Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 44


__ADS_3

Jangan menyerah saat doa-doa kita belum diijabah. Jika kita mampu bersabar, Allah mampu memberikan lebih dari apa yang kita minta.


Cukup bagi Yara mencintai dia dari kejauhan agar terjaga kehormatannya. Karna setiap cinta membutuhkan kesederhanaan dan keikhlasan. Namun jika tak juga mampu,maka cukuplah baginya mencintai dalam diam, biarkan Allah saja yang tahu tentang perasaan ridunya.


Setelah dua bulan Yara belum juga di ketemukan oleh Erlangga. Saat ini ibu muda itupun tak kuasa melawan takdir tuhan. Sulit sekali bagi Yara mencari ongkos untuk pulang di perkampungan ini, bahkan Yara rela menjadi buruh cuci pakaian penduduk setempat hanya untuk mendapatkan uang untuk ongkosnya pulang, sementara untuk biaya makan Yara numpang hidup pada nenek berhati malaikat itu.


Pagi ini nek Sah tampak sibuk di dapur, wajahnya sumringah, tampak tangan tua itu mulai meracik bumbu bumbu untuk olahan masakannya. Yara tak lupa ikut nimbrung di sebelah nenek.


"Kenapa banyak sekali lauk yang dimasak nek..?"


Yara merasa heran dengan apa yang nek Sah lakukan.


"Iya nak..! hari ini cucuku akan datang..! Cucuku itu tak pernah lupa dengan waktu berkunjungnya, sesibuk apapun dia, pasti dia sempatkan untuk pulang. Elang akan pulang setiap tanggal lima di minggu ke tiga ini...! Nanti akan nenek kenalkan kamu padanya..!"


Wanita renta itu begitu bahagia akan menyambut kepulangan cucunya. Yara yang mendengar hal itu seketika jantungnya berdebar, entah apa gerangan yang membuat jantung itu terus melompat lompat tiap kali nenek membicarakan bapak donatur itu. Yara beristigfar meminta ampunan pada sang ilahi. Ibu satu anak itu tau betul, apa yang ia rasakan itu hal yang salah. Yara tak boleh memupuk rasa cintanya pada pria beristri itu, karna dia tak halal untuk dirinya.


Ini tak bisa dibiarkan, dirinya tak boleh bertemu dengan pak donatur itu, Yara hawatir ini akan menjadi bumerang untuk dirinya. Yara memutuskan sebelum cucu nenek sampai, ia dan putranya sudah harus meninggalkan rumah nek Sah.


Sebisa mungkin Yara menetralkan perasaannya yang mulai mengusik pikirannya itu. Yara mencoba menyibukkan diri dengan membantu nek Sah.


"Apa yang bisa Yara bantu nek..?"


Yara ikut bahagia melihat kebahagiaan nenek yang terpancar jelas di wajah senjanya.


"Nak Yara cucikan ikan sama sayurannya ya..! biar nenek yang membuat bumbu dan memasaknya..!"


Nek Sah ingin memasak langsung masakan kesukaan cucunya itu dari tangannya sendiri. Setelah semua matang nenek menaruhnya ke dalam tudung saji. Setelah itu nenek duduk di teras samping melanjutkan merajutnya, nenek ingin menghadiahkan baju hangat hasil rajutannya itu untuk baby Ez. Yara mendekat menghampiri nenek.


"Nenek Yara ingin bicara sebentar..!"


Ucap Yara sopan.


"Iya nak, ada apa..?"


Nenek seketika menghentikan kegiatannya. Ia letakkan benang wol yang berbentuk sweater itu di atas meja bambu.


"Yara ingin mengucapkan terima kasih pada nenem..!


Nek Sah terdiam menatap Yara lekat lekat.

__ADS_1


"Terima kasih untuk apa nak..?"


Tanya nenek mulai merasa tak enak.


"Terima kasih, nenek telah berkenan menampung Yara dan baby Ez di sini, terima kasih juga nenek telah menganggap Yara seperti cucu nenek sendiri. Yara minta maaf nek, Yara harus pulang ke kota sekarang, karna telah terlalu lama Yara meninggalkan tanggung jawab Yara sebagai istri..! Maaf nek, Yara gak bisa membalas kebaikan nenek, hanya ini yang Yara punya...! Nenek bisa membacanya saat nenek merindukanku...!"


Nenk Sah terpekur mendengar ucapan Yara.


"Yakin kamu memberikan ini pada nenek..?"


Yara mengangguk sembari tersenyum.


"Bukankah ini barang berharga kesayanganmu nak..?"


Tanya nenek pada Yara.


"Iya nek, Yara memang menyayanginya, seperti Yara menyayangi nenek...! Semoga melalui Qur'an ini kita kelak dipertemukan di syurga Allah..!"


Nenek tak menjawab, wanita renta itu menubruk tubuh Yara, bahu rapuhnya bergetar mendengar ucapan wanita solehah yang beberapa hari menemaninya.


