Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
RK - Chapter 54


__ADS_3

Kanaya masih berdiam diri di depan pintu ruang rawat neneknya. Hari ini untuk pertama kalinya, Kanaya datang secara langsung menjenguk sang nenek setelah sebelumnya hanya menanyakan kabar wanita tua itu melalui sambungan telepon.


Tok-tok-tok!


Kanaya mulai mengetuk daun pintu yang ada di hadapannya.


"Siapa?" tanya seseorang dari dalam.


"Ini... ini Naya, Nek," jawab Kanaya.


"Naya? Masuklah, Nak. Ngapain kamu ketuk pintu?" suruh Sang Nenek.


Dengan perasaan was-was Kanaya mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruang rawat tersebut. Selama ini jangankan bercerita soal kehamilannya, cerita soal pernikahannya dengan Yuga pun tidak. Kanaya masih takut sang nenek tidak bisa menerima alasan dibalik pernikahannya dengan Yuga.


"Nek, bagaimana kabar Nenek? Nenek sudah benar-benar sehatkan?" tanya Kanaya. Dia tak dapat membendung air matanya kala melihat kondisi neneknya yang sekarang terlihat sehat. Wanita berusia lebih dari setengah abad itu terlihat sangat bugar dengan wajah berseri.


"Nenek baik, Sayang. Selama menjalani pengobatan nenek selalu berdoa semoga Allah masih memberikan kesempatan kepada nenek untuk bertemu denganmu. Nenek sangat merindukanmu, Naya."


Nek Asih memeluk cucu semata wayangnya.


"Naya juga kangen sama Nenek. Naya selalu berharap bisa bertemu dengan Nenek lagi." Kanaya membalas pelukan sang nenek tak kalah erat. Keduanya menangis haru karena akhirnya bisa kembali bertemu setelah berbulan-bulan lamanya hidup terpisah.


"Jangan nangis lagi. Tidak baik wanita yang sedang hamil selalu menangis." Nek Asih mengusap pipi Kanaya dengan telapak tangan.


Kanaya terkejut mendengar perkataan Nek Asih barusan.


"Nenek sudah tahu kalau aku sedang hamil?"


"Perutmu sebesar itu bagimana nenek tidak tahu," jawab Nek Asih.


"Nenek tidak marah sama Naya?"


Nek Asih menatap Kanaya. "Awalnya nenek marah saat tahu kamu terpaksa menikah dengan pria beristri demi mendapatkan biaya untuk operasi jantung nenek. Namun, setelah mendengar semua cerita secara utuh dan nenek tahu kamu bahagia. Nenek ikut bahagia," jawab Nek Asih menjelaskan.


"Cerita secara utuh? Apa Mbak Mona yang menceritakan semuanya kepada Nenek?" tanya Kanaya lagi. Setahu dia selain Yuga dan Zielin hanya Monalah satu-satunya orang yang tahu tentang pernikahan kontrak itu.


"Memangnya yang tahu semua itu cuma Mona," jawab Nek.Asih.

__ADS_1


"Kalau bukan Mbak Mona siapa? Tidak mungkin kan kalau Mas Yuga yang.... "


Nek Asih mengangguk.


"Suamimu datang menemui Nenek setelah nenek dioperasi. Dia menceritakan segalanya kepada Nenek. Awalnya nenek sempat marah karena merasa menjadi beban untukmu. Tapi, setelah suamimu menceritakan segalanya dan nenek tahu kamu bahagia, nenek ikut bahagia," jelas Nek Asih.


Tidak lama Yuga dan Hendrawan datang.


"Apa kabar, Nek?" sapa Yuga.


"Mas, kenapa kamu nggak ngomong kalau kamu sudah menjelaskan semuanya ke nenek?" protes Kanaya dengan wajah cemberut.


"Aku sudah bilang kan sama kamu, kalau nenek pasti bahagia ngelihat kamu bahagia," balas Yuga.


