
Deru mesin kendaraan berpacu membelah jalanan yang terbentang. Erlangga tampak semangat menginjak gas agar segera sampai ke tujuan.
"Hati hati mas, gak perlu laju laju"
Yara tak lupa mengingatkan suaminya.
"Maaf, mas gak sabar ingin cepat sampai"
Sahut Erlangga tersenyum sembari mencium jemari Yara dengan penuh bahagia. Erlangga menuruti ucapan Yara, ia turunkan kecepatan mobilnya.
Setelah sampai di tempat praktik dokter Laras, Erlangga dengan cepat membukakan pintu mobilnya untuk Yara, Erlangga membantu gadis ayu itu turun dari mobil, dengan hati hati Erlangga menggandeng tangan Yara menuju ruang tunggu, untuk antri menunggu giliran. Karna Erlangga sudah mendaftarkan Yara secara online.
Belum lagi mereka masuk, Amira datang menghampiri mereka berdua. Amira tak lupa mencium suaminya, agar terkesan romantis.
"Selamat ya sayang. Kamu akan menjadi seorang ayah..!"
Ucap Amira manja.
"Terima kasih, selamat juga untukmu, sebentar lagi kamu akan menjadi ibu..!"
Bisik Erlangga pelan. Namun ucapan Erlangga itu masih mampu menembus gendang telinga Yara. Hati Yara begitu sakit, Erlangga tak mengucapkan selamat ke padanya, ia justru mengucapkan selamat pada wanita rubah itu.
Hati Yara semakin teriris, ia sadar posisinya di mana. Yara tertunduk, wajahnya murung tak sebahagia tadi. Yara sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Tiba tiba wanita rubah itu menyalami Yara dan memeluknya.
"Selamat ya, atas ke hamilanmu. Aku bahagia mendengarnya..! aku tak sabar menunggumu melahirkan anak kami..!"
Ucap Amira tampak bahagia. Sementara, Yara yang mendengar ucapan Amira, hatinya rasa di remas. Yara tak menjawab ucapan Amira, gadis itu diam membisu menatap datar ke arah koridor.
Setelah menunggu sepuluh menit, pintu ruang praktik dokter Laras terbuka.
"Pasien atas nama Ibu Yara. Silahkan masuk..!"
Panggil salah satu perawat cantik itu.
"Iya sus, saya..!"
Sahut Yara cepat. Yara masuk di dampingi Erlangga. Amira hendak iku masuk, namun di cegah si perawat.
"Maaf ibu, ibu tunggu di luar saja, pasien cukup didampingi suaminya saja...!"
Amira tak menjawab, wanita itu menatap perawat itu dengan angkuh.
"Silahkan ibu berbaring..!"
Pinta perawat itu dengan sopan.
"Oo baik sus..!"
Yara mendekat keranjang, Erlangga membuntuti. Yara mulai menginjakkan kakinya ke anak tangga, guna naik ke atas ranjang, melihat itu Erlangga dengan cepat membantunya. Dengan penuh hati hati Erlangga membantu istrinya itu.
Dokter Laras mendekat untuk mulai memeriksa Yara.
"Maaf, izin memeriksa ya ibu, pak..!"
Ucap dokter Laras terkesan ramah.
"Silahkan dok..!"
Sahut Erlangga sopan. Dokter Laras mulai melakukan USG.
__ADS_1
"Nah ini buk, Kantung janinnya sudah terlihat. Kalau dilihat dari ukuran kantung janinnya sudah memasuki sekitar empat minggu, jadi untuk HPL nya diperkirakan tanggal sepuluh september ya bu.."
"Iya dok..!"
Sahut Yara lembut. Yara turun dari ranjang pemeriksaan, yang dibantu Erlangga. Lalu Yara dan Erlangga duduk di kursi untuk mendengar penjelasan dokter Laras.
Selesai mendengarkan pngarahan dokter, mereka pulang, Amirapun ikut pulang, di mobil yang berbeda.
Yara menatap ke arah luar jendela, pandangannya kosong tak terbaca.
"Kamu kenapa dek..? Mas lihat dari tadi kamu banyak diamnya..?, apa kamu tidak suka dengan kehadiran calon anak kita..?"
Tanya Erlangga merasa heran.
"Aku takut mas...!"
Ucap Yara menoleh sebentar lalu kembali menatap luar jendela.
"Apa yang kamu takutkan..?"
Tanya Erlangga merasa heran.
"Entahlah..! Aku tak siap jika nanti waktunya tiba..!"
Sahutnya lirih, lalu Yara tertunduk, menahan getirnya kenyataan hidup yang telah terbayang di benaknya. Matanys mulai memanas, namun Yara harus kuat menahannya, agar tak tumpah di hadapan Erlangga.
Sesampainya di rumah, Yara langsung beristirahat gadis itu tak lagi mempedulikan Erlangga dan Amira yang sedang berdebat. Ia ingin segera menenangkan hati dan pikirannya.
"Kamu harus pulang mas, ada hal penting yang harus kita bicarakan..!"
Amira kekeh dengan kemauannya.
