Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 32


__ADS_3

Jika yang berpura pura mencintai saja mendapatkan cinta yang lebih, bagaimana mungkin yang tulus hanya mendapat sisa sisa, Yara percaya suatu saat ia akan meraih kebahagiaan itu.


Namun terkadang hstinya ngilu jika mengingat apa yang akan terjadi pada kisah hidupnya. Namun gadis itu tak ingin menjadi sosok manusia yang berputus asa, berusaha menjadi yang terbaik untuk, hanya itu yang dapat Yara lakukan.


Yara sesekali melirik ke arah suaminya, yang tengah duduk manis sembari di temani secangkir kopi


Sungguh terasa romantis. Erlangga tersenyum sembari menyeruput kopi pahit buatan Yara. Obrolan pembuka hari mereka begitu ringan. Seolah mereka pasangan yang ideal.


"Ra..., nanti saya akan pulang telat, karna banyak urusan yang harus saya selesaikan..! Saya titip anak kita, jaga baik baik kandunganmu..!"


Pesan Erlangga sungguh terdengar manis, layaknya sepasang suami istri yang saling mencintai.


Yara mengangguk, menuruti perintah Erlangga.


"Kamu jangan hawatir, Insya Allah aku akan menjaha amanah yang Allah titipkan ini..!"


Sahut Yara sembari mengelus perutnya yang membuncit.


"Kalau begitu saya pamit dulu...!"


Erlangga bangkit dari kursi santainya, yang dibarengi gadis di sebelahnya. Pagi ini Erlangga mendapat informasi yang sangat penting, sehingga Erlangga tak bisa menghabiskan waktu lama bersama Yara. Sebelum Erlangga pergi Yara mengulurkan tangan lalu mengapit tangan Erlangga untuk ia salam dengan takzim.


"Hati hati, doaku selalu bersama langkahmu...!"


Ucap Yara tulus. Erlangga tersenyum sembari mengelus puncak kepala Yara. Setelahnya pria itu berlalu meninggalkan wanita ayu itu.


Erlangga mulai melajukan mobilnya, membelah jalanan ibu kota, Erlangga membelokkan setir mobilnya ke arah kiri, setelah sampa pria itu membuka pintu rumahnya perlahan.


Erlangga langsung menuju kamar mereka, tangan kekar itu dengan cepat membuka pintu dan membanting daun pintu itu dengan keras.


"Bangun kau...!"


Ucap Erlangga datar. Sembari mencengkram rambut Reno. Amira seketika membuka matanya, wanita itu langsung duduk dari posisi tidurnya.


"Mas...!"


Ucap Amira terkejut. Wanita itu sungguh tak menyangka suaminya pulang secepat ini. Dengan dada yang bergemuruh, Erlangga tersenyum sinis pada manusia busuk itu.


"Kenapa...? kamu terkejut...?"


Tanya Erlangga sinis.


"Ga, aku bisa jelasin ini semua...!"


Ucap Reno tampak menenangkan. Erlangga tersenyum mendengar ucapan sepupunya itu.


"Kamu tak perlu menjelaskan apapun padaku...!"

__ADS_1


Erlangga berucap dengan tenang. Namun cengkraman tangannya di rambut Reno semakin mengetat. Rasanya pria itu ingin menghabisi manusia penghianat di depannya, namun Erlangga tak ingin mengotori tangannya demi perempuan yang tak pantas untuk diperjuangkan.


"Pakailah pakaian kalian, aku tunggu kalian di lantai bawah..!"


Ucap Erlangga dengan melepaskan cengkramannya sembari menghempaskan tubuh Reno ke ranjang.Erlangga berucap tanpa sedikitpun menatap Amira, dengan cepat pria itu meninggalkan kamarnya.


Sampai di ruang tengah Erlangga terduduk, hatinya hancur. Harga dirinya runtuh tak bersisa. Sementara Amira dan Reno adu mulut di atas sana.


"Coba kamu mendengarkanku, pasti tak begini akhirnya, kamu terlalu keras kepala...! Hancur semua rencana kita..!"


Bentak Reno pada Amira.


"Terus kamu menyalahkanku, Ren..? Bukannya kamu yang ingin menemanuku..?"


Sangkal Amira tak terima.


"Itu benar aku yang ingin menemani mu, paling tidak jika kamu mengizinkanku pulang subuh tadi, tak mungkin kejadiannya akan seperti ini..!"


Sergah Reno penuh rasa kecewa pada Amira. Sementara Amira merasa kesal dirinya di salahkan. Wanita itu akhirnya turun ke lantai bawah.


