Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 22


__ADS_3

Dinginnya ruangan menyadarka Yara dari pingsannya. Matanya mulai tercelang menatap langit langit bercat putih.


Yara tak pernah membayangkan dirinya akan kembali ke ruangan yang sama, terbaring di ranjang yang sama, dan ditangani dokter yang sama.


Yara mulai memanggil dokter Ami. Doktepun mendekat ke padanya.


"Dok..!"


Panggil Yara lirih. dokter Ami mendekat.


" Alhamdulillah Ibu Yara sudah sadar..!"


Ucap dokter Ami sembari tersenyum.


"Alhamdulillah dok..! Sebenarnya saya kenapa, dok..?"


"Apa yang Ibu Yara rasakan...?"


Dokter Ami malah balik bertanya kepada Yara.


"Seminggu belakangan ini yang Saya rasakan sering pusing, bercampur mual dok. Apa ini berkaitan dengan asam lambung saya lagi, dok..?"


Tanya Yara kepada dokter Ami. Dokter Ami tersenyum menatap pasiennya.


"Ibu yang tenang, jangan hawatir. Ibu Yara baik baik saja. Mohon maaf sebelumnya, saya harus menyampaikan hal ini kepada ibu..!"


Ucap dokter Ami ragu.


"Ada apa dok..??, katakan saja..!"


Jawab Yara semakin hawatir.


"Sepertinya ibu sedag hamil."


Ucap doktor Ami tak enak hati.


"Alhamdulillah, Ya Allah..! benarkah dok saya hamil..?"


Yara kembali memastikan. Pada dokter cantik itu. Namun dokter cantik itu tak merespon, ia sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Dokter Ami menatap Yara tak percaya. Dalam hatinya bertanya tanya. Bagai mana mungkin seorang gadis, tengah hamil namun merasa bahagia.


"Maaf dok, apa benar saya hamil..?"


Ulang Yara lagi.


"Iya ibu..maaf! dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan tadi, menunjukkan arah ke sana. Tapi untuk pastinya silahkan ibu cek ke dokter kandungan. Nanti akan saya rekomendasikan dokter kandungan yang terbaik di kota ini.!"


Jelas dokter Ami menyarankan kepada Yara.


"Terima kasih dok..! atas penjelasannya."


"Sama sama ibu..!"


"Kalau begitu saya permisi dok, Saya ingin kembali ke ruangan saya..!"

__ADS_1


" Oh iya Ibu silakan, tapi apa Ibu benar-benar sudah kuat untuk berjalan..?"


"Insya Allah kuat dok..!"


"Syukurlah kalau begitu, jangan lupa ibu harus banyak istirahat, karna diusia kehamilan trisemester pertama itu sangat rawan, ibu harus ekstra menjaganya, ibu juga harus memperhatikan makanan yang ibu konsumsi. Agar nutrisinya mencukupi untuk tubuh ibu dan janin yang ada dalam rahim ibu..!"


Tak lupa dokter Ami mengingatkan Yara.


"Iya dok, Terima kasih. Insya Allah saya akan menjaganya."


Jawab Yara tampak bingung, Sebelum Yara meninggalkan ruangan dokter Ami, gadis itu memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu.


"Oh iya dok, boleh saya minta tolong pada dokter..?"


Ucap Yara memohon.


"Apa itu bu Yara..? jika saya mampu, Insya Allah saya akan membantunya..!"


Jawab dokter Ami.


"Tetima kasih Dok..! saya mohon pada dokter untuk, rahasiakan kehamilan saya ini, karena ada hal yang tidak dapat saya ceritakan."


Yara berucap dengan suara lirih.


"Maaf sebelumnya bu Yara, bukan bermaksud lancang, apa ibu sudah menikah..?"


Tanya Dokter Ami pada gadis di hadapannya. Yara tampak ragu menjawabnya, namun ia harus mengatakannya pada dokter Ami, agar nantinya tak timbul fitnah.


"Alhamdulillah, sudah dok..!"


Ucap Yara jujur.


"Ini foto akat nikah saya dok..!"


Dokter Ami melihat foto di henpon Yara.


"Alhamdulillah, selamat ya bu Yara..! Insya Allah saya akan rahasiakan. Yang penting saat ini ibu jangan banyak pikiran.!"


Pesan dokter Ami pada Yara.


"Terima kasih dok, kalau gitu saya permisi dulu...!"


"Iya ibu, silahkan..! jangan lupa vitaminnya diminum teratur ya bu..!"


"Baik dok..!"


Yara berucap sembari tersenyum manis.


Saat Yara membuka pintu, tampak Kinan berjalan cepat menuju ruang kesehatan.


"Ra, lo gak papa..? kata pak Aza, kamu pingsan..?"


Kinan tampak hawatir pada sahabatnya.


"Iya Ki, tapi gak papa kok..! kata dokter cuma kecapean sama asam lambungku naik..!"

__ADS_1


Ucap Yara bohong.


"Kok bisa sik Ra. Ya udah yuk, gue anter ke ruangan lo..!"


Dengan penuh perhatian Kinan menggandeng tangan sahabatnya.


"Lain kali, lo harus jaga pola makan lo Ra..gue hawatir tau..!"


Oceh Kinan pada sahabatnya.


"Iya..!"


Sahut Yara singkat.


Sampai di ruangan, tampak Erlangga memperhatikannya dari balik meja.


"Ra..gue tinggal gak papa..?"


Tanya Kinan


"Iya, Makasi ya Ki..!"


"Sama sama..!"


Setelah kepergian kinan, Yara termenung, timbul di hatinya rasa takut yang begitu besar, mulai mengusik hatinya yang mulai terasa nyaman. Di tengah lamunannya, tiba tiba suara Erlangga merasuk di gendang telinganya.


"Apa kamu sudah enakan..? Maaf mas gak bisa nungguin kamu tadi..!"


"Iya mas gak papa, Alhamdulillah udah enakan..!"


Sahut Yara, berusaha tersenyum, padahal di hatinya begitu berkecamuk menikirkan nasibnya kedepan.


"Apa kata dokter, dek..?"


Tanya Erlangga tampak hawatir.


"Kata dokter aku hamil mas..!Dokter menyaranka agar aku priksa ke dokter ini..!"


Yara menyodorkan kartu nama, pada Erlangga. Pria itu menatap Yara tak percya.


"Benarkah kamu hamil..?"


Ucap Erlangga tampak bahagia. Namun amat berbeda dengan apa yang dirasakan Yara.


"Iya mas..!"


Sahut Yara.


"Alhamdulillah, hari ini juga kita akan buat janji dengan dokter Laras.!"


Erlangga tampak antusias mendengar kabar bahagia itu. Dengan cepat Erlangga menghubungi Amira untuk memberi kabar bahagia. Erlangga berhara dengan kehamilan Yara, Amira akan berubah mencintai dirinya.


Namun sayang Erlangga salah orang jika Amira yang diberi tahu tentang kehamilan Yara, karna wanita itu tak akan membiarkan Yara hidup bahagia.


Kira kira apa ya yang akan dilakukan Amira...?

__ADS_1


Penasaran...???


Ayo ikuti terus ceritanya...!!! Bab selanjutnya makin seru lo sobat.


__ADS_2