"Kenapa kamu terburu buru meninggalkan nenek...? Sungguh beruntung pria yang mendapatkanmu nak...! Semoga Allah selalu melindungimu..!"


"Aamiin...!"


Sungguh wanita renta itu merasa sedih melepaskan kepergian Yara dan putranya.


"Tidakkah kamu menunggu cucuku datang nak..?"


Pinta nenek penuh harap.


"Maaf nek, Yara tidak bisa...! Yara harus kembali sekarang..! Jika Allah menghendaki suatu saat kita akan dipertemukan kembali..!"


Yara dengan lembut menenangkan sang nenek. Tak tega sebenarnya Yara meninggalkan nenek baik itu, namun Yara terpaksa harus meninggalkannya.


"Baiklah...! Hati hati nak, nenek tak bisa mengantarmu...! Ini nenek ada sedikit uang, ambillah angga saja nenek memberi cucu nenek uang jajan...!"


Yara semakin terisak menerima uang dalam buntelan sapu tangan lusuh itu. Yara dan baby Ez sampai di pasar, ibu muda itu membeli tiket bus untuk kepulangannya ke kota, Yara mendapatkan jadwal keberangkatan tengah hari. Ibu muda itu duduk di terminal untuk menunggu keberangkatannya.


Nek sah terduduk lesu di teras rumah sembari menggengam sweater rajut setengah jadi. Mata senjanya menatap kosong ke arah jalan yang barusan Yara lalui.

__ADS_1


"Semoga Allah mempertemukan kita kembali nak..!"


Bisik nek Sah lirih, sadar bahwa Yara dan Ezra telah pergi meninggalkannya, akhirnya sang nenek masuk dengan sedikit tergopoh. Baru saja kaki renta itu berjalan lima langkah, suara mobil berdecit tanda sang cucu telah tiba.


"Elang...!"


Panggil nek Sah sembari membalik badan. Pria yang dipanggil Elang itu langsung menghampiri sang nenek tercinta.


"Nek...maaf cucu nenek sedikit terlambat..!"


Sang nenek hanya tersenyum seulas saja. Tak biasanya nenek kesayangannya itu tak semangat menyambut kedatangannya. Pria itu menatap lekat mata tua sang nenek. Dengan penuh sayang sang cucu memeluk nek Sah.


"Nenek menangis...?"


Tanya sang cucu


"Ah tidak, nenek hanya sedang rindu padamu..! Masuklah, nenek telah menyiapkan makanan kesukaanmu..!"


Nek Sah, dengan sayang membawa cucunya ke meja makan.


"Makanlah nenek telah menyiapkan lauk untukmu dari subuh tadi..!"


Nek Sah dengan penuh semangat menyendokkan nasi ke atas piring cucunya. Pria itu tampak melahap masakan sang nenek, dengan nikmatnya. Selesai menyantap masakan yang nenek suguhkan. Seperti biasa pria itu akan duduk di teras depan rumahnya. Hanya sekedar menikmati asrinya pemandangan pegunungan yang terlihat hijau.


"Istirahatlah kamu pasti capek, Lang..! Jika ingin berbaring kamar sudah nenek siapkan..!"


"Iya nek nanti, masih terlalu pagi untuk tidur..! Elang mau keluar sebentar..! Nenek mau ikut..?"


Tawar pria itu pada sang nenek.


"Apa kamu mau sekaligus antarkan nenek membeli benang wol..?"


Elang tersenyum. Ternyata neneknya itu masih menggeluti hobi merajutnya.


"Tentu, apa yang tidak Elang beri untuk nenek..!"


Nek Sah masuk ke dalam mobil, sampai di pasar tradisional nenek Sah segera menuju toko kecil yang menjual khusus perlengkapan merajut. Sementara cucunya itu tengah membeli alat mandi, karna cucunya itu tak suka mandi dengan sabun batang. Saat ini Elang sedang berada di sebuah toserba, ia cari keperluan yang ia butuhkan sekaligus melengkapi kebutuhan nenek untuk tiga bulan kedepan.


Selesai memilih barang pria itu berjalan ke arah kasir. Saat hendak membayar tiba tiba seseorang menyerobot antrian.

__ADS_1


"Maaf pak, bisa toling hitungkan belanjaan saya dulu..! Karna bus yang saya tumpangi akan segera berangkat..!"


Yara terlihat terburu buru karna sebentar lagi bus tujuan kota memang akan segera jalan. Hati ibu muda itu begitu bahagia ia akan kembali ke rumahnya, bibirnya tersenyum setelah menerima belanjaan yang barusan ia bayar. Gadis itu tak sadar jika setiap geraknya tengah diamati oleh sepasang mata hitam. Saat hendak pergi tiba tiba lengan Yara dicekal oleh pemilik mata hitam itu.


__ADS_2