Di ruang keluarga tampak Erlangga duduk sembari menutup wajahnya dengan siku ia topangkan di kedua lututnya.


Saat Amira dan Reno turun Erlangga menatap datar ke arah mereka.


"Maafkan aku mas..!"


Ucap Amira merasa tak berdosa. Erlangga diam tak meladeni ucapan maaf dari istrinya.


Ucap Erlangga penuh dengan rasa kecewa.


"Aku bisa jelasi ini semua Ga..!"


"Tidak ada penjelasan untuk penghianat seperti kalian. Sungguh aku salah menilai kebaikan kalian berdua...! Demi ingin menguasai perusahaanku, kalian rela mempermainkan hidup seseorang...!"


Ucap Erlangga datar. Mendengar pernyataan Erlangga, Amira dan Reno adu tatap tanda mereka kalah dalam permainan.


"Jangan ngaco kamu Ga...! Ini gak seperti yang kamu pikirkan...!"


"Diamlah aku muak dengan mulut busukmu itu..!"


Sergah Erlangga tajam.


"Kalian tak perlu menyangkal, aku telah memiliki bukti kebusukan kalian semua. Apa yang tidak bisa aku lakukan untuk mengetahui semuanya...?"


Ucap Erlangga dengan nada sinis.


"Ini alasanmu mau menikahi pria buruk rupa sepertiku, Amira..?"

__ADS_1


Erlangga menata Amira nanar, tampak kesedihannya bergulung di wajah datar Erlangga.


"Jika kamu hanya mengincar hartaku, kenapa kamu tak berterus terang sedari awal..? akan aku serahkan hartaku untumu, jika dengan cara itu kamu bisa mencintaiku..!"


Amira terdiam wanita itu tak sanggup menatap suaminya, entah apa yang tengah wanita itu pikirkan.


"Maafkan aku mas, kasih aku kesempatan, kita ulang dari awal hubungan kita..!"


Pinta Amira memohon. Erlangga dengan lembut memegang kedua bahu Amira.


"Maaf aku sudah tak berminat, menjalin hubungan apapun denganmu...! Aku jijik jika mengingat percintaan kalian di villa itu..!"


Ucap Erlangga, lalu mendorong tubuh Amira dengan jijik. Sehingga tubuh Amira huyung ke belakang, namun Reno dengan cepat menangkapnya. Amira terkejut mendapat perlakuan kasar dari Erlangga.


"Jaga sikapmu Ga, jangan sakiti dia..!"


Bentak Reno tak terima. Erlangga tak gentar pria itu malah mengejek sepupunya itu dengan hina.


"Heeem..! Kamu pantas memungutnya Ren..! Ambillah, aku tak butuh wanita seperti dia..!"


Ejek Erlangga sembari menunjuk ke arah Amira. Amira dengan cepat melepas tangan Reno yang menopang tubuhnya. Lalu Amira memeluk lutut Erlangga, sembari memohon.


"Mas, aku mohon beri aku kesempatan..!"


Ucapnya lirih. Erlangga membuang wajahnya ia tak ingin menatap wanita yang tengah memeluk kakinya itu.


"Kesempatan itu begitu banyak aku berikan untukmu, Amira..! Tapi itu dulu, tidak untuk saat ini..! lanjutkan hubunganmu dengan Reno...! Aku akan segera urus perceraian kita..!"


Jelas Erlangga dengan datar. Sembari melepas tangan Amira dengan kasar.


"Gak bisa gitu mas..! Jika kamu menceraikanku, kamu juga harus menceraikan Yara...!"


Serga Amira tak terima. Erlangga kembali tertawa.


"Ini masalah aku dan kamu, tidak ada hubungannya dengann Yara..!"


Erlangga dengan tegas berucap, lalu Erlangga pergi meninggalkan Amira.


"Aku tak terima mas...! Aku tak akan tinggal diam...!"


Amira berucap sembari melemparkan vas bunga ke arah Erlangga. Namun pria itu tak sedikitpun menoleh, Erlangga terus keluar rumah menuju mobilnya.


"Biarkan dia pergi..!"


Ucap Reno menenangkan. Lalu membawa tubuh Amira ke dalam dekapannya.


"Kamu tenanglah, kita gunakan cara lain untuk menghancurkan dia..!"

__ADS_1


Ucap Reno sembari mengepalkan tangannya. Reno tak terima kekasihnya dihina sedemikian rupa. Amira mengangguk wanita itu tak sedikitpun ada kesedihan di matanya, yang ada hanya rasa dendam yang makin menggebu gebu. Amira tak akan membiarkan Erlangga bahagia begitu saja.


Baginya menghancurkan Erlangga adalah misi utamanya.


__ADS_2