Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
RK - Chapter 51


__ADS_3

"K-kamu salah paham, Mas. Aku... aku gak pernah ngancem Kanaya kok." Dengan wajah tegang Zielin berusaha mengelak.


"Hahaha... hahaha... hahaha." Tiba-tiba saja Yuga tertawa dan tentu saja hal tersebut membuat Zielin menatap ke arah suaminya tersebut.


"Zi, kenapa kamu tegang sekali? Aku percaya kamu tidak mungkin mengintimindasi Kanaya. Aku hanya bercanda barusan," ujar Yuga.


"Tapi bercandamu nggak lucu, Mas!" sentak Zielin. Dia benar-benar kesal karena Yuga berhasil membuatnya takut.


"Iya-iya, maafkan aku!" Yuga memeluk Zielin sambil menepuk punggung istri pertamanya tersebut, pelan.


"Karena kita semua sudah berkumpul, bagaimana kalau kita makan malam bersama di luar?" Yuga menyampaikan pendapatnya. Dia melempar pandangannya ke arah Zielin dan Kanaya secara bergantian untuk meminta persetujuan.


"E... aku baru saja pulang dan ingin beristirahat. Dan lagi aku sudah makan sebelum pulang," jawab Zielin.


"Kamu, Nay?"


"Aku tidak suka makan di luar, lagian makanan di rumah juga masih banyak kenapa harus makan di luar," jawab Kanaya. Wanita memasang ekspresi seolah ia masih marah dengan Yuga.


"Nay, kamu masih marah karena aku tidak mempercayaimu waktu itu?" Kanaya tidak menjawab.


"Aku tahu aku salah karena tidak memberimu kesempatan untuk menjelaskan. Jadi tolong maafkan aku ya!" pinta Yuga.


Kanaya membalas tatapan Yuga. Wanita itu menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. "Sudahlah, lagian Mbak Zi juga sudah mengaku dan dia sudah minta maaf. Aku tidak berhak lagi marah sama kamu."


"Thanks ya, Nay," ucap Yuga. Kanaya hanya menjawab dengan menunjukkan senyum manisnya.


"Aku harus membari tahu Jojo kalau Kanaya sudah ada di rumah. Tapi, gimana caranya ya?" batin Zielin.


"E... Mas, aku ke kamar bentar ya mau mandi dan ganti baju. Tubuhku sudah lengket banget. Kamu dan Naya makan saja duluan!" pamit Zielin.


"Ohya, Nay. Katanya nenekmu hari ini pulang? Jadi?" tanya Zielin sebelum meninggalkan tempat tersebut.


"Jadi sih, tapi aku belum ke sana. Aku masih takut nenek terkejut melihat kondisiku," jawab Kanaya.


"Ouh." Zielin hanya menanggapi dengan ucapan ouh.


"Naya sekali lagi aku minta maaf ya karena aku sudah menuduhmu. Aku tahu aku salah, tapi kamu tahukan? Aku berbuat begitu karena aku cemburu," ucap Zielin.

__ADS_1


"Iya, Mbak, nggak apa-apa kok. Aku bisa ngerti perasaan Mbak," jawab Kanaya. Dia tahu istri pertama Yuga itu sedang bersandiwara dan sebaiknya ia juga mengikuti sandiwaranya.


Beberapa hari kemudian....


Hari ini sesuai dengan rencana, Yuga dan Zielin datang ke rumah Hendrawan karena hari itu akan diadakan acara 7 bulanan. Zielin memasang busa pada perutnya agar terlihat kalau dia benar-benar tengah mengandung.


Meski masih terlihat tak ramah, sikap Hendrawan kepada Zi cukup baik dibanding dengan hari-hari sebelumnya. Pria yang berstatus ayah kandung Yuga itu setidaknya mau menatap dan mengajak Zielin berbincang. Hingga pada suatu sesi dimana Hendrawan akan mengenalkan menantu dan calon penerus Keluarga Tjandra kepada kerabat dan rekan bisnis. Bahkan Hendrawan juga sudah berjanji akan memberikan harta warisan yang sudan dijanjikan kepada Yuga dan istrinya.


Dengan sangat pede Zielin naik ke atas panggung. Dia tersenyum lebar karena merasa semua usaha yang ia lakukan selama ini akan segera membuahkan hasil.


"Mas Yuga, setelah aku menerima harta warisan dari papamu saat itu juga aku akan menendang kalian. Kau, Kanaya, dan anak itu tidak akan ada artinya lagi buatku." Zielin berbicara dalam hati.


Senyumnya semakin lebar kala pengacara keluarga membacakan surat kuasa atas harta warisan yang sudah dijanjikan.


"Silakan Pak Yuga, Nyonya Zi, dan Tuan Hendrawan kalian tandatangan di sini!" Sang pengacara menyuruh ketiganya untuk membubuhkan tandatangan bermaterai.di atas surat tersebut.


"Kamu bisa membaca isi surat itu terlebih dulu Zi!" suruh Yuga.


"Tidak usah, Mas. Aku percaya sama kamu dan Papa kok," jawab Zielin.