"Jangan sekarang sayang, Yara butuh mas..! Dokter menyarankan agar mas, mendampinginya..!"
"Mas..! Ini sangat penting, ini prihal kehamilan Yara..!"
Bujuk Amira pada suaminya.
"Baiklah..! Pulanglah dudu, nanti aku menyusulmu..!"
Erlangga akhirnya menuruti kemauan Amira.
"Oke..! Aku tunggu di rumah."
Ucap Amira lalu wanita itu, pergi meninggalkan kediaman Yara. Setelah kepergian Amira, Erlangga menyusul Yara di kamar.
"Belum tidur..?"
Tanya Erlangga, sembari membenahi surai halus milik Yara yang tergerai.
"Mataku tak bisa terpejam, kepalaku terlalu pusing..!"
Sahut Yara sembari memijat pangkal hidungnya.
"Tidurlah..biar mas bantu memijatnya..!"
Tawar Erlangga tulus. Dengan lembut pria itu membaringkan tubuh yara di atas ranjang. Lalu Erlangga memijat kepala Yara hingga ia tertidur. Setelah melihat tak lagi ada pergerakan. Erlangga bangkit dari duduknya. Ia tutup pintu kamar itu dengan hati hati.
Sebelum meninggalkan rumah Yara, Erlangga tak lupa berpamitan pada mbok Nah.
"Mbok, saya titip Yara ya, kalau ada apa apa segera hubungi saya..!"
__ADS_1
Printah Erlangga pada mbok Nah.
"Baik den..!"
Ucap mbok Nah sopan"
"Makasi mbok...!.O ya mbok, ini handphone, tolong simbok pegang, jika ada sesuatu simbok bisa hubungi saya cepat. Di dalam handphone ini sudah ada nomor saya..!"
Ucap Erlangga menjelaskan.
"Tapi den, saya gak bisa menggunakannya..!"
Ucap simbok jujur.
"Kemari mbok, saya ajarkan cara menggunakannya..!"
Erlangga dengan sabar mengajarkan wanita paruh baya itu, untuk mengoprasikan handphonenya. Setelah mbok Nah paham, Erlangga pamit pulang.
Sesampainya Erlangga di rumah, ternyata Amira telah menunggu Erlangga di sofa ruang keluarga.
"Kenapa lama sekali, hampir berjamur aku menunggumu..!"
Omel Amira pada Erlangga.
"Aku menemani Yara terlebih dahulu, katanya kepalanya pusing, sayang..!"
"Heeem ya sudah..! Duduklah aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, mas...!"
Ucap Amira seolah wanita itu tengah bicara pada tukang kebun saja.
"Ada apa lagi..?"
Sahut Erlangga tampak malas, karna Erlangga tak suka dengan cara bicara Amira yang terkesan ketus.
"Mas..! sekarang Yara sudah hamil. Jadi, tugasmu sudah selesai, kamu tak perlu menemui gadis itu lagi, dengan alasan apapun...!, karna aku tak ingin nama baikmu tercoreng oleh kehamilan gadis itu..!"
Titah Amira seenak jidatnya. Erlangga menatap Amira tak percaya, wanita di hadapannya itu sungguh tak punya hati, pikirnya.
"Loh, kenapa begitu..? Dia butuh perhatianku, Amira..!"
"Sayang..! yang harus kamu perhatikan itu aku, bukan dia..! Kamu tak lupakan, dia ada dalam ke hidupan kita itu untuk apa..?"
Tanya Amira mencoba mengingatkan Erlangga.
"Mas, dia hanya kita butuhkan rahimnya saja, nah sekarang hal itu sudah terwujud, Yara sudah hamil, lalu apa yang kamu hawatirkan..? Kamu tenang saja mas, aku akan kirim perawat khusus untuk menjaganya dua puluh empat jam. Jadi kita tak harus tidur terpisah, kamu tau sayang, hatiku tersiksa saat kamu menemuinya..! Apa kamu tak ingin seperti dulu lagi..? dalam rumah tangga kita hanya ada aku dan kamu..!?"
Bisik Amira manja, Amira mulai mencuci pikiran Erlangga yang terlihat goyah. Dengan rayuannya Amira berucap sembari duduk di atas pangkuan Erlangga. Pria itu mulai berpikir jika apa yang dikatakan Amira itu benar.
"Baiklah, apa yang tidak aku lakukan untukmu sayang..!"
Erlangga berucap sembari memeluk tubuh Amira dengan erat.
"Terima kasih sayang..!"
Amira dengan bahagianya mencium rahang kokoh milik suaminya.
"Heem, kalau begitu mulai besok, kamu harus mencari penganti untuk sekretarismu yang baru. Aku tak ingin Yara kelelahan karna pekerjaannya..!"
Ucap Amira seolah olah ia perduli. Erlangga mengangguk tanda setuju.
"Aku setuju, aku tak ingin dia kelelahan, karna itu dapat membahayakan calon anakku..!"
__ADS_1
Jawab Erlangga. Amira tersenyum senang, wanita itu merasa menang. Amira akan menemui Yara, ia akan menyampaikan sesuatu tentang Erlangga.