
Tak mudah bagi setiap orang memutuskan sesuatu yang sensitif, begitu pula dengan Yara, gadis dua puluh lima tahun itu harus berani mengambil sikap terkait hubungannya dengan atasannya.
Erlangga masih setia menanti jawaban yang keluar dari mulut sekretarisnya itu.
"Bagaimana..? jika kamu keberatan, mas tak memaksamu..!"
Imbuh Erlangga lagi. Yara menatap atasannya sejenak.
"Aku hidup di tengah masyarakat, cepat atau lambat orang akan tau tentang gosip yang akan beredar di khalayak ramai nantinya. Di kantor kita bisa menutupnya rapat rapat, tapi jika di masyarakat kita gak bisa menutupinya, mas. Apa kamu siap menerima konsekuensinya..?"
Tanya Yara pada Erlangga.
Gadis itu tak ingin nantinya disalahkan atas mulut tetangga yang sepedas cabay.
"Apa yang kamu takutkan,..? pernikahan kita sah..! apa kamu malu menjadi istri keduaku..?"
Yara terdiam, gadis itu bahkan tak pernah berpikir seperti itu.
"Tak sedikitpun aku merasa malu menjadi istri ke duamu, karna ini semua, sudah menjadi Qadarullah."
"Lalu apa yang kamu hawatirkan..?"
Tanya Erlangga lagi.
"Akui aku sebagai istrimu..! Aku tak mau dianggap sebagai wanita simpanan..! di tengah masyarakat..!"
Dengan tegas, Yara meminta haknya sebagai istri. Erlangga terdiam, pria itu tampak berpikir.
"Itu saja..?"
Tanya Erlangga lagi.
"Ya, itu saja sudah cukup untukku..!"
Jawab Yara tegas. Erlangga tersenyum, lalu pria itu memegang kedua bahu Yara.
"Baiklah..! aku akan lakukan itu, besok kita buat syukuran di rumahmu..!"
Dengan tegasnya Erlangga berucap. Yara mengangguk tanda setuju.
"Terima kasih, kalau begitu saya permisi..!"
Pamit Yara pada atasannya.
Ke esokan hari di kediaman Yara, diadakan syukuran. Erlangga benar benar menepati janjinya, pria itu memperkenalkan diri di hadapan tetangga, sebagai suaminya.
Gadis itupun dibuat terkejut oleh tindakan Erlangga yang tak pernah Yara duga.
Pria itu memutar video acara akat nikah mereka di layar monitor.
Setelah selesai acara, semua tamu berangsur pulang kerumah masing masing. Tinggallah tersisa Erlangga dan Yara di ruang pribadi mereka. sementata mbok Nah sibuk berberes di belakang.
"Terima kasih mas...! kamu sudah melindungiku dari fitnah..!"
Gadis itu berucap tulus pada suaminya. Erlangga tersenyum, membalas ucapan Yara.
"Mas..! aku ke belakang dudulu, bantu bantu simbok...!"
Pamit Yara pada suaminya.
"Iya, pergilah..! mas juga mau cek email sebentar..!"
Sahutnya sambil membuka laptop.
"Loh mbok, udah siap semua..?"
Tanya Yara pada mbok Nah.
"Iya non, simbok gak betah lihat yang sumpek..!"
__ADS_1
Jawab simbok sembari tersenyum.
"Makasi mbok..! Yara ke atas lagi ya, temenin mas Erlangga..!"
"Iya non, sana temeni suaminya aja...!
Sahut simbok sambil nyapu lantai. Yara kembali ke kamar. menemui Erlangga.
"'loh, udah siap..?"
Tanya Erlangga.
"Udah mas..! udah diberesi simbok semua..!"
Jawab Yara sembari duduk di samping suaminya. Yang terlihat sibuk dengan laptopnya.
"Belum selesai mas..?"
Tanya Yara sembari ikut memperhatikan layar laptop.
"Belum, ini masih buat balasan email untuk perusahaan Cipta mandiri..!"
Sahut Erlangga sembari mengetik.
"Perlu bantuan..?"
Tawar Yara pada Erlangga.
"Gak usah, bentar lagi selesai. Mas minta tolong buatin kopi aja, ya..!"
Pinta Erlangga, pada Yara. Yara bangkit untu membuatkan kopi. Setelah selesai, gadis itu kembali menghampiri suaminya dengan secangkir kopi hangat di tangannya.
"Ini mas, kopinya..!"
Ucap Yara lembut.
Erlangga langsung menyeruput kopi buatan Yara. Pria itu benar benar merasakan pernikahan yang sesungguhnya dengan Yara. Apa yang ia butuhkan semuanya ia dapat dari gadis dua puluh lima tahun itu.
Erlangga denga lembut menempatkan kepala Yara di bahunya. Erlangga merasa memiliki tempat berbagi.
