senyum senyum..?"
Tanya Erlangga tak suka.
"Tidak mas, aku hanya gemes saja lihat Ezra..! Kenapa kamu yang sewot..!"
__ADS_1
Erlangga menatap Yara kesal, pria itu lalu ngeloyor keluar kamar begitu saja. Yara tersenyum hatinya bahagia, baru dua minggu tinggal bersama Erlangga di rumah nenek, perubahan pria itu sangat kentara.