Tanpa berpikir apa-apa lagi Zielin menandatangani surat yang sebelumnya sudah ditanda tangani oleh Yuga dan papanya itu. Dia kemudian melempar senyuman ke arah Johan yang berdiri tepat di belakang Hendrawan.


"E... Tuan Yuga dimana istri Anda Nyonya Kanaya, beliau juga harus menandatangani surat ini?" pertanyaan sang pengacar sontak saja membuat Zielin terkejut.


"Kanaya? Kenapa kita membutuhkan tandatangan dari dia?" tanya Zielin. "Tunggu! Istri? Bagaimana bisa.... "


"Aku sudah tahu semuanya," sela Handrawan.


"Maksudnya?" Zielin masih belum paham dengan perkataan sang mertua.


"Aku sudah tahu kalau Yuga sudah menikah lagi. Dan istri yang sedang mengandung calon pewaris Keluarga Tjandra adalah Kanaya," jelas Hendrawan.


"Mas... apa ini rencanamu?" tatapan Zielin beralih kearah Yuga.


"Benar," jawab Yuga. "Aku masih punya satu kejutan lagi untukmu."


Yuga menyalakan layar LED yang ada di hadapannya. Disana diputar sebuah video kebersamaan Zi dengan seseorang. Di layar itu memang belum terlihat dengan jelas siapa laki-laki yang sedang bersama Zi itu karena memang gambar tersebut diambil dari arah belakang.

__ADS_1


"Mas, kamu menyelidiki aku?!" sentak Zielin. Dia merasa sudah dipermalukan oleh suaminya.


"Kamu kira aku masih seperti Yuga yang dulu? Yang selalu percaya dengan semua perkataanmu? Kamu salah besar, jika kamu masih menganggapku bodoh." Yuga menatap sengit Zielin.


"Mulai detik ini kujatuhkan talak kepadamu. Aku sudah mengurus perceraian kita secara resmi di pengadilan agama. Kamu tinggal tunggu saja surat resmi itu datang. Meski aku tahu kamu telah mengkhianatiku, tapi kamu tidak usah khawatir. Aku masih akan memberikanmu nafkah sampai masa iddahmu selasai. Dan soal harta gono-gini aku juga akan tetap memberikan bagianmu." Yuga memberikan penjelasan panjang lebar kepada Zielin.


Zielin ingin menyangkal semua tuduhan yang dilayangkan Yuga kepadanya. Namun, dia tidak mungkin melakukan hal tersebut karena bukti itu terpampang nyata di hadapannya.


"Ohya, satu lagi. Aku juga sudah tahu siapa pria yang menjadi selingkuhanmu selama ini," tambah Yuga. "Apa kamu ingin aku menunjukan siapa pria itu sekarang?"


Zielin tidak menjawab. Dia benar-benar merasa sudah dipermainkan oleh Yuga dan ayahnya.


"Seharusnya kamu juga introspeksi diri, Mas, kenapa aku bisa berselingkuh." Zielin menatap tajam Yuga. "Selama ini kamu tidak pernah ada waktu buatku. Di kepalamu hanya ada kerja, kerja, dan kerja. Aku merasa sangat kesepian. Saat itulah aku bertemu dengan laki-laki itu. Dia memberiku perhatian dan juga rasa nyaman. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Tapi, karena ekonomi dia jauh di bawah kamu. Makanya aku masih berada di sisimu, kalau tidak mungkin aku sudah meninggalkanmu sejak dulu."


Yuga tersenyum miris. "Bukan kah kamu yang terus memaksaku untuk terus bekerja? Kamu terus membandingkan diriku dengan suami teman-temanmu. Kamu ingin seperti mereka yang bisa membeli barang-barang branded?"


"Tapi, bukan berarti kamu melupakan aku, Mas! Apa salahnya sih kamu minta uang sama papamu?"


"Zi, kamu adalah tanggung jawabku. Memberikan hal yang kamu mau adalah kewajibanku, bukan kewajiban papa," balas Yuga. "Tapi, sudahlah. Semua sudah beralalu. Mulai sekarang berbahagialah dengan laki-laki yang membuatmu nyaman dan bisa membahagiakanmu. Dan aku minta maaf, jika selama aku menjadi suamimu aku kurang perhatian. Maafkan aku."


Prok prok prok!


Tepukan tangan membuat Yuga dan yang lainnya menoleh.


"Hentikan semua omong kosong ini! Aku sudah lama menunggu momen seperti ini dan aku tidak mau pergi dengan tangan kosong." Orang itu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tas kerjanya dan meletakkan semua di atas meja.


"Hei, tua bangka! Tandatangani itu! Aku capek terus berpura-pura menjadi asisten yang baik untukmu!" suruhnya.


"Akhirnya kamu membuka kedokmu! Kamu dan Zi memang betul-betul pasangan serasi," ujar Yuga.


"Sudah jangan banyak bacot! Cepat tanda tangani surat itu atau.... "


"Atau apa?" tantang Yuga.


"Kamu lihat itu!" Johan menunjuk ke luar. Iya, orang yang barusan bertepuk tangan adalah Johan, asisten pribadi Hendrawan sekaligus selingkuhan Zielin.


Mata Yuga membeliak ketika melihat sesuatu yang ditunjuk oleh Johan.

__ADS_1


__ADS_2