Lalu pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Yara masih tetap setia menemani suaminya bekerja. Sesekali mereka ngobrol santai, bercerita hal hal kecil yang membuat mereka tertawa.
"O iya, mas penasaran apa benar gosip, kedekatanmu dengan Aza, katanya kamu nolak lamarannya, kenapa..?"
Tanya Erlangga penasaran. Yara menatap Erlangga menyelidik.
"Iiiih..! ternyata kamu suka gosip juga ya mas..! gak nyangka ya, CEO doyan gibah juga! yang digibahin karyawannya pula...! pantesan kamu nyolot banget kalau sama mas Aza..!"
Ledek Yara pada suaminya.Erlangga menatap Yara gemes. Mereka serasa ngobrol dengan teman, Yara mulai nyaman berada dekat Erlangga.
"Bukan gibah, cuma pengen tau aja sih..!"
"Sama aja..!"
Ledek Yara lagi.
"Serius lo ini, mas nanya..! benar gak..?"
"Iya mas, sebulan kita menikah, mas Aza ngelamar Yara untuk dijadikan istri, tapi saat itu Yara ingin fokus dulu dengan pengobatan mama."
Jelas Yara pada Erlangga. Pria itu sejenak menghentikan pekerjaannya.
"Apa kamu mencintai dia..?"
Tanya Erlangga serius. Yara mengangkat kepalanya dari bahu Erlangga.
"Perasaan kagum itu pasti ada mas, namun jika dikatakan cinta aku gak tau..! Jujur seumur hidupku baru satu kali aku merasakan jatuh cinta..!"
Ucap Yara jujur. Erlangga kembali menatap Yara dengan serius.
__ADS_1
"Siapa dia..?"
Tanya Erlangga ingin tau. Yara menatap langit lagit ruang tengah sejenak, sembari mengingat wajah pemuda itu, yang memiliki postur tubuh tinggi gemuk gempal, namun terlihat tampan di mata Yara.
"Aku gak kenal mas, yang jelas pria itu baik. Dia sosok pemuda yang sangat dermawan. Dia salah satu donatur, termuda di tempatku sekolah..!"
Erlangga terdiam pria itu mencerna setiap ucapan istrinya.
"Apa kamu gak mencari tau soal idolamu itu..?"
Erlangga semakin penasaran dengan kisah istrinya. Yara menggeleng.
"Engak...! aku malu, kamipu bertemu hanya tiga kali, setelah itu dia tak pernah lagi datang ke sekolahku. Aku dengar kabar dari Nyai dia sudah menikah..!"
Jelas Yara terus bercerita. Erlangga terbengong mendengar kisah istrinya.
"Jadi kamu gak pernah pacaran..?"
Erlangga semakin ingin mengenal Yara dari kisahnya.
"Gak berminat mas, pacaran itu haram...!"
Sahut Yara tegas.
"Haaa..! masak sih, gak pernah pacaran. Jadi sama Aza..?"
"Ya gak pacaran mas, kami hanya berteman saja. Karna di kamusku gak ada daftar pacaran, Rasulullah gak ngajarkan kita pacaran, karna merugikan perempuan..! Lagi pula jelas larangan pacaran di Al- Quran dalam surah Al-Isra: 32. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (Q.S. Al-Isra: 32).
Menurutmu, pacaran itu mendekati zina gak mas..?"
Yara balik bertanya pada Erlangga.
"Iya sih..!"
Sahutnya singkat, Erlangga kembali membawa kepala Yara ke bahunya. Sesekali pria itu, mengelus manja pipi lembut Yara, gadis itu serasa di nina boboin oleh suaminya.
"Apa aku juga boleh bertany...?"
Ucap Yara hati hati.
"Tentu, tanyakanlah yang mengganjal di hatimu..?"
Jawab Erlangga tak keberatan.
"Aku lihat mas begitu mencintai bu Amira, apa yang membuat mas jatuhcinta pada bu Amira..?"
Erlangga terdiam, pria itu tersenyum getir di dalam hatinya.
"Ya, kamu benar, aku sangat mencintainya..! karna dia wanita satu satunya yang mau menerim kekuranganku..!"
Yara menatap suaminya lekat, tiba tiba hatinya merasa menciut, bagai mana mungkin dirinya bisa masuk ke dalam hati suaminya itu, sedangkat ruang hati Erlangga telah terisi penuh oleh Amira.
"Kenapa kamu diam..?"
Tanya Erlangga pada Yara.
"Kalian beruntukg, kalian saling mencintai."
Ucap Yara pelan. Namun ucapannya sampai ke gendang telinga Erlangga.
"Tidak juga...!"
Jawab Erlangga. Yara menyipitkan matanya tak percaya.
"Kenapa..?"
Tanya Yara heran.
"Ya..dia tidak pernah menghargai ketulusanku, karna Amira tak pernah mencintaiku..!"
__ADS_1