"Ish, dasar!" Kanaya mencebik, dia sedikit memanyunkan bibirnya.


"Sayang, jangan kamu monyong-monyongin tuh bibir. Itu membuatku tidak tahan ingin melahapnya." Perkataan Yuga tentu saja membuat Kanaya melotot. Bisa-bisanya laki-laki itu mengatakan hal seperti itu dengan santai di depan ayah dan neneknya.


Hendrawan dan Nek Asih hanya tertawa melihat tingkah keduanya. Mereka ikut bahagia melihat keduanya bahagia.


***


Malam itu Kanaya terlihat cantik dengan gaun berwarna putih yang dihiasi dengan permata. Perutnya yang besar malah membuat aura kecantikannya semakin kuat. Sepanjang acara resepsi tak henti-hentinya sepasang suami istri itu menebar senyum kepada semua tamu undangan yang datang. Mereka ingin agar semua yang datang ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan. Hingga tiba-tiba....


"Mas, perutku... perutku sakit.... " Kanaya berteriak sambil memegangi perutnya. "Sepertinya anak kita akan lahir, Mas."


"Sayang, kamu tidak bercanda kan? Bukankah menurut dokter perkiraan anak kita baru akan lahir 3 minggu lagi?"


"Tapi, perutku sudah sakit, Mas."


Yuga segera membawa Kanaya ke rumah sakit menggunakan mobilnya. Nek Asih dan Hendrawan menyusul sesudahnya.


*


"Oek... oek."


Suara tangis bayi terdengar dari ruang persalinan. Yuga merasa sangat bahagia karena akhirnya bayi yang ia tunggu kehadirannya lahir juga ke dunia. Tak henti-hentinya pria itu mengucap syukur alhamdulillah atas semua anugerah yang Tuhan berikan.

__ADS_1


"Mas, anak kita laki-laki. Dia tampan seperti kamu," puji Kanaya saat Yuga menggendong bayi mereka.


"Kamu benar. Dia sangat tampan," ucap Yuga sambil menatap wajah putra mungilnya.


"Mas, apa kamu sudah punya nama untuk dia?" tanya Kanaya lagi.


"Ehm... masih aku pikirkan," jawab Yuga.


"Bagaimana kalau kita berinama dia Rakha? Papa sangat ingin menamai itu dulu. Nama itu dulu papa siapkan untuk calon adikmu, sayangnya calon adikmu tidak pernah bisa lahir," ujar Hendrawan.


"Kenapa tidak Deandra saja, Nenek sangat ingin nama itu." Nek Asih ikit berbicara.


Yuga dan Kanaya saling melemparkan pandangan. Keduanya bingung harus mengambil nama pemberian dari siapa.


"Ya sudah kalau begitu, dia kita kasih nama Rakha Deandra Putra Yuga, bagaimana?" Kanaya memberikan idenya.


"Kenapa harus pakai nama Yuga? Kenapa nggak Tjandra saja?" protes Hendrawan.


"Karena aku ingin nama suamiku ikut melekat padanya," jawab Kanaya.


"Baiklah tidak apa-apa, papa setuju.Kalau begitu kita panggil dia Rakha."


"Kenapa harus Rakha? Panggil saja Dean."


"Rakha."


"Dean."


"Rakha."


"Dean."


Kanaya dan Yuga hanya bisa tersenyum melihat papa dan nenek mereka bertengkar memperebutkan panggilan.


...TAMAT...


Terima kasih untuk semua yang sudah mengikuti kisah Kanaya dan Yuga ini. Maaf jika karya ini masih jauh dari kata sempurna. Tetapi semoga bisa menjadi bacaan yang hibur kalian.

__ADS_1


Ohya, bagi kalian yang ingin tahu kisah Tama Wiajaya setelah ditinggal sang istri jangan lupa baca cerita baruku yang berjudul SEBATAS IBU SAMBUNG.


__ADS_2