
"Sudah pulang, Mbak?" tanya Kanaya ketika melihat kedatangan Zielin.
Zielin menatap nyalang Kanaya. Gara-gara mencari wanita itu dia rela mengelilingi mall bersama dengan selingkuhan dan orang-orang suruhannya. Tetapi ternyata wanita yang dicarinya sudah bersantai di rumah.
"Ternyata kamu sudah pulang rupanya. Kamu tidak mengatakan hal apa pun kan pada Mas Yuga?" tanya Zielin dengan tatapan mengintimidasi.
"Mengatakan apa, Zi?"
Mata Zielin membelalak ketika tiba-tiba ia mendengar suara Yuga.
"Zi," panggil Yuga.
Zielin mlirik kearah Kanaya demikian juga sebaliknya.
"E... itu, Mas, mengatakan kalau ... kalau ... aku berencana mengdakan syukuran tujuh bulanan buat anak yang sedang dikandung Kanaya. Iya, Mas, mengatakan itu," jawab Zielin berbohong.
"Wah, kebetulan. Kemarin papa juga ingin mengadakan syukuran tujuh bulanan buat kamu. Papa bilang ingin sekalian mengenalkan kamu kepada rekan bisnisnya," balas Yuga.
"Mas Yuga yakin, papa mau ngadain itu buat aku?" tanya Zielin sedikit ragu. Pasalnya selama ini yang ia tahu sang ayah mertua tidak menyukai dirinya.
__ADS_1
"Kan papa tahunya kamu yang hamil, Zi, bukan Naya. Walau sejujurnya aku ingin berkata jujur kepada papa bahwa sekarang aku memiliki dua istri dan istri keduaku lah yang saat ini sedang mengandung anakku." Yuga mendesah pelan.
"Mas, maaf ya karena aku sudah membuatmu nlberbohong sama papa. Tapi, aku bener-bener takut, Mas, kalau papa bakalan makin membenciku jika ia tahu bahwa aku berbohong soal kehamilanku. Apalagi selama ini kamu juga tahu kalau papa tidak pernah suka padaku." Zielin memasang wajah sedih.
Yuga merangkul pundak istri pertamanya tersebut. "Aku mengerti perasaanmu, Zi. Aku janji, aku akan merahasiakan semuanya dari papa," balas Yuga.
"Ohya, terima kasih ya karena kamu sudah mau meminta maaf kepada Naya. Aku senang jika kedua istriku akhirnya bisa saling mengerti. Makasih ya, Nay karena kamu udah mau maafin Zi," ucap Yuga dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
"Iya, Mas. Aku tahu, Mbak Zi hanya cemburu. Makanya dia memfitnahku," ujar Kanaya.
"Terima kasih ya, Nay, karena kamu mau maafin, Zi," ucap Yuga.
Kanaya mengangguk.
"Ya iyalah, Mas. Memangnya kalau bukan hal itu apalagi?"
"Tapi dari nada bicaramu sepertinya bukan itu yang ingin kamu katakan sama Naya," selidik Yuga dengan mata memicing. Tentu saja hal itu membuat Zielin merasa tidak nyaman.
"Katakan saja yang sejujurnya!" suruh Yuga.
__ADS_1
Gleg!
Zielin kembali menelan ludahnya sendiri.
"Zi, bukan tentang syukuran tujuh bulanan kan yang sebenarnya ingin kamu katakan pada Naya tadi?" Yuga kembali menatap Zielin.
"Mas Yuga... Mas Yuga ngomong apaan sih?" Zielin sedikit tergagap. Dia kembali menatap Kanaya. Dia takut kalau Kanaya sudah mengatakan hal yang dilihatnya di toko emas tadi.
"Nay?" Yuga beralih menatap Kanaya untuk meminta penjelasan.
"Sebenarnya tadi... tadi... aku bertemu dengan mbak.... "
"E... Itu Mas, tadi kebetulan kami bertemu di mall waktu aku mau beliin kamu hadiah," sela Zielin. Dia tidak mau memberikan kesempatan kepada Kanaya untuk mengatakan hal yang sejujurnya. "Iya kan, Nay?" Zielin memberikan isyarat kepada Kanaya untuk mengangguk.
Kanaya tetap diam. Dia sengaja ingin membuat istri pertama suaminya itu ketakutan.
"Ah, jadi ketahuan kan kalau aku mau memberikan kamu hadiah. Padahal tadinya aku mau ngasih kamu surprise," tambah Zielin masih dengan wajah tegang.
"Hadiah? Untukku? Aku merasa tidak ada yang spesial di hari ini," ucap Yuga.
__ADS_1
"Memang tidak ada. Aku mau ngasih hadiah itu sebagai permintaan maafku karena aku sempat marah sama kamu, Mas. Lagian tidak ada yang salah kan memberikan pasangan kita kejutan?" Zielin mencoba memberikan jawaban yang masuk akal menurutnya.
"Memang tidak salah sih. Tapi, nada bicaramu terhadap Naya tadi seolah kamu sedang mengancamnya." Perkataan Yuga membuat Zielin kembali menelan air liurnya sendiri. Dia benar-benar takut kalau kali ini Yuga akan mencurigainya.