
"Sebenarnya aku yang memasukkan telepon itu ke saku bajumu," aku Zielin. "Sekali lagi maafin aku ya, Nay."
Kanaya tercengang mendengar pengakuan dari Zielin. Istri pertama dari Yuga itu terlihat menunduk dengan memasang wajah penuh penyesalan.
"Kenapa Mbak Zi melakukan itu?" tanya Kanaya lagi.
"Aku cemburu padamu, Nay. Aku juga iri karena Mas Yuga lebih memperhatikanmu ketimbang aku," jelas Zielin.
"Bukan karena Mbak Zi takut aku akan merebut harta Mbak Zi kan?"
"Nay, kenapa kamu berkata seperti itu? Kamu tahu? Kamu menyakitiku, Nay." Zielin mengeluarkan air mata buayanya.
Kanaya hanya tersenyum kecut dan menghela napas. "Kamu tenang saja, Mbak. Aku tidak akan meminta harta yang bukan milikku jadi kamu tidak usah berpura-pura lagi," ujarnya.
"Mas, kamu dengar sendiri kan perkataan wanita itu? Dia menganggap permintaan maafku ini hanya pura-pura. Padahal aku tulus melakukannya." Zielin tampak marah.
"Aku yakin Mas Yuga kan yang memaksa Mbak untuk meminta maaf kepadaku?"
Kali ini Zielin tidak bisa menjawab karena memang itulah kenyataannya. Dia hanya bisa mengepalkan tangan kuat.
__ADS_1
"Mbak nggak perlu minta maaf karena aku tidak membutuhkan permintaan maaf itu." Kanaya bangun dari posisinya. "Aku lelah dan ingin beristirahat. Permisi."
Kali ini Kanaya tidak mau menjadi orang yang lemah dan mudah memaafkan. Apalagi ia yakin, istri pertama dari suaminya itu masih memiliki segudang cara untuk membuat Yuga menceraikannya setelah bayi di dalam kandungannya lahir. Kalau bisa, Kanaya ingin hidup tenang dengan nenek dan anak dalam kandungannya. Dia tidak mengingkan apapun selain kedua hal tersebut. Kanaya kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu lihat, Mas? Wanita itu berlaga karena tahu kamu tidak akan melakukan apa pun dan tahu kita membutuhkan bayinya. Dasar tidak tahu diri!" geram Zielin.
"Kamu yang membuatnya bersikap begitu. Selama ini dia selalu berusaha memahami posisinya, tapi kamu terus mengusiknya bahkan sampai menuduhnya. Jadi, wajar kalau sekarang Naya bersikap begitu," bela Yuga.
"Kamu membelanya, Mas?"
"Aku ada pertemuan bisnis jam delapan nanti. Jadi, lanjutkan saja makanmu!" Yuga tak berniat menanggapi rengekan Zielin. Dia tahu wanita itu tidak pernah menyesali perbuatannya terhadap Kanaya.
"Mas Yuga! Mas! Mas!" panggil Zielin dengan menaikan volume suarnya. Namun, Yuga tidak mempedulikannya. Pria yang selama ini selalu memanjakan Zi bahkan percaya apa pun yang keluar dari mulut wanita itu, mendadak berubah menjadi asing yang bersikap acuh kepadanya.
Selama ini Zielin diam-diam mengganti aset atas nama Yuga menjadi namanya.
***
"Hei, wanita kampung!" teriak Zielin yang masuk ke kamar Kanaya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
__ADS_1
"Denger ya jangan karena sekarang Mas Yuga berada di pihakmu kamu jadi sok dan tidak mendengar perkataanku." Zielin menunjuk wajah kanaya.
"Ingat! Aku masih memiliki kartu AS yang bisa langsung menghancurkanmu dalam satu jentikan. Jadi, jangan pernah macam-macam!" ancam Zielin. "Aku tahu, kamu mengingkan harta warisan mertuaku kan? Jangan harap kamu bisa mendapatkannya hanya karena Mas Yuga menganggapmu istri. Ingat! Pernikahan kalian belum didaftarkan secara sah, jadi secara hukum tetap akulah istri satu-satunya Mas Yuga. Jadi jangan pernah bermimpi untuk menjadi cinderella!"
"Aku bukan manusia rakus sepertimu, Mbak. Asal aku bisa hidup di dekat anakku, itu sudah cukup bagiku. Jadi, jangan khawatir kalau aku akan merebut harta milikmu," jawab Kanaya.
"Seharusnya memang begitu. Kau tahu kenapa? Begitu harta warisan itu jatuh ke tanganku, aku pun akan membuang anakmu," ucap Zielin.
"Apa?! Jadi, Mbak nggak berniat merawat anakku?"
"Ogah banget aku ngerawat anakmu. Satu-satunya hal yang membuatku menginginkan anakmu hanya harta warisan dari mertuaku. Kalau saja tua bangka itu mau menyerahkan hartanya tanpa syarat apa pun, aku juga tidak sudi menyuruh Mas Yuga menikah denganmu," jawab Zielin.
Kanaya benar-benar terkejut mendengar pengkuan Zielin. Dia tahu kalau Zielin tidak pernah menyukainya. Namun selama ini dia berpikir setidaknya Zielin benar-benar menginginkan anak itu dan akan merawatnya dengan baik pasca kontrak itu berakhir. Tapi ternyata?
Pengakuan Zielin semakin membuat Kanaya ingin mengambil anak yang dikandungnya begitu lahir. Dia tidak akan membiarkan siapa pun melukai calon anaknya.
"Ohya meski tahu tentang rencanaku ini jangan coba-coba melaporkan semuanya kepada Mas Yuga." Zielin mendektkan mulutnya ke telinga Kanaya. "Aku tahu nenekmu sebentar lagi pulang, jika kamu berani memberitahu Mas Yuga tentang rencanaku ini. Maka aku akan menemui nenekmu dan bilang kalau kamu menjual diri demi mendapatkan uang. Dan saat nenekmu mengetahui hal itu, dia pasti akan merasa bersalah terus jantungnya kumat, dan end."
Zielin menyeringai. Dia pun kemudian keluar dari kamar Kanaya.
__ADS_1
Kanaya memegang erat ponselnya. Padahal dia berhasil merekam semua perkataan Zielin barusan. Tadinya dia ingin melaporkan hal tersebut kepada Yuga sambil menyerahkan rekaman itu. Namun, sekarang dia harus berpikir ulang. Dia tidak mungkin mengabaikan kesehatan neneknya.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau nenek tahu tentang kontrak itu?" batin Kanaya.